Perjalanan Cinta Dokter Frisca

Perjalanan Cinta Dokter Frisca
BAB V


__ADS_3

Pagi itu Friska bangun dengan keadaan segar, setelah istirahat yang cukup dan perhatian dari Dokter Stefan membuat keadaannya merasa jauh lebih baik lagi. Ketika baru selesai mandi Friska mendengar suara bel bergegas dia pakai baju dan menuju pintu untuk melihat siapa yang datang. ternyata dokter stefan yang datang, lalu Friska membuka pintu.


"Selamat pagi nona" sapa Stefan


"Pagi mas, pagi sekali sudah mampir, masuk mas" ajak Friska


" Iya sengaja mampir dulu untuk lihat kondisi kamu, ini aku bawakan sarapan untukmu"


"Wah..merepotkan Mas jadinya"


"Gaklah..sekalian kok, gimana sudah enakkan badannya? masih demam gak?" tanya Stefan


"Sudah gak kok mas, berkat obat dan bubur yang mas bawa kemarin" sahutku


"Oh..syukurlah nah sarapan lah dulu, baru setelah itu minum obatnya, hari ini tidak usah masuk dulu, aku sudah memberitahu ke Dokter Febrian bahwa kamu ijin sakit"


"Terimakasih mas, maaf sudah merepotkan"


"Merepotkan apa to fris, kamu bimbingan ku sudah sewajarnya aku perhatikan"


"Oh..kalau Nita atau Grace sakit juga sebegitu perhatiannyakah?" kutanya sambil menunjukan wajah mayun


"Ya..akan tetap aku perhatikan. tapi mungkin aku tidak sempat mengantarkan sarapan atau makan siang buat mereka, jadi tidak perlu cemburu lagi ya nona"


"Uh..tidak ada yang cemburu kok mas"


"Yah..padahal aku pikir tadi kamu akan cemburu, atau mungkin aku harus memberi ekstra perhatian juga kepada Nita dan Grace"


"Tau ahhh...saya mau makan dulu" ujarku sambil tersenyum beranjak kearah dapur


"Mas kok cuma beli satu porsi, Mas gak ikutan sarapan?"


"Aku sudah sarapan tadi dirumah"


"Saya buatkan kopi atau teh mau?" tanyaku pada Stefan


"Boleh kalau itu tidak merepotkanmu"


"Tidak sebentar saya buatkan dulu" lalu aku berjalan menuju dapur dan menyeduh kopi sidikalang oleh oleh dari Dikta minggu lalu untuk Stefan.


" Ini kopinya mas"

__ADS_1


" Terimakasih nona, hemnn harum sekali kopi buatan mu Fris"


"Iya itu kopi asli dari sidikalang, dibawain sama temanku yang baru pulang dari medan"


"Oh..pantas aromanya nikmat"


"Eh Mas, gak kerumah sakit hari, nanti telat loh"


"Gak hari ini aku off, aku ada pasien yang harus aku jaga"


"Wahh kalau begitu Mas harus segera bergegas nanti pasien nya nungguin kasian" ujarku


Sambil menoyor kepalaku pelan Stefan berkata " Pasien nya itu ya kamu, hari ini aku off makanya aku datang kesini untuk merawatmu biar segera sembuh dan besok bisa masuk lagi, karena bangsal anak akan sepi kalau tidak ada kamu" kata Stefan lembut.


Aku terdiam tersipu mendengar ucapan Stefan, sesaat hening terasa hingga Stefan mulai menyesap kopi nya dan aku memulai sarapan,aku bingung harus memulai percakapan kami dari mana.


"Kenapa tiba tiba diam, apakah ada yang salah dengan ucapanku tadi" tanya Stefan


"Ah..tidak Mas, aku sedang sarapan enak nasi nya, beli dimana?" ujarku sambil mengalihkan pandangannya.


"Beli di dapur Mbok Sum"


"Dimana itu, aku baru dengar, kapan kapan ajak aku kesitu ya, kayaknya bakalan ketagihan ini"


"Ah Mas bisa aja, kirain tadi beli rupanya bawa dari dapur to, berarti kalau besok pengen boleh ya minta dimasakin Mbok Sum"


"Ya boleh lah...tinggal pesan nanti Mbok Sum pasti mau masakin, oiya..kamu kenapa milih tinggal di apartemen, orang tua kamu dimana?"


