Perjalanan Cinta Dokter Frisca

Perjalanan Cinta Dokter Frisca
BAB 19


__ADS_3

Dokter Stefan yang baru selesai rapat daru ruangan Dokter Febrian berjalan menuju ruangannya mendengar ada yang memanggilnya


"Fan...!"


Aku menoleh mencari sumber suara siapa yang memanggil, lalu aku lihat Lila sedang berjalan menujuku sambil terus memanggilku


"Dari mana" tanya nya begitu mendekat


"Oh itu tadi rapat sama Dokter Febrian, ada beberapa hal yang harus dibahas,Loe dari mana buru buru amat?"


"Baru siap konsul kasus ke bagian jantung, Loe udah makan Fan? Kantin yuk gue laper, bentar lagi juga jam makan siang kan" ajaknya


"Hemnn..ayolah gue juga lapar habis diceramahi sama Dokter Febrian tadi" kelekar ku sambil tertawa


Kami berjalan bersama kekantin rumah sakit sambil membahas beberapa kasus pasien yang sedang hangat, setiba dikantin kami memesan makan dan minum sambil menunggu pesanan kami Lila kembali bertanya


"Eh dengar dengar Dokter Anton loe skorsing ya?"


"Iya, permintaan Dokter Febrian sih, tadinya aku hanya mau menasehati nya aja, tapi Dokter Febrian mengintruksikan biar diskor, alasannya biar jadi pembelajaran buat Anton"


"Lagian Dokter Anton ini, kurang cantik apa lagi sih istrinya itu, masih aja mencari rumput tetangga padahal tampang nya pas pasan begitu" omel Lila


Aku tertawa mendengarnya " Dengar dengar itu karena dia ingin balas dendam ketika jaman kuliah tidak ada wanita yang mau dikencaninya, makanya begitu lulus menjadi dokter dia segera melamar istrinya yang bisa dibilang termasuk yang tercantik dikotanya, tapi tetap aja dia masih belum puas" jelasku sambil tertawa, kulihat wajah Lila sedikit gusar karena tidak habis pikir kelakuan Dokter Anton yang memang sudah menjadi rahasia umum bagi poli anak.


"Sudahlah ngapain juga kita bahas Anton, biarkan aja, mudah mudahan setelah si skorsing dia akan berubah, eh katanya loe ngambil kesempatan kuliah yang ditawarkan Prof Hadinata ya?"


"Iya Fan gue coba ambil lumayan kan kalau gue dapet beasiswa itu, bisa sekalian jalan jalan di london tapi gue sih gak begitu berharap saingan gue banyak bo, loe kenapa gak coba ikutan?"


Kami terdiam sejenak karena makanan yang kami pesan sudah datang "Kan gue udah jelaskan untuk saat ini gue cuma pengen fokus ke rumah sakit dan praktek gue" lanjutku ketika pelayan yang mengantar makanan kami sudah pergi


"Gimana komunikasi loe sama Lisa Fan?" tanya Lila sambil mulai memakan makananya


"Fine, semua baik baik aja kok La, kayaknya gue mau bicara baik baik dulu sama Lisa, hubungan kami sepertinya sudah tidak bisa dilanjut La" jelasku pada Lila, kuperhatikan Lila terkejut mendengar penjelasanku

__ADS_1


"Loe serius Fan? Loe udah gak sayang lagi sama Lisa?"


"Bukan gue gak sayang La, tapi gue udah lelah berjuang sendiri mempertahankan hubungan ini La, Lisa terlalu sibuk dengan dunia nya, waktunya habis dengan kegiatan nya, terkadang dia berada didekat gue atau gak sama aja rasanya, komunikasi kami hanya sepintas lalu"


"Sorry Fan kalau pertanyaan gue menyinggung, apa loe udah ada wanita lain?" tanya Lila hati hati


"Jujur gue bilang ya La gue memang lagi dekat dengan Frisca, tapi bukan itu yang buat gue pengen mengakhiri hubungan gue dengan Lisa"


"Sudah sejauh mana hubungan Loe sama Frisca atau hanya masih sekedar pdkt aja?"


"Gue udah jadian sama Frisca La"


"Fan..loe sadar gak sih dengan apa yang loe lakukan?! Loe udah pacaran sama Frisca sedangkan status loe masih pacar Lisa Stefan" Lila terdengar marah sebisa mungkin ditahannya emosinya agar tidak menarik perhatian orang orang


"Bagi gue hubungan gue sama Lisa udah selesai La, tinggal gue ngomong baik baik sama Lisa"


"Wah parah loe Fan, segampang itu loe buat semua, loe mikir gak sih perasaan Lisa seperti apa, dan perasaan Frisca seperti apa nantinya kalau dia tau loe masih punya hubungan dengan wanita lain, Fan Fan loe sekarang berubah ya"


