
Sesampainya di sebuah apartemen. Jasmine pun menyamakan langkah Jordan yang sangat cepat. Meski Jasmine kesulitan membawa gaunnya yang cukup berat itu, tapi Jasmine masih bisa menemukan setiap langkah Jordan yang akhirnya mengantarkan Jasmine ke sebuah apartemen yang nampaknya tak lagi asing bagi Jasmine.
Maklum, Jasmine sudah mengenal lama Jordan. Jadi, sekali atau dua kali. Jasmine pasti pernah ke apartemen ini. Apalagi waktu itu Endra pernah menitipkan Jasmine dengan Jordan ketika Endra harus pergi ke luar kota urusan pekerjaannya. Disinilah Jasmine semakin tahu kalau Jordan ini memang pria yang sangat perfect. Dia tidak suka benda berantakan atau tempat tinggal yang kotor.
Jordan sungguh pria yang menjujung tinggi akan nilai-nilai kebersihan sehingga Jasmine selalu membersihkan rumahnya setiap kali dia tahu Jordan akan datang. Begitu pun ketika dia tahu Jordan sungguh akan menjadi suaminya. Jasmine sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menjadi istri yang terbaik.
“Ingat baik-baik!” kata Jordan di depan sebuah pintu kamar yang Jasmine tahu kalau itu kamar Jordan.
“Ini kamarku dan itu kamarmu,” tunjuk Jordan ke belakang tubuh Jasmine. Ternyata kamar mereka berhadapan.
“Jangan pernah melakukan di luar batas dan mana 5 poin milikmu?” tanya Jordan, tapi beberapa detik kemudian ketika Jasmine akan menjawabnya. Jordan malah terkekeh.
“Hahaha, aku lupa. Sebenarnya tanpa meminta 5 poinmu itu. Aku pasti tidak akan melakukan hal yang di luar batas. Jadi, nampaknya aku memang tidak perlu memintanya,” kata Jordan lalu berbalik badan menekan engsel pintu kamarnya, tapi Jasmine menarik tangan Jordan sehingga Jordan kembali menghadapnya.
“Aku memang tak membuatnya, karena bagiku, kau bebas melakukan apa yang kamu mau padaku. Kau mau menyakitiku, kau mau mengusirku, bahkan kau mau membuatku hamil. Aku tidak masalah, tapi di dalam poinmu, tidak ada kalimat yang melarangku untuk menjadi istri yang baik. Karena itu, poinku hanya satu. Aku hanya akan menjadi istri yang baik di rumah ini,” Jasmine nampak sangat yakin dengan ucapannya.
Wanita dengan riasan yang masih melekat di wajahnya itu membuat Jordan merasakan hal yang tidak biasa. Jordan seperti kaku mendengarnya, tapi ketika mendengar poin satu-satunya milik Jasmine. Dia malah gelagapan sendiri tidak tahu ingin menjawab apa. “Terserah kau!” kata Jordan lalu kembali menekan engselnya dan membanting pintu kamarnya.
Namun dengan hitungan menit Jordan kembali membukanya. Dia tidak tahu jika Jasmine masih berada di depan kamarnya. Pria itu memberikan kertas perjanjian pranikah miliknya yang sudah dia tanda tangani pada Jasmine.
“Aku sudah menandatanganinya, jadi kau tidak boleh melanggarnya. Jika kau melanggarnya maka kau kan mendapatkan hukumannya.”
__ADS_1
“H-hukuman?”
Kini di otak Jasmine mulai memikirkan hukuman jenis apa yang akan suaminya berikan padanya. Jasmine memperhatikan kertas di tangannya. Dia menelan ludahnya sendiri perlahan dan menatap perih setiap poin milik suaminya. Lima poin lawan satu poin yang sangat berarti untuk kelangsungan rumah tangganya. Sepertinya Jasmine mulai ragu pada dirinya sendiri. Apakah dia mampu membuat suaminya jatuh cinta padanya? Apakah dia mampu menjadi istri yang baik?
“Satu lagi, jangan pernah mengotori apartemen ini kecuali kamarmu. Kau bebas melakukan apa saja yang kau mau di kamar, karena aku tidak akan pernah ke sana,” ucap Jordan lalu kembali menutup pintu kamarnya dengan suara keras yang membuat Jasmine menggelengkan kepalanya sekaligus menghela nafasnya bersamaan.
Miris sekali. Menikah, tapi tak memiliki malam pertama. Diucapkan selamat malam saja tidak. Apalagi disentuh untuk bermalam.
[…]
Pagi buta sekali Jasmine mendapatkan telepon dari Endra. Dia kira ada apa, tapi ternyata Endra hanya ingin memastikan keadaannya. Mau tak mau Jasmine pun terkekeh. Lalu dia berjalan ke arah kamar mandi masih dengan Endra yang berbicara di handphone-nya. Jasmine menggunakan load speaker-nya agar dia tetap bisa mendengarnya dan membiarkan Endra tertawa diseberang sana.
“Apa adiknya kakak ingin sebuah sentuhan?” ledek Endra membuat Jasmine mencemberutkan bibirnya di depan kaca kamar mandi dan menaruh sebuah pasta gigi di sikat giginya.
Ini adalah hari pertamanya menjadi seorang istri. Kiranya, pukul 05:30 ini. Jasmine sudah siap akan memasak untuk suaminya yang mungkin masih tidur, karena Jasmine tidak sama sekali mendengar apapun diluar kamarnya.
“Yasudah. Kau minta saja padanya.”
“Kakak!” bentak Jasmine dengan mulut yang penuh busa dan suara ledakan tawa dari sana pun membuat Jasmine mencemberutkan bibirnya lagi di depan cermin meski dia tahu Endr tidak akan melihatnya.
“Atau goda dia. Ah iya, benar. Goda saja dia!” Mendengar itu Jasmine langsung mengembangkan senyumnya.
__ADS_1
Wahh punya kakak cowok memang menguntungkan sekali. Jasmine pun terkekeh tanpa suara. Dia akan mencoba senjata ampuh ini. Lihat saja!
“Bagaimana?” tanya Endra di seberang sana.
“Akan aku coba, Kak. Kita lihat saja nant,” ungkap Jasmine seraya menyuci sikat giginya dan membersihkan isi mulutnya.
“Baiklah. Kalau begitu salam untuknya. Kakak akan ke Laura sekarang.”
“Sepagi ini?”
“Tentu saja. Memangnya kenapa? Rumahnya, rumahku juga. Aku yang membelikannya.”
“Baiklah. Salam juga untuk Kak Laura.”
“Oke, bye.” Tutup seberang sana dan Jasmine pun menarik handuk kecil untuk membasuh wajah dan sekitar bibirnya yang basah. Lalu dengan asal, dia mengikat rambutnya hingga menjadi satu buntelan besar di atas kepala.
Begitu Jasmine ingin keluar dari kamar mandi. Dia lupa kalau dia tidak punya baju apapun di sini. Apa dia harus meminjam baju milik suaminya? Jasmine pun mulai menimbang-nimbangnya. Kalau saja suaminya tak mau meminjamkannya yasudah lihat saja apa yang akan terjadi.
Jasmine pun tersenyum seraya memakai kembali kimono yang semalam dia pakai untuk tidur, tapi dia kembali membukanya dan menggantikan handuk yang menutupi bagian dada hingga sebatas lututnya.
“Perfect,” ucap Jasmine di depan cermin lalu keluar kamar dari kamar mandi dengan nafas panjang. Dia yakin, dia bisa melakukannya. Lihat saja!
__ADS_1
[….]