
Karena terjadi keselahan di Bab 12, ada naskah yang terpotong. sebagai gantinya aku up lagi.
bab 12 sudah aku perbaiki.
Bella nangis Bu, gara-gara Ibu bilang macam-macam tentang dia ke orang-orang sekitar."
"Macam-macam bagai mana? kenyataan, 'kan memang begitu. Masa urus makanan Ibu saja enggak bisa. Dia itu sengaja, biar bikin Ibu sakit." Terlihat ibuku begitu marah, aku tidak tahu. Kenapa ia sampai sebegitunya terhadap istriku? Apa iya, istriku mau mencelakai ibuku? Rasanya tidak mungkin.
"Gibran pusing Bu, dengar Bella nangis terus. Gibran keluar dulu ya Bu cari angin dulu. Kalau bisa, suruh dia berhenti nangis. Jangan jadi istri manja. Aku enggak suka lihat istri manja kaya gitu." keluhku, membuat ibuku setuju dengan saranku.
"Ya, sudah sana. Biar Ibu yang kasih tahu, kamu tenang saja, Nak. Masalah dia biar Ibu yang urus." Ratih yang tidak terima dirinya diomong oleh Bella, langsung berjalan ke arah kamar dalam keadaan emosi. Ia mengendur pintu kamar Bella dengan karas, membuat bayinya hampir bangun. Padahal sudah susah payah ia menidurkan anaknya.
"Bella, keluar kamu! Buka pintu kamar kamu! Ibu mau bicara sama kamu." Tak tahan dengan suara gedoran dari mertuanya, Perlahan ia membuka pintu kamarnya.
"Ada apa Bu, kalau mau ketuk pintu pelan-pelan Bu. Arka, 'kan lagi tidur. Kalau Arka bangun gimana?"
"Saya enggak peduli, heh! Barusan kamu ngomong apa sama anak saya? Kamu sengaja ya jelekkan saya di depan anak saya, biar dia bela kamu, iya!" Dengan angkuhnya ia mengangkat dagunya ke atas, kedua tangannya ia letakan di pinggang.
__ADS_1
"Ya, Allah. Bu. Saya enggak pernah jelekkan Ibu di depan Mas Gibran."
"Kalau enggak jelekkan, kenapa Gibran sampai bilang. Katanya saya bilang macam-macam ke orang-orang dan fitnah kamu." Bella hanya bisa terdiam, melihat mertuanya yang terus berbicara tanpa henti. Bahkan, kata-katanya sungguh menyakitkan hatinya tak kala ia menyuruh pergi dari rumah ini, “awas kamu ya, bilang macam-macam ke anak saya. Mau kamu saya usir dari rumah ini, biar kamu hidup di jalan sama anak kamu!” bu Ratih menunjukkan jarinya ke arah pintu keluar, membuat Bella tersentak kaget dengan sikap mertuanya yang sudah keterlaluan dan juga picik di depan matanya.
“Astagfirullah, Ibu. Kenapa bilang kaya gitu? Kok bisa tega bilang kaya gitu ke cucu sendiri.” Bella hanya bisa mengelus dada mendengar perkataan mertuanya.
“Makannya, kamu jangan cari gara-gara di rumah ini. Kalau kamu cari masalah sama saya, saya enggak akan segan-segan usir kamu. Biar kamu hidup di jalan sama Arka!” Selesai bicara dengan dirinya, mertuanya langsung pergi entah ke mana. Bella yakin sekali. Jika mertuanya keluar dari rumah ini, ia akan membicarakan keburukan Bella ke orang-orang sekitar dan membuat fitnah baru, membuat dia semakin buruk di mata orang-orang.
semenjak kejadian itu, Bella sering kali berdiam diri di kamar sendirian sambil memeluk bayinya yang berumur 3 minggu. Bahkan, suaminya sudah jarang pulang tepat waktu semenjak ia melahirkan Anaknya. Padahal, Bella masih butuh bantuan suaminya untuk merawat anaknya yang baru saja lahir.
