Penyeselanku Datang Ketika Ia Sudah Pergi

Penyeselanku Datang Ketika Ia Sudah Pergi
Bertemu Arka


__ADS_3

"Lalu kamu istri apa? Istri sholeh kah? Kamu saja sudah berani mengambil uangku dan menghabiskannya dalam waktu Semalam, bisa-bisanya kamu bilang aku suami yang dzalim. Seharusnya yang zalim itu kamu, bukan aku! Apakah perbuatan mencuri Itu baik? Kalau kamu punya otak. Harusnya kamu bisa berpikir."


"Mas nggak usah banyak omong deh, nggak usah ceramah ya di depan aku, yang jelas aku mau minta duit sama kamu jangan banyak cing cong! Mana uangnya?"


“Aku bilang enggak ada, kuping kamu tuli ya? Kalau mau pergi keluar, silakan.” Ayu berdesis tidak suka atas sikapku. Tak lama ia mengeluar kan ponselnya dalam tasnya. Dan menelepon seseorang, aku tidak tahu siapa yang ia hubungi.


“Ya, sudah kalau kamu enggak mau kasih aku uang. Aku juga masih punya uang untuk belanja di mall.” Akhirnya Ayu pergi dari rumah ini. Biar lah dia pergi dari rumah ini, rasanya begitu nyaman saat dia tidak ada di rumah. Entah kenapa rasanya damai sekali.


“Ayu ke mana, Nak?” Aku menoleh ke arah ibuku.


“Biasa, jalan-jalan ke mall.” Ibu langsung menghembus kan napasnya. Aku tahu dia, dia pasti ingin jalan-jalan ke mall.


“Enak ya jadi Ayu, bisa jalan-jalan ke mall setiap hari. Ibu juga mau ke mall.” Sudah kuduga, ibu pasti berucap seperti itu. Aku langsung bangkit dari duduk dan menghampiri beliau.


“Minggu depan aku sudah gajian, nanti aku ajak Ibu ke mall. Gibran bakalan beliin barang-barang buat ibu.” Dalam sekejap. Mata ibuku bersinar terang.


“Benaran? Kamu serius?” Aku menganggukkan kepala, ia begitu senang dengan kabar baik ini. Ia juga memeluk tubuhku saking senangnya.


Tibalah hari yang ditunggu oleh ibuku, saat aku bersiap-siap ingin pergi. Ayu tiba-tiba memeluk tubuhku dari belakang.


“Mas, Gibran.” Perlahan aku melepaskan pelukan Ayu dari tubuhku, aku tidak suka jika dia memeluk tubuhku. “Mas, kok kamu gitu sih sama aku, kamu enggak senang ya aku peluk dari belakang?”


“Langsung ke intinya saja, kamu mau apa, Yu?” Tak lama senyum lebarnya mengabang.


“Mas, mau jalan-jalan ke mall ya? Aku ikut ya, aku enggak sengaja dengar dari ibu. Katanya Mas sama ibu mau jalan-jalan ke mall. Aku ikut ya, Mas. Aku juga mau beli skincare sama baju, hari ini Mas gajian kan?” Sudah kuduga, ia melakukan hal ini pasti ada maunya. Kali ini aku harus menolaknya, aku tidak mau mengajak dia ke mall.


“Maaf, Yu. Mas enggak bisa ajak kamu jalan-jalan ke mall. Mas mau jalan sama ibu, bukan sama kamu.” Ia menghentakan kaki seperti biasa. Kali ini aku harus menolaknya dengan tegas, aku tidak mau Ayu ikut denganku. Bisa-bisa ibu marah dan tidak jadi berangkat.


“Gibran? Kamu sudah siap, Nak? Ayo kita jalan sekarang. Nanti keburu macet!” teriak ibuku dari luar kamar.

__ADS_1


“Mas, pergi dulu ya. Kamu jaga rumah ya. Sepulang dari jalan-jalan, Mas beli kan martabak untuk kamu.”


“MAS! MAS GIBRAN! AKU IKUT, MAS!” Ayu terus saja berteriak memanggil namaku, sayangnya aku terus berjalan ke arah ibuku agar ia tidak menyusul.


“Itu Ayu kenapa teriak-teriak? Dia enggak malu apa, suaranya bisa terdengar sampai keluar rumah.”


“Jangan peduli kan Ayu, Bu. Lebih baik kita berangkat jalan-jalan. Takutnya Ayu malah lari ke sini dan memaksa aku untuk ikut.”


“Hoh, benar juga ya. Ya sudah, ayo kita berangkat sekarang.” Ibuku langsung menarikku menuju mobil. Ia tidak ingin mantunya ikut bersama.


Butuh waktu setengah jam untuk sampai di mall ini. Apalagi ini hari libur, jadinya banyak orang mampir ke sini.


"Ibu mau ke toko baju itu, kita ke sana yuk. Kayanya bajunya bagus-bagus deh."


