Perjanjian Pranikah

Perjanjian Pranikah
13. Hal Manis


__ADS_3

Jasmine menyiapkan makanan untuk Jordan. Memang dia sedikit tak yakin Jordan mau sarapan atau tidak. Apalagi mengingat tadi pagi Jordan nampak seperti kembali ke sikapnya yang kemarin. Namun Jasmine tetap pada keteguhannya yang akan menjadi istri yang baik untuk Jordan.


Jasmine merapikan piring di atas meja makan dan juga menaruh beberapa hidangan di atas meja makan. Termasuk telur mata sapi setengah matang makanan favorit suaminya sejak kecil. Jasmine sungguh berusaha melakukan yang terbaik pagi ini. Karena dia rasa Jordan mulai mau berintraksi padanya.


Jasmine mendengar suara pintu kamar Jordan dibuka. Cepat-cepat dia langsung menghampiri di mana Jordan berada membuat pria itu sedikit kaget dengan kehadiran Jasmine. Jasmine pun melihat suaminya sedang membawa tas kerjanya seraya merapikan dasi yang tengah dia pakai dengan susah payah. Tentu saja Jasmine langsung membantu Jordan untuk memakai dasinya.


“Mas sarapan dulu ya. Aku sudah menyiapkannya,” ucap Jasmine yang tingginya hanya sebatas dada Jordan. Jordan pun merasa sedikit kiku dengan kedekatan mereka karena Jasmine tengah merapikan dasinya, tapi Jordan berusaha untuk menormalkan suasana yang biasa dia tunjukkan pada Jasmine.


“Aku masih kenyang.” Tukas Jordan membuang tatapannya dari Jasmine. Dia tak mau menatap mata istrinya karena jarak mereka sangat dekat.


“Yah sayang banget, Mas. Aku masak telur mata sapi setengah matang loh!” kata Jasmine menaik turunkan alisnya membuat Jordan meneguk ludahnya sendiri.


Dia mana bisa melewatkan makanan satu itu. Jelas sekali kalau itu adalah favoritnya. Sepanjang umurnya, dia tidak bisa meningglkan telur mata sapi setengah matang hanya untuk pizza yang harganya lebih mahal dari satu telur ayam.


“Tetap gak mau nih? Atau mau aku jadikan bekal saja?” tanya Jasmine membuat Jordan membelalakkan matanya, kaget. Apakah Jasmine tahu kalau kemarin dia membawa semua makanan itu untuk jadi bekal?


“Karena kau memaksa. Aku bisa apa,” kata Jordan membuang tatapannya ke segala arah.


Jasmine pun terkekeh. Dia merasa geli dengan kelakuan suaminya. Padahal dia kan tidak memaksa. Dia hanya menyayangkan makanannya karena telur yang dia masak sungguh dia siapkan untuk Jordan.


“Baiklah. Mas tunggu ya. Aku akan menyiapakannya,” ucap Jasmine seraya meninggalkan Jordan ke arah dapur.


Jordan pun memperhatikan punggung Jasmine yang menghilang. Dia menghela nafasnya lalu tersenyum. “Apa aku sangat suka makan siang dengan bekal yang dia buat?” tanyanya pada dirinya sendiri. Lagi-lagi Jordan tersenyum dan menggelengkan kepalanya. “Aku rasa, aku udah gila,” katanya pada diri sendiri lalu berjalan menuju sofa menunggu bekal yang sedang Jasmine siapkan untuknya.

__ADS_1


[…]


Roy membawa tumpukan dokumen yang baru saja dia kerjakan pada bosnya. Baru saja dia mau melaporkan pekerjaannya pada sahabatnya. Jordan malah nampak sibuk mengeluarkan sesuatu dari tas kecil yang dia tahu kalau itu adalah bekal makan siangnya.


“Sudah jam makan siang. Silakan makan siang di luar,” ucap Jordan sungguh seperti mengusir Roy sehingga Roy bertolak pinggang di depan meja kebesaran bosnya itu.


“Kau mengusirku hanya karena bekalmu tak ingin kau bagi?” tanya Roy tak terima kalau kenyataannya Jordan memang tak mau berbagi padanya. Jelas sekali jawabannya dari cengiran Jordan yang seolah menjawab ‘iya kau benar’.


