
“Sayang lihat ini,” ucap Endra pada Laura.
Laura pun mengambil sebuah kotak yang ada di tangan Endra dengan tatapan heran. “Ini bacanya apa?” tanya wanita itu dengan polos karena bahasa asing yang tidak dia tahu artinya, tapi begitu dia membalikkan bungkus itu dia tertawa.
“Ish, ceritanya kamu lagi ngodein malam pertama ya!” kekeh Laura, wanita itu segera kembali menepuk bokong Rena yang baru saja dia baringkan di box bayinya.
Akhirnya setelah hari ini terlewati. Hati Laura merasa sangat tenang, setiap kali melihat Rena, pasti ada saja hal yang membuatnya ingin menangis. Apalagi jika Rena tahu orang tuanya yang belum benar-benar menjadi pasangan yang sah. Laura merasa hal itu beban untuknya, tapi akhirnya hari ini benar-benar datang. Mereka menikah dan mengikat janji.
“Hahaha ini Jasmine yang ngasih aku. Aku enggak nyangka Jordan beli hal seperti ini kalau keluar negeri,” kata Endra dan Laura lagi-lagi terkekeh.
“Alah itu pasti karena penasaran. Kamu juga pasti gitu kan?!”
“Enggak lah! Kamu fitnah aja sih!” dengus Endra seraya memeluk tubuh istrinya dari belakang. Melihat anak mereka yang sudah tidur dengan tenang membuat Endra tersenyum. Rena benar-benar mirip Laura. Hanya hidungnya yang mirip Endra dan dia berharap semoga dia punya anak laki-laki yang juga mirip dengannya.
“Aku bahagia karena hari ini kamu sudah jadi milikku seutuhnya. Ke depannya apapun itu, kita harus menghadapinya bersama Rena. Sekarang kita bukan hanya berdua, tapi ada anak-anak yang nantinya akan menjadi tantangan juga. Kamu, aku, kita enggak bisa lagi egois memikirkan satu hati saja. Jika ada masalah kita selesaikan bersama dan jangan hanya disimpan sendiri, mengerti?”
Laura mengangguk pelan. Dia mengerti dan berjanji tidak akan menyimpan masalahnya sendiri. Menikah bukan akhir dari segalanya, melainkan memulai hidup baru dengan hal yang tidak bisa dilakukan hanya sendiri karena sudah punya pasangan.
“Tapi aku belum siap kalau hamil lagi, Dra,” ucap Laura seraya membalikkan tubuhnya menghadap suaminya. Tangannya dia lingkarkan leher Endra dan menatap mata pria itu dengan sangat dalam. “Aku pengen bisa bantu kamu kerja juga. Aku pengen kerja lagi,” ucap Laura dan itu jujur saja membuat Endra sangat berat memutuskannya.
“Aku cuma mau kamu tahu kalau Mamaku udah enggak sekuat dulu. Jadi aku pengen gantiin Mama kerja. Mungkin nanti kita sewa babysitter atau pembantu saja untuk bantu-bantu di rumah dan Rena biar Mama yang jaga.”
“Aku pikirkan dulu yang terbaik ya, tapi enggak malam ini,” kata Endra dan Laura mengangguk setuju karena mereka sangat lelah.
Endra mengangguk mengerti. Sebenarnya dia tahu, penghasilannya sama sekali tidak membuat Laura merasa kurang. Hanya seorang wanita juga merasa dia perlu mencapai cita-citanya. Laura adalah salah satu wanita yang sangat suka bekerja. Di mana ketika dia melakukan sesuatu dan mendapatkan imbalan yang setimpal. Setidaknya wanita itu merasa senang ketika dia bisa membelikan Rena sebuah mainan dengan uangnya sendiri atau mungkin membeli make up, baju atau tas dengan uangnya sendiri. Laura wanita mandiri, seperti ibunya yang hingga saat ini masih terus bekerja. Anggap saja itu latihan jika sesuatu terjadi pada suaminya. Tidak ada yang tahu umur atau bahkan takdir seseorang. Mandiri dan mengantisipasi itu adalah hal yang Laura ingin lakukan sedini mungkin.
__ADS_1
“Malam ini kamu maunya apa?” tanya Laura malah kini bergantian memberi kode.
“Kamu kan udah ngehukum aku dua minggu. Terakhir bilangnya mau ngasih, tapi sampai sekarang enggak juga dikasih. Masa sih malam pertama juga enggak dapat, Ma,” keluh Endra pada istrinya lucu membuat Laura gemas.
"Okay one shower and after that, we'll do it!" bisik Laura membuat pria itu segera memukul bokong istrinya.
