Perjanjian Pranikah

Perjanjian Pranikah
15. Mendadak Hangat


__ADS_3

Sepanjang jalan lagi-lagi perkataan Roy sungguh mempengaruhinya. Kali ini Jordan benar-benar susah payah memencet password pintu apartemennya karena dia mulai memikirkan apa yang Roy katakan tadi di kantor. Pergulatan batin Jordan sangat kuat karena dia berusaha untuk memilih melakukan apa yang Roy katakan atau tidak sama sekali melakukannya. Ah! Yasudahlah coba dulu saja! Kalau memang perasannya tidak berubah, mau bagaimana lagi! Setidaknya dia sudah berusaha dan memberikan istrinya sinyal kalau dia sudah mulai untuk lebih terbuka dengan perasaannya.


“Mas,” suara itu!


Oh tidak! Jordan membalikkan tubuhnya dan menemukan wajah istrinya yang nampak membawa sesuatu di tangannya. Buah-buahan, sayuran serta cemilan lainnya memenuhi kantung plastic belanjaan Jasmine. Roy benar, Jasmine sudah mencoba sebagai istri yang baik. Bukankah dia begitu jahat pada istrinya ini?


“Mas kok sudah pulang?” tanya Jasmine heran sehinga Jordan sendiri mengernyitkan alisnya dan menarik kemejanya untuk melihat jam. Pukul 17.00. Jordan hampir saja memukul keningnya sendiri. Dia merasa bodoh karena ketahuan terlalu terburu-buru memutuskan untuk pulang. Ini masih benar-benar sore, benar tidak seperti Jordan yang biasanya, tapi dia langsung melirik ke arah Jasmine yang masih memperhatikannya.


“Mas kenapa?” Jasmine bertanya lagiseolah ikut merasakan perubahan aneh dari suaminya. Jasmine merasa Jordan di hadapannya ini bukan Jordan suaminya yang selalu angkuh ketika berhadapan dengannya.


Jasmine menurunkan belanjaannya langsung memeriksa suhu tubuh Jordan. Menyentuh kening pria itu dan juga menyentuh lehernya yang sama sekali tidak merasakan ada hal aneh pada suaminya. “Mas enggak sakit,” ucapnya seolah sedang bicara pada dirinya sendiri.


Sampai-sampai dia tidak sadar kalau Jordan merasa perhatian Jasmine terlalu berlebihan, tapi entah kenapa dia menyukainya. Dia menyukai perhatian ini.


“Aku…,” Jordan tahu dari tatapan Jasmine. Dia masih menunggu jawaban dari pertanyaan mengapa Jordan pulang pukul 5 sore. Sungguh tak biasanya dan Jordan pun entah kenapa bisa pulang secepat ini.


“Mas merasa sakit di mana?” tanya Jasmine seraya meletakkan tangannya ke atas kening Jordan lagi sehingga mata Jordan mengikuti arah ke mana tangan istrinya singgah. Benar-benar berelebihan hingga rasanya Jordan ingin tertawa, tapi ini bukan saatnya.


“Em…,” Jasmine sedang berpikir sejenak. Dia bingung apa suaminya sakit atau tidak.  “Sepertinya…,” baru saja Jasmine mau mengatakan sesuatu dipikirannya. Jordan malah menarik tubuh Jasmine hingga jarak mereka sungguh dekat.


Jordan mencium kening Jasmine membuat seluruh saraf otak Jasmine berhenti sejenak. Dia tidak bisa berpikir apapun saat ini karena perlakuan Jordan yang mendadak. Bagi Jasmine perlakuan Jordan ini sangatlah tiba-tiba, tapi Jasmine tak bisa mengatakan apa-apa, karena jelas saja dia bahagia.

__ADS_1


Jordan melepaskan ciuman di kening Jasmine. Pria itu nampak kaku sekali setelahnya, tapi Jasmine masih bisa melihat betapa salah tingkahnya Jordan.


“A-apakah se-selama a-aku be-bekerja…, kau merindukanku?” tanya Jordan sama seperti yang Roy perintahkan padanya. Jordan benar-benar melakukan itu, tapi pria itu nampak gugup sekali.


