
Pagi ini Nathan bangun dengan kepala sedikit pusing, tadi malam dia menghabiskan waktunya dibar langganannya, yah.. jika ada masalah yang sangat menggangu pikirannya Nathan agar pergi ke bar dan melampiaskan kekesalannya dengan minum hingga puas.
Kemarin siang Sheila datang kekantornya, ketika Reyhan sedang meninjau kafe meraka yang di surabaya. Nathan sedikit terkejut karena baru itu Sheila berani datang kekantor mereka saat Reyhan tidak ada.
"Nat, boleh aku masuk" ujar Sheila membuka pintu ruang kerjaku
"Eh kami Sheil masuk masuk... ada perlu apa? ada yang bisa aku bantu?" ujarku mempersilahkan dia duduk dikursi didepan mejaku
"Ah... gak kok Nat, aku cuma kebetulan lewat tadi dari rumah teman, pengen mampir melihat kamu" ujarnya sambil berjalan kearah tempat duduk ku
"Oh iya Reyhan belum pulang ya, mungkin besok dia baru bisa pulang, bagaimana kabar baby kalian Shel, baik baik aja kan?" tanyaku sedikit menggeser kursiku agar berjarak dengan Sheila yang mendekati tempat duduk ku
"Semua baik baik saja kok Nat, baby ku sehat,cuma akunya tidak sehat Nat" ujarnya sendu sambil duduk dimeja pas didepan kursiku
"Apa apaan kamu Sheil, kamu tidak boleh seperti ini" ujarku sambil berusaha bangkit untuk menghindari Sheila, namun Sheila menahanku
__ADS_1
"Nat, aku tau kamu masih mencintaiku Nat, kenapa kamu menghindar dariku Nat?" ujar Sheila sambil memegang tanganku "Kamu tidak tahu beratnya menahan rinduku dan rasa cinta ku samamu Nat, berat rasanya aku harus berpura pura bahagia dengan kehidupanku yanh sekarang" sambung nya
"Shel please kamu tidak boleh seperti ini, aku tidak mau Reyhan berpikir macam macam tentang kita, semua sudah berlalu Sheil kamu sudah menjadi istri Reyhan tidak ada yang bisa merubah itu lagi Sheil, pikirkan anak kalian, Reyhan begitu mencintaimu Sheil" ujarku sambip berusaha melepaskan tangan Sheila, aku tidak mau tiba tiba ada yang masuk dan salah paham melihat keadaan ini, semuq pegawai disini tau Sheila adalah istri Reyhan aku tidak mau ada timbul masalah.
"Yang kamu perdulikan cuma perasaan Reyhan, yang kamu pikirkan cuma Reyhan Nat, pernah gak sih sedikit saja kamu memikirkan perasaanku, sedikit saja mengerti rasaku Nat" Sheila mulai terisak dan berusaha berdiri untuk memelukku.
"Sheil tidak boleh seperti ini nanti ada yang melihat Sheil, nanti Reyhan bisa salah paham Sheil" aku berusaha untuk melepaskan pelukan Sheila, meski aku kasian kepada Sheila. aku mengerti perasaannya, karena aku juga pernah merasakan sakitnya harus menahan perasaan rindu dan cintaku, bagaimana sakitnya aku harus melihat Sheila bersama Reyhan saat itu.Namun ketika aku sedikit lengah ternyata Sheila memanfaatkan kesempatan itu, dilihatnya aku melamun tiba tiba Sheila mencium bibirku, sungguh aku terkejut dengan kenekatan Sheila
"Sheil..ini tidak boleh, kamu istri sahabatku"
Aku diam, dan kubiarkan dia mencium bibirku aku juga ingin tau apakah rasa cintaku pada Sheila benar benar sudah sirna, awalnya biasa saja tapi makin lama ciuman itu membuat dadaku mulai bergerumuh aku, rasanya jantungku berdebar dengan kencang tanpa aku sadari tanganku mulai memegang pipi Sheila dan Sheila menyadari hal itu melihat mulai menikmati ciumam kami, dia mulai semakin berani. ciuman yang tadinya aku pikir hanya untuk pembuktian malah berubah semakin memanas, Sheila mulai memainkan lidahnya, mulai menuntut ciuman yang panas, Sheila mulai menuntun tangan ku untuk menjelajahi bukit kembarnya, dan menuntun tanganku untuk meremas dua bukit kembarnya yang menantang. aku terbawa permainan Sheila tidak bisa ku pungkiri pikiran ku menyuruhku untuk berhenti namun tubuhku berkata lain, tanganku mulai meremas bukit Sheila yang masih tertutup baju, dan Sheila mulai mendesah menikmati remasan demi remasanku, tanpa aku sadar tangan Sheila bergerak ke celanaku dan meraba juniorku yang mulai bangun, tangan Sheila mulai meremas juniorku sambil tetap bermain dengan ciuman kami yang memanas hingga juniorku berdiri dengan tegak sempurna.
