
“Endra bilang, hiks, nanti setelah anak kita lahir. Selang tiga bulan kita akan segera menikah.”
“Jadi tahun besok dong.” Kata Jasmine mengingat ini sudah akhir tahun dan mungkin dalam hitungan minggu keponakannya akan keluar dari perut ibunya.
Laura menganggukkan kepalanya. “Mama gak setuju kalau nikah dalam keadaan seperti ini. Apa kata orang dan Mama juga bilang kata orang dulu, tidak boleh menikahi satu anak bersamaan dalam satu tahun yang sama. Kamu kan baru saja menikah. Jadi Endra tidak boleh menikah dalam satu tahun yang sama.”
Jasmine pun mengangguk mengerti. “Maaf ya, Kak. Karena aku, Kakak jadi harus nunda,” ucap Jasmine bersalah, tapi Laura tak masalah dengan itu. Lagipula dia juga tetap harus menyelesaikan persalinannya dulu. Nanti setelah anaknya lahir. Dia pasti bisa bahagia bersama menjadi keluarga yang sangat utuh.
“Aku tidak masalah.” Kata Laura seraya menyeka air matanya yang keluar. Padahal sebelum Endra pergi. Dia berusaha untuk baik-baik saja dan tak begitu mebebankan kepergiannya yang hanya tiga hari, tapi akan terasa seperti satu bulan. “Asalkan kau bahagia,” lanjutnya membuat Jasmine terkekeh.
“Ih Kakak, udah kaya lagu aja,” ucap Jasmine dan Laura pun ikut tertawa.
Ting nong, Ting nong.
Suara Bel meredam tawa mereka. “Biar aku saja,” kata Jasmine seraya bangun dari duduknya.
[…]
Jordan baru saja turun dari mobilnya, tapi dia melihat sebuah mobil keluar dari rumah yang tadi Jasmine masuki.
“Endra mau kemana?” batinnya begitu melihat seseorang yang ada di dalam mobil itu kakak iparnya.
Jika pria itu pergi lalu Jasmine dengan siapa? Jordan semakin bersemangat ingin memberi istrinya kejutan karena pasti Jasmine hanya sendiri di dalam sana. Setidaknya, Jordan lebih merasa percaya diri ketika mereka hanya berdua. Dia bisa memberikan hal yang lebih manis ketika hanya bersama istrinya.
Jordan pun berkaca di mobilnya. Merapikan rambutnya ke belakang dan terkekeh lagi karena dia seperti pria yang akan mengajak kekasihnya untuk kencan di malam minggu. Padahal, ini malam kamis dan yang akan dia temui adalah istrinya sendiri. Tentu, ini tetap menjadi hal yang sangat special untuknya dan Jasmine. Mereka baru saja membenahi hubungan mereka berdua untuk menjadi lebih baik lagi. Niat baik, tentu akan mendapatkan hal yang baik juga.
Usai dengan rasa percaya dirinya yang tinggi. Jordan tak lupa menggunakan minyak wangi, membawa bunga yang sudah dia beli dan juga senyumannya yang lebar.
__ADS_1
“Hemm dimulai pelukan dari belakang sepertinya bagus!” lirih Jordan mengingat kegiatan mereka tadi pagi saat di dapur.
Jasmine memeluknya dari belakang dan kebahagiaan yang tidak bisa dia jelaskan itu tentu membuatnya ingin melakukannya juga. Jordan ingin Jasmine juga merasakan perasaannya yang tulus ini. Tak mau membuang waktu, Jordan segera berjalan masuk ke dalam rumah dengan bangunan berwarna putih gading itu. Lalu memencet bel tepat di dekat pintu rumah itu.
Ting nong, Ting nong.
“Tunggu sebentar,” Jordan mendengar suara Jasmine dan tak lama pintu dibuka menampakkan wajah istrinya yang langsung terkejut begitu tahu siapa yang menekan bel.
“M-Mas,” ucap Jasmine nampak sangat terkejut. Kakinya bergetar seperti tak lagi mampu menahan bebannya. Sementara Jordan menjatuhkan bunga yang dia bawa dan menangkap tubuh Jasmine ketika dia hampir tumbang.
“Kamu kenapa, Sayang?” tanya Jordan tak mengerti mengapa Jasmine seperti ini tiba-tiba.
“Sayang!” Jordan membawa Jasmine ke bangku teras rumah dan menepuk pipinya pelan. “Kamu kenapa?” tanyanya lagi.
