Penyeselanku Datang Ketika Ia Sudah Pergi

Penyeselanku Datang Ketika Ia Sudah Pergi
Ayu tidak punya etika


__ADS_3

Aku sedikit kikuk dengan dengan kedatangan tetangga ibuku, ia berdiri tepat di depanku. Dengan terpakasa aku tersenyum padanya. "Pa-pagi, Bu Rani."


"Pagi juga, Mas Gibran."


"Mau belanja, Bu?"


"Hemm." Ia hanya menjawab dengan dehamannya, tak lama ia menatap Ayu dengan teliti. Bahkan matanya tidak bisa lepas dari penampilan Ayu yang terlalu terbuka.


"Kenapa, Bu? Kok lihat saya kaya gitu? Ada yang salah dengan penampilan saya yang seksi ini," ujar Ayu dengan pedenya, aku hanya bisa menepuk jidatku melihat Ayu bertingkah tidak sopan di depan Bu Rani. Aku menyenggol lengan Ayu untuk memberi kode, bahwa dirinya tidak punya etika di depan bu Rani.


"Apa sih, Mas! Kamu kenapa toel-toel lengan aku. Aku risih tahu, kalau mau ngomong sama aku bilang saja. Jangan pake kode begini, aku tahu kamu sudah enggak tahan kan sama tubuh seksi aku ini." Dengan cepat aku menutup mulut Ayu dengan kedua tanganku. Bisa-bisanya dia bilang kaya gitu di depan bu Rani.


"Ayu, jaga sikap kamu. Kamu jangan bicara sembarangan ya!" bisikku. Ia hanya berdesis tidak suka dan mengambil ponselnya dalam tasnya. Ia pun bermain ponselnya sendiri, aku sedikit lega.


"Siapa wanita ini, Mas? Kok saya baru lihat?" Aku menatap Ayu dengan bingung, aku juga tidak tahu harus jawab apa sama bu Rani.


"Anu, Bu. di-dia teman saya. Namanya Ayu. Dia ke sini mau ketemu sama Ibu saya, katanya dia mau belajar masak sama ibu saya." Dengan terpaksa aku berbohong pada bu Rani, semua orang yang ada di sini. Tidak ada yang tahu kalau aku sudah bercarai dengan Bella tadi malam.


"Mas!" Ayu sedikit berteriak, membuat aku kaget. "Siapa yang kamu maksud teman kamu? Apa kamu lupa aku ini siapa kamu? Aku ini calo--" ucapan Ayu terhenti ketika aku memotong ucapannya.


"Ayu! Kamu sudah ditunggu sama Ibuku. Masuk gih ke dalam." Aku sedikit membulatkan mataku padanya, jujur saja. Aku merasa tidak suka dengan etika Ayu yang tidak punya sopan santun terhadap orang lain.


"Aku enggak mau, Mas. Aku mau di sini sama calon suami aku," ujarnya pede, membuat bu Rani terkejut dengan perkataan Ayu barusan.

__ADS_1


JEDAR...!!


Kenapa pula dia bilang kaya gitu di depan bu Rani. maksudnya apa coba bilang kaya gitu.


"Mas, Gibran?"


"I- iya, Bu Rani?"


"Maksud perkataan Mbak ini apa ya? Sebenarnya siapa Mbak ini? Kenapa dia bilang, Mas Gibran calon suami? Mbak Bella ke mana?" tanyanya membuat keringat dingin sudah bercucur seluruh tubuhku.


"Anu, Bu. Bel-Bella."


"Bella sudah diceraikan sama Mas Gibran tadi malam, semalam saya dikasih tahu sama calon mertua saya." Aku menoleh dengan cepat ke arah Ayu, aku mengepal kan tanganku dengan kuat menahan emosi. Kalau saja bu Rani tidak bertanya seperti itu. Pasti tidak akan terjadi hal seperti ini.


"Bu, jangan dengar kan perkataan wanita ini. Dia ini sedikit gila!" Aku menatap Ayu dengan sinis, aku benar-benar dibuat kesal olehhnya.


"Bu, tolong bilang sama semua orang yang ada di sini. Saya Ayu Rahmawati adalah calon istri, Mas Gibran. Sebentar lagi saya akan mengantikan mantan istri Mas Gibran, yang bernama Bella Hairun."


