Penyeselanku Datang Ketika Ia Sudah Pergi

Penyeselanku Datang Ketika Ia Sudah Pergi
Pertengkaran di meja makan


__ADS_3

"Bran, kamu lagi apa Nak? Kamu enggak istirahat? Kamu baru pulang kerja loh.” Aku menoleh ke arah ibuku dan tersenyum.


“Gibran lagi cuci baju, kebetulan baju kerja ini mau dipakai lagi untuk rapat besok.” Ibu mengelus dadanya, mungkin ia merasa kasihan melihat putranya mencuci bajunya sendiri, padahal ada seorang istri di rumah.


"Kenapa harus sekarang cuci bajunya? Memangnya tidak ada baju kerja yang lain untuk dipakai besok."


"Ada, sih. Tapi memang harus baju ini yang akan dipakai rapat besok." Ibuku memasang wajah kasihan, melihat nasibku yang apes, "ibu jangan lesu gitu dong. Lagian cuma cuci baju satu doang kok, kalau pun aku minta tolong sama istriku, pasti dia enggak akan mau. Ibu tahu sendiri kan sifat Ayu bagai mana?" Ibu mengangguk pelan, tanda setuju dengan ucapanku.


"Maaf, kan Ibu ya Nak. Andai Ibu tidak ikut arisan Ibu-ibu yang dulu. Mungkin teman Ibu tidak akan mengenal kan Ayu sama kamu, kalau saja waktu bisa diputar kembali. Ibu mau hidup dengan Bella dan cucu Ibu." Ia memejamkan matanya, menerawang jauh, rasa sesak sudah memenuhi ruang dadanya. Bahkan air mata beliau sudah membasahi pipi. Aku tidak tega melihat ibuku bersedih seperti ini.


Perlahan aku menarik tubuh kecilnya dalam pelukku, aku mengusap punggungnya agar ia tidak bersedih lagi, "ibu jangan sedih ya. Masih ada aku di sisi Ibu. Untuk masalah, Ayu. Biar aku yang urus."


"Sekali lagi, maaf kan Ibu Nak." Lagi-lagi tangis kesedihannya pecah dalam pelukkan ku. Bahkan air mataku saja hampir terjatuh membasahi pipi, teringat saat Bella aku perlakukan buruk.


"Bu, jangan sedih lagi. Kalau Ibu terus seperti ini, kapan aku cuci bajunya? Tahun depan?" Seketika ibuku terkekeh dengan candaanku. Tak apalah, setidaknya ini bisa menghibur dirinya.


“Biar Ibu saja yang cuci baju kamu, kamu mandi saja dulu, habis itu makan ya. Ibu sudah siap kan ayam goreng sama sayurnya."


“Beneran, Bu? Terima kasih, Bu.” Aku berjalan menuju kamarku, aku berniat untuk mandi sebelum makan malam. Saat aku memasuki kamar, ku lihat Ayu tengah tiduran di ranjang sambil makan camilan dan melihat Drama Korea di laptop. Malas melihat wajahnya, aku langsung masuk ke kamar mandi.

__ADS_1


15 menit kemudian.


“Loh, Mas. Kamu sudah pulang kerja? Kok aku enggak tahu ya,” tanya Ayu, hanya saja aku tidak menggubris ucapannya, “Mas, aku tanya loh. Kenapa enggak dijawab?”


“Maaf, ya. Aku lagi malas bicara sama kamu. Aku lelah baru pulang kerja, aku juga belum makan.” Aku langsung melongos pergi meninggalkan Ayu di kamar sendirian.


"Mas, Gibran? Mas?" Ayu terus saja memanggil suaminya, sayangnya panggilannya tidak di dengar oleh sang suami, “Mas Gibran kok kaya gitu sih sama aku? Memangnya aku salah apa?” Karena penasaran dengan sikap suaminya. Ayu langsung keluar dari kamar untuk menyusul suaminya ke dapur. Saat sudah sampai dapur. Ia melihat suaminya tengah makan berdua dengan ibunya. Melihat suami dan mertuanya makan di meja. Membuat perut Ayu berbunyi. Ia pun menghampiri suaminya di meja makan.


“Wah, kalian makan enak. Kok aku enggak diajak sih? Aku juga mau loh, makan masakan ibu kamu.” Dengan percaya dirinya ia duduk di meja makan. Melihat wajah ibuku yang sudah masam, sudah kupastikan ibuku tidak senang jika ada Ayu di meja makan ini.


“Kayanya ayam goreng ini enak.” Ketika Ayu ingin mengambil paha ayam, dengan cepat ibuku menyambar paha ayam itu. Membuat Ayu tersentak kaget.


