
Tinggal beberapa bab lagi, novel ini tamat. Karena ingin mendekati tamat. Aku kasih, 1 hari 2 bab buat kalian senua..
Esoknya.
“Mas, ini udangan pernikahan siapa?” Spontan aku dan ibuku menoleh ke arah Ayu. Mataku langsung menuju ke arah tangannya ternyata ia sedang memegang kartu undangan pernikahanku.
“Gibran!” Ibuku langsung mencubit Pinggangku aku pun meringas kesehatan karena cupitanya begitu keras.
“Sakit, Bu. Kok malah dicubit?”
“Kamu ini bodoh atau gimana? Kenapa undangannya bisa di tangan Ayu!” bisik bisik Ibuku disertai wajah marahnya.
“ Aku juga nggak tahu, Bu. Perasaan aku udah simpan undangan itu di lemari deh.”
“Buktinya, undangan pernikahan itu ada di tangan Ayu, kamu sih orangnya teledor banget sih!” marahnya lagi, "buruan ambil undangan itu jangan sampai ke Ayu ikut sama kamu!”
“Iya, Bu." Aku bangkit dari sofa ku, berjalan ke arah Ayu, sebelum ia bertanya lebih jauh tentang undangan ini, buru-buru aku ambil undangan ini dan berjalan ke arah kamar, untuk saat ini aku tidak mau menjelaskan apapun tentang undangannya ini. Aku yakin sekali, dia akan bertanya lebih dalam.
“Mas kamu mau ke mana? Aku tanya loh. Itu undangan siapa? Siapa Clara? Kok kamu malah kabur.” tak ingin menyerah Ia terus saja mengejarku sampai masuk ke dalam kamar.
“Mas! Aku tanya loh, kok kamu malah begitu sih? Siapa itu Clara? Itu undangan pernikahan siapa?" Aku hembuskan nafasku secara perlahan. Sebenarnya aku malas untuk menjelaskan. Aku tidak ingin dia ikut. Ya, Allah Aku harus bagaimana Kok bisa sih dia nemu undangan ini di lemari padahal kan udah aku sembunyikan dengan baik.
“Mas aku tanya itu undangan pernikahan siapa? Kenapa bisa ada di dalam lemari?”
“Ini undangan pernikahan teman.”
“Kalau undang pernikahan teman kok kamu sikapnya kayak gitu sih sama aku?”
“Sikap Bagaimana sih? Kayaknya biasa aja deh.” Aku mencoba sesantai, mungkin agar tidak terlihat bahwa aku sedang berbohong dengannya.
"Lagi pula ini undangan pernikahan udah lama kok.”
“Sudah lama bagaimana sih di undangan itu tertera tanggal 11 November, itu artinya seminggu lagi dong acara pernikahannya.” Oalah mati aku ternyata dia melihat tanggal pernikahan di undangan ini bodoh bodoh.
"Pokoknya aku mau ikut ke acara pernikahan teman kamu, kayanya temen kamu orang kaya deh. Terlihat dari undagannya. Bentuknya mewah, bagus lagi." Ayu terus saja melihat undagan itu. Ia bolak-balik berkali-kali padahal isi undangannya sama saja. Tidak ada yang berubah.
"Maaf, Yu. Mas enggak bisa ajak kamu ke acara pernikahan. Itu kan pernikahan teman aku, jadinya yang datang hanya aku saja."
__ADS_1
Ayu menggelengkan kepala, tanda ia menolaknya. "Di undangan ini tertulis Gibran dan istri. Itu artinya aku diundang ke acara ini kan?" Kugaruk kepalaku dengan kasar, kalau sudah begini, aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi.
"Ayu, Mas--"
"Hoek!"
"Loh, kamu kenapa, Yu?"
"Ma-maaf, Mas. Aku mau ke toilet dulu. Perut aku mual." Ia melesat cepat ke arah kamar mandi, aku dibuat bingung oleh dirinya.
Di kamar mandi, Ayu terus saja memuntahkan isi makannya. Ia merasa mual sampai-sampai badanya terasa lemas. Gibran dan mertuanya, belum mengetahui kalau dia tengah hamil muda. Jika mereka berdua menanyakan keadaannya. Ia akan menjawab hanya masuk angin biasa.
"Kalau keadaan begini terus, lama-lama bisa ketahuan kalau aku tengan hamil muda," batinnya.
Dor.. Dor...
"Yu, Ayu. Kamu di dalam lagi ngapain? Kok lama?" Aku mencoba menghampirinya, karena tak biasanya Ayu terlihat seperti itu.
"Yu, kamu kenapa? Kamu sakit?" Aku terus mengetok pintu kamar mandi, tak lama ia keluar dengan keadaan lemas.
"Kamu sakit?" Ia hanya menggelengkan kepalanya, dan pergi begitu saja tanpa menjawab pertanyaanku.
"Aku cuma masuk angin saja,Mas. Tolong keluar dari kamar ini ya. Aku mau istirahat dulu," ujarnya tanpa membalikkan badan, ia langsung merebahkan tubuhnya di kasur, sambil bermain ponsel. Karena Ayu tidak mau lagi bicara denganku, aku memutus kan untuk kembali ke ruang tv dengan ibuku.