"Yuk." Ketika aku hendak masuk ke toko baju, aku seperti melihat seseorang yang ku kenal. Perlahan aku berjalan ke arahnya.


Dengan keberanian yang tinggi, aku mencoba mendekati Bella dan juga anakku. Walau pun Bella akan memarahiku, aku tidak peduli. Setidaknya aku harus bertemu dengan anakku dan memeluk dirinya. Biar lah ibu sibuk memilih baju. Kalau sudah selesai aku akan menyusulnya.


“Ehem.” Aku berdehem di belakangnya, spotan Bella menoleh ke arahku. Ia begitu terkejut dengan kedatanganku. “A-apa kabar, Bell?” tanyaku gugup. Aku tersenyum garing melihat Bella di sini. Aku jadi kikuk sendiri tak  tahu lagi harus berbuat apa.


“Bell, kamu ke sini sama siapa?” Dia tidak menjawabku, justru mengacuh kan ku dan sibuk memilih baju. Aku menggarukan tengkuk leherku yang tidak gatal. Saat aku mencoba berbicara lagi dengannya. Dari arah jauh terlihat anak kecil berlari memanggil Bella dengan sebutan mamah.


“Mamah?”


“Hai, anak mamah sudah puas mainnya?” Arka hanya menganggukkan kepalanya dan tersenyum manis ke arah mamahnya. Tak lama matanya melihat ke arahku.


“Halo, Arka? Apa kabar?” Aku mencoba menyapanya, memberikan senyum yang terbaik padanya. Ya Allah aku benar-benar merindukannya. Aku pun berjongkok di depannya. “Arka habis main apa? Datang ke sini sama siapa?” Arka sempat menengok ke arah mamahnya. Mungkin dia ingin menjawab hanya saja bingung.


“Main sama Mbak Uti, sama mamah.” Aku terperangah mendengar anakku berbicara, ternyata ucapan katanya sungguh lancar. Dia memang anakku yang pintar.

__ADS_1


“Arka senang ya?” tanyaku sekali lagi.


“Iya.” Ia kembali tersenyum padaku, memperlihatkan deretan giginya yang sudah sedikit rusak. Aku bangkit dari jongkok. Aku menatap Bella dengan sendu.


“Bell, mungkin aku agak lancang meminta hal ini sama kamu. Bel, tolong izin kan Mas bermain dengan Arka.” Ia masih saja terdiam, bahkan tatapan matanya begitu sangat dingin, “Bell, biar bagai mana pun. Arka ini anak aku juga. Jadi aku mohon sama kamu, izin kan aku bermain dengan Arka untuk menebus semua kesalahan aku di masa lalu. Tolong lah.” Aku menggigit bibir bawahku, berharap ia mau mengizinkan aku bermain dengan Arka. Sebenarnya ada keraguan di wajah Bella. Aku tahu itu.


“Bella?” Ia menatapku, lalu menganggukkan kepalanya. Tanda ia memberiku lampu hijau untuk bermain dengan anakku, “terima kasih, Bell. Aku janji akan pulangkan Arka jika jam bermain nya sudah selesai.


“Arka sayang, main sama Ayah yuk.” Bocah itu terlihat bingung, saat kuajak bermain berkali-kali  ia menatap ibunya. Dan kembali menatap wajahku.


“Tapi, ayahku lagi kerja.”


“Heh.” Aku terdiam sejenak dengan penuturan Arka, apa maksud dari perkataan anak ini. Bukan kah ayahnya ada di depan matanya.


“Mah, Ayahku lagi kerja kan?”


“Iya, Nak. Sana gih main sama om dulu. Nanti kalau sudah selesai ke sini lagi ya.” Aku menatap nanar ke arah Bella, kenapa dia berkata seperti itu. Kenapa ia menyebutku om.


“Asik, oke mah.” Arka meraih jariku dan mengoyangkan ke kanan dan ke kiri. “ayo, Om main sama aku. Aku mau main ke sana.” Tunjuknya ke arah mandi bola. Dadaku  sesak, kenapa Arka menyebutku om? Padahal dia anak kandungku, seharusnya ia memanggilku ayah.


“Om, ayo main.” Napasku terasa berat, bahkan air mata ini hampir mencelos keluar. Sekuat mungkin aku menahan air mata ini, tapi aku tidak bisa. Untuk sementara, aku menundukkan wajahku. Agar Arka tidak melihat wajahku.


“Om?” Ya, Allah. Sesak, aku tidak kuat dengan ucapan anakku. Perlahan kutarik napas ini. Dan menatap wajah anakku.


“Ayo, main.”


“Eh, i-iya. Ayo kita ke sana.” Aku bangkit dari jongkok dan menggendong tubuh Arka, ternyata anakku cukup berat ya. “Bella, aku sama Arka ke arah mandi bola dulu ya.” Aku mencoba tegar di depannya.


“Hmm.” Entah kenapa rasanya nyeri sekali, ia hanya menjawabku dengan deheman saja.

__ADS_1


__ADS_2