Penyeselanku Datang Ketika Ia Sudah Pergi

Penyeselanku Datang Ketika Ia Sudah Pergi
perseteruan Ayu dengan Bella


__ADS_3

Aku hanya bisa melihat Bella dari jauh, jika kuperhatikan. Ia terlihat sangat bahagia. Bahkan senyumnya terus terpancar di wajahnya. Membuat mata ini tidak bisa lepas dari dirinya.


“Mas, kamu lihat siapa si? Kayanya asyik sendiri.”


“Aku lagi lihat Bella, hari ini mantan istriku cantik banget.” Entah kenapa, aku bisa berbicara seperti ini depan Ayu.


“Mas!” Mata Ayu terlihat marah saat melihat diri ini menatap wanita lain.


“Kamu  kenapa sih, jangan kaya gitu lah. Di depan kamu kan ada aku, kenapa kamu lihat wanita lain!”


“Ck, kamu berisik banget! Aku lagi sibuk!” Ayu terus menggerutu tidak jelas. Walau pun ia terlihat marah. Aku tidak peduli, karena aku tengah asyik melihat Bella di dekat para pengantin.


"Kamu jahat, Mas. Ada aku di sini, tapi kamu malah lirik mantan istri kamu. Apa kamu lupa, dia itu cuma mantan istri. Statusnya juga janda enggak jelas, sedangkan diriku istri sah kamu. Mas!"


"Dari tadi kamu ngoceh-ngoceh terus? Mas Pusung tahu dengerin ocehan kamu, lagian kan itu cuman mantan Istri aku. Nggak mungkin juga kan dia mau balikan sama aku, ya walaupun aku berharap dia bisa balikan lagi sih sama aku." Ia langsung menatapku dengan wajah sangarnya, tangannya mengepal kuat seakan-akan ingin memukul wajahku.


"Awas kamu ya, kalau kamu balikan sama janda gatel itu."


"Dia bukan janda gatal, dia itu mantan istri aku."


"Sama aja!" Malas berdebat dengan Ayu. Lebih baik aku terus saja menatap Bella dari kejauhan. tak apalah seperti ini, setidaknya aku bisa melihat wajah cantiknya saat ini, hanya ini kesempatan untuk bisa melihat bella.


Jam sudah menunjukkan pukul 1 siang, Ayu terus saja mengajak aku pulang ke rumah. Padahal aku masih mau di sini.


“Ayo, Mas. Kita pulang. Mau jam berapa kamu di sini terus?”


“Aku mau di sini, sampai acara ini selesai.”


“Apa! Kamu gila ya? Kamu jangan ngaco, Mas. Pokoknya kita pulang sekarang! Atau aku akan tinggalkan kamu di sini sendiri,”


“Silakan pulang saja, aku masih mau di sini. Kalau mau pulang sekarang silakan, aku tidak melarang kamu kok.” Wajah Ayu terkejut dengan ucapanku. Dia pikir aku takut ditinggal olehnya. Jika dia ingin pulang ke rumah, silakan saja. Justru aku malah senang.

__ADS_1


“Mas, kamu tega membiarkan aku pulang sendiri? Jarak dari sini ke rumah itu jauh.”


“Bukankah itu kemauan kamu sendiri? Kamu yang ingin pulang kan? Kamu enggak usah khawatir, akan aku pesan kan taksi Online buat kamu.” Aku  kembali  fokus melihat Bella, sayangnya Bella sudah tidak ada di pelaminan.


“Aduh, kenapa dia malah pergi sih!” kesalku, kalau saja tidak Ayu. Aku masih bisa memperhatikan Bella di pelaminan.


“Mas, pokoknya kita pulang sekarang!”


“Enggak!”


“Mas!” Dengan kasarnya ia menarik lenganku, membuat  aku hampir terjatuh dari bangku.


“Kamu ini kenapa, sih! Kuping  kamu tuli kah? Kalau mau pulang sekarang, sana pulang!” Tak tahan dengan ocehan Ayu, aku memutuskan untuk keluar dari hotel ini. Kalau sudah tenang, aku kembali masuk.


“Mas, mau ke mana?” Ayu mengikuti dari belakang, membuat aku risih. Karena ia terus memanggil diriku dengan suara cemprengnya. Membuat aku malu, karena banyak orang yang terus memperhatikan kami berdua. Ayu terus saja memanggil namaku, hingga keluar hotel.


Bruk.


“Be-bella.” Ternyata yang aku tabrak barusan adalah Bella, “Bella, maaf ya. Mas tidak sengaja tabrak kamu, Mas enggak lihat ada kamu.” Ia tidak membalas ucapanku, ia malah pergi melewatiku dan juga Ayu.


Ketika Bella melewati Ayu, tatapan mereka berdua. Seperti ingin mengajak perang.


“Hoh, pantesan saja sikap suami aku berubah. Tahunya ada janda murah lewat toh.” Cetusnya terhadap Bella, membuat  langkah Bella terhenti sejenak. tapi ia belum membalikan badannya. Aku yakin dia pasti mendengar ucapan Ayu barusan.


