
Pagi hari disebuah apartemen wilayah kemang, Nathan sedang menyesap secangkir kopi panas sembari menikmati pemandangan pagi yang mulai menunjukan kesibukan aktivitas ibu kota. Tak lama ponselnya berdering, panggilan dari sahabat sekaligus rekan bisnis nya Rayhan, maka segera diangkatnya panggilan tersebut.
"Hallo"
"Halo..Nat, gue gak bisa ikut rapat pagi ini, Sheila mau melahirkan ini udah mulai mules" kata Rayhan
"Ohh... ya gak papa Rey, loe fokus aja sama Sheila ya, urusan cafe biar gue yang tangani gampanglah itu, sekalian loe cuti beberapa hari deh"
"Thanks ya Nat"
"Rencana Rumah sakit mana Sheila akan melahirkan?"
"Rumahsakit depan cafe kita itu loh nat, biar gampang dan dekat dari apartemen"
"Oh.. oke kabarin terus ya gimana kondisi nya ntar"
"Oke Nat, thanks ya sekali lagi"
Nathan menutup ponsel nya dan meletakannya di nakas dekat nya berdiri. sambil menerawang kemasa lalu. Dia dan Reyhan adalah sahabat dari TK dan kebetulan mereka berada dalam satu komplek perumahan yang sama, hingga ke jenjang SMA mereka selalu satu sekolah hingga di kelas saat masuk SMA mereka bertemu dengan Sheila yang secara tidak sengaja ditempatkan satu kelompok dengan mereka ketika masa ospek, dan akhirnya mereka berada didalam kelas yang sama membuat mereka jadi sahabat. Namun seiring berjalan waktu dihati Nathan bertumbuh rasa lain untuk Sheila, dan belum sempat Nathan menyatakan perasaannya Reyhan datang kepadanya dan mengatakan dia sudah menyatakan perasaannya kepada Sheila dan mereka sudah sepakat untuk memulai sebuah hubungan. Sejak hari itu Nathan selalu bermain dengan perasaannya berusaha sebisa mungkin menutupi perasaannya kepada Sheila karena dia tidak ingin persahabatanya hancur, dan akhirnya diam diam dia memutuskan untuk mendaftar kuliahnya diluar negri agar bisa menjauh dari kebersamaan mereka, padahal mereka sudah berjanji untuk mendaftar kuliah di perguruan tinggi yang sama, dengan alasan permintaan orangtua nya nathan menjelaskan kenapa dia mendaftar kuliah diluar negri.
Selepas kuliah diluar negri dia mencoba melamar kerja di perusahaan tempat dia magang dan mulai meniti karirnya, tak lama kemudian dia menerima undangan pernikahan Reyhan dan Sheila, ketika pulang menghadiri pernikahan mereka orangtua Nathan memintanya untuk menetap saja dijakarta , Dia bisa bekerja diperusahaan ayah nya, namun Nathan tidak mau langsung menjabat diperusahaan ayahnya maka dia berniat membuka usaha saja, dan Reyhan ikut tertarik dengan usahanya, maka bekerja samalah mereka membangun usaha cafe yang mulai menunjukan hasil. Hampir dua tahun mereka berjuang dan usaha mereka mulai menunjukan hasil, sekarang mereka sudah bisa membuka beberapa cabang di jakarta dan 2 cabang di luarkota yakni Medan dan Surabaya.
Rencana nya hari ini dia dan Reyhan akan bertemu dengan orang yang berinvestasi dicafe mereka, mengingat janji temu itu Nathan menyudahi kegiatan minum kopi nya dan beranjak untuk segera bersiap siap.
☆☆☆
Siang itu Nathan bertemu dengan beberapa orang calon investor, sengaja dia bertemu dicafe mereka agar bisa langsung menjelaskan dan dapat meyakinkan rekan nya untuk ikut berinvestasi diusahanya, dengan kemampuan nya berkomunikasi akhirnya dia mendapatkan kesepakatan dalam kerja sama.
Nathan sedang menyesap dengan nikmat kopinya, dia melihat seorang wanita duduk di mejak pojok disudut cafe, wanita itu sungguh menarik perhatian nathan, selain cantik gaya wanita itu juga elegan tak bosan nya nathan melihat wanita itu, tak lama wanita itu memanggil pelayan meminta nota pembayaran nya, pelayan tersebut terlihat akrab dan saling melempar tawa. maka setelah wanita itu nathan memanggil pelayan cafe tersebut.
"Apakah wanita tadi pelanggan kita?"
" Maksud bapak, wanita yang mana ya pak?!"
"Itu yang duduk dimeja no.2 tadi" jelasku
" Oh... nona Friska, iya pak dia pelanggan kita, dia sering datang kecafe kita baik sendiri atau bersama rekan rekan Dokternya" jawab pelayan itu
__ADS_1
"Oh..dia seorang Dokter?"
"Iya pak, nona Frisca lagi magang di Rumah Sakit ibu dan anak yang diseberang sana" unjuk pelayan itu menjelaskan.
"Oh...ya sudah kamu kembali kerja"
"Baik pak, permisi" .
"Friska, cantik seusai dengan wajahnya" ujarku sambil menggeleng tertawa. Selepas Sheila hingga saat ini belum ada wanita yang bisa membuatku terkesima, baru kali ini aku seperti anak sma yang jatuh cinta lagi, pikirku sambil tertawa berjalan keluar cafe menuju ke mobilku diparkiran. Sore ini aku berencana pergi menjenguk Reyhan dan Sheila yang sudah melahirkan anak perempuan,maka aku sempat kan singgah dulu ke toko perlengkapan baby untuk sekedar membeli hadiah untuk putri mereka.
