
Yyee, terima kasih untuk teman-teman yang sudah membaca novel aku.
Sebentar lagi, novel ini akan tamat.
“Apa? Pembantu kamu bilang?” Ayu mengagukan kepalanya, setelah itu Ia menceritakan segala ainrumah tangganya selama ia tinggal bersama dengan mertuanya, bahkan kelakuan mertuanya ia beberkan di depan orang tuanya.
“Keterlaluan suami kamu bisa-bisanya dia memperlakukan Kamu bagaikan pembantu, kamu ini kan Istrinya, kenapa kamu harus diperlakukan buruk? Ayah nggak terima kalau kamu diperlakukan buruk, besok ayah akan datang ke rumahnya.”
“Terus masalah kehamilan Ayu Bagaimana Yah? Aku takut Mas Gibran tahu, aku nggak mau cerai dari Mas Gibran ya.”Ketiganya tidak ada yang saling bicara, mereka semua terdiam dalam pikirannya masing-masing.
"Yah, bagai mana kalau anak di perut ini. Aku gugurkan saja? Mumpung kehamilan aku masih muda!"
"Jangan gila kamu! Bunda enggak setuju kalau kamu gugurkan anak ini! Yang jelas, Gibran harus bertantung jawab atas kehamilan kamu, bagai mana pun caranya.
" Tapi, Bun. Mas Gibran pasti tahu. Ini bukan anakknya." Bunda yang sudah pusing dengan semua ini, hanya bisa merasakan kecewa yang amat dalam. Ia juga berpikir sama dengan anakknya. Gibran pasti tahu ini bukan anak kandungnya.
“Kalian berdua tenang saja dulu. Masalah kehamilan kamu bisa kita bicarakan nanti, pokoknya Gibran jangan sampai tahu kalau kamu hamil dengan orang lain bisa-bisa Dia ngamuk," ujar Ayah. Hanya saja bunda tidak setuju dengan jalan keluarnya.
“Mau sampai kapan dibiarkan? Lama- lama perut Ayu makin lama makin besar Yah." Lagi-lagi ayah terdiam, iasaja bingung memikirkan hal ini, yang dikatakan istrinya memang benar. Semakin lama kendangan Ayu akan membesar. Dan itu akan memunculkan tanda tanya besar.
...
"Seharusnya, saat bertemu dengan Gibran. Ayah jangan langsung marah-marah. Kalau saja sikap Ayah baik sama Gibran, mungkin hal ini bisa dibicarakan dengan baik"
"Niat Ayah memang seperti itu, Bun. Hanya saja Ayah sudaj kepalang emosi. Saat anak kita tidak diperlakuakan dengan baik oleh mereka. Bahkan anak kita tidak boleh ikut jalan-jalan ke mall."
__ADS_1
"Anak kita, makin lama makin kurang ajar ya? Sebenarnya Bunda belum 100% percaya dengan omongan Ayu tentang dirinya tidak diperlakukan baik oleh mertuanya. Apalagi, Gibran menjeleskanya secara detail tentang Ayu."
"Ayah juga sepedampat sama Bunda. Itulah sebabnya Ayah minta pulang. Ayah juga malu sama Gibran. Ini semua salah kamu Bun. Andai kamu tidak memanjakan dia. Pasti Ayu jadi anak yang tidak kurang ajar!" Dengan entengnya Pak Rahmat menyalakan semua ini kepada istrinya membuat istrinya tidak terima dengan tuduhannya.
“Kenapa malah jadi salahin aku?Harusnya kamu dong yang mendidik anak perempuan kamu dengan baik.”
“Bagaimana aku mendidiknya kalau kamu selalu melarang aku, aku mau Didik Ayu dengan keras, kamu nggak terima. Ya, sudah beginilah akibatnya.” Iya hanya berdecak kesal ketika suaminya menyalahkan dirinya.
“Apa kamu tidak ingat saat anak kita kena kasus gara-gara dia merebut suami orang dan videonya sempat viral saat dia dilabrak oleh istrinya sahnya Gibran?” Bunda hanya bisa diam, menerawang jauh mengingat 3 tahun yang lalu saat video anaknya viral dilabrak oleh mantan istrinya Gibran, saat itu Bundanya Ayu memang tidak tahu kalau Gibran sudah mempunyai istri karena dia mengaku kepada mereka duda. Setelah diselidiki ternyata Gibran belum bercerai dengan istrinya. Awalnya ia tidak setuju melanjutkan pernikahan anaknya dengan Gibran, tapi karena anaknya terus memaksa mau tidak mau tetap dilanjutkan.
"Kalau saja Ayu tidak ngotot menikah dengan Gibran. Mungkin hal ini tidak akan pernah terjadi," lirihnya, membuat air mata sang bunda. Meluncur membasahi pipinya.