“Bu, kok sikapnya kaya gitu sih ke aku? Aku lapar, Bu. Aku juga mau makan ayam goreng itu.” Ayu merengek seperti anak kecil, ia menatapku dengan wajah sedihnya, “Mas, aku mau paha ayam itu. Aku mau makan, Mas. Aku lapar.” Dulu sekali, saat aku melihat wajah melas milik Ayu, aku merasa sangat kasihan terhadapnya. Tapi sekarang, rasa kasihan itu berubah menjadi rasa muak.


“Mas, kok malah diam? Aku mau makan paha ayam itu. Tolong ambilkan satu di tangan ibumu, Mas.”


“Malas, aku lagi lapar. Jadi jangan ganggu aku.” Aku kembali melanjutkan makanku. Sedangkan ibuku terlihat senang karena tidak ada yang membela Ayu.


“Kamu kalau mau makan, pesan saja lewat online. Biasanya juga pesan lewat online. Memangnya kamu pernah masak di rumah ini.” Ayu menatap ibuku dengan sinis, dan mencibik bibirnya.

__ADS_1


“Aku lagi malas pesan makan lewat online, aku mau paha ayam itu.” Ia menunjuk paha ayam goreng dengan wajah cemberutnya, berharap. Ibuku memberikan satu padanya.


“Sudah saya bilang, kamu jangan makan paha ayam ini. Ini untuk Gibran sarapan besok pagi.” Ibu terus saja mempertahankan paha ayam itu, “kamu enggak pernah masak untuk anak saya. Gara-gara kamu enggak pernah masak untuk Gibran. Dia jadi kelaparan saat berangkat kerja, seharunya ini menjadi tanggung jawab kamu menjadi istri!”


“Loh, kenapa jadi aku yang disalahkan? Kalau memang Mas Gibran kelaparan saat kerja. Harusnya dia pesan makan saja di luar. Kenapa harus aku yang disalahkan.” Ibu membulatkan matanya dengan sikap Ayu yang tidak peduli dengan suaminya sendiri. Ia merapatkan giginya dengan emosi tinggi.


“HEH! Kamu pikir anak saya banyak duit? Kalau setiap hari dia pesan makan di luar. Yang ada gaji bulanannya bisa habis.” Napas ibuku sudah naik turun, “asal kamu tahu ya, anak saya punya hutang banyak. Itu semua gara-gara kamu, kamu yang minta pesta mewah di hotel. Kamu juga minta barang mahal untuk mahar kamu. Seharusnya kamu saya kasih saja barang murah untuk pernikahan kamu, kamu itu tidak pantas menerima mahar tinggi dari anakku!” tuduh ibuku membuat wajah Ayu merah menahan amarah


Brak..!


Dengan kencangnya, Ayu memukul meja makan. “Dengar ya! Saya meminta mahar tinggi dan barang mewah ke anak ibu. Karena saya memang pantas mendapatkannya. Seharusnya saya bisa meminta lebih dari mahar yang sekarang. Hanya saja saya merasa kasihan dengan Mas Gibran. Harusnya Ibu bersyukur punya mantu seperti saya.” Napas Ayu tak kalah sengit dengan ibuku terlihat napasnya naik turun. Ia telah mengeluarkan semua amarah dia terhadap ibuku.


“Kalau memang tidak sanggup menikah dengan saya, bilang dari awal. Biar saya pergi dengan laki-laki Sultan di luar sana dan tidak menikah dengan dia!” Dengan lantangnya dia berucap dan menunjuk kepadaku. Kalau saja dia bukan istriku. Bisa kupastikan lehernya patah di tanganku.


“Yu, jangan kamu tinggikan suara kamu di depan saya! Jangan kamu tunjuk saya dengan jari kotormu!”


“Apa, Mas? Kamu bilang jari saya kotor?”


“Iya, kenapa? Kamu tidak terima? Saya tidak suka dengan seorang istri pembangkang kaya kamu. Jika kamu tidak mau ikut aturanku, silakan pergi dari rumah ini.” Akhirnya, kata-kata yang selama ini aku pendam tersalurkan juga. Sudah lama sekali aku ingin mengusir Ayu dari rumah ini dan membuang dia sejauh mungkin.

__ADS_1


“Mas, apa kamu serius dengan ucapan kamu barusan? Kamu enggak lagi bercanda kan?” Wajah dia terlihat panik setelah aku mengatakan hal itu. Kalau pun dia ingin pergi dan meninggal kan aku, aku tidak keberatan. Justru aku senang dan bahagia.


__ADS_2