
“Sudah berapa minggu kehamilan kamu?” ujar ibuku tiba-tiba, keningku berkerut dengan ucapannya.
“Bu, maksudnya apa?” tanyaku
“Dia, tengah berbadan dua. Anak yang ada di perutnya. Bukanlah anakmu, melainkan anak laki-laki yang ada di foto ini.” Aku kembali menatap wajah Ayu yang sudah pasrah dengan keadaan. Bahkan wajahnya sudah merah akibat kutampar wajahnya. Bentuk rambutnya saja tak karuan. Membuatku semakin muak.
"Kamu kira, kamu bisa membohongi kami berdua, hah! Dari awal aku sudah curiga sama kamu, setiap pagi kamu selalu mual. Bahkan kamu selalu bersikap aneh, awalnya. ibu ingin menepis semua itu. Sayangnya rasa curigaku tidak bisa aku tepis, mengingat kelakuan kamu yang kurang ajar!" rahangku semakin kencang, saat tahu ia hamil denga laki-laki lain. Dulu aku memang pernah melakukan kesalahan dan berzina dengan dia di belakang mantan istriku, tak kusangka. Aku bisa mengalami hal ini juga.
"Bu, aku minta maaf. Aku janji akan jadi istri yang baik buat, Mas Gibran. Tapi tolong jangan ceraikan aku sama mas Gibran." Ibuku langsung mentoyor kening Ayu, membuat kepalanya sedikit terdorong ke belakang.
"Halah, bocah edan! Jangan mimpi kamu jadi istri yang baik buat anakku. Aku enggak sudi punya mantu model kaya kamu, lama-lama bisa mati berdiri aku kalau hidup sama kamu! Pokoknya, kamu harus pergi dari rumah ini. Jangan pernah kamu muncul dihadapanku." Tiba-tiba saja Ayu meraih kedua kaki ibuku, ia bersujud memohon ampun.
"Lepas! Jangan sentuh kakiku. Aku jijik tahu!"
"Sini kamu!" Kutarik rambutnya sekali lagi, agar ia menjauhi ibuku.
"Aaa ....!! Sakit, Mas...!! Mas, jangan siksa aku, Mas. Aku tengah hamil, kalau kamu berbuat seperti ini. Lama-lama aku bisa keguguran."
"Kamu tidak perlu khawatir tentang anak yang ada di perut kamu, lagi pula aku hanya menampar wajah kamu, bukan bagian perut kamu. Jadi tidak akan mungkin kamu mengalami keguguran."
"Tapi, Mas. Kalau begini caranya. Aku bisa laporkan kamu ke polisi atas kasus KDRT," ancamnya berapi-api.
"Silakan, aku enggak peduli dengan ancaman kamu. Yang jelas, aku bisa puas memberi kamu pelajaran. Karena kamu sudah mempermainkan diriku dan juga ibuku." Ia hanya diam membisu, tak ada lagi ucapan yang keluar dari mulutnya. Ia hanya bisa menangis sambil menahan sakit di area kepalanya.
"Mas, tolong. Beri aku kesempatan sekali lagi. Aku janji akan menjadi istri yang baik untuk kamu dan juga ibu kamu." Aku tetap pada pendrianku, aku tidak akan memberinya ampun lagi terhadapnya.
“Aku enggak sangka, ternyata kamu bisa berbuat di luar batas!” Lagi-lagi aku menghempaskan tubuhnya ke lantai, ia terus saja meraung memohon ampun padaku. Sayangnya aku tidak peduli.
“Ayu, dengarkan aku baik-baik. Aku Gibran dengan ini kamu sudah bukan lagi istriku. Aku talak kamu sekarang juga dan akan kupulangkan kamu ke rumah orang tuamu!”
__ADS_1
“Mas, aku enggak mau cerai dari kamu! Kalau aku pisah sama kamu, bagai mana nasib bayi ini. Apa kamu tidak kasihan sama dia.” Ayu bersujud di kaki, tak kusangka. Aku menikahi wanita pezina seperti dirinya. “Mas, aku mohon sama kamu.”
