
“Apakah kata-kataku masih kurang jelas di telingamu? Kalau kamu enggak mau ikuti aturan saya di rumah ini. Silakan kamu pergi dari rumah ini. Pintu keluar ada di ujung sana, harus kah aku antarkan kamu?” Seketika air matanya keluar membasahi pipinya. Terlihat wajahnya sangat panik, aku tersenyum senang melihat wajah dia. Ini lah yang ku suka dari wajahnya. Wajah panik, takut, bahkan kecewa.
“KAMU JAHAT!” Ia pergi meninggalkan meja makan, dan berlari ke arah kamarnya. Aku sudah tidak peduli lagi dengannya.
...
Paginya aku berangkat seperti biasa. Sedang kan Ayu masih belum keluar dari kemarin malam. Mungkin dia masih marah dengan sikapku semalam.
“Ini bekal makan siang kamu, Nak.” Dengan senang hati aku menerima bekal buatan ibuku. Aku meraih punggung tangannya dan mengecupnya dengan lembut. Aku juga memeluk ibuku. Betapa beruntungnya aku memiliki seorang ibu.
“Hati-hati di jalan, Nak.”
"Iya, Bu. Nanti kalau sudah sampai kantor, aku kasih kabar. Dan untuk bekalnya. Terima kasih ya, Bu." Sebelum berangkat bekerja, aku sempatkan dulu untuk mengecup kening beliau, "Gibran, berangkat kerja dulu ya, Bu."
"Jangan lupa berdoa, Nak."
"Siap, Bu bos!"
1 jam kemudian, aku telah sampai di kantor.
“Widih, Abang Gibran sudah datang nih. Tumben, baju kerjanya enggak kusut lagi. Biasanya kalau pagi kusut,” ujar temanku bernama Hans.
__ADS_1
“Iyalah, kan ada ibu gue yang gosok baju kerja. Jadinya enggak kusut lagi.”
“Hah, jadi yang gosok baju kerja ibu lo?” ia pun terharan-heran dengan pengakuanku. Selama ini, yang mengurus kebutuhan aku adalah ibuku semua. Aku tidak bisa mengandalkan Ayu untuk melakukan pekerjaan rumah.
“Gila benar, ini lah akibatnya kalau lu menduakan mantan Istri lo dulu. Sekarang lu bisa rasain akibatnya dari perbuatan lo sendiri.” Aku hanya bisa tersenyum miris dengan penuturan Hans. Semua orang yang ada di kantor ini, sudah tahu kalau aku menduakan Bella dengan wanita simpananku. Apalagi video perselingkuhanku sempat viral 3 tahun yang lalu. Alhasil, banyak yang menghinaku. Merendahkanku, mencibirku, bahkan ada yang menyindirku secara terang-terangan di depanku. Mereka semua menjuluki ku dengan sebutan laki-laki terbodoh di Dunia. Yang mana mampu membuang berlian dengan batu krikil di pinggir jalan.
“Nasi sudah menjadi bubur, apa yang gue lakukan dahulu. Adalah sebuah pelajaran berharga untuk, agar selalu bersyukur dengan Tuhan berikan kepadaku.”
Lalu Hans menepuk pundakku dan berkata, "mungkin ini teguran dari yang maha kuasa. Jadi kan ini sebagai pelajar untuk masa yang akan datang, jangan turun kan kesalahan lo di istri lo yang sekarang. Perlakukan lah dia dengan baik." Aku hanya tersenyum miris dengan perkataan Hans, andai dia tahu sifat istriku yang sekarang. Aku yakin sekali, ia tidak akan pernah berkata seperti itu terhadapku.
...
hari esoknya, aku berniat pergi jalan-jalan bersama ibuku. Kebetulan hari ini aku mengambil cuti, aku ingin mengajak beliau ke puncak. Sudah lama sekali aku tidak pergi jalan-jalan bersama dengannya
"Jangan, aku mau jalan-jalan sama Ibu berdua saja. Kamu di rumah saja, sekalian beres-beres rumah."
"Enggak! Aku mau ikut, masa aku ditinggal di rumah sih. Aku juga mau jalan-jalan Mas." Ia terus saja merengek seperti anak kecil.
"Bukannya kamu sudah sering jalan-jalan sendirian, hampir setiap hari loh kamu jalan-jalan. Bahkan Ibuku saja enggak pernah kamu ajak." Tiba-tiba saja wajahnya langsung cemberut. Aku tahu dia kecewa.
