Perjanjian Pranikah

Perjanjian Pranikah
38. Akhirnya, Endra Menikah


__ADS_3

Jasmine tersenyum melihat kebahagiaan kakaknya. Akhirnya mereka berdua bisa menikah dan acara yang digelar pun sangat lancar. Jasmine harap, semoga orangtuanya di alam sana sudah tak khawatir mengenai anak-anaknya yang kini sudah bahagia. Hanya satu hal yang membuat Jamine sedih…


“Sayang, kamu nangis?” suara Jordan, suaminya itu segera mengeluarkan sapu tangan dari sakunya. Lalu menyekanya dengan lembut seraya mengelus pelan punggung istrinya agar berhenti menangis.


“Aku sedih karena Mama dan Papa enggak bisa lihat kami menikah dan menggendong cucu mereka Mas. Seandainya Mama dan Papa masih ada. Mereka pasti akan senang,” ucap Jasmine menyeka air matanya setelah dia merebut sapu tangan milik suaminya.


 Jordan pun menarik Jasmine ke dalam dekapannya. Dia tahu betapa sedihnya Jasmine saat orang tuanya tiada. Wanita itu bahkan tidak makan dan juga murung berhari-hari. Setelah semuanya membaik pun Endra menceritakan pada Jordan bahwa sesekali dia tetap masih menemukan Jasmine menangis sendiri. Hal itu membuat Endra sangat berat melalui harinya. Bagaimana pun juga, Jasmine adalah satu-satunya jantung yang tersisa dalam hidupnya sejak dia lahir.


“Apa kau mau datang menjenguknya lagi? Aku bisa mengantarmu kapan pun kau mau, Sayang. Kita bisa menjenguknya bersama,” kata Jordan menangkup tangan istrinya menenangkan.


Beberapa hari yang lalu Jasmine baru saja datang ke makam orang tuanya bersama Endra dan Laura. Endra izin ingin menikah dan Laura sebagai teman lama Endra, sekaligus calon istri Endra mengatakan bahwa mereka sudah mempunyai anak. Mereka bercerita di sana dengan air mata yang tidak bisa berhenti bahkan sampai Jasmine pulang ke rumah. Lama, Jasmine memantapkan hatinya untuk datang ke sana karena rasanya sungguh berat. Meski sudah berlalu sangat lama, tapi Jasmine masih sulit melupakannya.


“Mungkin nanti Mas kalau hatiku sudah kuat lagi, tapi enggak sekarang,” ucap Jasmine dan Jordan mengangguk mengerti.


“Jasmine! Jordan! Ayo foto dulu!” teriak Endra di atas pelaminan dan Laura yang tengah menggendong Rena melambaikan tangannya untuk naik. Di sana sudah ada Anthonio, Om, Tante dan juga ibunya Laura. Mereka sudah siap untuk mengambil foto bersama dan Jasmine hampir saja melewatkannya.


Jordan pun langsung memegangi tangan istrinya seraya menaiki pelaminan. Setelah mengambil beberapa foto, Rena menangis karena tidak betah dengan suasana ramai dan tentu ingin minum susu.


Alhasil, Laura harus izin ke belakang untuk mengambil ASI-nya yang sudah dia siapkan di dalam botol. Sementara Jordan dan Jasmine izin pada Endra untuk pergi karena mereka harus datang ke pernikahan Mike.


“Mike? Mike tempat kamu bekerja?” tanya Endra.


“Iya, dia juga hari ini nikah. Makanya aku enggak bisa lama-lama. Aku minta maaf juga ya enggak bisa bantu banya untuk persiapan nikah Kakak,” kata Jasmine mencemberutkan bibirnya.


Endra pun tertawa seraya mengacak rambut adiknya. “Udah banyak yang bantu kok. Lagian juga kan kita bukan ngadain di rumah yang harus rapikan ini-itu dulu. Kakak memang sengaja nyewa tempat saja supaya semuanya tidak ribet.”


Jasmine pun mengangguk pelan. Lalu memberika sesuatu pada Endra. Wanita itu langsung menaruhnya ke kantung jas milik kakaknya dan membisikkan sesuatu. “Semoga berhasil ya! Jangan nambah anak dulu!”


