Penyeselanku Datang Ketika Ia Sudah Pergi

Penyeselanku Datang Ketika Ia Sudah Pergi
Bikin malu orang tua


__ADS_3

“Kalau anak ibu dididik seperti itu. Sampai kapan dia akan Mandiri sendiri? ibu kan tahu tidak selamanya kita akan hidup berdua dengan anak kita, bisa saja kita dipanggil oleh Yang Maha Kuasa duluan dan meninggalkan anak kita"


Dengan Sombongnya orang tua Ayu berkata, "umur saya masih panjang, jadi nggak mungkin saya meninggal duluan."


“Sudah cukup perdebatan ini, jangan ada yang bicara lagi!” seketika Hening tidak ada yang berbicara, mataku kembali melihat ke arah Ayu yang sibuk bermain ponsel. Entah dia sedang berkirim pesan dengan siapa Aku tidak tahu.


“Ayu!” matanya langsung menoleh ke arahku dengan wajah yang tidak merasa bersalah.


"Kenapa kamu mengatakan kepada orang tuamu bahwa aku dan ibuku memperlakukan buruk terhadapmu?”


“Aku nggak bilang apa-apa kok ke orang tuaku, aku bilang sesuai dengan kenyataan kok, dan itu memang benar kan kamu tidak pernah memperlakukan aku dengan baik."


“Kamu—“ aku memberi isyarat kepada Ibuku untuk diam dan tidak bicara Ibuku kembali duduk dengan wajah kesal menatap mantunya.


“Selama ini aku tidak pernah melarangmu untuk pergi keluar rumah, sekalipun aku melarang, kamu tetap saja pergi kan tanpa peduli dengan ucapanku kamu juga tidak pernah beres-beres rumah kita, tidak pernah membuatkan makanan untukku, lalu kamu bilang ke orang tua kamu bawa aku memperlakukan buruk Otak kamu?”


“Mas Kenapa kamu bicaranya kasar banget sih sama aku. Aku memang nggak pernah beres-beres rumah, tapi kan itu bukan kewajiban aku, kamu juga bisa kan? Kenapa harus aku yang beres-beres rumah. Aku nikah sama kamu, tujuanya untuk bahagia, bukan menderita kaya mantan kamu!" Rahangku mengeras saat dia membawa mantan istriku. Untuk apa ia ungkit.

__ADS_1


“Iya, Mas tahu. Tapi bukan berarti kamu tidak melakukan kewajiban apa-apa kan, setiap bulan uang nafkah selalu Aku kasih. Bahkan kamu selalu meminta lebih tetap aku kasih, walaupun dalam hatiku selalu gondok. Asal Pak Rahma tahu ya bulan kemarin anak bapak telah mencuri uang saya Padahal uang itu untuk membayar hutang saya ke bank, tapi dia habiskan dalam waktu semalam untuk mabuk-mabukkan di klub malam.” kedua orang tua ayu langsung tersentak, mereka berdua saling tatap dalam diam. Tak lama mereka berdua tertunduk saat aku menjelaskan semuanya, aku tidak tahu maksud mereka melakukan hal seperti itu, apakah karena malu atau apa yang ku ucapkan memang sebuah kebenaran.


“Mas!” Ayu menatapku dengan rasa kecewa. Ia tidak percaya bahwa aku bisa membongkar kelakuan buruknya di depan orang tuanya, terlihat orang tuanya begitu malu dengan kelakuan anaknya.


“Yu, Bunda sama ayah mau pulang ke rumah.” Ayu terlihat kaget mendengar perkataan orang tuanya.


“Kenapa, pulang? Ayah kok tega tinggalin aku di sini berdua sama mertua? Bisa mati berdiri aku di rumah ini?” Hah dia bilang apa? Mati berdiri Bukankah itu harusnya kata-kataku?


“Bukan begitu, Ayah sama bunda lagi ada urusan, makanya pengen cepat-cepat pulang." Mereka berdua langsung berdiri dari duduknya, lalu keluar rumah tanpa berpamitan dengan ku dan juga ibuku sedang Ayu masih diam terpaku melihat kedua orang tuanya sudah pergi jauh.


Aku yang sudah lelah memutuskan untuk masuk ke dalam kamar, aku sudah muak dengan semua ini, apalagi ayu telah menyakiti aku di depan kedua orang tuanya, dan membuatku malu, seakan-akan aku tidak mempunyai harga diri di depan orang tuanya, benar-benar keterlaluan istriku itu.