"Gimana? Undanganya sudah kamu sembunyiin dari Ayu? Jangan sampai dia ikut ke acara kamu, bisa gagal rencana kamu ketemu sama Bella," ucap ibuku, lagi-lagi aku mengusap rambutku dengan kasar. Membuat rambut ini berantakan tak karuan.
"Kamu kenapa lagi? Kaya orang gila aja, rambut rapi kok diberantakin."
"Gibran lagi pusing, Bu. Masalahnya Ayu mau ikut ke acara nikahan temanku. Ibu tahu sendiri kan Ayu orangnya kaya apa?" Wajah ibuku seketika berubah masam.
"Harusnya kamu jangan ceroboh, kalau sudah begini. Bisa gagal rencana kamu." Aku tidak menjawab ucapan ibuku lagi, aku berharap Ayu tidak ikut denganku.
Berhari-hari telah berlalu, Ayu tidak pernah mengungkit acara pernikahan temannku. Ku kira ia sudah melupakannya. Hanya saja, sikap Ayu sedikit berubah.
Di saat kami sarapan pagi, tiba-tiba saja Ayu merasa mual saat mencium aroma masakan ibuku.
"Kamu ini kenapa si, Yu! Enggak sopan banget sama makanan. Masa masakan ibu dihambur-hamburkan. Kalau enggak mau makan ya sudah, sana masuk kamar. Pesan makan dari luar," protes ibuku, ia terlihat sebal karena masakan dia hanya di diam kan atau hanya diacak-acak tidak jelas.
__ADS_1
"Aku enggak suka sama menu masakan Ibu, aku maunya menu masakan lain. Aku mau makan ikan gurame," pintanya membuat mata ibuku melotot.
"Mantu edan! Kamu pikir uang anakku itu banyak untuk beli ikan gurame! Harusnya kamu bersyukur bisa makan ini!" Ayu tidak menjawab ucapan ibuku, ia langsung menoleh ke arahku dan bermanja di lenganku.
"Mas, aku mau makan ikan gurame. Tolong belikan ya."
"Yu, kamu jangan aneh-aneh. Di sini ada makanan. Kenapa harus makan yang lain." Perlahan aku melepaskan tangan dia dari lenganku. Aku tidak suka jika dia bermanja-manja denganku. Aku mau bermanja-manja dengan Bella.
"Tapi, Mas. Aku ... Huek!"
"Idih, jorok!" Ibuku langsung bangkit dari kursi makan, saat Ayu memuntahkan makanan di lantai. Begitu juga dengan diriku. Ia pun melangkah ke kamar mandi.
"Ya, Allah. Dasar mantu kurang ajar! Kenapa dia malah muntah di sini. Ibu jijik lihatnya!" Aku ingin menyusul Ayu, aku ingin tahu keadaanya.
"Heh! Mau ke mana kamu? Bereskan muntahan istri kamu."
"Tapi, Gibran mau lihat keadaan Ayu, Bu."
"Bereskan!" tegasnya, aku tidak jadi melihat keadaan Ayu. Aku benar-benar penasaran. Tapi sudah lah, nanti bisa aku tanyakan lagi. Yang penting aku harus rapikan bekas kekacaun Ayu.
"Sudah kamu bersihakan?"
"Sudah, Bu."
"Tidak biasanya istri kamu kaya gitu. Aneh banget tingkahnya, dari kemarin kelakuannya enggak jelas banget. Bikin darah ibu tinggi saja."
"Kayanya Ayu lagi sakit, Bu."
"Halah, sakit apa! Kerjanya cuma rebahan sama main hp doang kok sakit. Jangan-jangan istri kamu ada sesuatu yang disembuyikan dari kamu. Masa setiap pagi mual terus."
"Maksud, Ibu?" Tiba-tiba saja ibuku berhenti berucap, mulutnya langsung ia tutupi dengan kedua tangannya. Ia seperti menemukan sesuatu di diri Ayu.
"Gibran! Jangan-jangan Ayu--" Baru saja ia ingin meneruskan ucapannya. Tiba-tiba saja ada tamu. Mau tidak mau ibu harus menyambutnya, takut ada keperluan.
Tapi, sudahlah. Nanti aku tanyakan Ayu. Ahkir-akhir ini sikap Ayu memang berubah. Ia sering mual di pagi hari. Bahkan aku sempat berpikir. Jangan-jangan dia tengah berbadan dua? Tapi mana mungkin, aku saja sudah tidak pernah menyentuhnya. Semenjak bercerai dengan Bella. Apalagi saat kuajak, ia selalu saja menolakku, dengan alasan cape.
...
__ADS_1
Tibalah hari yang aku tunggu, aku terus saja bergaya di depan cermin. Memastikan diriku sudah pantas bertemu dengan Bella dan juga Arka. Bahkan aku sudah membeli baju batik terbaik untuk datang ke pesta pernikahan.
“Aduh, anak Ibu sudah rapi. Makin ganteng saja ya.” Mendengar pujiannya, membuat rasa percaya diri ini meningkat.