Lalu Jasmine tertawa-tawa bersama Jordan seraya meninggalkan pelaminan. Endra pun merogoh sakunya dan ketika melihat apa yang Jasmine berikan hanya bisa menggelengkan kepalanya. “Jordan memang brengsek! Adikku jadi nakal,” kekeh Endra kembali mengantungi apa yang Jasmine berikan.

__ADS_1



Visual Endra-Laura Menikah


***


Setelah menghadiri dua pasang pengantin di hari libur. Rasanya Jordan dan Jasmine kelelahan, tapi Jasmine yang terlihat sangat lelah. Dengan inisiatif Jordan pun mengambil minyak angin untuk memijat kaki istrinya pelan seraya menonton drama korea kesukaan Jasmine.


“Bagaimana?” tanya Jordan pada istrinya yang serius menonton.


“Enak, Mas,” ucapnya tapi dengan mata yang masih terus terpaku pada TV membuat Jordan kesal.


Namun tangan pria itu pun perlahan naik ke atas kaki Jasmine dan masuk ke dalam baju istrinya. “Mas! Ngapain tangannya naik-naik,” kini mata Jasmine menatap ke arah Jordan, dengan tatapan yang terlihat hampir keluar bola matanya.


Jordan pun menyengir kuda. “Habisnya aku dicuekin. Kamu asyik banget sih nontonnya,” ucap Jordan langsung mematikan TV membuat Jasmine teriak histeris.


“Mas! Bentar lagi habis!”


“Mas ih sebentar!”


”Enggak! Cepat ayo!” kata Jordan nampak tidak ada toleransi untuk Jasmine.


Jasmine pun dengan malas akhirnya mengalah. Dia berjalan gontai menuju kamarnya dan Jordan membawa susu hamil milik Jasmine.


“Minum dulu,” Jordan menyodorkan susu untuk istrinya dan Jasmine meneguknya hingga habis. Setelahnya Jordan mengusap bibir istrinya, di mana sisa susu itu berada di pinggiran bibir Jasmine.


Jordan menciumnya dan tersenyum.  “Manis,” ucap Jordan dan Jasmine mencubit pinggang suaminya.


“Kesempatan aja! Mas tapi aku kok jadi pengen ya.”

__ADS_1


Jordan menaikkan kaki Jasmine ke atas ranjang dan wanita itu segera mengambil posisinya untuk tidur.


“Pengen apa?” tanya Jordan memutari ranjangnya untuk bisa tidur di sisi Jasmine.


Lalu seperti malam-malam biasanya Jordan lebih suka tidur tanpa baju. Menikmati hangatnya dipeluk istri dan hembusan napas Jasmine yang mengenai kulitnya.


“Pengen kamu, Mas,” ucap Jasmine dengan wajah yang tiba-tiba memerah. Dia malu mengatakannya, tapi Jordan membangunkan keinginannya.


“Serius?” tanya Jordan yang baru saja akan berbaring di sisi Jasmine langsung melototkan matanya dan menegapkan kembali tubuhnya. “Ayo! Sekarang!” katanya dengan semangat membuat Jasmine tertawa sangat geli.


Jordan pun mencemberutkan bibirnya. “Jangan bilang kamu nge-prank aku!”


“Ihh engga kok benaran. Yaudah ayo!”


“Ya ayo!” lagi-lagi suara Jordan sangat bersemangat.


“Ayo-ayo aja ah kamu mah Mas. Masa aku yang duluin sih!” ambek Jasmine membuat Jordan berganti tertawa, tapi kemudian pria itu pun langsung mendaratkan ciumannya.


Tentu bukan ciuman biasa, ciuman yang membuat Jasmine melingkarkan tangannya di leher Jordan, tapi tidak membuatnya bisa melakukannya lama karena napas Jasmine sangat terbatas.


“Kau selalu membuatku menjadi tidak sabaran,” kata Jordan setelah melepaskan ciuman mereka dan mengusap bibir istrinya dengan ibu jarinya.


“Jatah minggu depan enggak ada ya!” kata Jasmine, tapi Jordan tidak peduli karena dia masih bisa memikirkan bagaimana caranya membuat istrinya mau melakukannya lagi untuk minggu depan.


“Mas pelan-pelan ya! Aku takut baby kenapa-kenapa,” keluh Jasmine ketika suaminya berusaha meloloskan pakaiannya.


“Iya, Sayang!”


***

__ADS_1


Yuk, yuk yang belum komen, kalian mau ekstra part-nya apa?


__ADS_2