Penyeselanku Datang Ketika Ia Sudah Pergi

Penyeselanku Datang Ketika Ia Sudah Pergi
Perseteruan Ayu dan mertua


__ADS_3

"Mas, kamu kenapa teriak begitu?" Ayu terlihat sangat ketakutan melihat diriku berteriak kencang. Begitu juga dengan ibuku yang langsung datang.


"Gibran? Kamu kenapa, Nak? Kenapa teriak?" Ibuku menjerit melihatku terus berteriak tak karuan. Ia pikir aku kesurupan setan, "Gibran, tenang Nak. Kamu kenapa?" tanya ibuku begitu panik.  Tak lama, aku berhenti berteriak.


"Yu, suami kamu kenapa?" tanya ibuku, melihat Ayu masih terlihat bingung.


"Aku juga enggak tahu, Bu. Tiba-tiba, Mas Gibran teriak enggak jelas. Kayanya dia kesurupan setan deh."


"Gibran?" Ibuku mengusap lembut punggungku, dan membuat aku sedikit tenang.


"Bu, hari ini Gibran enggak masuk kerja. Aku enggak ada baju buat kerja, baju kerja aku semuanya kotor. Nanti aku izin sama sama bos." Aku  melangkah pergi meninggal kan ibu dan juga Ayu. Aku berjalan menuju kamar tamu dan menutupnya dengan keras.


"Yu, kenapa baju suami kamu enggak dicuci? Suami kamu jadi enggak kerja  gara-gara kamu loh." Ayu langsung menatap mertuanya dengan sinis, ia tidak terima jika dirinya disalahkan.


"Enak saja salahkan aku, harusnya Ibu yang cuci baju kerja Mas Gibran. Itu kan anak Ibu, kenapa harus aku yang kerjakan."


"Kamu itu Istri anakku, seharusnya kamu yang melakukan hal itu. Bukan saya!" tuduhnya membuat emosi bu Sri memuncak tak karuan.


"Ibu lihat ini." Ayu memperlihatkan jarinya ke arah mertuanya, "aku baru saja merapikan kukuku dengan perawatan mahal di rumah ini. Aku enggak mau ya, kuku aku rusak gara-gara cuci baju mas Gibran. Sampai sini, Ibu paham?"


"Mantu edan! Mantu enggak berguna!  Nyesal saya punya mantu model kaya kamu! Nyesel saya menikahkan anak saya sama wanita kaya kamu!"


"Bu! Jaga mulut, Ibu ya! Asal Ibu tahu, yang mau menikah dengan saya adalah anak Ibu. Bukan saya!" Ayu pun  tak kalah sengit dari mertuanya, bahkan ia berani membantah mertuanya. Tak tahan dengan sikap mantunya, ibu Sri memutuskan untuk pergi ke dapur untuk mencuci baju anaknya.


 


"Huh! Dasar, dia pikir saya bisa diperalat kaya si Bella. Yang dengan bodohnya jadi budak di rumah ini. Dengan bodohnya mau dijadikan babu di rumah ini." Selesai dengan masalahnya, Ayu langsung menutup pintu kamar, dan melanjutkan aktifitasnya.


Di dalam kamar tamu, aku termenung memikirkan Bella. Jujur saja, aku sangat merindukan Bella dan juga anakku. Selama aku menikah dengan Bella, semua kebutuhan selalu terpenuhi. Bahkan baju kerjaku selalu rapi dan licin.


"Mas, baju kerja kamu sudah aku siapkan di kasur ya."


"Mas, sarapan sama teh hangat sudah di meja ya. Itu ada bekal untuk makan siang. Nanti dibawa ya."

__ADS_1


Selama aku berumah tangga dengan Bella, aku tidak pernah kelaparan, baju kerjaku selalu rapih dan wangi. Hingga teman kerjaku begitu iri denganku karena memiliki istri yang pintar merawat suami. Aku begitu bangga dengan Bella, hanya saja. Aku telah membuangnya dan mencampkannya ketika aku berselingkuh dengan Ayu.