Ketika Sheila berusaha melepas bajunya, ponselku berdering panggilan dari "Reyhan" aku tersadar dengan apa yang kami lakukan aku segera menarik diriku dari pelukan Sheila dan membetulkan celanaku yang ternyata sudah dibuka oleh Sheila. Sheila tersenyum melihatku dan berkata "Benar kan Nat, kau masih sangat mencintaiku, buktinya kau menikmati ciuman dan belaianku bahkan kau membalas dengan menyentuh tubuhku"
Tidak aku perdulikan omongan Sheila, segera aku ambil ponselku dan aku tolak panggilan Reyhan, lalu aku ketik pesan lima menit lagi aku hubungi. aku beralih ke Sheila "Tolong Sheil keluar dari ruanganku, aku ada rapat penting"
__ADS_1
"Baiklah aku pulang Nat, tapi aku tidak akan melepaskan mu karena aku tau kau masih mencintaiku Nat, akan ku kejar kau kemananpun kau pergi Nat" ujar Sheila sambil berjalan keluar
Argggh... kenapa aku bisa lepas kendali seperti tadi pikirku kesal sambil meremas rambutku, kenapa hanya dengan sebuah ciuman biasa bisa membuatku lupa diri bahwa dia sudah menjadi istri Reyhan, kedepan nya akan semakin sulit menghindari Sheila kedepannya karena aku tau sifat Sheila yang keras dia akan berusaha mendapatkan apapaun yang dia inginkan harus dia dapatkan dan akan diperjuangkan nya sampai dia mendapatkan hal yang diinginkannya.
Kuambil ponselku dan menghubungi Reyhan, ternyata Reyhan hanya memberikan kabar bahwa Kafe kami yang di cabang Surabaya baik baik saja, maka dia akan pulang malam ini juga ke Jakarta katanya dia sudah sangat merindukan Sheila dan anak mereka.ketika ku tutup pembicaraan kami aku mendesah membuang rasa kesal dalam diriku, andai kamu tau Rey, apa yang barusan aku lakukan terhadap istrimu, meski itu diluar sadarku, kamu pasti akan sangat kecewa sahabat dan istrimu berbuat seperti itu, terlebih aku sangat kecewa pada diriku aku pikir aku sudah bisa menghilangkan rasa cintaku pada Sheila.
Akhirnya aku memutuskan sepulang kerja pergi ke bar langgananku tempat dimana dulu aku pernah menghabiskan hari hariku meratapi nasib cintaku yang belakangan hari aku tau aku tidak bertepuk sebelah tangan hanya mungkin memang Sheila memang bukan jodohku.
Ketika tiba dibar aku menemui Santi dia dari dulu selalu menemaniku menghabiskan waktu.
"Hai Nat, lama gak mampir, ada angin apa yang membawamu mampir kesini" sapa Santi sambil langsung menciumku. Santi adalah Bartender wanita dibar langgananku, namun jika aku yang datang dia akan menyerahkan tugasnya ke temannya dan dia melayaniku. aku tau dari dulu dia menaruh hati padaku tapi aku hanya menganggap dia teman saja.
"Hai San, apa kabarmu, iya nih belakangan ini agak sibuk, sampai lupa mampir" ujarku " seperti biasa ya San" sambungku.
"Baiklah akan segera diantar kan ketempat biasa" sambil tersenyum Santi memberi instruksi kepada bartender lainnya dan kami berjalan menuju privat room, yang khusus disediakan bar ini untuk orang orang yang minta punya privasi.
__ADS_1