Perjanjian Pranikah

Perjanjian Pranikah
21. Salah Paham


__ADS_3

Jordan ingin sekali menggapai tangan istrinya, tapi Jasmine menepisnya. Wanita itu menangis dan mengusapnya dengan kasar. Jordan benar-benar merasa seperti sangat dicintai. Meski dengan rasa bersalah, dalam hati Jordan malah merasa bahagia bisa melihat istrinya seperti ini; cemburu buta dengan


“Aku sudah menahannya , Mas! Aku sudah cukup bersabar untuk nunggu kamu nerima aku, tapi apa yang kamu lakukan?! Kamu malah bermesra-mesraan dengan wanita lain.”


“Jas, sepertinya kamu salah paham deh! Bella ini pacarku, dia sepupu jauh Jordan yang baru kembali dari luar negeri. Kamu pernah bertemu dengan dia, tapi itu udah lama sekali.”


Tangisan Jasmine tiba-tiba terhenti. Jordan bisa melihat eskpresi Jasmine yang terkejut. Benr-benar lucu karena tangisannya mendadak berhenti dan kebingungan.


“Kamu benar-benar deh, Jas. Aku tahu kamu enggak suka sama aku, tapi enggak pakai nampar dan narik rambut pacarku juga kali!” kata Roy mengelus pelan kepala Bella yang kini memanja pada kekasihnya.


“Pipiku sakit, Roy,” keluh Bella pura-pura mencemberutkan bibirnya di dalam pelukan kekasihnya.


Bella sebenarnya kesal dengan Jasmine tapi apa boleh buat karena wanita itu nampaknya salah paham dan sangat pencemburu. Bella malah berharap setelah kejadian ini Jordan bisa memahami hati istrinya, bahwa Jasmine benar-benar mencintainya. Sementara Jasmine rasanya gagu tidak tahu harus bicara apa. Akhirnya Jordan menepuk punggung istrinya pelan. “Enggak apa-apa, kamu minta maaf sekarang,” ucapnya lembut membuat Jasmine langsung mengulurkan tangannya.


“A-aku minta maaf. Aku kira…”


Bella langsung merapikan rambutnya dan menerima uluran tangan Jasmine. “Tidak apa-apa. Aku juga jika di posisimu pasti sudah melakukan apa yang kau lakukan tadi. Ya seandainya waktu itu, kami tidak ada di lift. Aku pasti sudah merobek mulutnya atau mencolok matanya supaya tidak mengganggu kekasihku lagi,” kata Bella dan Jasmine bersyukur karena Bella bukan orang yang buruk. Sementara Roy hanya terkekeh mendengar kata-kata kekasihnya karena mengingatkan kejadian tempo hari.


“Aku benar-benar minta maaf,” kata Jasmine mengusap air matanya membuat Roy tertawa.


“Setidaknya itu lebih baik daripada diam-diam. Diam-diam marah, diam-diam sensi, diam-diam gak mau diajak ngomong, diam-diam ternyata cemburu. Kayak di sebelah sana tuh!” ledek Roy menunjuk Jordan dengan bibirnya. Sementara Jordan langsung melototkan matanya.

__ADS_1


“Aku? Memangnya aku kenapa?” tanya Jordan tidak mengerti apa yang Roy katakan.


“Kemarin kau melihat Jasmine dengan pria lain di kafe kan? Makanya kamu memarahiku terus setelah makan siang!”


“Apa kau bilang?!” Jordan ingin memukul Roy, tapi pria itu segera kabur dengan Bella.


Namun Bella kembalik menyembulkan kepalanya dari pintu. “Aku tunggu traktirannya dalam seminggu. Anggap saja bayaran karena kau sudah menamparku,” kata Bella mengedipkan matanya ke arah Jasmine lalu kembali hilang di balik pintu ruang kerja Jordan


[…]


Kantor terasa hening setelah Jordan dan Jasmine makan tanpa suara apapun. Bahkan sepanjang makan bersama, mereka hanya mampu sesekali melirik satu sama lain. Tentunya dengan dengusan dalam hati bahwa tidak ada satu pun yang bisa memecahkan keheningan ini.


“Em, Mas jadi… kemarin ke tempatku bekerja?” tanya Jasmine akhirnya tidak mau menyembunyikan rasa penasarannya lagi.


