Perjanjian Pranikah

Perjanjian Pranikah
11. Bekal Makanan


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Jordan sudah siap dengan kemeja kantor dan juga tas kantornya. Dia pun segera keluar dari kamarnya. Jordan pikir, tumben sekali, istri yang suka mencari perhatiannya itu belum bangun.


Jordan pun berjalan ke arah dapur. Dia ingin menikmati teh hangat dulu sebelum dia pergi ke kantor, tapi begitu dia di dapur. Dia malah melihat sebuah cumi goreng dan juga berbagai macam makanan lainnya.


Entah kenapa dia malah merasa bersalah. Dia baru ingat kalau semalam Jasmine mengatakan kalau dirinya memasak sesuatu untuknya, tapi semalam dia sungguh kelelahan. Bahkan Jordan tak sempat mandi setelah pulang semalam. Dia langsung tidur nyenyak hingga pagi tadi.


“Bodoh,” bisik Jordan lemah, tapi dia malah menggulung kemejanya. Lalu menyiapkan penggorengan ke atas kompor listriknya—berniat untuk memanaskan kembali makanan yang Jasmine masak untuknya semalam.


Tak butuh waktu yang lama Jordan menghangatkan dan menyiapkan semua makanan yang Jasmine masak ke dalam tupperware. Bagaimana pun juga, Endra memang benar. Adiknya memang mencintainya tulus. Hanya saja, Jordanlah yang butuh waktu untuk melupakan sosok Laura di hatinya. Dia masih berharap kalau Laura bisa kembali padanya dan…, dia bercerai dengan Jasmine. Mungkinkah itu terjadi?


Jordan menghela nafasnya. Apa mungkin dia bisa mengingkari janjinya? Dia sudah ada pada keputusan untuk menepati janjinya dengan Endra dan nampaknya Jordan memang harus membuka hatinya untuk Jasmine.


Jordan menatap pintu kamar Jasmine. Bagaimana kabar wanita itu? Semalam dia sama sekali tak membantu Jasmine ketika Jasmine terkantuk dan jatuh. Apa mungkin keadaannya sungguh parah hingga pagi ini dia belum bangun?


Tiba-tiba saja Jordan panik dengan pemikiran itu. Dia pun segera berlari ke arah kamar Jasmine dan membukanya, tapi…,


Jordan masih memegang engsel pintu seraya menatap wanita yang dia khawatirkan tadi. Wanita itu nampak bingung kenapa suaminya membuka kamarnya dengan asal dan mereka menatap satu sama lain.


“K…, kau!” Jordan nampak kikuk, tapi Jasmine berusaha untuk santai begitu dia sadar kalau suaminya sedang memperhatikan dirinya yang tidak dalam berpakaian yang normal.


“Ada apa, Mas?” Tanya Jasmine dengan wajah biasanya. Toh, mereka suami-istri kan?


“Ahhh sial! Lagi-lagi dia seperti itu!” gerutu Jordan seraya menarik kembali gagang pintu yang tadi dia buka dengan cara membantingnya.

__ADS_1


Jordan berjalan ke arah kamarnya dan masuk dengan terburu-buru. Terpaksa dia harus menidurkan adiknya yang sudah terlanjur bangun. Sementara Jasmine terkikik seraya menggelengkan kepalanya. “Dia pasti sangat tergoda,” kekeh Jasmine, tapi lagi dia melenguh sakit dengan lututnya yang memar. Jika melihat luka itu, Jasmine kembali mengingat perlakuan Jordan yang semalam. Pria itu, apa benar-benar tidak peduli dengannya meski hanya sedikit?


[…]


Roy mengetuk pintu ruangan sahabatnya. Pria itu masuk bersama Bella yang membawa berkas-berkas kerjanya.


“Heii,” Roy tak menunggu Jordan mempersilakannya masuk dan Jordan sudah paham betul itu.


“Huh, kau mengagetkanku saja,” kata Jordan sungguh aneh di mata Roy karena tak biasanya Jordan seperti orang yang kaget. Sementara Bella terkekeh menggelengkan kepalanya seraya menaruh beberapa laporan di atas meja Jordan.


Saat ini sedang jam istirahat kantor sehingga Roy seperti biasanya pasti akan mengajak Jordan untuk makan siang di luar kantor. Mengingat Jordan memang hobi sekali meninggalkan makan siang demi pekerjaannya, karena itu Roy-lah yang sebagai alarm makan siang untuk sahabatnya.


“Memangnya apa yang sedang kau sembunyikan?” tanya Roy berjalan ke arah meja membuat Jordan yang sedang memegang bekal makan langsung menyembunyikannya di atas pangkuannya.


