
Jordan merapikan berkas kerjanya ketika Jasmine berkali-kali menghubungi nomornya. Ibu hamil memang tidak bisa dikendalikan. Jika sudah minta A tetap akan A. Sekarang Jasmine minta Jordan untuk bergabung makan siang dengannya di kafe This! Padahal Jordan baru saja makan siang bersama Bella dan Roy, tapi apalah daya karena Jasmine mengancamnya tidak akan makan apapun jika Jordan tidak datang.
“Mau ke mana?” suara Bella begitu masuk ke dalam ruangan kerja Jordan dan melihat pria itu sedang memasukkan beberapa berkas ke dalam tasnya.
“Aku mau ke kafe dulu nyusul Jasmine. Bisa ngambek berhari-hari nih kalau enggak aku susul,” katanya masih sibuk memasukkan beberap berkas yang baru saja dia buka.
“Yaudah ini aku taruh sini dulu ya. Nanti balik lagi kan?”
“Nah itu aku enggak tahu. Aku bawa saja semuanya, nanti kalau ada apa-apa hubungi aku ya. Kalau aku tidak balik lagi akan aku cek di rumah,” kata Jordan terburu-buru. Pria itu langsung berjalan menuju pintu ruangannya dan membukanya dengan napas tak beraturan.
“Oh ya!” Jordan kembali mundur seraya menahan pintu dengan tubuhnya. “Hari ini sesuai jadwal yang kau berikan tadi pagi kan, tidak ada meeting?”
“Iyah, hanya ada meeting besok jam dua siang,” jawab Bella dan Jordan mengangguk kembali melanjutkan perjalanannya. Langkahnya dibuat cepat menuju lift, tapi ketika dia menekannya terpaksa harus menunggu.
Tring! Tring! Tring!
“Halo? Iya, iya, Sayang. Aku baru mau jalan ini sabar ya!”
“Kamu ih lama banget! Bete aku!”
“Maaf, maaf, sebentar aja kok. Naik mobil juga cuma berapa menit.”
“Yaudah pokoknya cepetan!”
“Iya aku-“
Tut, tut, tut…
Jordan langsung memperhatikan HP-nya, menggelengkan kepalanya sendiri. Bisa-bisanya Jasmine mematikan sambungan teleponnya ketika dia sedang bicara. Kalau saja dia tidak ingat itu hormon ibu hamil yang suka marah-marah dan manja tidak jelas, dia pasti sudah menghukum istrinya agar semalaman terus melayaninya. Membayangkan itu tiba-tiba saja Jordan tertawa sendiri. Otak bapak-bapak memang mulai tidak beres, pikirnya. Apalagi melihat istrinya semakin seksi. Dia tetap ingin bisa melakukannya, tapi Jasmine menolakanya.
“Heh! Ngapain ketawa-tawa sendiri!” suara Roy yang sudah ada di depannya.
Jordan sampai tidak sadar kalau lift yang sedang dia tunggu sudah terbuka; di mana di dalamnya ada Roy yang sedang membaca file-file penting.
__ADS_1
“Memikirkan istriku! Kenapa? Tidak boleh?!” kata Jordan seraya masuk ke dalam lift berlawanan arah dengan Roy yang justru keluar dari lift tapi dengan tatapan yang terus melihat kepergian Jordan.
“Aneh! Siapa yang hamil kok dia yang jadi suka sewot,”gerutu Roy seraya menggelengkan kepalanya.
[…]
“Wah ini serius?” tanya Jasmine begitu melihat undangan pernikahan Mike dan Gebi.
Sepasang kekasih itu mengangguk pelan dengan senyuman yang sangat lebar. Gebi pun menarik tangan Jasmine dan menangkupnya dengan ke dua tangannya. “Kamu datang ya! Plis!”
Jasmine menatap mata Gebi. Wanita itu menatapnya penuh harap dan Jasmine terkekeh pelan. “Sebenarnya ini di hari yang sama dengan Kak Endra menikah, tapi aku pasti akan mengusahakannya,” ucap Jasmine dan Gebi segera memeluk wanita yang tengah hamil itu.
“Terima kasih, kau sudah sangat aku anggap sebagai saudaraku sendiri. Kalau kau tidak datang, itu melakukaiku!”
“Hahaha ya do’akan aku sehat saja karena sudah mulai cukup berat,” ucap Jasmine seraya mengelus pelan perutnya.
