
“Halo, Yah. Sebentar lagi aku pulang ke rumah. Arka masih mau main mandi bola sebentar,” ujar Bella. Ia sengaja menghubungi ayahnya di rumah. Niatnya ia ingin pulang setelah Arka puas bermain dengan mbak uti. Sayangnya niat itu ia urung kan ketika Gibran datang menghampirinya.
"Oke, jangan lama-lama ya mainnya. Ayah enggak mau kamu ketemu mantan suami kamu di jalan. Apalagi kamu masih satu desa."
"Iya, Ayah." Selesai berbicara dengan Ayahnya, ia kembali memasukan ponselnya ke dalam tas. Ia sengaja tak memberitahukan kepada orang tuanya, bahwa anaknya tengah bermain bersama ayahnya dan juga neneknya. Kalau sampai tahu, satu mall ini bisa terjadi keributan. Bahkan bisa menyebabkan pertumpahan darah. Bella tidak ingin itu terjadi di sini.
“Mbak, Bella. Bukanya itu Mas Gibran ya?” tanya uti sepupu jauh dari keluarga Bella.
“Iya, itu Mas Gibran.” Bella hanya menatap dari kejauhan ketika anak semata wayangnya bermain dengan ayah kandungnya. Ada serpihan perih menusuk ke dalam hatinya.
"Kok dikasih izin untuk bermain?“
" Enggak apa-apa, sekali-kali Mbak izinkan. Dan satu lagi, kamu jangan bicarakan hal ini sama kakeknya Arka, kalau sampai dia tahu, cucunya main sama ayahnya. Bisa kacau nanti."
"Iya,Mbak! Aku juga tahu kok." Bella terus saja menatap ke arah anaknya, ia terlihat bahagia saat bermain dengan ayah kandungnya dan juga neneknya, "kenapa di saat seperti ini, kamu malah muncul, Mas? Kenapa, Mas?” batinnya bergejolak penuh dengan kekecewaan.
30 menit sudah Arka bermain denganku. Aku begitu senang bisa bermain puas dengan Arka. Begitu juga dengan neneknya. Saat tahu aku bermain dengan Arka, ibuku langsung berlari menghampiriku.
“Ya, Allah. Cucu Nenek sudah besar ya. Sini, Nak. Nenek mau peluk kamu.” Aku pun membiarkan Arka dipeluk oleh neneknya. Ada rasa bahagia saat ibuku bertemu dengan cucunya. Andai saja aku tidak menghancur kan rumah tanggaku. Mungkin aku dan Bella masih hidup bersama dan mempunyai anak lagi.
“Arka kalau di rumah suka main sama siapa?" tanya ibuku.
"Main sama Kakek sama Nenek di rumah, soalnya mamah kerja, ayah juga kerja." Mendengar ucapan cucunya membuat ibuku sedikit bungkam, ia merasa heran dengan ucapan cucunya.
"A-ayah? Ayah yang mana ya?"
"Ayah aku di rumah, aku sering dibeliin mainan yang bagus."
"Hoh, begitu ya." Aku bisa melihat raut kecewa ibuku, ia pasti berpikir. Mantan mantunya sudah menikah lagi setelah berpisah denganku.
"Bu, jangan tanya-tanya apa pun ke cucu. Lebih baik Ibu puaskan dulu bermain dengan Arka. Kita tidak bisa setiap hari bertemu dengan Arka."
__ADS_1
"I-ya, Nak." Akhirnya ia melanjutkan permainannya dengan cucunya.
“Arka, kamu sudah selesai Nak mainnya. Ayo, Nak kita pulang. Kakek sama Nenek sudah menunggu di rumah.” Bocah kecil itu berlari riang menghampiri mamahnya. Padahal aku ingin bermain lebih lama, sayangnya ia harus pulang ke rumah. Bahkan wajah ibuku terlihat sedih melihat cucunya akan pulang ke rumah.
"Pamit dulu sama, Om." Mata ibuku terbelalak mendengar menyebut diriku om di depan Arka.
"Bell ... i-itu, kok Gibran dipanggilnya, Om?"
"Kenapa? Ada yang salah." Ibuku tidak bisa lagi berkata, masalahnya tatapan Bella, seperti orang yang ingin ribut.
"Hoh, enggak. Kok. Cuma aneh saja, soalnya Gibrankan Aya--" Dengan cepatnya, Bella menyela ucapan ibuku.