“Jangan sentuh anak saya, pergi kamu!” ibuku menyeret tubuh Ayu keluar rumah. Ia terus saja meraung memohon pada ibuku untuk tidak mengusir dari rumah.
“PERGI KAMU! AKU ENGGAK SUDI LIHAT WAJAH KAMU!”
“Bu, maafkan Ayu, Bu. Ayu khilaf. Aku janji enggak bakal melakukan hal buruk lagi, aku janji enggak akan jadi mantu buruk lagi, aku bakal jadi mantu baik.”
“Sudah terlambat kamu mengatakan semua itu. Kamu sudah bukan lagi istri dari anakku. Kamu sudah diceraikan olehnya. Jadi sekarang kamu pergi dari rumah ini.” Aku hanya bisa menyaksikan Ayu diseret keluar dari rumah oleh ibuku. Bahkan para tetangga ikut berkumpul menyaksikan perseteruan mertua dengan mantu.
Aku kembali menatap foto yang masih berserakan di lantai. Hatiku sakit melihat Ayu tengah bermadu kasih dengan laki-laki lain. Bahkan mereka berdua tidak memakai kain sehelai pun. Dan hanya ditutupi oleh selimut hotel. Kuremas foto ini hingga hancur.
Ya, Allah. Inikah balasanmu terhadapku. Inikah teguran yang engkau berikan padaku. Tubuhku runtuh ke lantai. Mataku terus saja melihat lembaran foto-foto itu. Bahkan foto USG milik Ayu.
Kini aku bisa merasakan, sakitnya hati Bella saat tahu aku berselingkuh di belakangnya. Kini aku bisa merasakan apa yang ia rasakan selama ini. Masih pantaskah aku menginginkan ia kembali padaku setelah apa yang aku lakukan dengan dirinya?
"Sana pergi dari rumah ini." Ibuku melempar koper milik Ayu, ternyata ia sudah menyiapkan semua ini. Barang-barang milik Ayu, sudah dilempar ke luar rumah. Ia tidak peduli lagi dengan mantunya.
“SEHARUSNYA KAMU BERTANGGUNG JAWAB ATAS KEHAMILAN AYU! KENAPA MALAH KAMU CERAIKAN DIA!” teriak bunda.
“Heh, jeng. Punya kaca di rumah? Punya? Heh! Anak kamu telah berzina dengan laki-laki lain, lalu hamil. Dengan seenak jidat kamu suruh anak saya tanggung jawab? Heh, otak dipakai jeng!”
“Itu memang bukan anaknya Gibran! Tapi Ayu kan istrinya, seharunya ikut tanggung jawab. Dia kan belum punya anak dari Ayu. Mumpung dia hamil, seharusnya senang dong punya anak dan cucu, kamu jangan bodoh Gibran!”
“Puih! Persetan dengan cucu! Aku tidak sudi memiliki cucu dari wanita murahan seperti Ayu. Ibu bilang anak saya tidak punya cucu? Anda salah besar, Gibran punya anak, bahkan saya sudah punya cucu dari hasil pernikahan sah!”
“Jangan pernah mengatakan anak saya wanita murahan ya, saya tidak terima jika anak saya dihina oleh ibu.”
"Kenyataannya memang begitu! Perlu bukti? Saya punya kok buktinya, masih saya simpan untuk proses pengadilan nanti." Bunda langsung diam membisu, aku yakin sekali. Ia sudah tahu kalau anaknya berselingkuh di belakangku.
__ADS_1
"Kenapa diam, jeng! Takut ya? Jangan-jangan kamu sudah tahu kalau anak kamu hamil sama orang lain ya? Makanya ngotot suruh Gibran tanggung jawab!"
"Kalau iya, kenapa? Saya memang sudah tahu kok. Makanya saya suruh dia ikut tanggung jawab!"
