
"Tuh, Mas. Mulutnya makin lama, makin kurang ajar!" Aku terus menatap Bella, benarkah dia ingin berpisah dariku. Apakah dia tidak memikirkan ke depannya, kalau dia berpisah denganku. Lalu siapa yang memberikan nafkah selain diriku.
"Bella! Mau ke mana kamu?" Aku berusaha mengejarnya, tapi lenganku ditahan oleh Ayu.
"Kamu mau ke mana, Mas? Kamu mau pergi tinggalin aku di sini?"
"Maaf, sayang. Mas harus kejar Bella dulu, ada yang mau aku sampai kan sama dia."
"Enggak boleh! Aku mau kamu tetap di sini. Biar kan dia pergi sendiri, lagi pula buat apa kamu susul dia, Mas? Bukan kah kamu sudah tidak peduli lagi?" Aku terdiam dengan perkataan Ayu, memang benar. Aku sudah tidak mencintai Bella lagi, semenjak ada Ayu mengisi hatiku. Hanya saja, aku tidak bisa membiar kan Bella pergi begitu saja. Aku harus menyelesai kan masalah ini.
"Maaf kan, Mas. Aku harus susul Bella supaya masalah ini cepat selesai." Perlahan aku melepaskan tangan Ayu dari lenganku dan pergi menjemput Bella.
"Mas, Mas Gibran! Jangan pergi." Ayu terus saja memanggil Gibran, hanya saja Gibran terus berlari meninggal kan dirinya di cafe seorang diri dan tentunya menjadi pusat perhatian semua orang di cafe ini.
"Apa kalian semua lihat-lihat saya? Belum pernah kah kalian melihat wanita cantik seperti saya?" ujarnya dengan percaya diri tinggi, sedang kan pengujung cafe manatap Ayu dengan tatapan sinis. Bahkan ada yang merekamnya dengan ponsel dan ada pula yang mencibirnya.
"Dasar pelakor, laki orang main embat aja. Enggak malu jadi cewek murah!" ujar salah satu pengunjung. Ayu yang tidak terima, langsung berteriak lantang. Bahwa dirinya bukan lah pelakor, malain kan wanita terhormat dan mempunyai harga diri tinggi.
"Kalian semua jaga mulutnya ya, saya ini wanita cerdas dan terhormat! Kalau ada yang berani macam-macam dengan saya. Akan saya tuntut kalian semua!" ancamnya, hanya saja respon pengujung cafe tidak ada yang peduli dengan ancamanya. yang ada mereka semua menyoraki Ayu dengan sebutan wanita perebut laki orang alias pelakor.
Tak tahan mendapat kan cibiran dari semua orang, ia memutus kan untuk pergi dan pulang ke rumah. Walau pun dalam keadaan kesal dan juga kecewa karena ditinggal sendiri oleh Gibran "Awas kamu, Mas. Aku enggak akan maaf kan kamu. Lihat saja nanti!"
...
__ADS_1
"Bella, tunggu dulu!" Aku meraih lengannya, sayangnya ia menepisnya dengan kuat.
"Jangan sentuh saya dengan tangan kotor kamu! Urus saja gundik kamu! Di mata saya, kamu adalah laki-laki sampah!"
"Apa kamu bilang?" Mataku menyalang mendengar perkataan Bella barusan. Dia bilang aku sampah, berani sekali dia mengatakan seperti itu padaku.
"Apa kuping kamu tuli, Mas? Saya bilang lepas kan tangan kotor kamu dari lengan saya! Saya tidak sudi disentuh oleh laki-laki sampah kaya kamu." Dengan cepat aku mengangkat tanganku ke udara dan mendarat kan di pipinya.
PLAK...!
"Jangan kurang ajar kamu! Yang kau hina ini adalah suami sah kamu!" teriakku tanpa kendali, Bella hanya diam dan menatapku dengan dingin.
Tanpa sadar, aku menampar wajah Bella. Tanganku tiba-tiba bergetar, baru kali ini aku menampar wajahnya saat pernikahan kami baru menginjak 2 tahun. "Bella, ma-maafkan Mas. Mas enggak sengaja." Aku mencoba meraih pipinya yang tadi aku tampar, sayangnya ia menghindar. Bahkan, tidak ada satu tetes pun air matanya keluar, yang ada tatapan dinginnya menusuk lubuk hatiku.