“Wahh aku curiga. Apa yang kau sembunyikan dariku,” kata Roy dengan bertolak pinggang lalu tiba-tiba Roy mengintip ke arah pangkuan Jordan yang ternyata ada sebuah kotak makan yang dia sembunyikan.


HAP! Roy mendapatkan tupperware berwarna ungu itu membuat Jordan kesal. “Ahhh ******** ini!” marah Jordan, tapi Roy malah terkekeh. Begitu juga Bella, kekasih Roy sekaligus sepupu jauhnya itu tertawa melihat kelakuan mereka.


“Jadi ini? Makan siangmu?” tanya Roy lalu berjalan ke arah sofa, bergabung duduk di samping kekasihnya yang baru saja pulang dari Amerika.


Bella mendapatkan beasiswa kuliah di Amerika selama 5 tahun. Selama itu juga hubungan dia dengan Roy berjalan. Kini, kuliahnya selesai dan Jordan meminta Bella untuk menggantikan sekretarisnya yang baru saja resign. Meskipun ya, dia harus membujuk Bella dulu supaya bisa bergabung dengannya. Satu minggu Jordan menghabiskan waktunya untuk ke Amerika dan menjemput saudara sepupunya ini. Benar-benar merepotkan semua orang! Kalau saja dia tidak berantem dengan papanya, Jordan pasti tidak perlu repot ke Amerika dan membujuknya.


“Wow,” Roy terkagum begitu mencium aroma makanan yang Jordan bawa.

__ADS_1


“Aku mau ya,” ucap Roy sungguh kurang ajar membuat Jordan amat sangat jengkel padanya. Bahkan tanpa ada perizinan dari Jordan. Dia sudah melahapnya dengan mantap. “Enak,” komentarnya dengan menyengir sungguh membuat Jordan kesal dan berjalan menghampirinya.


Jordan menarik tupperware miliknya. “Keluar sana! Kau kan bisa makan dengan Bella! Ini makananku!” sergahnya sungguh seperti anak kecil membuat Roy memicingkan matanya.


“Kau yang memasaknya atau istri cantikmu itu?” tanya Roy membuat Jordan membelalakkan matanya. Dia tidak tahu harus bilang apa, karena Roy tahu kalau dia tidak mencintai Jasmine dan memang hanya Roy yang tahu kalau Jordan sudah menikah. Sementara karyawan lainnya tidak tahu kalau Jordan sudah punya orang lain. Sehingga tak aneh masih banyak yang cari-cari perhatian dengan Jordan.


“Ahhh tidak usah dijawab. Aku tahu jawabannya,” kekeh Roy lalu mengangkat kakinya ke atas meja seraya menaruh tangannya di belakang tubuh Bella. Pria itu terang-terangan mencium kekasihnya di depan Jordan membuat Jordan jengkel.


“Enak sekali sudah punya istri. Aku juga ingin sekali segera menikah dengan Bella, tapi Bella bilang, dia belum siap!”


Bella memukul Roy kesal. “Tunggu sebentar lagi! Kau sungguh tidak sabaran!” rengut Bella dan Roy mencemberutkan bibirnya. “Tapi aku senang kau menikah lebih dulu dariku,” kekeh Bella, umur mereka hanya beda dua tahun, Bella lebih muda dari Jordan tapi gadis ini sangat cerdas dan dewasa. “Aku senang karena wanita itu nampaknya perhatian denganmu!”


“Aku tidak butuh perhatian!” sergah Jordan cepat membuat Roy segera meliriknya.


“Kau butuh! Sejak dulu, kau selalu menghindar dari perhatian keluargamu dan itulah yang membuatmu merasa perfect. Merasa kau mampu melakukan semuanya sendiri. Kau masih egois pada dirimu sendiri, Jordan. Apalagi untuk orang lain dan jangan sampai Jasmine mendapatkan keegoisanmu itu. Sebaiknya kau mulai untuk membuka hatimu padanya. Cobalah!” ucap Roy.


Jordan pun menatap makanannya. Dia masih egois pada dirinya sendiri apalagi pada orang lain. Jasmine pasti sangat terluka karena perlakuannya semalam dan juga perlakuannya yang pergi ke luar kota tanpa izin pada Jasmine.


Roy bangkit dari duduknya, menangkap tangan Bella untuk berdiri dengannya. “Jangan sampai kau menyesal karena dia meninggalkanmu kelak nanti. Penyesalan memang datang belakangan bukan?” Roy tersenyum seraya menepuk punggung Jordan.


“Aku mau makan dulu. Pikirkan itu baik-baik,” ucap Roy lalu pergi meninggalkan Jordan yang masih menatap kepergian Roy serta Bella.


Apa mungkin sudah waktunya Jordan melupakan perasaannya dengan Laura? tapi bagaimana jika Laura kembali? Perasaannya masih sangat besar untuk cinta pertamanya.

__ADS_1


__ADS_2