" Orang tua saya ditinggal di Medan Mas, tadinya saya disini sama abang saya di Bogor, tapi karena jauh saya putuskan tinggal diapartemen aja biar lebih nyaman dan gak makan waktu bolak balik Jakarta Bogor" jelasku.


"Oh.. begitu" sahut Stefan sambil kembali menyesap kopinya dan menatapku dengan lembut.


Tak terasa sudah sore hari, seharian Stefan menemaniku diapartemen, akhirnya dia pamit pulang.


"Sudah sore Fris, aku pulang dulu ya, kamu langsung istirahat ya, besok sudah bisa masukkan?"


"Sudah Mas, sudah sembuh berkat dijagain Dokter seharian, penyakitnya takut kembali lagi ha..ha.."


Sekali lagi dia menoyor lembut kepalaku


" Bisa aja kamu, sudah aku pulang dulu kamu istirahat, kunci pintu yah" ujarnya sambil berlalu menutup pintu apartemenku menuju parkiran.

__ADS_1


 


☆☆☆


 


Stefan berjalan menuju mobil nya diparkiran dan mengarahkan pulang kerumah,setelah seharian menemani Friska dia hendak pulang dan beristirahat, sesampainya dirumah dia mendapati Ibu nya ada dirumahnya.


"Ibu...datang kok gak kasih kabar, sudah lama bu?"sapa Stefan sambil mencium tangan Ibunya


"Dari sore tadi, tadi habis dari salon, pas lewat sini ya Ibu pikir singgah saja, kata Mbok Sum kamu hari ini off, kamu sehat kan nak?" tanya Ibu


"Sehat bu, ya hari ini aku off tadi habis dari tempat teman"


"Sini duduk dulu, Ibu mau ngobrol" pinta Ibu


"Ada apa bu?" ujarku dengan perasaan gak enak, pasti Ibu mau membahas tentang Lisa.


"Hemn..Ibu mau nanya Lisa apa kabarnya nak?" tanya Ibu hati hati


Nah benarkan, pertanyaannya gak jauh jauh dari lisa.


"Baik bu, dia sedang di Italy melanjutkan karirnya"


"Bagaimana dengan hubungan kalian nak?"


"Maksudnya Ibu???" aku balik bertanya.


"Gak ada maksud apa apa nak, cuma mengingat kami sudah tua, sudah waktunya menimang cucu, kalau kalian terpisah jauh seperti ini bagaimana rencana pernikahan kalian?" kata Ibu


" Stefan juga bingung bu, Stefan sudah berusaha untuk menahan Lisa agar tidak pergi, Stefan sudah mengajak Lisa untuk segera menikah,namun Lisa bilang Dia minta waktu dua tahun untuk merintis karir nya di Italy, setelah itu Dia akan kembali baru kami melangsungkan pernikahan kami bu" jawabku jujur kepada Ibu.


"Dua tahun.. lama sekali nak, apa tidak bisa ku bujuk dia untuk segera pulang?"


"Stefan sudah berusaha bu, namun dia bilang dia ingin berkarir dulu di Italy"


" Kalau dalam dua tahun ini karirnya maju di Italy apakah kamu yakin dia akan kembali keil Indonesia, atau malah Dia akan minta waktu lagi. Nak Ibu dan Bapak sudah tua, sudah waktunya kami menikmati waktu di hari tua kami, salah satunya yah menimang cucu, kakakmu Ditta juga walau sudah menikah tapi masih belum mau punya anak, alasan nya masih nyaman dengan kerjaan masing masing,moso iya Bapak Ibu tidak boleh bahagia dengan cucu ibu nantinya"


" Nggih bu, siapa bilang Ibu Bapak tidak boleh bahagia, nanti saya bicara ke mba Ditta agar segera mau mengikuti program, dirumah sakit tempat saya bekerja banyak Dokter Obgyn yang handal"


"Hush..ini yang Ibu bicarakan tentang kamu, bukan tentang mbakmu saja. kamu nikah saja belum nak" ujar Ibu lagi " mumpung Bapak dan Ibu masih sehat, masih bisa berdiri tegap mendampingi kamu nanti Fan, segeralah ajak Lisa untuk menikah" pesan Ibu

__ADS_1


" Baik bu. nanti Stefan bicarakan lagi ke Lisa ya bu" jawabku.


" Ya sudah Ibu mau pulang dulu, sebentar lagi Bapakmu pulang kantor, Ibu tidak bilang tadi mau singgah kerumah mu, baik baik ya nak, Ibu pulang" pamit Ibu seraya beranjak menuju pintu keluar.


__ADS_2