Saat aku pulang, aku mendengar suara ribut di dalam rumah. Ternyata itu suara ibuku sedang memarahi Bella. Buru-buru aku masuk ke dalam rumah, terlihat Bella sudah membawa koper.
"Jangan harap kamu bisa pergi dari rumah ini, saya tidak akan ijin kan." Ibuku berbicara dengan lantang dan menunjuk ke arah Bella yang sudah bersiap untuk pergi.
"Buat apa saya bertahan di sini, kalau saya hanya diperalat. Saya sudah memutuskan untuk pergi dari sini, dan Ibu tidak boleh menghalangi saya."
"Kamu semakin kurang ajar ya sama Mertua kamu! Di sini tuh kamu cuma numpang di rumah anak saya, jadi wajar aja dong saya peralat kamu. Tugas kamu, 'kan memang urus rumah ini."
"Saya akan tetap pergi dari sini, dan asal Ibu tahu. Saya dan Mas Gibran sudah tidak punya hubungan apa-apa lagi." Terlihat raut wajah ibuku kaget dengan ucapan Bella, benarkah dia serius dengan ucapannya. Saat dia ingin melangkah , ia kaget melihatku ada di depan pintu keluar. Namun wajahnya kembali biasa saja.
__ADS_1
Ia melangkah melewatiku begitu saja, tanpa peduli dengan kedatanganku. Saat ia melewatiku, aku berbalik dan mengejar dirinya.
"Bella, kamu mau ke mana? Kenapa kamu bawa koper, anak kita mana?" Dia tidak mengubris ucapanku dan melanjutkan langkahnya, aku tidak ingin menyerah. Kutahan lengannya. "Bella, kamu dengar enggak sih! Saya ini masih suami kamu.
" Lepas."
"Enggak, saya enggak akan biar kamu pergi begitu saja. Bell, aku mohon sama kamu, tolong jangan pergi bisa kah kita memperbaiki semua ini?"
"Apa yang harus kita perbaiki, Mas? Semuanya sudah hancur, semua sudah bubar dan tidak bisa diperbaiki lagi."
"Bell." Aku mencoba menarik tubuhnya agar mendekat padaku agar aku bisa memeluknya. Sayangnya ia menolak dengan keras.
"Sudah terlambat, Mas. Sekarang aku mau pergi. Kita bukan lagi suami Istri. Aku sudah lelah berumah tangga denganmu, Mas. Aku sudah lelah dengan pengkhiatan ini, bahkan Ibumu saja membiar kan anaknya berzina dengan wanita murahan seperti Ayu!" Bella menatap ibu dengan rasa kebencian yang luar biasa.
"Maksud kamu apa bilang kaya gitu Bel?" tuduh ibuku tak terima dengan perkataanya. "Kamu jangan sembarangan bicara ya, siapa bilang saya membiar kan anak saya berzina dengan Ayu? Heh! Asal kamu tahu ya, anak saya tidak pernah berzina dengan Ayu, dia itu wanita terhormat enggak kaya kamu!" Mendengar perkataan ibu, Bella langsung tertawa terbahak-bahak bahkan air matanya sampai keluar. Tak lama tawa di wajahnya menghilang dan menatap ibuku.
"Wanita terhormat Ibu bilang? Sejak kapan wanita terhormat mau ditiduri oleh laki-laki yang sudah beristri, bahkan dengan suka rela menjajah kan tubuhnya dengan modal uang yang suamiku berikan lalu dengan mudahnya tubuh kotornya dinikmati oleh anak kebanggan Ibu?"
"BELLA!" teriak ibuku dengan penuh emosi.
"Kenapa? Enggak terima? Kalau memang Ibu mau memiliki wanita yang katanya terhormat seperti Ayu. Silakan jadi kan dia mantu Ibu. Dan jadi kan dia babu gratisan Ibu. Silah kan, dengan senang hati saya merela kan anak Ibu."
"Bella, kenapa kamu berkata seperti itu sama Ibu. Kenapa kamu selalu merendah kan martabatku sebagai seorang suami dengan perkataan kamu yang tidak pantas diucap kan." Aku mencoba berbicara lembut dengannya agar dia tidak terpancing emosi. Walau pun dalam hatiku gondok juga dengan ucapan Bella.
__ADS_1