Sementara Jasmine tak menyangka dengan pertanyaan Jordan barusan. Apakah dia tidak salah dengar? Suaminya bertanya seperti itu seakan-akan mereka tak bertemu sangat lama.


“A…, aku.”


Kini Jasminelah yang gugup. Dia tidak tahu harus menjawab apa karena Jasmine juga baru pertama kalinya menghadapi kecanggungan ini.


“Kau tak perlu menjawabnya. Aku hanya ingin bertanya,” kata Jordan sungguh diluar perkiraan Jasmine. Bahkan pria itu sudah siap memencet password apartemennya guna masuk ke dalam.


“Aku merindukanmu di setiap waktu yang aku punya, Mas,” jawab Jasmine membuat Jordan yang tengah membuka pintu apartemennya langsung terhenti dan menolehkan kepalanya ke arah Jasmine.


Mendengar pengakuan itu entah kenapa hati Jordan mterasa ada yang salah. Entah rasa bahagia atau mungkin perasaan lain yang Jordan rasakan. Bahkan dia tak tahu harus menjawab apa setelah Jasmine menjawab pertanyaannya. Padahal Jordan pun tidak tahu jawaban seperti apakah yang dia inginkan.


“Aku sudah menjawabnya, Mas,” ucap Jasmine dengan cengiran di bibirnya hingga suasana serius di antara mereka pun mencair.


Jordan menghela nafasnya dan ikut tersenyum. Dia tidak tahu harus bilang apa, tapi saat ini Jordan ingin makan malam buatan istrinya itu.


“Aku lapar. Bisakah kau memasakkan sesuatu?” tanya Jordan. Jasmine menganggukkan kepalanya semangat. Di dalam hati Jasmine, ini adalah kesempatannya untuk dinner ber dua dengan suaminya di apartemen. Beruntung dia baru saja berbelanja sehingga dia bisa mengandalkan bahan-bahan yang baru saja dia beli.

__ADS_1


“Aku akan membuatkannya untukmu,” jawab Jasmine seraya mengangkat kembali barang bawaan yang tadi tak sengaja dia jatuhkan. Jordan pun ikut membantu Jasmine hingga dua senyuman dari bibir mereka mengembang satu sama lain.


“Terima kasih, Mas,” ucap Jasmine.


[…]


Jasmine dan Jordan baru saja menyelesaikan makan malamnya. Jordan awalnya ingin masuk ke dalam kamarnya, tapi mengingat kata-kata Jasmine tadi. Jordan pun mengurunkan niatnya dan menunggu Jasmine yang sedang mencuci piring. Jordan memperhatikan punggung Jasmine yang tengah bersenandung. Dia tersenyum mengingat pertemuan mereka memang dikatakan cukup lama, tapi pria itu tak pernah melihat Jasmine sebahagia hari ini.


Apakah mungkin yang Roy katakan itu benar. Membahagiakan wanita itu sangatlah mudah. Cukup dengan memperlakukannya dengan manis dan bertanya apakah dia merindukan suaminya yang bekerja. Sang istri pasti merasa pertanyaan itu perlu dijawab.


“Mas kok masih di sini?” tanya Jasmine begitu wanita itu membalikkan tubuhnya. Jordan pun baru sadar jika istrinya sudah selesai mencuci piring.


“Oh itu… aku…,” Jordan melirik salah tingkah ke arah Jasmine. “Apakah kau ingin menonton film?” tanya Jordan.


Dada Jasmine bergemuruh. Dia tidak tahu harus berkata apa, tapi dia semakin bahagia ketika Jordan bertanya itu padanya. Jasmine menganggukkan kepalanya sebagai jawaban bahwa dia mau menonton film.


“Baiklah tunggu di sofa. Aku akan mengambil semua VCD di kamar,” ucap Jordan meninggalkan kursi yang tadi dia duduki dan sedikit berlari kecil menuju kamarnya.


Jasmine terkekeh melihat kepergian Jordan. Dia bersyukur akhirnya hari ini datang juga. Jordan sudah mulai mau membuka hatinya, itu berarti Jasmine boleh masuk perlahan ke dalam kehidupan Jordan. Iya kan?


[...]

__ADS_1


Ajieee jangan mesem-mesem diri yahh wkwkw, jangan lupa like dan komennya^^


__ADS_2