
Beberapa bulan kemudian…
Jordan merapikan semua keperluan Jasmine karena istrinya masih tetap harus di rumah sakit dua hari setelah melahirkan anak pertamanya. Fajar tadi akhirnya anak perempuannya lahir. Orang tua Jordan sangat bahagia menyambut cucu pertama mereka sehingga beberapa hari yang lalu sudah siap menunggu Jasmine di rumah dan ketika wanita itu mulai merasakan sakit perut yang luar biasa. Siapa pun siaga membawa Jasmine ke rumah sakit. Untung semua berjalan lancar.
Hanya saja… Jordan masih tidak tega ketika melihat istrinya menangis saat melahirkan. Usaha seorang wanita memang sangat luar biasa, Jordan tidak akan pernah lupakan bagaimana air mata itu mengalir dan menggenggam tangannya erat. Dia sungguh berterima kasih pada Jasmine karena sudah berusaha yang terbaik untuk kebahagiaan mereka selama ini. Apalagi sekarang sudah ada Jelita yang semakin mewarnai hari mereka. Jordan benar-benar tidak bisa mengungkapkan rasa bahagianya menjadi seorang suami sekaligus ayah.
Setelah membawa semua perlengkapan Jasmine, membersihkan diri dan juga mengabari semua orang tentang rasa syukurnya karena anaknya telah lahir pagi tadi di grup keluarga. Akhirnya Jordan pun kembali ke rumah sakit. Di sana dia sudah menemukan Bella serta Roy yang memakai baju kerja sangat rapi karena hari ini adalah rabu. Terpaksa, Jordan memang tidak bisa masuk kerja. Mau bagaimana lagi karena ini adalah hari spesialnya.
“Selamat, Bro! Duhh wajahnya dari lahir udah mirip banget sama bapaknya,” ucap Roy ingin mengelus pipi bayi yang baru saja tertidur setelah tadi rewel, tapi langsung Bella tarik tangannya.
“Jangan dipegang! Takut kenapa-napa!” kata Bella dan Jasmine hanya bisa tersenyum.
Jujur saja, dia juga memang khawatir jika bayinya dipegang. Bahkan dia sendiri masih sangat harus berhati-hati. Meski dokter bilang Jelita sehat, tapi tetap saja namanya bayi baru lahir beberapa jam yang lalu. Tubuhnya belum sekuat manusia pada umumnya.
“Makasih ya! Kerjaan gue percayain ke elu berdua. Jangan lupa laporannya yang detail ya! Cuma tiga hari kok,” ucap Jordan dan Bella mengangguk.
“Tapi nanti gantinya buat honeymoon kita ya seminggu,” ceplos Roy membuat Bella mencubit perut calon suaminya meski sebenarnya itu yang ingin dia katakan.
“Ih kan tadi kamu yang bilang di jalan,” kata Roy dengan sangat polos.
Bella pun komat-kamit tidak keruan membuat Jordan menggelengkan kepalanya. “Iya, iya, tapi enggak seminggu juga kali! 4 hari udah lebih dari cukup,” kata Jordan membuat sepasang kekasih itu mencemberutkan bibirnya.
“Kalau nanti kalian pergi, siapa yang handle kerjaan?”
“Yakan ada Hani, Raya, Dirga, Doni, mereka juga siap kok naik gaji,” ucap Roy semakin membuat Jordan ingin memukulnya.
“Udah! 4 hari aja cukup,” kata Jordan final, tapi meski begitu Bella rasa itu tidak buruk. Mereka tetap bisa pergi ke Bali sesuai dengan apa yang direncanakan.
“Mama sama Papa mana?” tanya Jordan seraya menaruh tas berisikan keperluan Jasmine dan dirinya di atas sofa ruangan. Lalu menghampiri Jasmine seraya mendaratkan ciumannya di kening.
__ADS_1
“Mama sama Papa aku suruh pulang aja sebentar karena ada Bella sama Roy yang nungguin selama kamu jalan ke sini. Kasihan udah nungguin dari malam biar istirahat dulu,” kata Jasmine dan Jordan mengangguk pelan.
“Nanti juga Laura sama Endra mau ke sini. Kamu mau tidur dulu enggak apa-apa, Sayang. Kamu juga capek kan,” kata Jordan dan Jasmine mengangguk karena matanya memang sudah sangat berat. Sebenarnya tadi dia sempat tidur, tapi terus bangun karena merasa tidak tenang saja selama Jordan pergi.
Lalu Jordan membiarkan Jasmine tidur seraya mereka membicarakan beberapa pekerjaan yang harus Bella konsultasikan.
[…]
Setelah Jasmine dan Jelit dinyatakan boleh pulang, nenek dan kakeknya jadi sering menjengku ke rumah. Tak jarang mereka menginap dan meminta pada Jasmine untuk bergantian menginap ke rumah. Alhasil, setiap sabtu-minggu Jasmine dan Jordan menyempatkan untuk menginap bersama. Sungguh hari-harinya semakin berwarna. Tidak tahu apa yang pernah Jasmine lakukan di masa lalu, tapi kehidupannya saat ini sudah jauh lebih dari cukup. Semua berjalan dengan lancar, tapi satu yang masih Jordan inginkan dari Jasmine.