Esok paginya, aku bersiap-siap untuk bekeja. Saat aku mencari baju batikku di lemari. Namun tidak ada satu pun baju batikku di sini.


"Bu, lihat baju batik kerjaku?" tanya ibuku siapa tahu sudah ia cuci.


"Ada, tapi belum Ibu gosok. Kerjaan Ibu banyak banget. Hari ini Ibu belum masak untuk sarapan kamu, Nak."


"Di mana baju itu, biar aku suruh Ayu gosok bajuku."


"Ada di kamar, Ibu." Aku berjalan ke arah kamar ibuku. Kulihat, baju batiku tergantung di pintu lemarinya. Buru-buru aku ambil dan kuberikan pada Ayu untuk digosok sekarang.


"Yu, tolong buka pintunya." Perlahan pintu terbuka. Aku melihat Ayu baru saja bangun tidur, "kamu baru bangun tidur, Yu?"


"Iya, Mas. Semalam aku begadang nonton Drama Korea. Soalnya filmya seru banget, Mas."


"Ini." Aku menyerahkan baju batikku.


"Ini apa, Mas? Kok kasih ke aku?" Ia terlihat heran dengan baju batik di tangannya.


Ia menggelengkan kepalanya, tanda ia menolak permintaanku, "aku enggak mau gosok, Mas.


" Kenapa? cuma gosok baju 1 doang loh."


"Ya, kamu saja yang gosok sendiri. tinggal digosok saja."


"Astaga! Aku enggak bisa gosok, kamu, kan Istri Mas. Seharusnya kamu bantu Mas dong."


"Loh, jadi kamu suruh aku gosok baju Kamu? Mas pikir aku pembantu gitu?"


"Yu, Mas enggak pernah anggap kamu kaya pembantu. Mas cuma minta tolong sama kamu, Tolong gosokkan baju ini. Mas mau berangkat kerja."


"Ya, udah tinggal gosok. Ribet banget sih!" Lagi-lagi dia menolak apa yang aku minta.

__ADS_1


"Ada apa sih, pagi-pagi kok ribut?" ujar ibu, "kamu kenapa lagi Bran?"


"Ini Bu, batik Gibran kusut belum digosok. Aku minta tolong sama Ayu untuk bantu aku gosokkan baju, tapi dia enggak  mau." Ibu langsung menatap Ayu, ia sibuk dengan ponselnya. Dengan cepat ia meraih batik dari tanganku. Dengan cepat ia berjalan ke arah Ayu dan melempar kan baju batik ke wajahnya


"Heh! Mantu enggak guna! Kamu enggak lihat suami kamu mau berangkat kerja. Lihat batik Gibran kusut, kenapa kamu enggak mau gosok batiknya?" Ayu membulatkan matanya.


"Bu! Tolong yang sopan ya sama Ayu, Ibu enggak lihat saya sibuk! Kenapa Ibu lempar baju batik ke wajahku?!" Ayu berkacak pinggang di hadapan ibuku.


"Sibuk apa kamu? Kamu itu cuma sibuk rebahan sambil main hp. Contoh Bella mantu Ibu yang dulu, dia rajin urus suamimu dan urus rumah. Enggak kaya kamu, cewek malas." Tiba-tiba saja Ayu melotot ke arah ibuku.


"Maksud Ibu apa bandingi aku sama mantan mantu Ibu, kalau memang dia rajin seperti yang Ibu bilang. Kenapa dulu malah dibuang?" Ayu berdecap pinggang di depan ibu, aku yang tidak terima langsung membentak Ayu yang menurutku sangat kurang ajar.


"Jaga sikap kamu depan Ibuku."