"Mas, kamu mikir enggak sih. Aku ini jalan-jalan sama teman-teman aku, mereka semua tampilannya modis. Masa aku bawa Ibu kamu yang tampilanya kaya orang kamp--" ucapan Ayu terhenti ketika mataku melotot ke arahnya, aku tahu ia ingin berkata apa, " ... Intinya aku ikut jalan-jalan ke puncak sama kamu." Ya, Allah. Kenapa dia keras kepala banget, aku yakin sekali. Ibu tidak akan setuju kalau Ayu ikut jalan-jalan.
__ADS_1
"Mau ke mana kamu? Kok rapih banget." Beliau terlihat heran dengan penampilan Ayu saat ini.
"Mau jalan-jalan ke puncak sama Mas Gibran. Kenapa? Ada masalah?" Dengan sekejab, ibuku langsung menatapku sinis. Aku hanya bisa tertunduk dengan tatapan ibuku. Aku tidak bisa lagi berbuat apa-apa, selain menuruti kemauan Ayu.
"Heh, dengar ya. Saya ini mau jalan-jalan ke puncak, tapi cuma berdua saja. Saya dan Gibran, kamu ini orang luar. Buat apa ikut."
"Apa, orang luar? Bu, aku ini, 'kan Istri Mas Gibran. Kok Ibu bilangnya kaya gitu ih."
"Dari pada kamu ikut, jalan-jalan. Lebih baik kamu di rumah, pokoknya saat saya sudah pulang dari puncak, rumah harus sudah rapi. Bersih!" Ayu mencibik bibirnya, mana mau dia melakukan pekerjaan rumah. "Seharusnya, kamu itu jadi mantu yang baik. Contoh mantu saya Bella, dia itu mantu rajin, selalu bantu saya mengerjakan pekerjaan rumah. Bantu urus saya."
"Mantu apa pembantu Bu." Ibu dan aku tersentak kaget, "jangan sama kan saya dengan Bella, mantan mantu Ibu yang sudah dibuang jauh-jauh. Kalau model mantu kaya Bella, bisa Ibu manfaatkan tenaga nya buat urus rumah, kalau saya, jangan harap seperti itu. Saya tidak mau diperlakukan sama seperti Bella, orang tua saya saja tidak pernah tuh suruh saya urus rumah. Kenapa setelah menikah dengan Mas Gibran saya harus jadi babu." Tak tahan dengan ocehan mulut Ayu, ibuku langsung maju dan ingin menampar mulut Ayu. Namun aku tahan Ibuku agar tidak terpancing emosi.
"Bu, jangan terpancing emosi." Aku menggeleng kan kepala, aku tidak mau jika ribut Ayu pulang ke rumah orang tuanya dan aku pula yang menjemputnya. “Bu, tahan emosi. Lebih baik kita pergi jalan-jalan saja. Untuk urusan Ayu biar aku yang urus.” Ibu hanya bisa diam dan menuruti perkataanku.
Pada akhirnya, kami bertiga jalan-jalan ke puncak. Sedangkan ibuku masih saja cemberut karena Ayu tetap memaksa untuk ikut ke puncak. Seharusnya momen jalan-jalan ini menjadi hal yang membuatku senang, nyatanya membuat aku tambah pusing karena dua orang ini.
Butuh waktu 2 jam untuk sampai puncak, karena ini hari libur juga. Ternyata banyak wisatawan yang hadir di sini bersama keluarga besarnya, di sini banyak sekali anak-anak bermain. Melihat anak-anak bermain, aku jadi ingat dengan Arka, apa kabarnya anakku ya.
Bahkan ketika sudah sampai puncak, Ayu langsung pergi entah ke mana. Malas memikirkan Ayu, aku memutuskan jalan-jalan bersama Ibuku sambil melihat pemandangan indah di kebun teh yang terhampar luas.
"Bu, kita foto dulu yuk."
__ADS_1
"Yuk." Saat aku sibuk memfoto ibuku di hamparan kebun teh. Tiba-tiba saja ada anak kecil menabrak kakiku dan jatuh terjungkal, spontan aku membantunya bangun. Dan menenangkan dirinya agar tidak menangis lagi. Saat aku melihat wajahnya, aku tersentak kaget.