
"Tadi kamu telepon ya?"
"Iya, tapi langsung kamu matiin teleponnya. Padahal aku belum selesai bicara loh, emangnya kenapa?" Aku mengusap wajahku dengan kasar, menghembus, kan napas kasar agar pikiran tidak kacau.
" tadi yang angkat telepon itu istri aku, Aku nggak tahu kalau kamu tadi telepon. Soalnya ponselnya aku tinggal di kamar."
" Terus masalahnya apa kalau misalnya istri kamu yang angkat?"
"Mas takut, hubungan kita diketahui sama Bella. Dia enggak tahu, kalau kita lagi ada hubungan di belakang dia. Tapi Mas yakin, dia sudah tahu hubungan kita." Ketika aku memberitahukan hubunganku dengan Ayu. Terlihat wajah Ayu biasa saja, bahkan menganggap hal ini tidaklah penting baginya.
"Kalau pun dia tahu, ya enggak masalah. Kalau bisa kasih tahu sama dia yang sebenarnya, kalau kita ada hubungan khusus," ujarnya santai, tapi tidak dengan diriku. Jujur, aku ingin sekali menikahi Ayu dan menjadikan dia istriku, tapi di sisi lain ada Bella.
"Aku cape loh, Mas. Hubungan kita sudah berjalan jauh, bahkan kita sudah pernah melakukan hubungan intim. Lagi pula, Ibu kamu juga sudah tahu sama hubungan kita. Apa lagi yang kamu tunggu, Mas. Mau sampai kapan kita kaya gini terus." Aku melihat wajahnya yang sudah mulai kecewa, aku langsung meraih punggung tangannya dan mengecupnya.
"Sabar ya, sayang. Hal seperti ini tidak lah mudah. Aku tidak bisa menceraikan Bella begitu saya. Aku juga ada anak."
"Terus kalau ada anak kenapa? Kalau kamu mau pisah sama Istri kamu. Bawa saja anak kamu, biar aku yang urus." Aku tersenyum senang mendengar ucapan Ayu yang mau menerima anakku.
"Terima kasih, sayang. Kamu memang wanita yang terbaik untukku. Aku beruntung banget punya kamu." Aku mencubit hidung Ayu dengan gemas. Aku langsung mengecup keningnya dan memeluk tubuhnya.
Hingga suatu hari, aku terpergok oleh Bella saat aku jalan dengan Ayu. Saat itu aku tengah makan di sebuah cafe saat hari libur. Tiba-tiba saja Bella menyiram wajahku dengan air di gelas dan membanting gelas cafe hingga pecah. Tentu saja hal ini mengundang perhatian semua orang yang ada di cafe ini.
"Jadi ini yang kamu bilang ada bisnis penting dengan temanmu?" Ia bertanya dengan tatapan tajam.
"Bella, Aku bisa jelasin. Ini bukan seperti yang kamu lihat," ujarku sambil membersihkan wajahku yang masih basah dengan tisu.
"Lalu apa yang saya lihat? Makan berdua dengan teman bisnis lagi? Bahkan dengan mesrahnya sambil menyuapkan makan satu sama lain? Itukah yang aku lihat, Mas! Hah!"
"Bell, dengar dulu aku--"
__ADS_1
"Jangan banyak bicara lagi Mas, tolong lepaskan saya sekarang juga. Saya sudah muak dengan semua ini, apa Mas pikir saya tidak tahu. Saya tahu kamu selingkuh di belakang saya." Wajahku sudah pucat pasi, ternyata Bella sudah mengetahui semuanya.
"Bagus dong, kalau kamu sudah tahu kalau Mas Gibran ada hubungan sama saya, buat apa juga ditutup. Toh ujung-ujung kamu tahu juga." Di saat seperti ini, kenapa Ayu malah bicara dengan istriku. Ayu bangkit dari tempat duduknya dan berdiri dihadapan Bella dengan tatapan merendahkan.
