
Sudah aku post, jangan lupa like dan komentar ya
“Sudah cukup basa basinya, Mas. Aku mau pergi dari rumah ini, aku sudah muak dengan semua perbuatan kalian terhadapku.” Lagi-lagi ia menepis tanganku dan mendoron tububku dengan kuat. Aku pun heran, kenapa dia bisa sekuat ini? Dan keberanian yang tinggi terhadap diriku.
“ Tapi, aku masih mau mempertahan kan rumah tangga kita. Ingat, Bel. Kamu masih ada Arka yang membutuh kan seorang Ayah, Arka masih kecil.” Ia hanya diam dan menatapku, lalu kembali menatap ibuku dan berjalan mendekati ibuku.
“Mau apa kamu?” tanya ibuku dengan raut wajah bingung ketika mantunya mendekatinya.
“Ibu, terima kasih atas semua perlakuan Ibu terhadap saya dan juga Arka cucu Ibu. Terima kasih karena telah memperlaku kan mantu Ibu bak pembantu di rumah ini, dan mengadu kan semua yang kulakukan terhadap suamiku, hingga aku bertengkar hebat dan suamiku malah menyalah kanku atas tuduhan yang tidak benar, terima kasih telah memfitnahku dengan membicara kan keburuk kan mantu Ibu dengan para tetangga. Hingga mereka semua mencibirku tanpa tahu fakta yang sebenarnya. Aku tahu semuanya, Ibu. Aku tahu.” Bella tersenyum sinis melihat ibuku yang sudah terdiam dan tidak bisa menepis perkataan Bella. Selesai berbicara dengan ibuku. Ia berbalik ke arahku sambil menyeret kopernya.
"Mas, tolong ucapan kan talak sekarang, agar saya terbebas dari suami macam seperti kamu. Dan saya bisa lepas dari hidupmu bersama dengan Ibumu yang selalu saja menghinaku dan membuat aku buruk di mata orang lain." Aku tidak bisa lagi berkutik dengan ucapannya, yang dikatakan dirinya memang benar. Aku sering sekali mendengar gosip yang tidak enak tentang istriku, namun aku tidak mau ambil pusing atau pun membelanya. Bahkan aku malah menuduhnya yang tidak-tidak, sejahat itu kah diriku? Kenapa aku baru sadar?
"Gibran?" ibu berjalan ke arahku. "Buat apa kamu halangi dia pergi, kamu bisa mencari penganti Istri yang lebih baik darinya." Aku menatap ibuku dengan iba, tidak bisakah aku mempertahankan rumah tangga ini dengannya.
"Tapi Bu, Bella ini masih Istriku."
"Bukankah dia minta pisah sama kamu, buat apa kamu tunda-tunda." Jujur saja, aku masih berat untuk melepaskan Bella. Bukan karena aku tidak mencintainya lagi, hanya saja aku merasa kasihan dengannya. Di sisi lain, rasa cinta dan peduli ini sudah hilang semenjak aku mengenal Ayu, 7 bulan yang lalu saat Bella tengah hamil Arka.
"Bell, di mana Arka? Kenapa dia enggak sama kamu?" Aku mencoba mengalih kan pembicaraan ini. Karena aku masih berat mengucap kan kata talak.
"Untuk apa kamu menanyakan Arka?"
"Dia anak aku, wajar saja aku tanya di mana Arka?" Bella tersenyum sambil menggelengkan kepala, ia seperti mengejekku. bahkan tertawa, aku mengeritkan keningku dengan tingkah dia yang tidak jelas.
"Gibran, kayanya dia sudah gila," ujar Ibu, dia saja sampai heran dengan tawa Bella.
"Bella, kenapa kamu tertawa enggak jelas kaya gitu." Akhirnya dia berhenti tertawa. Dan menatapku dengan tajam.
__ADS_1
"Kamu tanya di mana Arka?" aku mengangguk pelan. "Saya tanya sama kamu, saat Arka lahir. Kapan terakhir kali kamu gendong Arka? kapan terakhir kamu ajak main Arka? Kapan terakhir kamu melihat Arka walau cuma sekilas saja." Aku terdiam, aku langsung memikirkan ucapannya. Dan mencoba mengingat, kapan terakhir aku mengendong Arka. Jika aku ingat lagi, terakhir aku gendong Arka saat dia lahir dan aku langsung mengazankannya.
"Kenapa kamu enggak bisa jawab Mas, apa kamu lupa dengan anak kamu? Dan sekarang apa pantas kamu menanyakan keberadaan anak kamu sekarang?"
"Bell, aku--" Aku tidak bisa meneruskan kata-kataku, aku malu. Selama aku menjalani hubungan dengan Ayu. Tiba-tiba saja aku melupakan Arka anak kandungku sendiri. Dan lebih mementingkan Ayu dari pada buah hatiku.
"Mulai sekarang, jangan pernah muncul di hadapkanku. Kecuali saat sidang." Saat dia membalikkan badannya untuk pergi, aku sudah memutuskan untuk mengakhir hubungan ini.
