Penyeselanku Datang Ketika Ia Sudah Pergi

Penyeselanku Datang Ketika Ia Sudah Pergi
Fitnah semakin gencar


__ADS_3

Hayo, di sini siapa yang suka karakter Bella? jangan lupa like sama komennya ya


“Bella, kamu jangan teriak kaya gitu. Kamu enggak malu di dengar sama tetangga?” Bella langsung masuk ke dalam kamarnya dan ia mengambil mengambil gelas beling.


“PANGGIL ORANGNYA, DAN SURUH HADAP KE SAYA! JIKA ORANG ITU BERKATA DEMIKIAN. AKAN SAYA HANTAM KEPALANYA DENGAN GELAS KACA INI SAMPAI BOCOR!” raut wajah Bella sungguh menakutkan membuat nyali mertua terjun bebas, sejujurnya ia begitu Takut melihat Bella seperti orang yang kesetanan.


“Bella kamu kalau ngomong jangan sembarangan, kamu harus hati-hati, Ya. Kamu jangan cari perkara, kalau misalnya orang itu kepalanya sampai bocor, kamu mau masuk ke kantor polisi.”


“Sekalipun masuk penjara, aku nggak takut, yang jelas aku harus memberi pelajaran kepada orang itu. Kalau ngomong jangan sembarangan, masa seorang suami tidak boleh menjaga anaknya, aturan dari mana itu?” Ibu Ratih semakin ketakutan melihat menantunya terus mengancungkan gelas beling, ia takut, jika ada setan lewat Bella, akan melempar Gelas itu ke arah dirinya.


“Bella lebih baik kamu simpan saja gelas kaca itu, omongan yang tadi nggak usah kamu dengar, biar biar ibu yang urus.” Terdengar nada bicara bu Ratih sedikit lembut, agar mantunya tidak lagi tersurut emosinya.


“Aku nggak akan simpan gelas ini sampai aku bisa ketemu orangnya. Bu, bawa orang itu ke sini. BIAR AKU HAJAR HABIS-HABISAN!” Sekali lagi Bella berteriak, membuat satu ruangan bergema. Bu Ratih menutup kedua telinganya, karena suara Bella begitu keras, sehingga membuat gendang telinganya sedikit terganggu.


“Bella Tolong jangan teriak-teriak begitu. Kamu nggak malu didengar tetangga? Suara kamu itu keras banget loh, bahkan bisa keluar sampai keluar rumah jangan bikin malu ibu.”


“Biar kan saya berteriak seperti ini. Agar orang lain tahu!” Tak tahan dengan sikap Bella, ia memutus kan untuk keluar rumah dan pergi ke rumah tetangganya.


“Dasar mantu gila! Awas kamu ya, saya adukan sikap kamu ke Gibran. Biar kamu diceraikan sama anak saya!”


ancamnya, sayangnya ia tidak takut.


“Silakan adukan sikap saya dengan anak Ibu! Jika memang anak Ibu ingin ceraikan saya, silakan! Saya tidak takut! Justru saya senang jika saya lepas dari anak ibu!”

__ADS_1


“Makin lama, kamu makin kurang ajar ya! Sudah berani bentak saya!” Pada akhirnya mertuanya pergi ke luar rumah. Bella sedikit tenang, akhirnya ia bisa mengeluarkan unek-uneknya selama berumah tangga.


“Ya, Allah. Terima kasih, engkau telah memberiku kekuatan dan keberanian menghadapi mertuaku yang egosi dan jahat.” Ia pun menatap bayi mungilnya yang lucu. Untung saja bayinya tidak menangis saat dirinya berteriak kencang di depan mertua. Mungkin dia sudah paham dengan situasinya saat ini.


Sekali lagi Bella melihat ke arah pintu keluar, dia melihat mertuanya sudah berlari tergopoh-gopoh karena ketakutan melihat dirinya seperti orang kesetanan, ia tahu yang mengatakan, bahwa seorang suami tidak boleh menjaga seorang bayi itu adalah perkataan mertuanya. Itulah sebabnya Bella mengancamnya dengan gelas beling, agar mertuanya tidak semena-mena terhadap dirinya.


Ratih terus berlari ke arah luar, saat Ratih berlari. Ada tetangga yang lain melihatnya.


"Bu, Ratih? Bu." Spotan ia menoleh ke arah sumber suara. Dengan langkah cepat ia menghampiri tetangganya.


"Bu, tolong saya, Bu. Saya enggak berani pulang ke rumah."