“Ayu, jaga mulut kamu!”


“Apa sih, Mas! Memang benar kan, sikap kamu berubah. Pasti gara-gara janda murah ini kan? Ngaku saja kamu.”


“Yu, ucapan kamu kasar banget sama Bella.”


“Kenapa? Enggak suka aku ngomong kaya gitu? Ingat, Mas. Dia itu Cuma mantan kamu, kamu jangan coba-coba berpaling dari aku ya. Aku enggak sudi kamu dekat dengan janda gatal kaya dia.” Dengan sengitnya, Ayu menunjuk jari telunjuknya ke arah Bella, mendengar dirinya direndahkan oleh Ayu. Bella langsung membalikan badannya dan menatap wajah Ayu dengan tajam.

__ADS_1


“Apa kamu lihat saya kaya gitu?” tantang Ayu, aku mencoba menghentikan Ayu yang terus saja mengajak perang. Aku takut, Bella akan marah dan terjadi keributan.


“Yu, tolong jangan buat keributan. Di sini banyak orang. Kamu jangan buat malu aku.”


“Loh, kenapa kamu harus malu? Memangnya aku berbuat apa? Kamu enggak lihat, aku lagi ngomong sama mantan istri kamu, biar  semua orang yang ada di sini tahu. Jangan jadi JANDA GATAL DI DEPAN LAKI ORANG!” Dengan kencangnya ia berteriak keras, membuat semua orang melihat ke arah kami semua.


“AYU! HENTIKAN OMONG KOSONG KAMU! BELLA BUKAN WANITA GATAL SEPERTI KATAMU!” Terpaksa aku membentak dirinya, aku sudah tidak tahan dengan sikapnya.


“Mas, kenapa kamu bentak aku?” ujarnya  disertai tangisan. Membuat aku semakin kacau. Ya, Allah. Kenapa aku bisa punya istri kaya begini.


“Bella, Mas minta maaf. Kalau sikap Ayu kaya gini sama kamu.” Bella, hanya tersenyum melihat diriku yang sudah tidak karuan.


“Enggak apa, Mas. Santai saja, kamu tidak perlu meminta maaf seperti itu atas sikap istri kamu yang tidak punya etika di depan umum. Aku maklum kok, namanya juga orang tidak berpendidikan. Jadi wajar saja dia menuduh orang seperti itu.” Aku terkejut dengan kata-katanya, kenapa ia bisa berkata setajam itu.


"Heh! Wanita sialan. Siapa yang kamu maksud wanita tidak berpendidikan!" Bella tidak menanggapi ucapan Ayu barusan ia masih terus melihat ke arahku dengan senyumnya.


“Kenapa, Mas? Kok tampang kamu kaya kaget gitu? Aku salah ya bicara seperti itu sama kamu?”


bukan begitu yuk cuman kata-kata kamu agak--"


"Agak kasar maksud kamu? Atau tepat sasaran dengan ucapanku barusan?" Aku tidak bisa menjawab ucapannya, yang dikatakan Bella memang benar. Ayu memang tidak mempunyai etika terhadap orang lain. Jangankan orang lain, sama ibuku saja dia bisa bersikap kurang ajar.


“Mas, begini kah cara kamu mendidik istri kamu? Membiar kan dia merendahkan orang lain dan memfitnah orang lain? Ini kah yang kamu dapatkan setelah menikah dengan wanita itu?” Bella melirik ke arah Ayu, ia seperti meremehkan Ayu. Membuat emosi Ayu memuncak kembali.


“Jaga bicara kamu! Jangan coba-coba bersikap kurang ajar ya! Aku ini istri sah Mas Gibran. Sedangkan kamu Cuma mantan. Di sini sudah jelas perbedaan kasta.”


“Begitu, kah? Maksud kamu kasta yang seperti apa?” Bella melangkah maju ke hadapan Ayu, membuat mereka berdua berdiri berhadapan dengan jarak kurang dari 1 meter, Bella terus saja tersenyum. Matanya terus memperhatikan penampilan Ayu dari atas kepala hingga ujung kaki.


“Kenapa kamu lihat aku seperti itu? Kamu kagum ya dengan penampilan aku? Jangan iri ya, dari dulu aku memang sudah cantik kok. Jadi wajar saja Mas Gibran pilih aku dari pada kamu.” Ayu terlihat percaya diri dengan perkataannya. Sayangnya Bella tidak terlihat iri dengan Ayu.


“Memang benar, penampilan kamu sangat cantik dan juga elegan.” Senyum Ayu terlihat mengembang saat mendapatkan pujian dari Bella. “Sayangnya, kamu terlihat murah di mata saya. Bahkan harga dirimu begitu rendah. Jika dibandingkan dengan sampah. Justru sampah itu terlihat berharga di mata saya.”

__ADS_1


__ADS_2