"Ya, sudah. Ibu mau bicara dulu sama Ayu." Ratih berjalan ke arah mantunya, yang masih berdiri di depan pintu.


“Kamu sudah bikin malu suami kamu di depan orang tua kamu, dn membuat fitnah, untuk apa kamu melakukan hal semua itu.” Ayu menatap mertuanya dengan tatapan tidak bersahabat, iya mengapal kan tangannya dengan kuat seperti ingin memukul mertuanya.


“Ini semua salah ibu dan juga mas Gibran! Kalau saja kalian berdua memperlakukan aku dengan baik, mungkin aku tidak akan melakukan hal ini di depan kedua Orang tua aku.”

__ADS_1


“Apa kamu sengaja melakukan hal itu untuk mencari pembelaan di depan orang tuamu? Kamu lihat sendiri kan setelah anakku menjelaskan semuanya tentang perilaku kamu selama ada di rumah ini? Orang tua kamu langsung tertunduk untuk malu, mungkin mereka berfikir bahwa anaknya memang tidak berguna dan membuat malu keluarganya, aku bisa saja meminta Gibran untuk menceraikan kamu, tapi aku tidak mau melakunya, itu biar anakku saja melakukannya.” Ratih berlalu pergi meninggalkan ayu yang saat ini tengah tegang, iya tidak mau kalau dirinya diceraikan oleh suaminya, biar bagaimanapun ayu harus tetap bersamanya selama-lamanya.


“AAAA....!!!” Ayu langsung berteriak kencang, hingga suaranya bergema ke seluruh ruangan. Ia juga menarik-narik rambutnya hingga berantakan membuat rambutnya kusut.


“AKU ENGGAK MAU CERAI SAMA MAS, GIBRAN! ENGGAK MAU!”


...


“Yah gimana nih Bunda takut Gibran bakal cerain anak kita apa kata, orang nanti kalau anak kita bercerai? Kita ini keluarga terpandang loh, jangan sampai anak perempuan kita satu-satunya cerai apalagi. Sekarang dia hamil, mending Kalau hamil anaknya Gibran, lah ini dia hamil sama mantan pacarnya.”


“Ayah juga nggak habis pikir sama perilaku Ayu yang sudah kelewatan, dia sudah punya suami. Bisa-bisanya dia hamil sama orang lain, kalau sampai Gibran tahu, habislah kita berdua Bun!” saat ini kedua orang tua Ayu sedang gundah Apalagi saat tahu anaknya Tengah hamil bukan dengan suaminya tapi dengan lain.


“Apa! Kamu hamil? Bagaimana bisa? Katanya Gibran nggak pernah sentuh kamu selama 1 tahun ke belakang? ,kan Kamu sendiri yang bilang kalau kamu nggak pernah mau kalau diajak berhubungan suami istri.”


“Maafkan Ayu Bunda Ayu nggak tahu kalau hal seperti ini bisa menyebabkan kehamilan, awalnya Ayu cuman iseng aja berhubungan sama mantan pacar Ayu. Aku baru menyadari kalau Ayu sudah Telat 2 Bulan.” Kedua orang tua Ayu langsung lemas pendengar anak satu-satunya hamil bersama dengan orang lain.


“Terus sekarang harus bagaimana? Bunda enggak mau kalau suami kamu tahu kalau kamu hamil dengan orang lain.” Bunda terus saja mengguncan tubuh anaknya , ia benar-benar sudah emosi dengan kelakuan anaknya sudah keterlaluan.

__ADS_1


“Kalau kamu hamil sama orang lain apa kata orang nanti yu? Kamu jangan bikin malu keluarga kamu lagi, cukup sekali kamu membuat onar 3 tahun yang lalu saat kamu dilabrak sama mantan istrinya Gibran! Keluarga kita adalah keluarga terpandang, semua orang tahunya keluarga kita sudah baik dan tidak melakukan kesalahan lagi!" Nasi sudah menjadi bubur, hal ini sudah terjadi. Mereka semua sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi.


“Maafkan Ayu bunda, aku benar-benar nggak berpikir panjang. Kenapa bisa melakukan hal seperti. Ini semua karena mas Gibran karena dia telah memperlakukan aku buruk di rumahnya bahkan ibunya saja selalu menyuruhku bak bagi pembantu.”


__ADS_2