"Pelan pelan akan gue selesaikan La, gue gak bisa memutuskan hubungan hanya via telepon gue perlu bicara langsung dengan Lisa La, kalau gue mutuskan melalui ponsel sama aja gue gak menghargai dia La"


"Thanks La loe emang sahabat yang paling ngerti gue dari dulu, tapi please jangan bilang dulu ke Lisa, gue pengen gue langsung ngomong sendiri ke Lisa"


"Ya..okehlah gue akan jaga rahasia ini untuk sementara waktu,tapi loe janji loe harus segera menyelesaikan masalah ini Fan, banyak perasaan yang masuk dalam hubungan ini, perasaan Lisa,perasaan Frisca dan juga perasaan kedua orang tua kalian yang berharap kalian menikah Fan"


"Iya La segera mungkin gue bereskan masalah ini biar gak berlarut larut La..sekali lagi thanks ya La".


 


☆☆☆


 


Sore hari Frisca sedang bersiapsiap menungu jemputan Stefan, sekali lagi Frisca mengecek perlengkapan yang dibawanya tak lama ponselnya berbunyi dan ada pesan masuk dari Stefan meminta nya turu ke parkiran karena dia sudah diparkiran, langsunh saja Frisca menuju parkiran menemui Stefan. Tiba diparkiran Frisca melihat Stefan berdiri disamping mobilnya sepertinya dia belum pulang untuk ganti baju pikir Frisca, dilihatnya Stefan melambaikan tangannya, segera Frisca menuju tempat Stefan dan mereka sama sama masuk ke dalam mobil lalu meluncur.

__ADS_1


"Kamu belum sempat pulang ke rumah mas?"


" Belum, tadi dari rumah sakit langsung ke tempatmu, supaýa kita bisa berangkat lebih cepat biar jangan kena macet, aku sudah menelpon penjaga villa papa mereka sudah mempersiapkan keperluan keperluan kita kok, sudah aku minta menyiapkan makanan dan stock bahan masakan untuk besok, aku ingin kamu yang masak" ujar Stefan


"Wow..matang sekali rencanamu mas, baiklah tuan Dokter besok aku akan memasakan masakan spesial untukmu, btw dalam rangka apa kita ke Villa mas, apa ingin merayakan sesuatu?"


"Ah..tidak kok, aku hanya ingin menghabiskan waktu bersamamu, sekarang kita sudah jarang ketemu, kalau dulu tiap hari kita ketemu dirumah sakit kan?" ujarnya sambil tertawa, lalu Stefan meraih tanganku dan digenggam dengan hangat


"Lihat kedepan mas, aku tidak mau kita kecelakaan loh" gurauku sebenarnya menutupi rasa malu ku dan bahagiaku wajahku pasti sudah seperti kepiting rebus memerah


"Tenang saja nona aku tidak akan membiarkanmu sampai terluka" katanya lagi sambil mengelus rambutku lembut.


Akhirnya setelah beberapa jam dalam perjalanan yang mulai padat kami tiba di villa orangtuanya Stefan, Villa minimalis namun terkesan mewah dan bersih.


"Ayo masuk " ujar Stefan sambil menggandeng tanganku ketika Stefan sudah memarkirkan mobilnya tepat didepan Villanya


"Mang Sukri, Mbok Darmi..." panggil Stefan pada dua pembantu yang merawat Villa mereka, tak lama munculah sepasang lakilaki dan perempuan yang sudah lumayan berumur.


"Eh den Stefan sudah datang, apa kabar den?"


kami bersalaman dan Stefan memperkenalkanku kepada mereka


"Baik Mang Mbok, mamang sama simbok sehatkan? Oiya kenalkan ini Dokter Frisca calon mantu mama papa"


Mang Sukri dan Mbok Darmi saling tatap sambil melihatku, segera mbok Darmi menyalamiku "Eh iya Dok cantik benar dah pacar Den Stefan sekarang" ujar mbok Darmi sedang mang jaja hanya menyalamiku sambil tersenyum,


"Jangan panggil Dok mbok, panggil Frisca saja" ujarku


"Eh iya baik Non Frisca, eh itu Den semua pesanan den sudah mbok siapkan, kamar juga sudah mbok rapikan, mbok sama mang jaja permisi pulang ya den, kalau ada perlu tinggal panggil aja ya den" pamit simbok


"Iya mbok terimakasih ya mbok mang" ujar Stefan


"Emang mereka tinggal dimana mas?" tanyaku

__ADS_1


"Dipaviliun belakang Fris, bersama cucu nya, sedangkan anak anak simbok tinggal di Jawa semua, mereka sudah lama ikut papa dan mama, mulai dari aku kecil mereka sudah merawat Villa ini, Ayo aku antar kamu kekamarmu" Ajak Stefan menggandeng tanganku menuju kelantai dua.


__ADS_2