"Main sama Arkanya sudah selesaikan? Kami bertiga mau pulang, kakek dan neneknya sudah menunggu di rumah!" ibu hanya tersenyum kikuk dengan mantan mantunya, seperti ia tidak membiarkan Arka mendengar, bahwa aku adalah ayah kandungnya. Akhirnya Arka dan Bella pergi meninggalkan kami di sini.
“Bran, Ibu masih mau main sama Arka. Kira-kira ibunya kasih izin enggak ya?”
“Yah.” Lagi-lagi ibuku kecewa dengan semua ini. Ia tahu, bahwa mantan mantunya masih membenci dirinya. Gara-gara ibuku, rumah tangga Bella dan aku hancur dalam sekejap saja.
“Bu, tunggu sini ya. Aku mau susul Bella dulu. Siapa tahu, di lain waktu aku bisa main sama Arka.” Aku masih berusaha untuk mengejar anakku.
“Ya, sudah sana. Semoga ibunya mau mengizinkan anaknya bermain sama kita.” Aku berlari mengejar Bella, mumpung ia dan Arka belum pergi jauh.
“Bella, tunggu. Ada yang mau aku bicara kan sama kamu.” Ia membalik kan badanya. Melihatku dengan tatapan datar, “Bel, itu ... Boleh enggak kapan-kapan aku main sama Arka lagi?”
“Untuk apa? Kenapa anakku harus bermain lagi dengan sama kamu? Saya rasa itu tidak perlu.”
“Tapi, Bell. Dia ... “
“Dia apa? Mohon maaf ya, saya sudah tidak punya waktu lagi. Arka harus sudah sampai rumah sebelum jam 5 sore. Kakeknya sudah lama menunggu di rumah.” Ia pun melanjut kan perjalanan menuju pintu keluar, sedang kan Arka memberikan salam perpisahan untukku dengan cara melambai kan tangan.
__ADS_1
“Dadah, Om. Kapan-kapan main lagi ya.” Aku pun membalas lambaian tangannya. Aku berjalan ke arah ibuku.
“Gimana? Bisa tidak kita ketemu sama Arka lagi? Ibu mau main lagi sama Arka.” Aku menggeleng kan kepalaku. Lagi-lagi ibu terlihat kecewa dengan semua ini.
“Ibu, maaf kan Gibran. Maaf, gara-gara aku. Ibu tidak bisa bermain dengan cucu.” Tangisku pecah dalam pelukan ibuku. Walau pun ini di tempat umum aku tidak peduli. Biar lah orang mengatakanku laki-laki cengeng.
“Sudah lah, Nak. Biar kan semuanya berlalu. Jangan nangis lagi, kalau kamu bersedih. Ibu juga ikutan sedih Nak.”
“Sekali lagi maaf, kan Gibran, Bu. Ini semua memang salahku.” Aku sudah tidak bisa lagi menghentikan tangisku. Terlalu sulit untuk berhenti menangis.
“Ayo kita pulang ke rumah. Nanti di jalan bisa macet.”
“Ayo, Bu.”
Di lain tempat.
“Mbak Bella, Mbak!” Uti menepuk pundakku sejak kepulangan dari mall. Aku terlihat bengong seperti memikirkan sesuatu.
“Ada apa? Kamu bikin saya kaget loh.”
“Maaf, Mbak. Saya takut Mbak Bella kesurupan setan, dari tadi saya panggil nama Mbak. Tapi enggak direspon.” Bella hanya tersenyum mendengar Uti berbicara seperti itu.
“Kamu ada-ada saja pikirannya. Mana mungkin saya kesurupan setan. Saya itu enggak bengong, saya lagi memikir kan sesuatu.”
“Lagi mikirin ayahnya Arka ya, Mbak?” Seperti tetap sasaran. Bella memang sedang memikir kan mantan suaminya. Hatinya begitu perih saat anak semata wayangnya bertemu dengan ayah kandungnya.
Bohong kalau Bella tidak memikir kan, justru pertemuan dengan mantan suami dan anaknya membuat hatinya semakin hancur.
“Semoga saja, aku dan Mas Gibran tidak bertemu lagi. Aku sudah tidak mau lagi melihat mereka berdua. Mereka berdua sudah membuatku hancur,” batinnya, jika melihat Gibran dan juga mantan mertuanya. Kenangan buruk saat tinggal dengan mereka. Membuat rasa trauma muncul.
Butuh waktu 1 jam untuk sampai rumah. Karena waktu sudah semakin sore, membuat semua kendara membeludak hingga membuat macet.
__ADS_1
“Bran, itu di depan rumah mobil siapa ya? Kok parkir di halaman rumah kita.”