Penyeselanku Datang Ketika Ia Sudah Pergi

Penyeselanku Datang Ketika Ia Sudah Pergi
Bertemu dengan mantan Istri dan Anak


__ADS_3

Babnya aku panjangin, buat kalian yang sudah baca 💜💘❣ cerita ini ada di App Fizzo juga yaa.


Ya Allah kalau ku ingat-ingat lagi di masa lalu saat masih bersama Bella, betapa jahat dan agoisnya diriku. Kenapa aku baru menyadari ya? Ternyata aku suami yang gak berguna, suami pecundang, suami penghianat bahkan semua keburukanku ada di diriku semuanya.


"Ya, Allah. Bisakah engkau mengabulkan doaku? Kembalikanlah Bella kepadaku, aku berjanji pada diriku sendiri, bahwa aku akan memperlakukan dia sebaik mungkin dan aku tebus semua kesalahan dia." walaupun doa ini belum bisa dikabulkan oleh Allah setidaknya aku bisa berharap lebih semoga saja bila belum menikah.


Tiba-tiba saja. Aku kangen sama masakan Bella, aku rindu ketika dia membuatkan sarapan pagi untukku dan tidak pernah membiarkan perutku kosong.


Dan aku baru menyadari arti kata tidak bersyukur ketika kita mendapatkan seseorang yang sangat baik untuk kita. Dan kita malah membuangnya demi sesuatu yang hanya sementara ketika kita senang. Aku mengusap air mataku yang sudah membasahi pipi. Teringat dulu, aku memperlakukan Bella dengan buruk.


...


Jam sudah menunjukkan pukul 5 sore, ini adalah waktu seluruh karyawan pulang ke rumah masing-masing. Hari ini aku lagi malas pulang ke rumah, aku yakin sekali di rumah tidak akan ada masakan yang bisa aku makan. Entah kenapa, aku ingin makan di sebuah restoran di dalam mall. Sekalian jalan-jalan untuk menenangkan pikiran.


Baru saja aku melangkah masuk ke tempat makan cepat saji tiba-tiba Ayu sudah menelponku dan menyuruhku untuk pulang ke rumah.


" Ada apa lagi yu?"


"Mas kenapa kamu belum pulang? Aku ada perlu sama kamu, tolong transferin duit ya ke aku. Aku mau keluar sama temen-temen aku." sudah kuduga, ternyata dia meneleponku bukan menanyakan kabar atau apa gitu, ternyata mau minta duit.


"Mas lagi nggak megang duit."


"Jangan bohong, Mas! Aku tahu di ATM kamu tuh ada duit. Buruan kirim ke nomor rekening aku. Aku mau jalan keluar sama teman-teman, jangan bikin aku marah ya." Malas mendengar ocehan Ayu, aku langsung memutuskan sambungan teleponnya. Kepalaku benar-benar pusing jika mendengar suara Ayu. Lebih baik aku masuk ke dalam dan memesan makanan, karena perpus sudah lapar sekali


10 menit kemudian, makananku sudah jadi. Sat aku tengah asyik makan sendirian di restoran cepat saji, mataku tak sengaja melihat ke arah pintu masuk. Aku melihat ada seorang wanita dan anak kecil yang pernah mengisi hatiku.


"Be-Bella." Aku tergagap melihat Bella dan anakku ada di sini. Ternyata mereka juga makan di sini. Sedetik kemudian, jantungku berdebar sangat cepat melihat ada Bella di sini. Aku terus melihat Bella, hingga mata kami bertemu. Spontan, aku melemparkan senyum manisku untuknya. Sayangnya dia membuang muka dan mengacuhkanku.


Ia terus berjalan ke arah kasir untuk memesan makanan, dan dia hanya melewatiku begitu saja. Begitu juga dengan Arka, mungkin dia tidak ingat bahwa ayah kandungnya ada di sini.


Aku mencoba mendekati Bella yang sedang antre di kasir, dan berdiri di belakangnya. Ya, Allah. Rasanya ingin sekali aku memeluk dirinya dan mengucapkan, bahwa aku menyesal dan aku ingin dia kembali padaku.

__ADS_1


"Bella? Apa kabar?" Akhirnya aku memberanikan diri untuk bertanya kabar. Tapi dia tidak mau membalikkan badannya ke arahku sampai makanan yang ia pesan sudah selesai.


Ia pun duduk di bangku bersama dengan Arka. Tapi aku tidak menyerah, aku ikuti dia sampai kamu berdua duduk bersama.


"Bella, kamu ke sini cuma berdua saja sama Arka?" tanyaku memulai obrolan. Ia hanya menatapku dingin, aku tahu dia tidak ingin bicara denganku apalagi melihat wajahku.


"Maaf, anda ini siapa? Kok bisa seenaknya duduk di sini? Apa sebelumnya kita kenal."


"Bell, tolong jangan bicara seperti itu sama Mas. Kamu tahu, kalau kita pernah mempunyai hubungan dan kita pernah menjadi suami Istri."


"Siapa?"


"Ki-kita berdua."


"Maksud saya, siapa yang tanya." Aku tersentak ketika dia membalas ucapanku seperti itu, dan membuat aku malu. "Bell, ada banyak yang ingin aku bicarakan sama kamu. Jujur, saat kita berdua berpisah, aku--"


"Bisakah anda pergi dari sini, anda tidak lihat kami ingin makan dengan tenang? Lagi pula anda ini orang asing, untuk apa saya harus bicara sama kamu."


