
Setelah Jasmine menemani ibu mertuanya menonton TV dan memastikannya masuk ke dalam kamar tamu. Akhirnya Jasmine mengumpulkan keberaniannya untuk masuk ke dalam kamar suaminya. Ini adalah pertama kalinya Jasmine bisa masuk ke dalam kamar Jordan karena biasanya mereka tidur di kamar Jasmine.
“Mas,” panggil Jasmine pelan-pelan seraya membuka pintu kamar suaminya.
Dia lihat Jordan sudah tidur membelakangi pintu kamar. Jasmine pun menghela napasnya pelan sambil menutup pintu kamar. Sejenak Jasmine terdiam bersandar di pintu kamar suaminya dengan menatap punggung belakang Jordan. Apakah dia harus bertanya kenapa sikap Jordan hari ini berubah? Bukankah kemarin mereka baik-baik saja?”
Namun Jasmine tidak mau memikirkannya lebih dalam lagi. Semakin lama dia memikirkannya. Air matanya pasti akan menetes lebih banyak dari sebelumnya. Jasmine berjalan ke arah ranjang; bergabung masuk ke dalam selimut suaminya. Aroma khas Jordan yang selalu menjadi candunya membuatnya tersenyum senang karena akhirnya bisa masuk ke dalam kawasan pribadi manusia menyebalkan ini.
Jasmine meraih sebuah foto di atas nakas. Ada Jordan mengangkat medali emasnya ketika masih sekolah. Jasmine terkekeh karena tidak menyangka Jordan pernah pakai behel. “Lucu! Ternyata mas pernah pakai behel ya!” kekehnya bicara sendiri lalu mengelus pelan foto yang dia pegang. “Tapi dari dulu kamu ganteng ya, Mas,” ucap Jasmine tanpa dia ketahui bahwa Jordan belum tidur.
Jordan pun mengangkat senyumannya ketika mendengar itu. Tidak menyangka kalau istrinya akan memujinya seperti itu. Jelas Jordan jadi merasa bangga pada dirinya sendiri.
“Mas seandainya, Kak Laura kembali lagi. Apa yang akan terjadi denganku? Apakah Mas tetap akan memaksakan keadaan untuk kembali dengan Kak Laura? Aku pernah berpikir tentang itu sepanjang hari dan tidak bisa tidur, Mas!”
Jasmine masih terus mengelus foto suaminya yang tersenyum lebar itu dengan behel bewarna putih yang dia pakai. Dia ingat pembicaraannya tadi dengan Greta, Greta bertanya apa yang terjadi dengannya belakangan ini. Jasmine tidak bisa menceritakan, Greta pun bilang tidak akan memaksanya jika memang belum mau. Akhirnya Jasmine memilih untuk menyimpannya sendiri. Menurutnya, sekarang bukan waktunya untuk bercerita pada orang lain. Dia ingin menyimpannya sendiri sementara ini.
Jasmine pun memeluk foto itu; membawanya tidur bersama. Meski Jordan tepat berada di belakangnya, tapi malam ini dia tidak bisa memeluk suaminya seperti kemarin malam. Tentu, rasanya tidak buruk karena tetap bisa memeluknya meski hanya lewat foto. Jasmine tetap merasakan betapa hangatnya pelukan suaminya kemarin.
“Semoga kita baik-baik saja, Mas. Aku pengen kita bisa menerima satu sama lain. Aku mencintaimu,” bisiknya sangat pelan, tapi Jordan bisa mendengarnya dengan jelas.
[…]
Jordan memikirkan apa yang Jasmine katakana kemarin. Bagaimana jika Laura datang? Bagaimana jika wanita itu sudah bahagia? Apakah perasaan Jordan tetap ingin memilikinya? Apakah perasaan Jordan sudah hilang? Hal itu membuatnya berpikir lama karena jujur saja, setelah menikah dengan Jasmine. Ada banyak hal yang Jordan pikirkan. Entah itu pekerjaan atau kehidupan rumah tangganya.
__ADS_1
Dulu, ketika Laura pergi dari hidupnya, kehidupannya memang terasa berbeda. Langit yang tadinya cerah terasa seperti hujan lebat dibarengi petir tiada henti. Namun akhir-akhir ini Jordan sama sekali tidak memikirkan Laura. Dia malah memikirkan bagaimana kabar Jasmine dan hal lainnya seperti apa yang sedang dia lakukan sekarang. Apakah perasaannya kini sudah berubah? Apakah Jasmine berhasil membuatnya merasa lebih dicintai?