Jasmine menggelengkan kepalanya. Matanya berkaca-kaca dan Jordan tidak paham dengan ekspresi istrinya saat ini.
“Jasmine, siapa?” Namun suara seseorang yang Jordan kenal membuat degupan di dada Jordan berdebar kencang. Bukan degupan seperti orang jatuh cinta, melainkan rasa terkejut yang juga saat ini Jasmine rasakan.
Wajah yang Jordan tak mungkin dia lupai muncul dibalik pintu membuat tangan dan juga tubuhnya menjauh dari istrinya. Jordan berjalan ke arah Laura yang tentunya disambut dengan wajah yang juga tak kalah terkejutnya.
Laura menutup bibirnya sendiri dan mundur beberapa langkah ketika Jordan menghampirinya.
“K-kau,” ucap Jordan amat sangat terkejut melihat wanita yang pernah dia cintai berada di rumah ini. Bahkan yang lebih mengejutkannya lagi. Jasmine, istrinya juga ada bersamanya dan Endra…
Jordan melihat perut Laura yang membuncit. Rahangnya mengeras dan lengannya dia kepal ingin sekali memukul pria yang dia tahu bahwa dia-lah dalang dari semua ini. Jordan segera pergi meninggalkan Laura yang masih terkejut dengan kedatangannya. Sementara Jasmine berusaha menguatkan kakinya yang tadi terasa lemas untuk mengajar suaminya.
“Mas! Aku bisa menjelaskan semuanya, Mas. Ini gak seperti yang Mas kira. Aku tidak pernah menyembunyikan keberadaan Kak Laura!” teriak Jasmine, tapi nampaknya percuma. Jasmine malah melihat suaminya masuk ke dalam mobil dan menjalankan mobilnya tak peduli meskipun Jasmine kini mengetuk kacanya.
__ADS_1
“Mas! Aku bisa jelasin Mas!” teriak Jasmine, tapi memang percuma. Jordan tak akan mendengarkannya membuat air mata Jasmine perlaha turun.
Kenapa kebahagiaan yang baru tercipta untuknya malah hilang dengan sangat cepat.
“Jasmine,” suara Laura nampak bersalah.
Jelas saja ini semua salah Endra dan Laura. Kalau saja dia tak dilibatkan. Kalau saja Laura jujur pada Jordan apa yang terjadi padanya dan Endra. Kalau saja Endra menjelaskan betapa dia mencintai Laura. Semuanya tentu tidak akan seperti ini.
“Semua ini karena kalian! Kapan aku bisa bebas dari masalah kalian! Aku sudah bilang untuk segera memberitahunya, tapi kalian terus saja menutupi! Dia suamiku! Aku ingin bahagia!” Perlahan kaki Jasmine kembali melemah. Wanita itu terjatuh di atas lantai dan terisak.
“Laura? Ada apa?!” Suara ibu dari Laura nampak terkejut dengan apa yang terjadi dengan Jasmine.
Wanita itu menaruh tasnya dan melihat keadaan Jasmine yang nampak frustasi. “Ada apa sebenarnya?” tanyanya lagi.
“Jordan Ma! Jorda tadi datang! Dia tahu semuanya,” ucap Laura yang juga tidak bisa untuk tak menangis.
“Sudah! Sudah! Tenang! Biarkan Endra yang menyelesaikannya. Mau bagaimanapun juga, dia memang harus tahu dan tidak seharusnya ada korban yang terluka,” ucap wanita itu mencoba menguatkan anaknya. Lalu kembali melihat keadaan Jasmine yang setengah sadar.
“Sayang, kamu baik-baik saja?” tanya wanita paruh baya itu. Meski umurnya sudah tidak dikatakan muda, tapi wajahnya masih terlihat sangat cantik.
“Aku ingin pulang sekarang,” ucap Jasmine mengusap air matanya kasar.
“Oke, mama pesankan mobil ya?”
Jasmine mengangguk dan berusaha kembali masuk ke dalam rumah untuk mengambil tasnya.
Sementara Laura pun tak bisa berbuat banyak dengan kejadian ini. Kalau Endra ada di sini. Endra pasti yang akan bertanggung jawab. Memang sebenarnya kesalahan terletak pada mereka berdua, tapi Endra janji akan menyelesaikannya setelah nanti anak mereka lahir. Namun ternyata, ini di luar rencana Endra. Jordan tahu lebih cepat dari yang sudah direncanakan.
__ADS_1
[…]