Jordan tidak bisa berbohong kalau masakan istrinya sangat enak. Jasmine benar-benar menjadi istri yang baik. Bahkan dia tidak mengira kalau istrinya akan datang ke sini membawakan makanan siang untuknya. Ah, atau mungkin ini ulah Greta yang menyuruh menantunya datang ke kantor.


“Hari ini kau tidak bekerja di sana?” tanya Jordan gantian. Sebenarnya dia penasaran apakah istrinya masih bekerja di sana. Mengingat Jasmine bisa mengantarkan makan siang ke kantornya, bukankah harusnya jam makan siang adalah waktu paling ramai di kafe? “Aku hanya bertanya, jangan pikirkan hal lain,” lanjut Jordan membuat Jasmine terkekeh mendengarnya. Memang dia memikirkan hal lain apa?


“Aku tetap akan bekerja di sana Mas. Mas juga sepertinya salah paham tentang aku dan Mike. Kami memang lama berteman dan dia pernah menyatakan perasaannya padaku, tapi dia hanya bingung dengan perasaannya Mas. Ada wanita yang selalu dia cintai dan sekarang mereka sudah bersama,” Jasmine menjelaskan dan Jordan hanya terdiam sejenak.


Dia meneguk airnya hingga habis lalu berdiri dari duduknya dan berpindah ke bangku kebesarannya. “Aku tidak bertanya,” kata Jordan sibuk dengan berkasnya kembali.

__ADS_1


Jasmine pun hanya menahan senyumannya. Dia merapikan semua Tupperware yang dia bawa. Setelah memastikan suaminya makan dengan baik. Jasmine berjalan ke arah Jordan merapikan dasi yang tadi sempat Bella rapikan. Jelas hal itu membuat Jordan tidak fokus dengan pekerjaannya.


“Apa yang kamu lakukan?” tanya Jordan.


Jasmine mengembangkan senyumannya. “Merapikan dasi suamiku. Memang tidak boleh?” tanya Jasmine.


Jordan gemas dibuatnya, dia ingin tersenyum juga mendengar jawaban istrinya, tapi dia masih harus menahannya karena masih cukup kesal dengan kejadian kemarin di kafe. Bagi Jordan masih tetap tidak adil karena Bella hanya sepupu baginya, tapi Mike jelas orang lain dan bahkan bisa memegang tangan Jasmine dengan mesra.


“Aku bisa sendiri!” Jordan mencoba menariknya tapi malah tak sengaja menarik Jasmine hingga bibir mereka menyatu.


Mata mereka membesar dan menatap satu sama lain. Sungguh ini pertama kalinya untuk mereka, tak menyangka kalau ciuman pertama ini akan terjadi juga pada akhirnya. Tak menunggu lama, Jasmine langsung menghindar. Dia kebingungan awalnya, tapi berpamitan pada Jordan dengan sangat cepat membuat Jordan tak kuasa menahan lagi untuk tersenyum ketika Jasmine akhirnya keluar dari ruangannya.


“Dia benar-benar seperti gadis kecil!” kekeh Jordan menyentuh bibirnya sendiri.


Entah kenapa tiba-tiba Jordan jadi semangat untuk bekerja. Sepertinya Jasmine sudah memberikan nutrisi luar dan dalam untuk tubuhnya. Energinya mendadak terasa begitu penuh.


Sementara Jasmine langsun berlari menuju lift. Di dalam lift dia menyentuh bibirnya sendiri dan berkaca di pantulan dinding lift yang masih menunjukkan keterkejutannya. Apa yang mereka lakukan tadi? Kenapa dadanya berdegup sangat kencang? Apakah Jordan juga merasakan hal yang sama?


Ya Tuhan! Akhirnya itu benar-benar terjadi! Jasmine mendadak kegirangan. Dia senang karena bisa mencium bibir suaminya meski hanya sekilas. Dia yakin, setelah ini hubungan mereka pasti akan membaik. Apalagi melihat wajah Jordan yang juga sama-sama terkejut. Pria itu sama sekali tidak mengatakan apapun, seperti kata umpatan atau sesuatu yang membuat Jasmine sakit hati. Mungkinkan Jordan merasakan hal yang sama? Terkejut dan berdegup.


 

__ADS_1


Ciat! Masih permulaan wkwkwkw, masih belum naik histeria hahay! Jangan lupa like dan komemnnya^^


__ADS_2