Penyeselanku Datang Ketika Ia Sudah Pergi

Penyeselanku Datang Ketika Ia Sudah Pergi
Sebuah foto


__ADS_3

Setelah kejadian itu aku memutuskan untuk pulang ke rumah aku sudah tidak bisa lagi bertemu dengan Bella apalagi menyuruhnya untuk kembali kepadaku.


Ketika aku hendak masuk mobil, dari arah yang tidak terlalu jauh, aku melihat Bella dan Arka tengah bersama seorang pria yang tidak aku kenal. Aku terus memperhatikan mereka tanpa berkedip. Kucoba mendekati mereka, sayangnya tanganku ditahan oleh Ayu.


"Mau ke mana kamu, Mas? Ayo kita pulang. Tidak ada gunanya kamu melihat mantan istri kamu itu"


"Aku mau ke sana sebentar! Aku mau melihat, siapa laki-laki yang bersama Bella."


"Aku tidak akan izinkan kamu, ayo kita pulang." Ayu terus saja menyeret tanganku menuju mobil. Padahal aku ingin bertemu juga dengan Arka. Saat mobilku hendak keluar dari parkiran hotel. Mobilku sempat melintas ke arah mereka bertiga. Bahkan mata kami saling melihat satu sama lain.


Arka sempat melambaikan tangan ke arahku, tanpa sadar air mataku mencelos keluar tak tertahankan. Ada rasa sakit di hati ini. Melihat anak kandungku digendong oleh laki-laki lain. Aku yakin sekali, laki-laki itu adalah calon Ayah sambung untuk Arka.


"Mas, lupakan mantan istri dan anak kamu! Biarkan mereka hidup masing-masing"


Selama di dalam perjalanan ayu terus saja marah-marah memaki tidak jelas dan selalu menghina bella dengan perkataannya, padahal yang dikatakan Bella, semua itu memang benar dan aku tidak menepisnya.


“Kamu jahat, Mas. Sama aku, di saat Bella menyakiti diriku, kamu cuma diam aja. Bahkan mantan istri kamu menyamakan aku dengan sampah. Dasar laki-laki pecundang.” Aku terus saja fokus menyetir sambil tersenyum. Membuat  istriku semakin marah, karena aku terlalu cuek.


“Kenapa kamu malah senyum? Kamu enggak paham sama keadaan aku, Mas? Aku lagi sedih loh. Masa istri kamu disamakan oleh sampah.” Aku mengangkat sudut bibirku, menoleh ke arahnya sebentar dan kembali fokus menyetir.


“Mas, jangan abaikan aku. Mas.”


“Yu, dengarkan perkataan, Mas. Jika kamu disamakan dengan sampah oleh perkataan Bella barusan. Bukankah yang dikatakan kenyataan? Apa kamu lupa, bagaimana kita menjalin kasih di belakang Bella? Kamu jangan lupa, bahwa kita berdua memang sampah! Karena kita telah melakukan kesalahan yang sangat fatal. Andai saja kamu tidak menggodaku dulu, mungkin rumah tanggaku tidak akan hancur dalam waktu semalam.”


“KENAPA HARUS AKU YANG KAMU SALAHKAN? ITU SEMUA JUGA SALAH KAMU!” pekiknya.


“KAMU JUGA, JADI LAKI-LAKI ENGGAK BISA JAGA PANDANGAN. INI SEMUA HARUSNYA SALAH KAMU, KAMU SENDIRI YANG MENGHANCURKAN RUMAH TANGGA KAMU DEMI WANITA SEPERTI AKU.”


“Itulah sebabnya, aku menyesal memilih berlian demi batu kerikil di pinggir jalan.” Sepanjang perjalanan, Ayu terus meluapkan emosinya padaku. Hingga akhirnya  aku sampai di rumahku.

__ADS_1


“Aku benci kamu! Pokoknya, aku mau kita cerai! Pulang kan aku ke rumah orang tuaku.” Ia langsung turun dari mobil sambil membanting pintu cukup keras. Aku  belum mengatakan iya untuk saat ini. Aku memang berniat untuk menceraikan dia, hanya saja belum saatnya.


PLAK ... !!!


Aku terkejut, melihat ibuku menampar wajah Ayu. Padahal  aku baru saja pulang dari acara pernikahan. Kenapa ibuku tiba-tiba marah.


“MANTU BIADAP! MANTU IBLIS! KELUAR KAMU DARI RUMAHKU, JANGAN PERNAH INJAKKAN KAKI DI RUMAH INI LAGI! PERGI ....!!!”


“Salah aku apa, Bu? Kenapa ibu tampar wajah aku?”


“DIAM KAMU! ENGGAK USAH BANYAK BICARA DENGANKU, AKU TIDAK SUDI MELIHAT WAJAH KOTORMU!” Ibuku langsung mendorong tubuh Ayu keluar rumah. Aku mencoba menghentikan tindakkan ibuku yang tidak biasa.


“GIBRAN! CERAIKAN DIA, USIR DIA DARI RUMAH INI. PULANGKAN DIA KE RUMAH ORANG TUANYA, IBU TIDAK SUDI PUNYA MANTU MURAH SEPERTI  DIRINYA!”