"Apa! Mas mau bela Ibu? Ingat ya, aku ini bukan Bella seperti mantan Istri kamu yang dulu, aku ini wanita karir.  Aku enggak mau nasib aku kaya mantan Istri kamu, yang selalu dijadikan babu oleh Ibumu." Dengan tegasnya ia menunjuk ibuku dengan jarinya. Rasanya panas sekali melihat ibuku diperlakukan buruk olehnya.


"Ayu!" Kali ini, ucapannya sudah sangat keterlaluan. Bagai mana bisa ia mengatakan seperti itu. “Jaga sikap kamu sama Ibuku, kamu jangan jadi Istri durhaka. Kalau memang kamu tidak mau gosok bajuku tidak apa-apa. Asal kan kamu punya sopan santu sama Ibuku.


 


"Dasar Istri enggak berguna! Bisanya cuma ngurus diri sendiri aja, Ibu nyesel banget punya mantu model kaya dia!" Ibu menghentakkan kakinya dan pergi menjauh dari Ayu. Aku pun sama, pergi meninggalkan Ayu. Biarlah aku berangkat kerja dengan batik kusut, dari pada batik kotor dan bau, lebih baik kusut.


...


"Dasar Istri enggak berguna! Bisanya cuma ngurus diri sendiri aja, Ibu nyesel banget punya mantu model kaya dia!" Ibu terus saja mengomel dengan kelakuan mantunya.


"Udahlah, Bu. Jangan gerutu terus, kan Ibu sendiri yang pengen punya mantu kaya Ayu."


"Ya, Ibu kira dia bisa diandalkan kaya Bella mantan Istri kamu. Bisa beres-beres rumah kaya Bella, Bisa masak kaya Bella. Bahkan dia bisa merawat Ibu kalau Ibu lagi kesusahan atau pun sakit." Ku lihat wajah ibu sedikit menyesal saat Bella sudah tidak lagi jadi mantunya. Memang benar yang dikatakan Ibu, saat aku masih bersama Bella. Dialah yang selalu mengurus ibu dengan telaten. Walau pun Bella sering dihina atau menyebarkan gosip jelek tantang Bella. Ia masih sabar merawat ibuku.


“Andai waktu bisa diputar, Ibu ingin kembali seperti dulu. Semenjak kamu menikah dengan Ayu, dia enggak pernah bantu ibu buat urus rumah. Jangan kan cuci piring, untuk masak saja dia tidak bisa. Alasannya takut badan dia bau bumbu dabur kaya Bella, dia takut badanya bau keringat, takut kamu berpaling ke wanita lain kaya Bella.” Ibu hanya bisa tertunduk sampai menelan rasa penyesalan dan rasa kecewa.  


"Bu, aku berangkat kerja dulu ya. Aku sarapan di luar saja kaya biasa." Aku meraih punggung ibuku dan mencium punggung tangannya. Aku sudah bosan dengan keluhan dia terhadap Ayu. Aku pun sebagai suaminya tidak bisa berbuat apa-apa. Jika aku suruh untuk membantu ibu, ia akan marah besar dan pulang ke rumah orang tuanya. Dengan terpaksa aku menjemput dia untuk kembali pulang. Saat di perjalanan menuju tempat kerja, tiba-tiba saja  aku jadi ingat dengan Bella.

__ADS_1


Saat aku menceraikan Bella, tak lama aku menikah dengan Ayu. Dan mengadakan pesta yang begitu meriah, bahkan menghabiskan dana yang tidak sedikit hingga aku meminjam uang di bank dengan jumlah yang tidak sedikit. Ini semua karena keinginan Ayu yang ingin menikah di hotel. Bahkan, mahar yang ia minta tidaklah sedikit. Karena aku ingin menikah dengannya, apa pun yang ia minta akan aku lakukan.


setelah menikah, ia selalu saja meminta dibelikan barang yang menurutku sanggatlah mahal.  Kalau tidak aku berikan dia akan marah dan tidak mau tidur denganku. Sedangkan diriku, ingin meminta bantuan darinya. Dia selalu saja menolak dengan alasan yang tidak masuk akal.


__ADS_2