"Iya, saya sangat benci. Saking bencinya saya. Saya sampai muak melihat wajah anda di depan saya, rasanya ingin sekali saya lempar minuman ini ke muka anda dan pergi dari sini!" Tatapan Bella begitu dingin. Aku sampai tidak mengenal dirinya lagi, aku tahu sikap dia seperti ini karena siapa?


"Maafkan Mas, Mas salah. Maaf sudah membuat hati dan hidup kamu hancur karena keegoisan Mas. Kamu berubah jadi begini juga karena Mas, sekali maafkan Mas." Aku tertunduk lesu, aku tidak bisa lagi menahan air mataku, rasanya sungguh menyakitkan, ketika orang yang kita cintai dulu sudah berubah karena sikap kita yang telah membuat hatinya hancur.


"Sekarang pulanglah, ada Istri di rumah yang menunggu kepulangan kamu, jangan sampai dia kecewa karena dia sedang duduk berdua bersama dengan wanita lain yang bukan siapa-siapanya lagi. Jangan sampai ada korban yang berjatuhan gara-gara laki-laki egois!" Aku hanya bisa tertunduk lesu, Bella yang kukenal. Bukanlah Bella yang dulu. Kini dia sudah berubah, bahkan tatapan matanya begitu dingin terhadapku, cara bicaranya tidak selembut seperti dulu.


Kulihat Arka tengah asyik makan camilan yang tadi mamahnya pesan, Masya Allah. Begitu tampannya anakku.


"Bell, sekarang Arka sudah umur berapa?"


"Apa penting saya beri tahu umur anak saya ke kamu?" Aku mendesah pelan melihat sikapnya yang begitu ketus terhadapku.


"Arka itu anakku juga Bell."

__ADS_1


"Sejak kapan? Kapan kamu punya anak? Apakah kamu pernah merawat anak ini ketika masih Bayi? Apa pernah kamu memberikan haknya ketika ia masih punya Ayah! Apa pernah kamu menjaganya saat dia terlelap tidur!" Aku mengalihkan pandanganku ke arah lain, terlihat wajah Bella begitu emosi ketika berbicara tentang keadaan anaknya. Ku akui, aku tidak pernah memikirkan Arka waktu aku masih bersama dengan Bella. Jangankan menjaganya, melihatnya saja aku tidak mau. Jadi wajar saja jika Bella berkata seperti itu padaku.


"Maafkan aku Bell, aku memang gagal menjadi Ayah yang baik untuk Arka."


"Baru sadar kalau kamu Ayah tidak berguna bagi Arka? Selama ini ke mana saja Pak baru sadar? Sekarang kamu pergi dari hadapan saya!" Aku tercengang ketika ia mengusirku, padahal aku masih mau melihat anakku.


"Bell, aku masih mau di si--"


Byur...


Bella menyiramkan minumannya ke arah wajahku, napasnya sudah naik turun karena emosinya sudah meledak-ledak. Bahkan, orang-orang kaget melihatku.


"Jangan pernah lagi kamu menampakkan wajah kamu di hadapan saya!" Ia bangkit dari tempat duduknya, buru-buru menggendong Arka dan meninggalkan aku sendirian di sini dalam keadaan baju basah semua.


Aku tidak bisa berkutik lagi, Bella benar-benar sangat membenciku. Ini semua adalah kesalahanku terhadap dirinya, dia berubah juga karena diriku.


Akhirnya aku pulang ke rumah, badanku sudah lengket akibat disiram minuman manis oleh Bella.


"Ya, Allah. Kamu kenapa jadi kotor begini? Rambut kamu kenapa jadi jabrik, lengket lagi." Ibuku membantu membersihkan rambutku. Aku tidak mengatakan padanya, bahwa ini perbuatan Bella, “kamu mandi dulu sana, badan kamu jadi lengket gini. Nanti banyak semut di badan kamu loh.”


“Iya, bu.” Baru saja aku melangkah masuk ke kamar mandi, tiba-tiba saja Ayu datang.


"Mas, bagi duit dong. Aku mau keluar nih sama teman-teman aku ke cafe." Aku tidak menanggapi ucapannya, suami baru pulang. Bukannya disambut dengan baik, ini malah nodong uang! "Mas! Kamu dengar enggak sih, aku minta uang! Aku mau jalan ke cafe! dari tadi aku sudah minta uang loh sama kamu, tapi kenapa kamu belum transfer uang ke aku?


"Yu, kamu enggak lihat. Aku baru pulang kerja! Lihat nih, badan aku basah plus lengket. Barusan aku ketumpahan minuman manis di jalan.”


"Lihat kok, terus urusannya sama aku apa?" Aku menggelengkan kepalaku melihat sikap Ayu, kenapa sikapnya sangat buruk terhadapku. "Mana uangnya? Buruan! Aku lagi buru-buru Mas."


"Mas, cape. Harusnya kamu sebagai Istri jangan keluyuran, kenapa kamu enggak di rumah saja. Beres-beres rumah, cuci piring, rapikan tempat tidur." Ayu berdesis tidak suka dengan saranku.


"Kamu pikir aku pembantu apa! Siapa juga yang mau beres-beres rumah, 'kan ada Ibu kamu, suruh saja dia beres-beres rumah." Hatiku meradang saat dia mengatakan hal seperti itu terhadapku.

__ADS_1


__ADS_2