Penyeselanku Datang Ketika Ia Sudah Pergi

Penyeselanku Datang Ketika Ia Sudah Pergi
Datang ke pernikahan


__ADS_3

"Bagus kan, Bu. Tampilanku hari ini.” Ibuku langsung memberikan 2 jempol sekaligus. Ia juga merapikan kerah batikku. “Gibran berangkat dulu ya, Bu. Doakan semoga Bella bisa luluh sama aku dan kembali ke sini.”


“Ibu selalu berdoa, Nak. Semoga keinginan kamu terkabul. Ibu berharap banyak padamu.” Wajah ibuku berubah menjadi sendu.


"Ibu jangan sedih, dong. Gibran akan usahakan, agar Bella bisa kembali lagi."


"Semangat ya." Saat aku ingin keluar dari kamar. Kedua mataku terperanjat melihat Ayu di depan kamarku. 


“Ayo, Mas. Kita berangkat, aku sudah siap loh,” ujarnya santai. Kami berdua terlihat kaget saat melihat Ayu. 


“Loh, kamu mau ke mana? Kok tampilan kamu rapi banget?”


“Ibu ini gimana sih! Hari ini aku sama mas Gibran mau datang ke acara pernikahan teman Mas Gibran.” Mulut ibuku terbuka lebar.


“Loh, kok bisa sih kamu ikut?”


“Kenapa, Bu? Kok kaya enggak senang gitu sih?”


“Tapi ... “ Ayu berjalan ke arahku, tangannya langsung meraih lenganku.


“Ayo, Mas. Nanti telat loh. Jarak ke acaranya lumayan jauh loh.” Ia menarikku keluar kamar menuju mobil


"Mas, kok malah bengong. Ayo masuk mobil."


"Yu, kenapa kamu malah ikut? Bukan kah sudah kubilang, jangan ikut. Tapi kenapa kamu keras kepala banget sih!"

__ADS_1


"Loh, kamu ini gimana sih! Wajar dong kalau aku ikut ke acara pernikahan ini sama kamu. Aku istri kamu, Mas! Sudahlah, aku masuk duluan saja." Dengan kencangnya ia membanting pintu mobilku. Lama-lama bisa copot pintu mobilku kalau dibanting terus seperti itu. Setelah masuk mobil, aku masih terdiam.


“Mas, kok malah bengong lagi? Ayo dong berangkat. Nanti telat loh.”


Rasa kecewaku langsung meruak keluar, andai dia tidak menemukan kartu undangan di lemari. Pasti dia tidak akan ikut, aku kira dia sudah lupa dengan acara ini. Tahunya dia masih ingat, yang membuat aku kaget. Dia sudah berpenampilan rapi, nasi sudah menjadi bubur. Tampilan Ayu sudah rapi bahkan sangat mencolok dengan gaun warna merah terang. Sangat mustahil untuk tidak ikut denganku. Mau tidak mau aku harus membawanya pergi.


Selama perjalanan aku terus saja berdiam diri. Ayu terus saja mengajakku berbicara, hanya saja aku tidak menanggapinya dengan serius.


Akhirnya setelah perjalanan jauh, aku sampai juga di tempat tujuan. Ternyata temanku menikah di sebuah hotel berbintang.


“Ayo, Mas. Kita masuk ke dalam,” ajaknya, aku berjalan masuk dengan rasa malas. Seharusnya ini adalah hari terbaik aku bertemu Bella, sayangnya semua itu hancur karena ulah Ayu. 


“Ya, ampun. Ternyata yang datang banyak juga ya. Tema pernikahan ini bagus lagi.” Aku tidak menanggapi ucapan Ayu, mataku terus saja mencari Bella, sayang aku belum menemukannya. Bahkan Arka saja belum kelihatan. 


“Mas, ayo makan.” Lagi-lagi ia menarik tanganku menuju hidangan mewah. Saat aku melangkah mendekati hidangan. Mataku seperti melihat seorang wanita tengah melewatiku dari samping. Seketika senyumku melengkung lebar. Ternyata ada Bella di acara ini. Tak kusangka aku bisa bertemu dengan dirinya. Mungkin ia belum sadar, kalau aku datang ke acara pernikahan ini.


“Mas, mau ke mana? Kamu enggak makan?” aku tidak peduli dengan panggilan Ayu, mataku terus saja fokus ke arah bella yang sedang berjalan ke arah pengantin ternyata ia sedang menjadi Bridesmaid.


Mataku tertegun melihat penampilan Bella saat ini, ia sedang memakai baju berwarna Navy dibalut dengan kerudung dan make up yang sangat cantik, mataku tidak bisa lepas darinya rasanya ingin sekali aku membawanya pulang ke rumah.


"Ya, Allah. Bella. Kamu benar-benar cantik banget! Tampilan kamu membuat hatiku berdebar kembali seperti saat kita berjumpa." Jantungku terus saja berdebar. Rasanya benar-benar tidak bisa diungkapkan.


Aku terus memperhatikan Bella, ia sedang sibuk berfoto bersama kedua pengantin.


Selasai foto dengan kedua pengantin, ia pun turun dari panggung. Dengan cepat aku menghampiri Bella sebelum ia pergi jauh. 

__ADS_1


“Bella.” Tanpa aku sadari, aku menahan lengannya. Membuat ia terkejut. “Bella, apa kabar?” tanyaku, sayangnya ia melepaskan cekalan tanganku. 


“Mau apa kamu datang ke sini? Kenapa kamu bisa ada di sini?!” tanya penuh nada penekan. Wajahnya  terlihat sangat jutek.


“Mas, dapat undangan dari Clara. Apa salah kalau aku datang ke sini?” Ia hanya diam, tak membalas ucapanku. 


“Hoh, kalau begitu jangan ganggu saya. Saya lagi sibuk!” Ia berjalan menjauhiku, aku yang tak ingin menyerah langsung mengikutinya dari belakang membuat dia merasa risih. 


“Kenapa kamu malah ikut? Pergi sana!”


“Aku enggak mau pergi, aku mau dekat sama kamu. Ada yang mau aku bicarakan sama kamu.”


“Aku enggak mau bicara sama kamu. Kita sudah tidak punya hubungan lagi. Lebih baik kamu pergi dari sini, jangan gangguku.”


"Aku enggak akan pergi sebelum kamu mau bicara sama, Mas."


"Jangan mimpi, Mas. Pergilah, jangan mencari keributan di sini, aku tidak ingin terpancing emosi. Dari pada kamu bicara denganku. Urus saja Istri kamu dan juga anak yang--" seketika ucapan Bella berhenti.


"Anak apa, Bel?"


"Bukan apa-apa, lebih baik aku tidak ikut campur dengan urusan rumah tangga, Mas. Biarkan kamu sendiri yang mengetahuinya." Ia kembali berjalan menjahui, aku masih ingin bicara dengannya, aku masih belum paham maksud pembicaraan dia.


“Bella ... “ Pada akhirnya, aku tidak bisa berbicara dengan dirinya. Padahal aku sudah membuat penampilan sebagus mungkin, sayang ia tidak peduli denganku. Aku sudah pasrah dengan keadaan ini. Sepertinya ini bukan waktu yang tepat untuk bicara dengan Bella. Apalagi ia tengah sibuk dengan kerjanya sebagai bridesmaid.


Tapi, aku masih kepikiran dengan perkataan Bella barusan.

__ADS_1


__ADS_2