Perjanjian Pranikah

Perjanjian Pranikah
7. Menikah


__ADS_3

Mike menatap Jasmine yang tengah membersihkan piring dengan tatapan kosong. Begitu Mike menatap ke arah lain. Dia malah melihat salah satu karyawannya yang sedang membawa sesuatu di nampan dengan limbung. Mike pun segera berlari untuk menarik Jasmine karena Jasmine tak menyadari aka nada bahaya yang menimpanya.


Mangkuk kaca pun pecah berhamburan di atas lantai. Mike melihat mie panas yang ternyata hampir saja mengenai Jasmine kalau Mike tak menolongnya.


“Mike,” Jasmine menutup mulutnya, tapi Mike langsung bertolak pinggang.


“Bagaimana ini! Kamu lagi! Kamu lagi! Kalau seperti ini sih, kamu buat saya rugi!” ucap Mike dan wajahnya sangat marah Mike pada Gebi. Sementara Jasmine masih tak luput dari rasa kagetnya dan segera membantu Gebi, tapi tangannya malah terkena pecahan beling tersebut.


“Aww!” Jasmine memegang jarinya yang mengeluarkan darah membuat Mike dan Gebi panik, tapi kepanikan Gebi tak seberapa dengan kepanikan yang Mike berikan. Bahkan Mike langsung merebut tangan itu dan membawa Jasmine pergi bersamanya.


“Kau tidak apa-apa?!” tanya Mike segera menarik Jasmine ke arah wastafel. Mike memberikan kenyamanan pada Jasmine tapi tidak untuk Gebi.


Gebi yang melihat Mike sangat perhatian dengan Jasmine pun hanya mampu menghela nafasnya. Apakah dia berhak cemburu? Mereka tidak ada hubungan apa-apa. Jadi untuk apa Gebi cemburu? Gebi langsung merapikan pecahan beling itu. Sementara Jasmine yang sudah lebih dulu ditarik oleh Mike sempat menolehkan kepalanya ketika Gebi menghela nafasnya. Jasmine tahu kalau Mike memang sudah keterlaluan pada Gebi dan Jasmine hanya mampu memperhatikan gerak-gerik Gebi yang nampak sedih.


Aneh, Jasmine rasa Gebi memiliki rasa lebih pada Mike dan Mike memiliki amarah yang berlebihan jika menyangkut dengan Gebi. Jasmine tidak pernah melihat Mike semarah ini. Bukan! Lebih tepatnya Jasmine tidak pernah melihat Mike memarahi seseorang lebih dari apa yang dia lakukan pada Gebi.


Kini Jasmine malah emmiliki firasat kalau Gebi sengaja melakukan sesuatu untuk menarik perhatian Mike. Apakah di antara mereka ada sesuatu yang disembunyikan? Kenapa Jasmine baru menyadarinya?


“Mike, aku tidak apa-apa. Lebih baik kamu bantu Gebi,” ucap Jasmine menarik tangannya dari Mike.


Mike pun memperhatikan Gebi yang sibuk menyapu. Dia mengabaikannya dan menarik Jasmine menuju ruangannya.


“Biarkan saja! Itu sudah tugasnya! Aku tidak peduli!” kata Mike.


Pria dengan mata sipit itu nampak sibuk mencari obat merah untuk Jasmine. Begitu dia menemukannya, tanpa membuang waktu segera menarik jari Jasmine yang terluka. Dia tenggelam dengan luka Jasmine dan Jasmine tenggelam dengan wajah Mike.


Seandainya…


Ya seandainya saja yang melakukan hal ini Jordan. Jasmine pasti akan senang sekali! Namun hal itu akan mustahil! Pria itu baru saja memberikan perjanjian pranikah sialan itu! Bahkan Jasmine tidak pernah berpikir akan memberikan poin apa untuk pria itu karena jelas sekali Jasmine hanya ingin dicintai dan diterima sebagai seseorang yang mencintai Jordan dengan sepenuh hatinya.


“Kau melamun?” tanya Mike tiba-tiba begitu sadar Jasmine hanya diam saja menatap wajahnya yang sibuk dengan luka Jasmine.

__ADS_1


“Oh tidak! Maaf, aku akan kembali membantu Gebi. Dia pasti terkejut karena kau marahi! Seharusnya kau tidak melakukan itu, Mike!” ucap Jasmine dan Mike nampak sangat bersalah.


Jasmine benar. Dia sudah keterlaluan pada Gebi.


“Aku akan meminta maaf padanya pulang nanti. Terima kasih sudah mengingatkanku,” ucap Mike langsung menarik Jasmine ke dalam pelukannya.


Lagi-lagi Jasmine merasa kesal karena yang memeluknya bukan Jordan! Kenapa pria itu tidak bisa sedikitpun membuka hatinya untuk Jasmine! Kenapa?!


“Eouh, Mike, aku akan mencari Gebi, terima kasih sudah mengobati lukaku,” ucap Jasmine lalu keluar dari ruangan Mike.


Mike pun menjatuhkan dirinya di atas sofa. Dia memejamkan matanya sejenak dan sebuah memori yang sudah dia simpan rapat-rapat akhirnya kembali bermunculan.


Sementara Jasmine mulai memikirkan kalau perasaan seseorang memang tidak bisa dipaksakan, tapi dia sudah terlanjur berada di lubang yang sama dengan Jordan. Meskipun mereka bisa keluar, tapi Jasmine ingin mencobanya. Untuk saat ini, menyerah bukanlah keputusan yang tepat. Siapa tahu kalau besok Jordan bisa saja mencintainya. Seperti ketika dia mencinta Laura dengan setulus hatinya.


