
"Yu, tolong masakin buat Mas sama Ibu dong. Mas lapar nih."
"Maaf ya, Mas. Bukannya enggak mau masak, aku lagi enggak enak badan. Gimana kalau kita pesan lewat online saja." Pada akhirnya aku memesan makanan lewat Online. aku kira hal ini terjadi hanya sekali atau dua kali saja. Nyatanya aku salah, ia selalu saja memesan makanan lewat Online, sampai uangku habis sebelum gajian.
Jujur saja, rasa penyesalan ini semakin besar. Aku menyesal telah membuang berlian demi seonggok batu kali yang tidak berguna bahkan tidak ada harganya. Sikap Bella dan Ayu sangat jauh, bagai langit dan bumi. Kenapa aku begitu bodoh melepaskan dirinya.
Andai suatu saat aku bertemu dengan Bella, aku ingin mengajaknya rujuk kembali dan menata kehidupan dari pertama lagi. Sudah lama aku tidak melihat anakku Arka.
"Gibran, lihat tuh Istri kamu. Disuruh cuci baju enggak mau, padahal pakaian kotor udah numpuk kaya gunung." Hampir setiap hari, ibuku selalu mengeluhkan keadaan Ayu, dia susah sekali jika melakukan pekerjaan rumah, padahal dia belum ada anak, seharusnya dia bisa melakukan semuanya.
"Sabar, Bu. Nanti Gibran bilang sama Ayu. Buat beres-beres rumah." Ibu hanya berdengus kesal.
"Nyesel Ibu, pilih mantu model kaya Ayu, bisanya cuma rebahan, makan, main hp. Kalau enggak sering keluar jalan-jalan, mending Ibu diajak." Lagi-lagi ia mengeluh tentang Ayu, membuat diri ini pusing. "Kalau tahu begini jadinya, Ibu enggak akan biarkan kamu cerai sama Bella. Padahal Bella sering bantu Ibu setiap hari, walau pun dia sering Ibu fitnah macam-macam, tapi dia baik sama Ibu." Kalau ingat kejadian dulu, aku jadi merasa kasihan sama Bella. kenapa penyesalan selalu saja datang terlambat, andai waktu bisa kembali ke masa lalu. Aku ingin sekali memperbaiki semuanya dan akan aku lakukan untuk Bella.
"Yu? Kamu lagi apa? Kamu enggak mau bantu Ibu buat beres-beres rumah?"
"Malas, 'kan ada Ibu kamu. Kenapa jadi aku yang harus beres-beres rumah. Kamu lihat sendiri kan. Aku lagi sibuk dengan perwatan wajah. Kemarin aku habis belanja di mall, kebetulan ada skincare yang bagus buat wajah, terus aku beli deh." Mataku membulat sempurna ketika melihat deretan skincare baru. Padahal skincare di atas meja rias saja sudah menggunung. Kenapa pula ia beli yang baru.
"Berapa harga skincare yang kamu beli ini?" Ayu menatapku dengan senyum manjanya.
"Murah kok, Mas. Satu paket skincare ini cuma 2 juta, itu juga sudah dapat diskon dari tokonya."
__ADS_1
"Du-dua juta kamu bilang?" Ia menganggukkan kepalanya dengan senang, sedang kan diriku dibuat lemas dengan harga skincare yang dia beli.
"Kenapa, Mas? Kok kamu kaya enggak senang gitu dengan harga skincare aku."
"Apakah uang 2 juta itu, uang bulanan untuk rumah ini?"
"Iya, dong. Kalau bukan uang itu. Pakai uang mana lagi. Masa pakai uangku." Aku menepuk jidatku, memijit keningku. Rasanya kepala ini mau meledak. Padahal uang itu akan dipakai untuk kebutuhan rumah. Seperti tagihan listri, tagihan air, tagihan wifi, tagihan gas. Dan tagihan lainnya. Sedangkan kebutuhan makan sudah aku pisah kan.
"Yu, bukankah itu uang untuk kebutuhan rumah ini. Kenapa malah kamu hamburkan untuk kebutuhan pribadimu, apa masih kurang nafkah yang aku berikan padamu?" Ia bangkit dari tempat duduknya, ia mendekat padaku sambil mengangkat sudut bibirnya.