Sedangkan Bella terus menatap tajam ke Ayu, aku tahu dia sangat marah dengan kejadian ini. Terlihat dari wajahnya yang begitu nyalang. Menatap lawanya seperti singa yang tengah menyergap mangsanya.
"Kamu tahu dia sudah punya suami?" tanya Bella. Ia menunjukku dengan telunjuknya
"Saya tahu, lalu kenapa? Ada masalahkah?"
"Lantas, kenapa kamu menjalani hubungan dengan laki-laki yang sudah punya Istri? Apakah kamu kekurangan harga diri sampai suami orang kamu embat juga?" Tak kusangka Bella bisa mengucapkan kata-kata yang begitu menyakitkan.
"Kalau ngomong dijaga ya, saya ini wanita baik dan terhormat. Harga diri saya tinggi." Ayu pun tak kalah sengit dengan Bella.
"Berapa harga diri kamu? Kalau kamu punya harga diri tinggi, seharusnya kamu tahu. Perbuatan kamu itu justru merendahkan martabat kamu sebagai wanita!" Kata-kata Bella berhasil membuat Ayu murka, tak terima dirinya direndahkan oleh Bella, ia mendorong tubuh Bella membuatnya hampir terjatuh.
PLAK...!!!
Tamparan keras mendarat di pipi Ayu, aku kaget melihat sisi Bella yang tidak aku ketahui sebelumnya. Bukan hanya tamparan saya yang Ayu terima.
"Aaww! Sakit!" Ayu meringis kesakitan saat Bella menjambak rambut Ayu hingga kuat. "Mas, tolong aku. Rambut aku sakit, Mas."
"INILAH AKIBATNYA, KALAU KAMU HINA SAYA DENGAN MULUT KOTORMU ITU! KAMU PIKIR SAYA TAKUT DENGANMU, HAH!"
"Mas, tolong aku, Mas. Kenapa kamu malah diam saja? Mas, aaaa.....!!" Ayu menjerit kesakitan saat rambut panjangnya dijambak oleh Bella. Padahal, rambut dia baru saja dirawat di salon mahal. Sayangnya semua itu hancur karena ulah dia sendiri.
"Mas, sakit. Tolong aku, Mas."
"Heh! Wanita murah! Kau lihat dengan mata dan kepalamu sendiri. Inilah wajud laki-laki yang kau rebut dariku. Dia pengecut, mental kerupuk seperti yang dikatakan ayahku! Di saat kamu seperti ini, apa dia bisa menolongmu?? Ayu terus saja menanggis menahan sakit di kepalanya, sedangkan diriku tidak bisa berbuat apa-apa terhadapnya.
__ADS_1
" Bell. tolong lepaskan Ayu. Kasihan dia. Kepalanya sakit karena rambut panjangnya kamu jambak." Bella menatapku dengan nyalang, kemudian merubah raut wajahnya menjadi sendu.
"Apa, Mas? Kamu bilang kasihan sama wanita ini?" Aku hanya mengangguk pelan, berharap ia bisa melepaskan tangannya dari rambut Ayu. Tak lama, ia tersenyum menahan perih di hatinya, "Mas, kamu kasihan melihat dia menderita seperti ini? Lalu bagai mana denganku, Mas? Apa kamu tidak kasihan denganku?" Aku terdiam tidak menjawab ucapan Bella.
"Mas, hatiku hancur, jiwaku remuk, badanku terkoyak karena melahirkan bayi mungil untukmu. Lihatlah tubuhku sekarang, Mas. Tubuhku kurus kering, bahkan tulang ditubuhku hampir saja terlihat. Aku bagai kan mayat hidup berjalan. Apakah kau tidak kasihan terhadapku, Mas?" Perlahan aku menundukan wajahku, aku tak sanggup menatap wajah Bella. Yang ku lihat saat ini adalah Ayu. Ia menangis menahan perih di kepalanya, justru aku kasihan dengan Ayu.