Roy pun menghela nafasnya seraya memperhatikan Jordan yang meninggalkan meja kerjanya dan duduk di sofa dengan santai. Pria itu membuka beberapa tupperware yang berisikan sosis goreng, telur mata sapi setengah matang dan juga tumis labu yang nampak menggiurkan.


“Hahahah bos-ku hanya makan itu?” ledek Roy, tapi mampu menghadirkan tatapan tak suka dari Jordan.


“Ini saja sudah sangat menggiurkan. Maaf, lidahku memang tak semewah kau,” ucap Jordan pada Roy yang memang dulu pernah menjadi orang berada. Namun akhirnya Roy harus menerima kenyataan pahit kalau keluarganya sungguh bangkrut hingga tak tersisa.


“Kau pelit!” sergah Roy, tapi Jordan tak peduli dan malah melanjutkan niatnya yang akan makan. Memang dia belum sarapan pagi. Jadi wajar saja kalau dia ingin cepat-cepat makan.


“Sudah sana!” kata Jordan dengan kunyahan di dalam mulutnya. Pertama kalinya nasi dan juga lumeran telur setengah matang masuk ke dalam mulutnya. Uh rasanya sungguh nikmat.


“Ah kapan aku nikah! Istrimu mau-maunya sih masak untuk pria yang bahkan berani-beraninya memberikan poin larangan sebelum menikah. Lagipula, kau sungguh tak tahu diri. Dia sudah melakukan yang terbaik untukmu, tapi kau malah memanfaatkan kebaikannya.”


“Heii apa katamu! Enak saja! Semalam aku menjaganya karena dia demam, tahu! Ini tanda terima kasihnya padaku.”


“Lalu kemarin kau juga membawa bekal. Apa dia sakit setiap hari? Mana ada orang sakit bisa masak,” cibir Roy sungguh ingin Jordan sumpel mulutnya dengan kaus kaki yang sedang dia pakai sekarang.

__ADS_1


“Itu kan kemauannya. Aku tidak meminta,” kata Jordan lalu kembali menyantap makanannya.


“Meskipun kau tidak meminta. Aku yakin dia berharap kau mau menjadi suami pada umumnya.” Mendengar itu Jordan langsung melirik ke arah Roy.


“Suami pada umumnya memangnya bagaimana? Kau kan belum menikah. Jangan sok tahu!” sergah Jordan sungguh semakin kesal mendengar kata-kata Roy. Namun Roy tak jua keluar dari ruangan Jordan. Dia malah mendekati Jordan yang sedang makan.


Roy mengambil salah satu sosis goreng milik Jordan membuat Jordan melotot. “Aku memang belum menikah, tapi orangtuaku pernah bercerita tentang bagaimana membahagiakan istri dengan cara sederhana.”


“Memangnya bagaimana?”


“Ah itu sih mudah. Bahkan Bella menyukai hal-hal kecil yang aku berikan. Ketika kau pulang cobalah untuk segera mencari istrimu dan cium keningnya. Kau tanya apakah selama kau bekerja, dia merindukanmu. Jika dia sedang memasak makan malam. Coba kau peluk dia dari belakang dan ciumlah tengkuknya.”


Mendengar itu Jordan langsung terbatuk-batuk dan mengambil air minum. Dia meneguknya hingga habis lalu menetralkan rasa aneh di tenggorokannya. Ini semua gara-gara mendengar kata-kata Roy tadi. Bukankah itu terlalu intim? Mereka kan tidak mungkin melakukan hal itu! Tidak mungkin! Jika iya, bagaimana dengan perjanjian pranikah mereka? Sungguh akan sangat memalukan untuk Jordan karena dia yang terus-terusana melanggar poin itu.


“Jadi?” Jordan mencoba menelan sesuatu yang seperti menyangkut di tenggerokannya. “Aku harus melakukan itu?” tanya Jordan pada Roy.


“Ya tentu saja, tapi apa kau bisa melakukannya? Kau saja sangat cuek padanya, bahkan dengan sialannya kau masih memikirkan mantanmu yang tak kunjung muncul ketika kau sudah memiliki istri,” cibir Roy lagi yang dapat pukulan di kepalanya dari Jordan.


“Sudah! Pergi kau dari ruanganku!” usir Jordan sungguh kesal dengan Roy.


 


 

__ADS_1


__ADS_2