"Mas, tolong bantu aku dong. Aku mau tidur sebentar saja, dari semalam aku begadang. Aku mau tidur siang dulu. Kamu tahu kan semalam Arka nangis terus? Bahkan kamu nggak mau diganggu sama aku, kamu lebih memilih tidur di kamar tamu, maka dari itu aku mau minta tolong sama kamu. Tolong gantiin aku jagain Arka aku mau tidur sebentar saja." Aku menoleh ke arah Bella dengan tatapan sinis membuat aku semakin kesal. Padahal aku lagi ingin bersantai di hari libur ini. Kenapa pula dia harus menggangguku?
"Mas, hanya sebentar saja. Aku cuma butuh 30 menit, tolong jagai Arka." Aku berdesis tidak suka.
"Malas aku, lagi pula aku ini mau pergi. Aku ada acara sama teman-teman." Terlihat, raut wajah Bella sangat kecewa karena aku tidak mau membantu dirinya menjaga Arka. Padahal Bella begitu lelah menjaga anak kami, sebenarnya aku bisa saja membiarkan Bella tidur siang sepuasnya. Tapi rasa egois ini begitu besar sampai aku tidak mau membantu dirinya
"Mas, tolong bantu aku sekali saja. Aku benar-benar cape banget Mas, aku mau minta tolong sama Ibu, aku takut Ibu bakalan marah." Ia terus saja memohon padaku, sampai air matanya sudah keluar. Tapi tetap saja aku tidak mau membantu dirinya.
__ADS_1
"Kamu enggak dengar ya, saya sudah bilang. Saya mau pergi! Coba deh kamu belajar mandiri, jangan manja kaya gini. Dulu saja, ibuku bisa urus sendiri tanpa bantuan bapakku. Kenapa kamu malah bersikap manja? Contoh lah ibuku, dia wanita mandiri dan hebat!" Saat aku hendak keluar dari kamar, tiba-tiba gelas beling melayang dari bawah kakiku. Bahkan kakiku saja terkena serpihan kaca. Aku langsung membalikkan badan. Rasanya ingin sekali memarahi Bella yang sudah keterlaluan melempar gelas kaca ke arahku. Belum sempat aku memarahi Bella, ia sudah bersiap-siap melempar gelas kaca yang kedua ke arahku.
"AKU CAPE MAS!” jeritnya, “ AKU MAU TOLONG SAMA KAMU MAS! Aku mau tidur, tolong jagain Arka sebentar. Kalau kamu enggak mau bantu aku, gelas kaca ini, akan aku lempar ke arah kepala kamu sampai bocor!" Raut wajah Bella sungguh sangat menakutkan, untuk pertama kalinya aku melihat Bella seberingas ini. Mungkin efek terlalu lelah. Ia melangkah maju mendekatiku, bersiap melempar gelas kaca ke arahku.
"Bell, aku minta maaf. Tolong kamu letakkan gelas kaca itu. I-iya, aku mau kok jagain Arka, tolong jangan lempar gelas kaca itu ya." Perlahan aku mendekati Arka untuk aku gendong. Tapi Bella masih menatapku tajam. selesai gendong Arka, aku langsung keluar. Aku takut dilempar gelas kaca lagi seperti tadi. Saat sudah keluar, dengan kencangnya Bella membanting pintu. Hingga tembok kamar bergetar.
"Haduh apes banget, disaat aku mau bertemu Ayu, kenapa juga aku harus jagain anak beban ini." batinku mengeluh. bayi ini Terus saja menggeliat, ia hampir saja menangis, namun ku goyang-goyangkan agar ia tidak menangis.
"Gibran, kenapa sih ribut banget. Itu siapa yang banting pintu?" Ibuku menyusul setelah mendengar pintu kamar dibanting oleh Bella.
"Bella, dia minta tolong sama aku, katanya aku suruh jagain Arka, soalnya dia mau tidur siang."
"Istri kurang ajar, bisa-bisanya dia tidur siang. Sedangkan anaknya malah dititipin di kamu." Ibu berjalan ke kamar untuk membangunkan Bella, namun aku tahan. Aku takut, Bella akan ngamuk dan melempar gelas kaca ke ibu, aku tahu dia sangat lelah.
"Bu, biarikan saja. sekali-kali dia istirahat sebentar."
"Tapi--"
__ADS_1
"Bu, jagain Arka ya. Aku sudah ada janji sama Ayu, aku mau ajak dia jalan-jalan." Aku menyerahkan Arka ke ibuku.