"AYU! TUTUP MULUT KAMU. LEBIH BAIK KAMU PULANG DAN JANGAN KEMBALI LAGI KE RUMAH INI, PERGI KAMU!" Dengan terpaksa aku membentak Ayu, aku terpaksa melakukan hal itu. Aku tidak mau ada gosip miring tentang diriku dan juga ibuku. Apalagi ada bu Rani di sini.


"Kamu jahat, Mas sama aku. Aku akan adukan sama kedua orang tuaku di rumah, aku benci sama kamu, Mas!" Akhirnya ia pergi dari rumahku. Ternyata dia ke sini diantar oleh supirnya.


"Bu, Rani. Maaf kan atas sikap Ayu. Yang dikatakan Ayu tidaklah benar. Dan untuk Bella, dia tidak ada di sini. Ia saya izin kan untuk pulang ke rumah orang tuanya. Dan kami belum bercarai."

__ADS_1


"Hoh, begitu ya. Saya kira, Mas Gibran beneran sudah cerai dengan Mbak Bella. Soalnya saya dengar dari Ibu kamu, katanya bulan depan kamu mau menikah lagi." Selesai berbicara denganku, ia pun pergi. Aku memijitkan keningku yang sudah pusing. Kenapa ibu harus memberitahukan ke semua orang bahwa aku akan menikahkan Ayu.


Jam sudah menunjukan jam 4 sore, ini sudah waktunya karyawan pulang ke rumah masing-masing. Aku berniat untuk bertanya dengan ibu. Kenapa ia menyebarkan berita bahwa aku akan menikah dengan Ayu bulan depan.


"Bu? Ibu?" Aku berteriak memanggil ibuku.


"Ada apa, Gibran? Pulang kerja kok teriak kaya gitu! Kamu pikir ini hutan. Bukannya ucapkan salam, malah teriak kaya tarzan!"


"Bu, apa Ibu bilang ke semua orang bahwa aku akan menikah dengan Ayu bulan depan?" Ibuku sedikit terkejut dengan perkataanku.


"Loh, kamu tahu dari mana, Nak?"


"Dari Bu, Rani. Tadi pagi dia bilang sama aku. Kalau Ibu mau menikah kan aku dengan Ayu bulan depan."


"Hoh, masalah itu. Ya sudah tidak apa-apa, lagi pula kenyataanya memang benar kan. Kamu akan menikah dengan Ayu bulan depan. Lagi pula semua persiapan sudah matang. Kamu juga sudah dapatkan uang pinjaman dari bank dan koperasi dengan mudahnya kan? Lalu apa yang kamu khawatir kan?" Aku mengusap kepalaku dengan kasar, bukan masalah pernikahannya yang jadi masalah. Yang jadi masalah adalah, aku baru saja bercerai dengan Bella. bahkan belum ketuk palu, masa sudah menikah saja. Lalu apa kata orang.


"Bu, tolong jangan sebarkan gosip yang macam-macam. Aku enggak mau ada gosip miring tentang aku. Tolong mengertilah keadaanku." Aku yang sudah malas dengan ibuku, memutuska untuk mandi dan beristirahat sejenak.


...


Selang 1 bulan berpisah dari Bella, aku akhirnya menikah dengan Ayu. Tak tanggung-tanggung biaya yang aku keluar kan untuk pernikahan ini hampir mencapai setengah miliar. Aku terpaksa berhutang ke bank dan juga koperasi dari perusahaan tempatku bekerja dan setiap bulan akan dipotong. Tak berapa lama surat akte cerai aku dan juga Bella sudah datang.


Saat persidangan perceraian dimulai di hari pertama. Aku datang bersama ibuku dan juga Ayu yang saat itu sudah berstatus istri sahku.

__ADS_1


Aku juga melihat keluarga besar Bella datang ke persidangan ini. Aku melihat bapak mertuaku menatapku dengan rasa kebencian yang luar biasa. Jujur saja, nyaliku sedikit ciut melihat tampang mantan mertuaku. Maklum saja, orang tua Bella ini mantan preman. Bahkan pernah masuk penjara karena kasus besar. Walau pun orang tua Bella mantan narapidana, ia sangat menyanyangi keluarganya terutama Bella anak perempuannya.


"Pak, apa kabar?" Saat aku mencoba bersalaman dengan keluarga Bella, terutama Bapak mertua. Ia langsung menepis tanganku dengan kasar.


__ADS_2