"Mas, uang nafkah yang kamu kasih ke aku itu kurang. Zaman sekarang, uang 1 juta itu enggak ada apa-apanya. Kamu tahu kan uang jajan aku sebelum aku menikah denganmu."
"Uangmu, lah. Kamu kan setiap bulan dapat gaji. Masa mau pakai uangku juga sih, aku enggak mau ya." Ia kembali duduk di depan meja rias. Wajahnya terlihat bersinar saat ia membeli skincare seharga 2 juta.
"Kalau begitu, bantulah Ibuku. Setidaknya cuci piring dan sapu ruang tamu."
"Enggak, mau!" jawabnya acuh.
"Makin lama, kok kamu kurang ajar ya sama Ibu aku? Kamu pikir Ibu aku itu membantu kamu hah!" Karena sudah tidak tahan dengan sikap Ayu, aku langsung membentaknya.
"Mas, kamu kok bentak-bentak aku sih? Kamu marah sama aku, hanya karena aku enggak bantu Ibu kamu beres-beres rumah."
__ADS_1
"Jelaslah saya marah, selama kamu menikah dengan saya. Kamu tidak pernah membereskan rumah ini, dan kerajaan kamu selalu saja main hp, rebahan, nonton Drakor enggak jelas. Tapi kamu seenaknya sama Ibu aku." Ayu bangkit dari bangku , ia berjalan ke arahku dengan tatapan tajamnya.
"Mas, kamu pikir. Saya nikah sama kamu itu tujuannya buat beres-beres rumah? Saya ini Istri kamu Mas, saya ini Ratu di rumah ini. Harusnya kamu layani aku dong dengan baik."
"Asal kamu tahu ya, aku ini selalu melayani kamu dengan baik. Apa pun yang kamu minta selalu aku turuti, semuanya. Bahkan barang-barang, yang sangat mahal selalu aku belikan buat kamu, apa kamu masih kurang?"
"Loh, itu, 'kan sudah kewajiban kamu. Tugas kamu memang membahagiakan aku, kamu lupa sama janji kamu saat sebelum menikah. Kamu sudah janji, jika aku nikah sama kamu, apa pun yang aku mau. kamu akan menuruti semuanya." Aku mengacak rambutku, aku frustrasi dengan sikap Ayu, aku kira dia adalah wanita yang tepat untukku. Nyatanya aku salah besar, aku salah dalam memilih pasangan. Kenapa bisa aku menikah dengan Ayu, hanya karna wajahnya yang cantik jelita. Namun sikapnya jauh dari kata cantik, bahkan berani melawan ibuku.
Ya, Allah. Bella, maafkan diriku yang terlalu bodoh membuangmu. Aku benar-benar menyesal, Bella. Aku sangat merindukanmu, aku ingin melihat wajahmu walau hanya sekali saja.
"Yu, ternyata saya sudah salah memilih kamu menjadi seorang Istri. Saya salah karena membuang berlian demi batu krikil seperti kamu."
"Apa maksud perkataan Mas, kamu bilang menyesal telah menikah dengan saya?" Ayu tersenyum miring dan terkekeh. "Mohon maaf, yang seharunya menyesal itu saya. Kenapa saya bisa menikah sama kamu, bahkan di luar sana ada banyak laki-laki kaya seperti Sultan yang mau menikah denganku. Tapi, karena kamu bilang sanggup untuk menuruti keinginan saya, makannya aku mau sama kamu!" Rasanya sakit sekali, saat Ayu mengatakan hal seperti itu. karena kesal dengan diriku, Ayu langsung ambil tas di atas meja dan pergi dari rumah ini. Aku yakin sekali, di akan pergi bersama dengan teman-temannya.
"Loh, Ayu mau ke mana?" tanya ibu saat melihat Ayu keluar dari rumah membawa mobilnya.
"Enggak tahu, Bu."
"Kalau dia pergi, terus yang cuci baju siapa? Ibu enggak sanggup kalau cuci sebanyak itu. Ibu masih banyak pekerjaan, Ibu juga belum makan.”
"Kalau dia pergi, terus yang cuci baju siapa? Ibu enggak sanggup, kalau cuci baju sebanyak itu Bran." Aku menghela napas, aku kasian dengan ibuku yang sudah tua. Karena harus mengejarkan pekerjaan rumah, apalagi Ayahku sudah lama meninggal ketika aku berumur 5 tahun. Ibu hanya mempunyai diriku saja.
__ADS_1