"Bella Hairun, dengan sangat sadar saya Gibran akan memberikan kamu talak 1, mulai sekarang kamu bukan lagi Istri saya." Tiba-tiba saja langkahnya terhenti ketika aku mengucapkan kata talak, namun ia tidak membalikkan badannya. Justru dia terus berjalan sambil membawa kopernya. Aku bahkan tidak tahu, kapan dia menyiapkan koper.
“Terima kasih, ya Tuhan. Engkau telah membebas kan aku dari laki-laki pengkhianat seperti Mas Gibran dan juga Ibunya yang bagai kan manusia tidak punya hati.” Ia berteriak sampai-sampai membuat aku dan ibuku malu dibuatnya. Untuk apa coba dia berteriak seperti itu. Itu membuatku sakit hati, seakan-akan aku adalah laki-laki paling brengsek di dunia ini.
“Mantu gila! Bisa-bisanya dia teriak kaya gitu. Apa enggak malu di dengar sama tetangga sebelah. Mantu edan!” gerutunya, aku hanya terdiam melihat Bella sudah pergi dengan kopernya tanpa menggendong bayinya, bahkan aku saja tidak tahu di mana Arka sekarang. Dan yang lebih herannya lagi, dia tahu dari mana aku sedang bersama Ayu di cafe tadi, padahal jarak dari rumah dan cafe lumayan jauh.
“Terus sekarang gimana, Bu?”
“Sekarang aku sudah menjadi duda, dan aku sudah mencerai kan Bella. Lalu aku harus apa?”
“Nikah kan Ayu, Ibu mau kamu menikah dengan Ayu dan suruh dia tinggal di sini.” Aku tersenyum lebar dengan penuturan ibuku, kenapa aku sampai lupa. Bahwa aku masih punya Ayu, dan berniat menikah kan dirinya secara resmi. Lagi pula kedua orang tua Ayu juga sudah setuju jika aku menikah dengan anaknya. Kedua orang tua Ayu tahunya aku duda beranak 1.
Jam sudah menujukan pukul 12 malam, saat aku memasuki kamar tidur. Entah kenapa rasanya begitu hampa, seperti ada yang kurang di kamar ini. Aku berjalan ke arah lemari baju milik Bella. Saat aku membukanya, aku terkejut melihat isi lemarinya. Baju yang selama ini aku beli kan untuknya, masih utuh di dalam lemari ini. Bahkan uang nafkah yang aku berikan bulan ini, masih tersisa utuh dengan nominal yang sama yaitu 1 juta perbulan.
"Kenapa uangnya masih ada di lemari ini? Kenapa ia tidak membawanya juga untuk ongkos pulang ke rumah orang tuanya?" Aku bertanya-tanya dalam pikiranku. Lalu dengan apa dia pergi seorang diri?
tok.. tok..
"Bran? Kamu sudah tidur, Nak?" panggil ibuku, buru-buru aku keluar dari kamar, tak lupa aku membawa uang milik Bella untuk kuceritakan pada ibuku.
__ADS_1
"Ada apa, Bu?
" Kamu belum tidur, Nak?"
"Belum, Gibran enggak bisa tidur, Bu."
"Kenapa? Kamu masih mikirin Bella ya?" Aku menganggukan kepalaku.
"Kenapa harus kamu pikir kan? Toh, orangnya sudah pergi jauh. Lagi pula Ayu bakal jadi istri kamu."
"Ibu, benar." Aku kembali menatap uang 1 juta di tanganku.
"Itu uang apa? Kok ada di tangan kamu?"
"Ini uang nafkah Bella, Bu. Saat dia pergi, dia enggak bawa uangnya. Padahal uang ini untuk kebutuhan rumah selama sebulan." Seketika mata ibu bersinar terang melihat uang 1 juta di tanganku. Dengan cepat ia menyambar uang itu dan menghitungnya dengan cepat.
"Luamaya buat beli emas, Ibu mau pamer ke tetangga besok. Soalnya Ibu mau beli emas gelang."
"Bu, itu uang Bella. Kenapa diambil?
" Heh! Bella itu sudah mantan istri kamu. Dia juga sudah pergi dari rumah ini. Uang ini jadi hak Ibu." Aku hanya bisa pasrah melihat ibu membawa pergi uang Bella. Niatnya akan aku berikan kepada Bella dengan cara mentransfer. Padahal setiap bulan ibu sudah aku berikan uang gajiku dan sisanya untuk Bella. Tapi kenapa ibu selalu saja kurang.
...
"Pagi sayang." Aku menoleh ka arah sumber suara, ternyata Ayu. Ia langsung menghampiriku, dengan lembut ia mengecup pipiku dan mengusap rambutku.
"Yu, kok kamu bisa ada di sini? Kamu sama siapa ke sini?" Aku memperhatikan sekitar jalan, takut ada tetangga melihat kami berdua di pagi ini, apalagi tetangga tidak ada yang mengenal Ayu di sini.
__ADS_1
"Mas, aku kangen loh sama kamu. Aku pengen lihat wajah calon suamiku loh." Ia bergelayut manja di lenganku. Jujur saja, aku merasa tidak nyaman dengan situasi ini. Saat Ayu terus bermanja denganku. Tiba-tiba ada ibu-ibu yang lewat di depan rumahku. Buru-buru aku menepis tangan Ayu dan sedikit mendorong tubuhnya.