"Loh, memangnya kenapa? Kok, Bu Ratih terlihat ketakutan gitu sih? Ada apa nih."


"Terus Bellanya ada di rumah?"


"Ada, tapi saya enggak berani pulang. Saya takut banget sama dia. Dari pagi sampai siang saya belum makan, saya sibuk urus cucu saya. Tapi mantu saya enggak mau urus anakknya."


"Mantu durhaka bisa-bisanya dia memperlakukan buruk mertuanya. Padahal dia di sini cuman numpang." Bu Ratih terus saja menangis ia, memperdalam aktingnya supaya para tetangganya percaya bahwa Bella sudah melakukan hal buruk padanya, dengan melakukan hal ini semua orang akan membenci Bella.


"Lebih baik ibu Ratih makan saja di rumah saya, untuk sementara jangan pulang dulu ke rumah, nanti kalau Mas Gibran pulang ke rumah, baru bu Ratih ikut pulang juga. Kalau bisa kasih tahu aja sama Gibran, suruh kasih pelajaran ke istrinya jangan jadi mantu durhaka sama mertua." Dalam hati Ratih, ia begitu senang dengan respon tetangganya ternyata para tetangganya bisa juga dikompori untuk membenci mantunya sendiri.


"Inilah akibatnya kalau kamu berani melawan saya, sekarang semua orang yang ada di sekitar ini, sudah membenci kamu," batin Ratih.

__ADS_1


"Bu Ratih Coba telepon Mas Gibran, kasih tahu tuh kelakuan Istrinya kayak gimana. Nih pakai ponsel saya aja Kebetulan saya punya nomor Mas Gibran." Dengan senang hati Ratih menerima ponsel dari tetangganya dengan ini mantunya akan semakin dibenci oleh suaminya dan menceraikan secepat mungkin.


Saat Ratih menelepon anaknya dia mencurahkan kesedihannya, menceritakan semua kelakuan istrinya mendengar cerita ibunya membuat Gibran semakin meradang dengan kelakuan istrinya yang sudah keterlaluan.


"Cepat pulang ya, Ibu takut pulang ke rumah. Takut dilempar pakai gelas kaca."


Brak!


“BELLA!” Dengan keras aku mendorong pintu kamarku, membuat dirinya tersentak kaget saat ingin merebahkan dirinya ke atas kasur, “Bella, kamu apa kan ibuku? Kenapa kamu berani melawan ibuku dan membentak beliau? Apa kamu ingin menjadi mantu durhaka?” Bella hanya melihatku sekilas, dan melanjutkan rebahannya di kasur.


“Bella, kamu dengar enggak sih? Aku ini lagi ngomong sama kamu! Kenapa kamu malah diam dan cuek!” Lagi-lagi dia hanya diam dan tidak menjawab ucapanku. Tak tahan dengan sikapnya, aku berjalan ke arahnya dan menarik tangannya dengan kuat hingga ia meringis kesakitan.


“SAKIT!” ia menepisku dengan kuat bahkan bisa berteriak di depanku.


“Kamu berani teriak di depanku?” Mataku melotot ke arahnya.


“Aku mau tidur, tolong jangan buat keributan. Ini sudah malam, ini waktunya istirahat.” Saat ia ingin tidur kembali. Ku tahan lengannya agar ia tidak tidur di kasur.


“Jangan jadi Istri durhaka kamu. Apa kuping kamu tuli. Aku lagi bicara sama kamu, harusnya kamu jawab!” Ia tidak menjawab ucapanku, ia hanya menatapku dengan dingin.


“Apa kupingku tidak salah dengar, Mas? Siapa yang kamu maksud Istri durhaka?”


“Kenapa kamu malah bertanya padaku, jelas kamu lah.” Ia mengangkat sudut bibirnya dan tersenyum ke arahku. Seperti senyum meremehkan.

__ADS_1


“Seharusnya bukan saya yang menjadi istri durhaka.” Dengan kasar ia melepaskan lengannya dari genggaman tanganku, “SEHARUSNYA KAMU YANG MENJADI SUAMI DURHAKA TERHADAP ISTRINYA!” pekiknya membuat gendang telingaku sakit, “TADI SIANG, AKU SURUH KAMU JAGAIN ARKA. TAPI KENAPA KAMU SERAH KAN ARKA SAMA IBU KAMU? KENAPA? AKU BARU SAJA TERTIDUR 10 MENIT. DENGAN KENCANGNYA IBU KAMU GEDOR PINTU KAMAR DAN MENYERAH KAN ARKA KE AKU!”


__ADS_2