
"Kamu pikir aku pembantu apa! Siapa juga yang mau beres-beres rumah, 'kan ada Ibu kamu, suruh saja dia beres-beres rumah." Hatiku meradang saat dia mengatakan hal seperti itu terhadapku. Aku mengepalkan tanganku dengan kuat, jangan sampai aku khilaf dan menampar wajahnya. "Mas! Buruan, mana uangnya. Kamu dengar enggak sih!"
"Enggak ada, aku cape. Mau mandi dulu." Aku berjalan ke arah kamar mandi, aku sudah tidak peduli lagi dengan Ayu yang terus merengek meminta uang padaku. Baru kali ini aku dibuat pusing oleh seorang Istri.
Dulu, saat aku masih menikah dengan Bella, dia tidak pernah merengek meminta uang padaku. Bahkan, saat dia meminta uang padaku. Aku selalu menolaknya dengan alasan uangku sudah habis untuk kebutuhan sehari-hari. Padahal uangku tidak pernah habis walau pun dia meminta uang untuk keperluan sendiri.
20 menit kemudian, aku telah usai mandi, ketika aku ingin mengambil baju di lemari. Aku terkejut melihat tas kerjaku yang sudah terbuka, bahkan dompetku sampai ada di atas meja. Buru-buru aku lihat isi dompetku, ternyata Ayu mengambil uangku beserta kartu ATMnya.
"Ayu, kamu memang benar-benar Istri kurang ajar! Berani kamu ambil uang aku seenak jidat kamu." Aku begitu geram dengan Ayu, bisa-bisanya dia mencuri uang dari dalam dompetku, bukan hanya uang saja yang ia ambil, kartu ATM yang berisikan uang pun ia ambil.
...
"Yo, bestie, sory ya nunggu lama. Maklumlah di rumah gue lagi ribet banget," ujar Ayu, ternyata ia pergi ke klub malam bersama teman-temannya.
"Katanya enggak ada uang buat ke sini?"
"Heheh, tadinya enggak ada uang. Tapi lihat ini." Dengan bangganya Ayu memperlihat kan dompet suaminya di depan teman-temannya, "kalian tenang saja, gue udah bawa uang kok. Lumayan banyak loh isinya, bisa lah kita pesan minum sampai teler di sini." Teman-teman Ayu terlihat heran.
"Kalau suami lo tahu gimana? Nanti dia marah loh." Tentu saja teman Ayu sedikit khawatir, masalahnya ia mengambil uang suaminya tanpa seizinnya.
"Kalian semua enggak usah khawatir, masalah suami. Biar gue yang urus, kalian pesan saja minuman. Biar gue yang bayar, mumpung gue bawa uang banyak!" Dengan kerasnya ia tertawa terbahak-bahak. Padahal uang yang ia bawa untuk bayar hutang ke bank.
__ADS_1
padahal Jam sudah menunjukkan jam 01.00 dini hari. Tetapi Ayu belum mau pulang, karena dia belum puas berada di klub malam, ia masih mau di sini bersama dengan teman-teman.
"Yu, lu nggak pulang? Manti Lo dicariin loh sama suami, apalagi lo ngambil duit dia tanpa si izinnya."
"Halah! Buat apa sih mikirin suami gue? Biarin aja sih Lagian ini duit suami gue, itu artinya di sini ada hak gua dong, udahlah lo nggak usah ribet sama urusan rumah tangga gue yang penting gue di sini senang-senang dan minuman lo semua tuh udah gua bayar." Tanpa peduli dengan perasaan suaminya Ayu terus melakukan hal-hal Di Luar Batas. sedangkan di rumah suaminya telah menunggu sayangnya ia belum juga pulang ke rumah.
Jam sudah menunjukkan pukul 02.00 dini haru, Ayu belum juga menampakkan batang hidungnya. Aku benar-benar dibuat kesal olehnya. Bahkan, menjelang pagi Ayu belum juga kembali pulang ke rumah.
"Istri kamu ke mana Bran? Dari semalam belum pulang."