“Bun, Jelita udah tidur,” lapor Jordan yang hanya memakai baju putih polos dan bokser kesukaannya dengan lable adidas.
“Coba Ayah ke sini, cobain dulu deh enak enggak,” kata Jasmine meminta Jordan untuk mencicipi masakannya. Lobster dan tumis kangkung kesukaan Jordan.
Pria itu pun menghampiri istrinya dan melakukan apa yang Jasmine minta. Setelah merasakan masakah istrinya dia pun mengangguk dan tersenyum. Tak lupa mengacak puncak kepalanya sebagai apresiasi sederhana di dalam sebuah hubungan.
Jordan pun memeluk Jasmine dari belakang dan menempelkan dagunya pada bahu Jasmine.
“Kamu udah tahu Laura sekarang kerja?” tanya Jordan seraya memperhatikan tangan istrinya yang menumis.
“Aku dengar dari Kak Endra sih begitu. Kenapa?”
“Hemm kalau kamu, kamu mau bekerja atau tidak?”
“Kok nanyanya begitu, emangnya kenapa?”
Jordan hanya diam tidak menjawab lagi, tapi Jasmine tahu bahwa ada sesuatu yang Jordan sembunyikan.
“Kamu jangan gitu deh, Yah. Kita kan udah punya anak. Kamu sebenarnya mau ngomong apa sih?!” tanya Jasmine gemas.
__ADS_1
Jordan pun seketika mematikan kompor dan menarik Jasmine menuju meja makan. Pria itu menggenggam tangan Jasmine dan menatapnya.
“Aku kan punya perusahaan, Sayang. Seandainya kamu bekerja dan kita menunda lama untuk punya anak lagi, itu sepertinya akan terus ganggu pikiranku. Aku ingin punya anak laki-laki,” kata Jordan membuat Jasmine terdiam.
Namun kemudian Jasmine menghela napasnya pelan. Dia sebenarnya cukup kesal mendengar apa yang Jordan katakana padanya, tapi memang itu pasti mengganggu pikiran suaminya selama Jasmine tidak mengatakan apa yang ada dipikirannya sekarang.
“Mas, aku cuma mau kasih tahu kamu dua hal. Yang pertama, aku bukan Kak Laura. Yang ke dua, kalaupun aku kerja, itu bukan hal yang membuatku tidak ingin punya anak lagi. Aku cuma minta jeda waktu setelah melahirkan Jelita, itu saja Mas.”
Jordan pun menghela napasnya. Jasmine menemukan rasa bersalah seorang Jordan dari matanya. Pria itu langsung berdiri dan memeluk Jasmine erat.
“Sepertinya aku hanya khawatir. Karena aku enggak pernah punya kakak dan tidak tahu cerita di dalam rumah tangga seperti apa. Jadi apapun yang Endra ceritakan padaku terkadang membuatku ikut kepikiran karena dia minta solusi padaku.”
Jasmine membalas pelukan suaminya dan mengelus pelan punggung belakangnya dengan sepenuh hati. “Tapi Mas, aku kan memang bukan Kak Laura. Kak Laura itu bekerja di kantor. Kalau aku, mana pernah kerja di kantor. Aku ingin punya kafe sendiri, Mas. Itu keinginanku dari dulu.”
Jordan pun terkekeh. Dia sebenarnya sudah punya kejutan untuk istrinya mengenai itu, tapi bodohnya kenapa tidak terpikirkan. Benar juga, Jasmine kan akan punya kafe sendiri. Untuk apa dia berpikir jauh, bodoh!
“Oh ya, dan satu hal lagi yang perlu kamu tahu. Pemimpin itu tidak harus laki-laki, Mas. Jelita atau siapapun itu, meski kami perempuan. Kami juga bisa memimpin perusahaan.”
Jordan mengangguk setuju. “Aku juga enggak memaksa Tuhan atau pun kamu untuk bisa mempunyai anak laki-laki. Cuma jika memang di kasih kesempatan ke dua kita diberikan laki-laki kenapa tidak? Kalau pun memang perempuan lagi, aku tidak masalah, Sayang. Rumah kita hanya terlalu sepi untuk Jelita. Jelita butuh teman juga kan untuk main,” kata Jordan membuat Jasmine tertawa seraya menepuk bokong suaminya.
“Alah! Alasan aja kamu biar bisa dikasih setiap malam!” kata Jasmine seraya berjalan menuju dapur lagi menuntuskan masakannya.
Jordan pun tersenyum melihat punggung istrinya yang menjauh. Tidak salah dia mempunya istri seperti Jasmine. Menggemaskan, cerdas dan juga sanga cantik tentunya.
“Awas ya nanti malam aku hukum!” teriak Jordan ketika Jasmine semaki menjauh, tapi wanita itu hanya menjulurkan lidahnya.
Tinggal Epilog dan Extra part ya! Btw terima kasih karena sudah mengikuti karyaku^^ Terima kasih juga yang sudah komentar dan juga like^^ Jangan lupa baca karyaku yang lainnya^^
__ADS_1