“Maksud perkataan ibu apa? Punya mulut tolong dijaga ya! Ingat sama umur, sebentar lagi ibu bakal mati!”


“Ayu!” bentakku.


“Tapi bukan berarti kamu mendoakan ibuku mati! Kamu sudah kelewatan, Yu.”


“Harusnya yang kelewatan itu ibu kamu! Kenapa dia tampar wajah aku tanpa adanya alasan yang jelas!”


“Kamu ingin tahu, kenapa aku bisa tampar wajah kamu? Tunggu sebentar!” ibuku berjalan cepat ke arah kamarnya. Tak berapa lama ia kembali ke sini dengan membawa amplop besar berwarna coklat.


“Lihat ini!” ibuku mengeluarkan isi amplop itu, dan  melemparnya ke arah wajah Ayu. Membuat ia kesakitan karena terkena ujung kertas berbentuk persegi kotak. Bisa aku perkirakan, bahwa itu adalah foto.


“INILAH PENYEBAB AKU TAMPAR WAJAH KAMU! GIBRAN! KAMU LIHAT KELAKUAN ISTRI KAMU DI BELAKANG, DIA SUDAH BERZINA DENGAN LAKI-LAKI LAIN!”


“Apa!” Karena penasaran dengan semua foto ini. Aku mencoba mengambil salah satunya. Hanya saja tanganku langsung ditahan oleh Ayu.

__ADS_1


“Mas, tolong jangan percaya. Ini semua bohong, Mas. Aku enggak pernah berzina dengan siapa pun, Mas. Aku telah difitnah.”


“Kalau memang kamu difitnah oleh orang lain. Maka buktikan lah, dan biarkan aku melihat foto-foto ini.” Ia terus saja menahan tanganku, sayangnya kekuatanku jauh lebih besar. Sehingga ia sedikit terdorong oleh tanganku.


“Mas, aku mohon sama kamu. Jangan tinggalkan aku, Mas. Aku bisa jelaskan ini semua, Mas. Ini semua bohong.” Rahangku mengeras dengan kuat, tanganku bergetar saat melihat foto Ayu tengah bermadu kasih di sebuah hotel.


“Mas, aku bisa jelaskan ini semua.” Ayu langsung memeluk tubuhku dari belakang, ia terus saja memohon padaku untuk tidak meninggalkan dirinya. Perlahan aku melepaskan pelukannya dari tubuhku dan berbalik ke arahku.


“AAA ....! SAKIT, MAS..!!” Kutarik rambut Ayu dengan kuat, ia terus saja berteriak hingga menimbulkan suara kencang.


“Kenapa kamu melakukan hal ini di belakangku? Siapa laki-laki yang ada di foto ini?” Sebelum ia menjawab pertanyaanku, wajah mulusnya kutampar berkali-kali, lalu kuhempaskan tubuhnya ke lantai.


“Jawab, siapa laki-laki yang ada di foto ini?”  Kucengkram kedua pipinya dengan tangan kekarku. Kutatap wajahnya dengan bengis, aku tidak terima jika diri ini dikhianati oleh Ayu. Aku tidak terima.


"Mas, aku--"


"Katakan yang sejujurnya, siapa laku-laki yang ada di foto ini?" Tanganku semakin kuat, mencengkram kedua pipi Ayu, membuat dirinya tidak bisa berkutik lagi.


"Aku enggak tahu, Mas. Aku enggak pernah selingkuh di belakang kamu."


"Jangan bohong!"


"Aaa ....!!! Sakit ....!!! Mas, jangan tarik rambut aku."


"Aku tidak peduli dengan rasa sakitmu! Inilah akibatnya, kalau kamu macam-macam di belakang aku. Ternyata aku baru menyadari perkataan mantan istriku."


"Mas, maafkan aku. Aku mohon ampun, Mas. Tolong jangan sakiti aku, Mas." Kuhempaskan tubuhnya ke lantai, hingga ia terpental cukup jauh. Karena aku mendorong tubuhnya cukup keras. Tak puas menyiksa dirinya. Kutampar wajahnya berkali-kali hingga sudut bibirnya mengeluarkan sedikit darah.


"Selama ini aku selalu sabar menghadapi kelakuanmu. Sebenarnya aku tidak ingin melakukan kekerasan dalam rumah tangga. Hanya saja, kamu sudah membuat diriku hancur. Ternyata perkataan Bella memang benar, kamu itu wanita sampah, bahkan lebih rendah dari sampah."

__ADS_1


"Cukup, Mas. Jangan tampar wajahku lagi. Aku mohon ampun sama kamu, Mas." Ayu sempat melirik ke arah ibuku. "Bu, tolong aku. Bilang sama anak ibu, jangan pukul aku lagi. Aku minta maaf, Bu. Aku memang wanita buruk, tolong aku, Bu." Ibuku langsung membuang mukanya ke arah lain.


"Lihatlah, bahkan Ibuku saja tidak sudi menolongmu. Jadi, terima lah akibatnya."


__ADS_2