"Heleh, dasar orang tua gila. Bisa-bisanya suruh anak saya tanggung jawab. Gila ni orang! Sinting!" tuduh ibuku. Membuat bunda geram, karena dirinya dibilang orang tua gila.
“Bunda, tolong jangan buat keributan di rumah ini. Apa yang dikatakan ibu saya benar, anak ibu memang wanita murah. Karena dia dengan suka rela menjajahkan tubuhnya dengan laki-laki lain. Lalu hamil. Dan aku suruh bunda tanggung jawab? Di mana letak pikiran Bunda.” Terlihat wajah bunda begitu geram dengan ucapanku, begitu juga dengan bapak mertua. Hanya saja ia diam dan tidak banyak bicara, sebenarnya ia tahu. Kalau ini semua salah, hanya saja istrinya terus mendesak diriku untuk tanggung jawab terhadap anaknya.
“Bunda tidak peduli dengan semua itu. Yang jelas kamu harus tanggung jawab atas kehamilan Ayu. Kasihan dia, kalau dia hamil tapi tidak ada ayahnya. Kalau bukan kamu siapa lagi? Hanya kamu satu-satunya yang bisa menolong Ayu.”
“Maaf, Bunda. Saya menolak dengan tegas, saya tidak bisa melakukan itu semua. Mintalah tanggung jawab dengan ayah kandungnya.”
“Kalau ayah kandungnya tidak kabur, buat apa saya cape-cape datang ke sini suruh kamu tanggung jawab? Laki-laki yang menghamili Ayu sudah kabur entah ke mana. Setelah tahu Ayu hamil.”
“Lihatlah, bahkan ayah kandungnya saja lari dari tanggung jawab. Kok bisa-bisanya suruh anak saya tanggung jawab untuk mengakui anak itu. Apa kata orang nanti,” ujar ibuku.
“Diam, kamu! Enggak usah ikut campur! Ini urusan Ayu dan juga Gibran! Kamu enggak usah ikut-ikutan ya!”
“Heh! Gibran itu anak saya! Dan saya ibunya! Kalau sudah menyangkut anak saya. Ini sudah menjadi ranah saya untuk menyelesaikan masalahnya.”
“Bunda, sudahlah. Masalah ini tidak usah diteruskan, kalau Gibran tidak mau menjadi Ayah sambung untuk anak Ayu. Jangan dipaksa lagi.” Akhirnya bapak mertua bicara juga, padahal aku sudah menunggunya dari tadi.
“Tapi, Yah. Bagaimana nasib anak kita? Kasihan Ayu.”
“Biar masalah Ayu urusan Ayah, lebih baik kita pulang saja. Apalagi dia sudah menceraikan anak kita, jadinya kita tidak pantas menyuruh dia bertanggung jawab.” Tak kusangka, bapak mertua bijak juga saat berbicara. Mungkin dia sudah malu atas sikap anaknya yang sudah di luar batas. Apalagi ia tidak menuntutku atas kasus kdrt, padahalnya anaknya sudah babak belur di tanganku. Tapi ia sama sekali tidak membahasnya, bagus deh kalau begitu. Tidak sia-sia aku membanting tubuh anaknya, setidaknya rasa sakitku tersalurkan.
“Gibran, Bapak minta maaf atas semua kesalahan Ayu. Bapak tidak akan menyalahkan kamu atas semua yang sudah kamu lalui bersama Ayu. Justru Bapak malu, tidak bisa mendidik anak perempuan Bapak dengan baik. Sekali lagi, Bapak minta maaf.”
“Ayah, apa-apaan sih! Kenapa kamu bilang kaya gitu sama Gibran!” Tak terima dengan sikap suaminya, bunda terus saja bersikap kasar terhadap suaminya. Bahkan memukul fisiknya di depan kami, bukan hanya pukulan. Mulutnya bahkan seperti ular. Ia memaki-maki suaminya dengan lantang.
__ADS_1
Kini aku tahu, sifat Ayu turun dari siapa?