“Aku tidak boleh menyerah!” Jasmine menguatkan dirinya sendiri.


“Menyerah apa?” tanya seseorang tiba-tiba membuat Jasmine terkejut yang ternyata Gebi.


“Tidak apa-apa. Ini bukan pertama kalinya dia memperlakukan seperti itu. Aku memang pantas mendapatkannya,” kata Gebi membuat Jasmine merasakan sesak di dadanya.


Gebi, wanita ini seperti dirinya.


[…]


Pesta  pernikahan yang meriah, semua orang di kantor Jordan merasa patah hati karena CEO muda mereka akhirnya melepas status lajangnya. Wanita seperti Jasmine memang tidak bisa dikatakan sempurna, tapi siapa yang tidak iri dengan posisi Jasmine sekarang.


Mereka memberikan ucapan selamat serta do’a pada pengantin pria serta wanita yang tiada henti mengembangkan senyumannya sepanjang acara. Mike beserta karyawannya datang meski Jasmine bisa lihat raut wajah Mike yang tidak suka, tapi tentu pria itu mendo’akan hal baik pada Jasmine. Dia nampak membisiki sesuatu pada Jordan, tapi Jasmine tidak ingin terlalu memikirkannya. Dia justru kembali fokus pada tamu lainnya termasuk Gebi yang sangat cantic dengan gaun pendeknya.


Usai acara selesai, dentingan gelas kaca dan juga alat makan di atas meja menjadi saksi bahwa keluarga besar Jordan sangat menyukai Jasmine. Sejak tadi, Jordan berusaha untuk lebih dekat dengan Jasmine karena Greta menekankan untuk tak pernah meninggalkan Jasmine barang sedetik pun. Itu yang membuat Jordan tertekan karena entah kenapa Jordan merasa mulai tidak begitu suka di samping Jasmine yang akrab dengan keluarganya.


Jordan pun mengangkat bokongnya dari kursi hampir meninggalkan Jasmine, tapi Jasmine menahannya. “Kakak mau kemana?” tanya Jasmine.

__ADS_1


Jordan menatap tangan Jasmine yang menahan lengannya dengan tidak suka. Seakan memberi kode agar Jasmine tak menyentuhnya, akhirnya Jasmine perlahan melepas tangannya dari sana.


“Sepertinya Jordan sudah tidak tahan,” ledek Tante Atika membuat semua keluarga di satu meja itu tertawa pelan.


“Iya ya kayanya kita sudah cukup lama di sini. Apa pengantinnya dibiarkan istirahat saja ya,” suara lain menyusul dari keluarga Jasmine. Tante Anna yang membuat usulan itu sehingga yang lainnya setuju.


Jasmine pun melirik ke arah semua orang yang berada di meja besar itu. Lalu melihat Greta yang tersenyum padanya seraya mengangguk dan tak lama sebuah tangan mengulur ke arahnya.


“Ayo, Sayang. Semuanya sudah mengizinkan kita pergi,” ucap Jordan sungguh terdengar manis sekali, tapi itu membuat Jasmine semakin merasa sedih. Karena pada kenyataannya. Dia tidak benar-benar hidup untuk membahagiakan pria yang sudah sah menjadi suaminya ini.


Namun Jasmine tetap bangkit dari duduknya menerima uluran tangan itu dan Jordan segera meraih pinggangnya.


“Tante, Om, semuanya, Mama, Papa, kita pulang duluan ya,” pamit Jordan cukup singkat seraya melambaikan tangannya. Begitu pun yang Jasmine lakukan.


Sekali saja Jasmine melirik ke arah kakak laki-lakinya. Endra tersenyum bahagia meski ada rasa sesak di dada Jasmine. Bahkan Jasmine meneteskan air matanya begitu dia berbalik usai pamit dengan semua keluarganya.


“Ma, Pa, do’akan Jasmine agar bisa bahagia dengan pernikahan ini. Do’akan Jasmine agar bisa melalui rumah tangga ini dan do’akan Jasmine agar pria yang sudah sah menjadi suami Jasmine ini bisa mencintai Jasmine pul,” batin Jasmine entah harus menelan pil pahit atau sebaliknya setelah ini.


Namun baru saja Jasmine berdo’a. Jordan sudah melempar tubuh Jasmine masuk ke dalam mobil. “Pakai sabuk pengamannya!” perintah Jordan membuat Jasmine kaget sekaligus mengusap sisa air matanya yang tak memiliki suara bahwa dia sedang menangis.


“Kita akan kemana?” tanya Jasmine seraya menarik gaunnya masuk ke dalam mobil dengan sedikit rasa takut.


Jordan pun menutup pintu mobil di bagian Jasmine lalu berlari ke arah pintu kemudi.


“Kau pikir mau kemana. Tentu saja pulang. Kau senang kalau Mama dan Papa menarik pekerjaan dan semua yang kumiliki karena tahu istriku tidak tinggal bersamaku.”


Jasmine pun terdiam. Dia pikir mereka tidak akan satu rumah, tapi ternyata, Jordan sudah menyiapkan tempat untuk mereka tinggal. Meski sesuai dengan poin ke dua. Mereka tidak akan sekamar. Setidaknya Jasmine tenang karena suaminya masih bisa dia lihat setiap hari.


Diam-diam setelah Jasmine menangis. Dia pun tersenyum.


[…]

__ADS_1


__ADS_2