"Bell, tolong hentikan! Jangan buat malu." Dalam sekejeb, mata Bella langsung menatapku dengan tajam.
"Apa! Kamu mau tolong wanitamu ini. Silakan kau tolong, asal gelas beling ini kulempar ke kepalamu hingga bocor!" ancamnya.
"Bel, jaga omongan kamu. Jangan sembarangan bicara." Aku terus saja memohon pada Bella, sayangnya rasa benci dan kecewa sudah menguasahi hatinya.
"Apa! Kamu mau tolong wanita murahan ini? Kalau mau tolong, ambil ini!" Dengan kuat Bella, mendorong tubuh Ayu ke arahku. Dengan sigap aku menangkapnya dan kami berdua hampir terjatuh.
"Apa-apaan kamu, Bell! Kenapa kamu dorong dia?!" Ayu terus menangis dalam dekapanku, ia juga merapikan rambut yang tadi dijambak oleh Bella.
Bella tersenyum sinis dan memandang rendah Ayu. "Wanita lacur, jangan kamu samakan saya dengan kamu! Saya menikah dengan dia!" Bella menunjuk ke arahku dengan tatapan tajam. "Sudah terikat secara Agama dan Negara dengan sah! Sedangkan kamu, hanya sebagai pelampilasan napfu laki-laki tidak bertanggung jawab seperti dia!" Tunjuknya lagi dengan satu jari. Membuat harga diriku turun seperti terlempar jauh
"Bella! Sudah cukup!" Secara spontan aku membentak Bella di tempat umum, bahkan orang-orang di sekitarnya melihat kami bertiga. "Apa-apaan kamu berkata seperti itu sama suami kamu! Kenapa kamu berani tampar pipi Ayu." Bella menatapku dengan nyalang, berani sekali dia menatapku seperti itu.
"Kenapa Mas? Merasa tersinggung dengan kata-kata aku? Yang aku lakukan tadi dengan kekasih busukmu itu tidak lah seberapa, bahkan aku bisa lebih melakukan sesuatu yang parah untuknya," ancamnya dengan senyumnya. Hanya saja senyum itu membuatku sedikit bergidik ngeri. Jujur saja dia seperti orang kesetanan di mataku.
"Kamu sudah berani kurang ajar sama saya! Pantas saja setiap hari Ibu selalu mengeluh tentang sikap kamu, padahal aku selalu menutupi omongan Ibu ke kamu. Nyatanya kamu memang Istri tidak bersyukur dan kurang ajar!" Bukannya merenung atas kesalahannya, justru Bella malah tersenyum miring dengan tatapan yang tidak bisa aku artikan.
"Tanpa kamu kasih tahu pun, aku sudah tahu. Ibumu selalu saja menjelekkan aku di belakangku, bahkan menyebarkan gosip miring tentang aku dan juga Arka." Mendadak mataku terbelalak mendengar pengkuan darinya, jadi selama ini dia tahu. Kalau ibuku sering membicarakan dirinya.
"Kenapa, Mas? Kaget ya? Aku juga tahu, kamu ikut menjelekkan saya. Hanya saja saya tutup kuping."
"Mas! Lihat Istri kampung kamu! Berani kurang ajar sama suami, untuk apa kamu pertahankan. Kalau bisa, buang saja dia!" ujar Ayu, aku masih diam dan tidak menanggapi ucapan Ayu.
"Heh, wanita murahan! Tanpa kamu suruh dia menceraikan saya, saya yang lebih dulu menggugat dia kepengadilan!"
__ADS_1
"Tuh, Mas. Mulutnya makin lama, makin kurang ajar!" Aku terus menatap Bella, benarkah dia ingin berpisah dariku. Apakah dia tidak memikirkan ke depannya, kalau dia berpisah denganku. Lalu siapa yang memberikan nafkah selain diriku.