“Agree!” balasnya dalam bisikan tidak mau membuat anak mereka bangun.
Jika Rena bangun maka malam ini pun akan menjadi malam terjahat yang pernah Laura lakukan padanya.
***
Jordan menarik selimut sebatas dada Jasmine. Wanitanya tidur dengan sangat nyenyak seraya memeluk tubuhnya.
Lalu mengambil HP-nya di atas nakas. Senin pagi yang suram karena pekerjaannya sangat menumpuk. Bella mengirimkan pesan bahwa hari ini pun ada banyak meeting serta berkas yang harus segera ditandatangani. Padahal Jordan belum sempat meninjaunya dengan baik, tapi sepertinya mau tidak mau Jordan memang harus lembur hari ini.
Jordan pun pelan-pelan turun dari ranjang agar istrinya tidak bangun, tapi Jasmine malah terganggu oleh tidurnya. Wanita itu membuka matanya dan melihat Jordan tengah memakai boksernya.
“Kamu mau ke mana, Mas?” tanya Jasmine seraya memegangi selimut di bagian dadanya. Lalu mencoba bangun dari baringannya, tapi Jordan menahannya dan kembali mendorong tubuh Jasmine agar kembali tidur.
“Jangan pegang aku?!” ucap Jasmine tiba-tiba membuat Jordan mengernyitkan alisnya. Padahal tadi dia melihat Jasmine tersenyum dalam tidurnya tapi kenapa sekarang?
“Kamu mimpi buruk ya? Kali ini apa?” tanya Jordan pelan seraya duduk di pinggir ranjang. Dia mengusap rambut istrinya, tapi wajah Jasmine terlihat sangat marah. Dia membuang tatapan wajahnya dari Jordan lalu membalikkan tubuhnya.
Pernah sebelum mereka pindah ke rumah baru ini Jasmine menangis pagi-pagi karena menyaksikan Jordan selingkuh dengan Laura di dalam mimpinya. Padahal itu dalam mimpinya, tapi wanitanya menangis sampai sulit bernapas. Benar-benar seperti melukai hatinya yang paling dalam. Apalagi keadaan Jasmine saat ini sedang mengandung, jelas wanitanya semakin sensitif.
__ADS_1
“Kamu bilang anak ini bukan anakmu! Kamu kira setiap malam siapa yang memintaku melayanimu?”
Mendengar itu sungguh membuat Jordan ingin tertawa keras, tapi keadaan ini sangat serius. Jasmine benar-benar marah karena mimpi sialannya itu. Padahal Jordan sedang buru-buru ingin segera ke kantor meski masih sangat pagi.
“Kapan aku bilang seperti itu, Sayang? Itu kan anak kita. Aku enggak pernah bilang itu hanya anakmu,” ucap Jordan di belakang tubuh istrinya.
Jordan kembali naik ke atas ranjang dan menempelkan dagunya pada punggung Jasmine. “Itu kan hanya mimpi. Kenapa kamu terlalu bawa hati sih?!” kata Jordan seraya mengelus perut Jasmine yang besar. Lalu menutupi punggung Jasmine yang terbuka karena ulahnya semalam yang melucuti seluruhnya.
“Habisnya kamu-“
“Sut, sudahlah itu hanya mimpi. Memang aku sebrengsek itu? Sekarang kamu tidur lagi aja ya. Nanti siang kamu kalau mau nyusul ke kantor jangan lupa hubungi aku dulu. Hari ini ada banyak pekerjaan, Sayang,” jelas Jordan yang kini berjalan memutari ranjang.
Lalu menepuk pelan lengan istrinya dan duduk di pinggir ranjang. Jasmine pun menatap wajah suaminya sebentar lalu mengangguk pelan. “Kamu enggak mau sarapan dulu?”
“Nanti aja di kantor, aku bisa pesan online. Kamu jangan lupa sarapan dan minum susu ya,” ucap Jordan mendaratkan ciumannya pada bibir istrinya lalu kembali berdiri dan siap untuk mandi.
“Eh tapi, kamu tidurnya kok senyum sih bukannya nangis,” tanya Jordan sebelum menutup pintu kamar mandi. Dia penasaran kenapa wajah Jasmine malah terlihat senang di dalam mimpinya.
“Soalnya kamu ketabrak mobil habis bicara seperti itu,” jawab Jasmine mambuat Jordan menggerutu seraya membanting pintu kamar mandi.
Ternyata karma Jordan di dalam mimpi membuat Jasmine tersenyum senang.
[...]
Apalagi kalau ketabraknya mobil sampah. Kayanya tidur Jasmine bukan senyum doang deh, tapi ngakak wkwkw Mohon maaf retceh :(
__ADS_1