"Aku juga enggak tahu Bu, semalam dia ambil uangku beserta kartu atm. Katanya dia mau kumpul sama teman-temannya."
"Kayanya, Gibran sudah salah memilih Ayu menjadi Istri aku Bu. Ayu bukanlah wanita baik-baik seperti yang Gibran harapkan, Gibran menyesal Bu, telah membuang Bella dari hidupku." Ibuku mengusap punggungku dan menenangkan diriku, bukan hanya aku saja yang menyesal. Bahkan Ibuku juga menyesal telah menyia-nyiakan mantu yang baik seperti Bella.
"Ibu juga menyesal Nak, andai waktu bisa diputar kembali. Ibu tidak akan sudi, menerima Ayu sebagai Istri kamu. Dia hanya perempuan yang pintar mempercantik diri, namun buruk ketika menjalankan rumah tangga. Ibu berharap, suatu saat bisa bertemu dengan Bella dan meminta maaf yang sebesar-besarnya, kalau bisa bujuk dia kembali dan menjadikan Bella sebagai Istri kamu." Aku mendesah pelan, aku tidak yakin jika Bella ingin kembali padaku, aku tahu dia sangat membenciku. Kalau pun dia kembali padaku, aku yakin sekali sikapnya akan berubah dan tidak akan sama seperti dulu.
Paginya aku ingin berangkat kerja, aku melihat Ayu di pinggir jalan, ia baru saja turun dari mobil berwarna hitam. Aku tidak tahu, di dalam mobil itu ada siapa saja. Sebelum aku berangkat kerja, aku ingin berbicara dengan Ayu terlebih dahulu.
"Dari mana saja kamu, pagi-pagi baru pulang!"
"Ck, berisik. Aku cape nih!" Aku seperti mencium aroma alkohol di tubuhnya apa dia semalam mabuk-mabukan?
__ADS_1
"Ayu, tunggu! Mas mau bicara sama kamu." Aku mencengkal tangan Ayu, agar dia tidak masuk ke dalam.
"Semalam, kamu ambil uang Mas di dompet, kamu tahu enggak! Uang yang kamu ambil, itu uang setoran buat bayar hutang ke bank."
" terus urusan ama aku Apa mau itu uang buat bayar Bang kek mau buat apa kek aku nggak peduli Yang jelas Uwa yang ada di ATM dan di dompet itu itu adalah semua hak aku." semakin dia bicara semakin tercium bau alkoholnya membuat aku sedikit muak.
"Kamu habis minum-minum ya? Badan kamu bau alkohol tahu! Jangan-jangan, uang aku kamu habiskan untuk beli minuman beralkohol?"
"Kalau iya kenapa? kamu nggak terima?" Sekali lagi aku mencengkram lengannya hingga ia meringis kesakitan, aku sudah geram dengan kelakuannya yang sudah keterlaluan, rasanya ingin aku gampar wajahnya dan juga mulutnya.
"Apaan sih, Mas! Lepas!" Dengan kasarnya ia menghempaskan tanganku dan berlalu masuk ke dalam
“AYU! AYU!” Aku terus memanggil namanya, hanya saja dia sudah masuk ke dalam rumah, karena waktu sudah mepet. Aku harus bergegas masuk kerja, aku tidak boleh telat.
"Sialan! Kalau saja aku tidak menaruh dompet dan tas sembarangan, mungkin saja uang itu masih utuh!" kutaruh kepalaku di atas setir mobil. Aku tengah bingung bagaimana caranya bisa mengumpulkan uang 4 juta untuk setoran ke bank.
***
"Mas, hari ini kamu sudah gajian, 'kan? Bagi uang dong!" Ia menadah tangan ke arahku seenak jidat. Kalau soal uang dia gercep. Masalah urusan rumah saja tidak bisa. "Mas, kok kamu malah lihatin aku sih, aku minta uang sama kamu. Aku mau belanja bulanan nih."
"Mau belanja bulanan untuk kebutuhan dapur, atau kebutuhan pribadi?" Ayu mengeritkan keningnya.
__ADS_1