Setiba di Rumah Sakit, aku segera menuju ruangan tempat Reyhan dan Sheila berada, saat dilift hanya aku seorang, ketika lift hendak tutup ada yang teriak minta ditunggu, aku segera menahan lift agar tidak tertutup dan yang muncul seraut wajah yang dari tadi berkelana dialam fikiran ku, sambil tersenyum manis dia tersenyum dan mengucapkan terimakasih karena telah menunggunya. berdua berada dilift membuatku bebas memperhatikannya yang sedang mengenakan jas Dokternya, kulihat dia tidak memencet tombol lift berarti lantai yang kami tuju sama. basa basi ku sapa dia
"Mau kelantai brapa dok?"
"Oh..eh saya mau kelantai 3 pak" jawabnya sambil melirik ke tombol lift "Ternyata tujuan kita sama" sambung nya sambil tersenyum.
"Bapak mau menjenguk istri atau sodara?"
"Jangan panggil bapak dong Dok, kesannya sudah tua sekali,saya menjenguk sahabat saya tadi pagi istrinya baru lahiran, saya nathan" Sahutku sambil mengangsurkan tangan mengajaknya bersalaman
"Ohh... saya Friska Dokter magang di Rumah Sakit ini" jawabnya sambil menyambut uluran tanganku
"Silahkan Dok" sahutku sambil berjalan menuju arah kamar inap Sheila.
Setiba diruangan Sheila, ternyata ibu Reyhan sudah berada disana. kusalam ibu dengan hormat dan memeluk hangat ibu yang sudah aku anggap ibuku sendiri.
"Apa kabar nak?" tanya ibu
"Eehat bu. ibu apa kabar sehat juga kan?"
"Sehat nak, apalagi sekarang makin sehat sudah ada cucu" sambung ibu sambil tertawa
" Bapak dimana bu,gak ikut? Bapak sehat juga kan?"
"Bapak sehat, cuma lagi ada rapat, belum sempat datang, paling nanti pulang kantor baru sampai, ngerti sendiri bapak seperti apa dari dulu tidak berubah juga" sahut ibu
Aku hanya tertawa mendengar jawaban ibu, dari dulu Bapak memang sedikit gila kerja, ditambah lagi saat ini Reyhan belum mau membantu ayahnya diperusahaan ayahnya malah merintis usaha lain.
"Hey..sudah datang Nat" tegur Reyhan baru masuk keruangan
"Iya baru sampai"
__ADS_1
"Kamu masih sendiri aja nak? nunggu apa lagi to nak, umur sudah semakin bertambah" tanya ibu Reyhan
" Tinggal nunggu jodoh nya bu, belum ada yang mau sama saya" jawabku
"Ealah..ndak mungkin ndak ada wanita yang mau sama kamu nak, kurang apa lagi to tampan, mampan"
"Kurang senyum bu" sambung Reyhan "Mana ada cewek yang berani sama dia, langsung dipasang wajah jutek nya itu"
"Ndak boleh gitu to nak, ingat umur, ingat orang tua semakin tua, kamu bantulah lah Rey teman wanita mu kan banyak" sambung ibu
"Sudah loh bu.. Nathan nya aja yang gak membuka diri, atau jangan jangan loe udah belok ya Nat" sahut Reyhan
"Wahh ngasal aja loe Rey, gue masih normal ya. Iya bu ntar Nathan cari lagi calon istri yang cocok" kujawab pada ibu sambil tersenyum.
Saat kami berbincang terdengar suara ketukan dari arah pintu tak lama kemudian masuklah perawat bersama Dokter hendak memeriksa keadaan Sheila. Aku melihat yang masuk adakah Friska, dan bertepatan dia juga sedang melihat ke arahku, sambil tersenyum Dia menganggukan kepalanya.
"Dipriksa dulu ya bu, sama Dokter Friska" kata suster tersebut.
Kulihat Friska dengan cekatan mulai memeriksa dan memberikan beberapa pertanyaan, kemudian menyuruh perawatnya menyatat beberapa instruksi obat dan jadwal pemberian obatnya.
"Keadaanya Nyonya Reyhan sudah mulai membaik, besok sudah bisa belajar berjalan, nanti bayi nya akan diantarkan keruangan ini untuk ibu susui, untuk belajar menyusui usahakan ibu harus senyaman mungkin biar dedeknya nyaman ya bu"
"Baik dok" sahut Sheila
"Baiklah kalau begitu saya permisi, kalau butuh bantuan atau ada yang mau ditanyakan silahkan panggil saya ya bu,pak" sahut Friska sambil pamit.
Ketika hendak berjalan keluar dia kembali menatap ke arahku sambil mengangguk dan berkata " Mari Mas"
" Iya mari dok" balasku.
Reyhan dan Sheila yang melihat itu tersenyum, setelah Dokter Frisca keluar bersama perawatnya. Reyhan langsung menyerbuku dengan pertanyaan pertanyaan menggoda yang kujawab apa adanya.
Tak terasa waktu sudah larut, jam berkunjung juga sudah habis, aku pamit pulang kepada Bapak yang sudah hadir selepas jam tujuh tadi sedang Ibu sedang ke kantin bawah. "Gue anterin ke parkiran ya" kata Reyhan
"Udah gak usah, kayak apa aja, gue gak bakalan nyasar kok, loe temani Bapak sama Sheila aja, gue pamit ya, sekali selamat udah jadi seorang ayah ya Rey, semoga loe makin semangat mencari uang buat beli susu anak loe ha...ha..." sahutku pada Reyhan
"Hahaha... thanks ya my bro, semoga loe juga segera menyusul ke altar pernikahan ya"
"Okeh deh salam buat ibu ya, gue balik dulu" pamitku pada Reyhan.
Aku segera berjalan kearah parkiran dan perlahan meninggalkan rumah sakit tersebut menuju apartemen ku.
__ADS_1