Tok, tok, tok!
“Masuk!” teriak Jordan seraya membenarkan duduknya. Lamunannya pun hancur seketika begitu Bella masuk dengan berkas-berkas di tangannya.
“Banyak sekali?” tanya Jordan.
“Yah seperti yang Bapak sendiri lihat. Bahwa client kita hari ini meningkat. Pertemuan pertama kemarin cukup sukses menarik perhatian mereka,” kata Bella segera menaruh berkas yang dia bawa ke atas meja Jordan.
“Syukurlah! Aku akan memeriksanya segera,” ucap Jordan membuka salah satu berkas paling atas yang Bella bawa.
Namun Bella terkekeh karena melihat bos sekaligus sepupunya ini sangat acak-acakan. Bella bahkan bisa memenbak kalau dia sedang punya masalah internal. Apalagi mengingat kejadian kemarin ketika Jordan memarahi Roy kekasihnya. Bella bisa tahu kalau laki-laki ini lagi sangat temperamental.
Bella sedikit menyandarkan bokongnya di pinggiran meja dan mecoba melepas dasi sepupunya dengan pelan. “Aku akan perbaiki karena kau benar-benar terlihat menjijikkan!” ledek Bella membuat Jordan terkekeh mendengarnya.
“Sekalian juga rapikan rambutku. Kepalaku hari ini benar-benar pusing karena banyak hal yang aku pikirkan. Pagi-pagi tadi aku langsung berangkat ke kantor dan tidak sempat mengeringkan atau merapikan rambutku.”
Di sisi lain, Roy dan Jasmine tidak sengaja ketemu di depan lift.
“Hai Jasmine, aku terkejut melihatmu di sini,” ledek Roy membuat Jasmine kesal mendengarnya.
Sebenarnya dia tidak terlalu suka Roy. Pria ini terkadang bercanda sangat keterlaluan atau bahkan melemparkan lelucon dengan sangat tidak lucu. Kadang Jasmine menghindarinya, tapi Roy justru semakin suka menggoda Jasmine karena seperti anak kecil.
__ADS_1
“Aku mau antar makan siang. Jangan ganggu aku!” sergah Jasmine membuat Roy tertawa.
Roy pun tetap mengikuti Jasmine dari belakang dan begitu mereka masuk ke dalam ruangan. Jasmine terkejut melihat suaminya sedang bermesraan tertawa dengan seorang perempuan cantik yang tengah memakaikan dasi suaminya.
Jasmine jelas kalang kabut. Dia pun menaruh bekal di atas meja yang ada di dalam ruangan kerja suaminya. Lalu berjalan menuju Jordan dan menarik punggung Bella dengan sangat kencang.
PRAK!
“Jadi sekarang ada wanita lain yang ngegoda kamu, Mas? Aku jelas-jelas nungguin kamu semalam. Masak dengan susah payah dan ternyata perempuan ini alasannya?!”
“Ehhh, ehhh kamu salah paham, Jas!” kata Roy mencoba menengahi, tapi Jasmine menarik rambut Bella keras. Dia masih ingat betul ketika awal mereka menikah suaminya tidak pulang cukup lama dan dia melihat Jordan jalan dengan wanita lain yang ternyata hari ini dia ada di ruangan suaminya.
“Mas Jordan itu suamiku! Kau mengerti!” teriak Jasmine segera melepas jambakannya dan mendorong kasar Bella hingga membentur tubuh Roy, beruntung Roy sangat sigap.
Roy jelas panik, langsung memeriksa keadaan suaminya. Sementara Jordan menarik tangan Jasmine untuk tidak melakukannya lagi pada Bella.
“Jasmine! Kamu apa-apaan sih?! Datang-datang nuduh orang yang enggak-enggak! Sekarang minta maaf! Lihat pipi Bella sangat merah!”
“Minta maaf? Aku lihat suamiku sendiri dengan wanita lain, Mas! Hati wanita mana yang tidak sakit!” teriak Jasmine lalu menangis membuat Jordan ikut turut merasa bersalah karena lagi-lagi dia membuat istrinya menangis, tapi kali ini rasanya dia baru melihat istrinya seperti ini.
[...]
Mendadak Jasmine garang wkwkwk. Jangan lupa like dan komennya geys!!
__ADS_1