Sementara di tempat lain, Ayu sedang berada di dalam kamarnya Sudah 1 jam ia selalu mondar Mandiri kesana kemari, ia sedang pusing memikirkan dirinya yang tengah hamil dengan mantan pacarnya. Iya takut suaminya akan mengetahuinya dan dia akan marah besar.
“Pokoknya suami aku nggak boleh tahu, kalau aku hamil, aku pengen mas Gibran mengakui anak ini, tapi bagaimana caranya? Sudah 1 tahun ini aku selalu menolak ajakannya dengan alasan malas dan juga capek. Pokoknya aku harus cari jarak supaya masalah ini cepat selesai kalau bisa anak yang ada di kandunganku lebih baik dibunuh saja!”
...
“Sekolah yang mana ya? Terus temen kita yang mana? Namanya siapa.”
“Teman sekolah SMA kita. Clara, temannya Bella dulu kan di dekat banget sama Bella, gue yakin pasti mantan istri lu datang ke nikahan Clara.” Buru-buru aku membuka plastik undangan itu untuk melihat apakah Clara akan menikah? Jika memang benar, Bella pasti akan datang ke pernikahan Clara, apalagi mereka berdua itu teman dekat.
Senyumku terbuka lebar Ketika aku melihat undangan ini, benar ini adalah temannya Bella, yang bernama Clara, aku yakin sekali mantan istriku pasti akan datang ke sini, ini adalah kesempatanku untuk bertemu dengan Bella dan juga Arka.
“Kok lu senyum-senyum kayak gitu sih,” tanya temanku terlihat heran.
__ADS_1
“Enggak papa kok, gua cuma senang aja, akhirnya temen gua temennya gue nikah juga.” Aku terus melihat undangan ini, aku jadi tidak sabar untuk datang ke pernikahan temanku, dengan ini aku bisa bertemu dengan Bella dan juga anakku. Aku benar-benar sangat merindukan mereka berdua. Ya, Allah pertemukanlah aku dengan Bella.
Selama dalam perjalanan pulang aku terus saja tersenyum memikirkan saat aku bertemu dengan Bella dan juga Arka, "aku harus pakai baju apa ya di sana? Biar Bella sedikit terpesona dengan penampilanku yang ganteng ini. Semoga saja dia tidak cuek padaku."
Saat sudah sampai rumah aku terus saja tersenyum-senyum. Bahkan ibuku saja sampai terlihat heran dengan sikapku hari ini, biasanya sepulang kerja aku selalu cemberut tapi tidak dengan kali ini hatiku benar-benar sembuh gembira hanya karena selembar undangan.
Ibuku yang penasaran dengan sikapmu langsung menyusulku ke dalam kamar“ Kamu kenapa Bran? Kok pulang kerja senyum-senyum gitu tumben? Biasanya pulang kerja kamu cemberut aja.”
Lagi-lagi aku tersenyum tidak jelas karena tak sabar ingin memberitahukan Ibuku, aku langsung mengeluarkan undangan ini dan kuberikan padanya
“Ini undangan dari siapa Bran?”
“Itu undangan pernikahan dari Teman sekolahku, namanya Clara.”
“Terus?” Ibuku masih terlihat kebingungan. Mungkin dia berpikir Ini hanyalah udah biasa tapi kenapa bisa membuatku tersenyum-senyum tidak jelas.
“Bu orang yang bernama Clara ini. Teman sekolahku waktu SMA dulu. Aku yakin banget, Bu. Bella pasti akan datang ke pernikahan temannya ini, maka dari itu, Bu. Aku senang karena aku mau datang ke pernikahan temanku ini."
Ibuku menganggukkan kepala sambil tersenyum, tandanya ia mengerti maksud dari perkataanku.
“Itu artinya kamu bisa ketemu sama Bella dong?”
“Jelas dong. Itulah sebabnya Aku mau buru-buru datang ke sana, aku udah nggak sabar, aku bakalan pakai baju yang terbaik supaya Bella terpesona denganku.”
Ibuku memberikan Dua jempol Bahkan ia sendiri saja terlihat senang apalagi aku
__ADS_1
"Bagus, biarpun Bella masih benci kamu, kamu pepet dia, kamu rayu dia, kamu dekatin dia, supaya dia luluh sama kamu dan bisa balikan lagi sama kamu, kalau Bella bisa kamu dapat. Ayu bisa kamu buang kapan punya kamu mau.”
“Tenang aja, Bu. Gibran sudah menyiapkan sesuatu yang bisa bikin Bella luluh lagi.” Karena badanku sudah lengket, aku memutuskan untuk mandi. Untung saja Ayu tidak ada di rumah, kalau sampai dia tahu ada undangan pernikahan ini, aku yakin sekali dia pasti akan merengek untuk ikut, tidak akan kubiarkan dia ikut ke pernikahan temanku karena aku ingin bertemu dengan istriku Bella dan juga anakku seorang diri.