“Oh ya jelas dong, kita pasti selalu berdoa yang terbaik untukmu. Jadi perempuan atau laki-laki?”
Jasmine menggelengkan kepalanya. Kenapa semua orang selalu bertanya tentang jenis kelaminnya, padahal Jasmine sendiri tidak mau memeriksanya. Alhasil dia hanya bisa menjawab dengan gelengan di kepalanya.
“Bagaimana jika kembar?” tanya Mike lagi.
“Sepertinya tidak mungkin karena kami tidak punya keturunan kembar.”
“Tapi kan tidak semua anak kembar lahir dari riwayat keturunan saja,” kata Mike mencoba membunuh pemikiran Jasmine, tapi wanita itu malah terkekeh.
“Aku yang ingin punya anak kenapa kau yang bersemangat, Mike! Cepatlah menikah supaya punya, baby!” sergah Jasmine membuat Mike maupun Gebi terdiam.
Jasmine pun merasa ada hal aneh di antara mereka berdua. Apalagi ketika dia mengatakan mengenai bayi. “A-ada apa?” tanya Jasmine merasakan atmosfer yang berubah. “A-apakah kalian?” Jasmine terdiam tidak melanjutkan kalimatnya, tapi sepertinya dia mendapatkan jawabannya.
“Ah aku sudah bilang jangan sampai seperti Kak Endra, kenapa kau melakukannya?!” Jasmine memukul Mike keras membuat pria itu meringis.
Mike mengusap bahunya yang sakit lalu menggaruk belakang rambutnya yang tidak gatal. Pasalnya dia memang melakukannya dengan tidak sengaja. Seharusnya dia menjaga Gebi dengan baik, tapi apa yang terjadi?
__ADS_1
“Kau juga?! Kenapa kau mau?!” Jasmine memukul Gebi dan wanita itu juga meringis kesakitan.
“Semua sudah menjadi bubur. Lagipula aku akan bertanggung jawab. Jangan salahkan Gebi karena itu salahku,” kata Mike membuat Jasmine hanya bisa menghela napasnya dari mulut.
Apa yang terjadi dengan orang-orang di kelilingnya. Kenapa melakukan hal itu dengan mudah tanpa memikirkan ke depannya. Bagaimana jika? Bagaimana kalau? Hal-hal yang bahkan membuat Jasmine sendiri tidak bisa membayangkannya. Cinta memang membutakan, tapi bukan berarti harus membuat kita ikut bodoh.
“Kau harus berjanji menjaganya?!” bentak Jasmine pada Mike galak.
Mike pun mencemberutkan bibirnya. Dia langsung memeluk Gebi dari samping dan mengelus perut wanita itu yang masih sangat rata, belum terlihat dan belum tahu berapa umur kandungannya.
“Aku mencintainya lebih dari apapun. Aku tidak akan meninggalkannya. Aku janji!” ucap Mike membuat Jasmine sedikit tenang karena Gebi sudah dia anggap sebagai adiknya sendiri dan Mike seperti kakak serta sahabat dekatnya. Dia tidak mau di antara mereka terjadi hal yang tidak inginkan.
“Terima kasih,” ucap Gebi lalu tidak sama sekali ada malu ketika mendaratkan ciumannya di pipi kekasihnya.
Mike pun mengacak rambut kekasihnya membuat Jasmine benar-benar muak, meski tak sepenuhnya. Hanya saja Jasmine masih sedikit kesal dengan Mike karena tidak bisa menjaga Gebi dengan baik.
“Ah mood-ku rusak! Aku tidak jadi makan! Aku mau makan di luar saja dengan Jordan,” kata Jasmine segera berdiri membawa undangan sahabatnya itu dan berjalan meninggalkan Gebi serta Mike yang kini memecahkan tawanya.
“Dia benar-benar percaya ya?” tanya Gebi pada Mike.
Mike mengangguk pelan seraya menatap kepergian Jasmine. “Aku tahu dia sangat peduli padamu. Jika nanti aku tidak ada di sisimu. Setidaknya aku tenang karena ada seseorang yang peduli denganmu,” ucap Mike dan kali ini mendapatkan tinjuan dari Gebi.
“Kau tidak akan meninggalkanku! Awas saja kalau kau meninggalkanku!” sergah Gebi mencemberutkan bibirnya.
“Kau benar, Sayang. Aku yang akan menyaksikan kepergianmu, dibanding aku harus menyaksikanmu menangis karena kepergianku. Aku tidak mau membuatmu bersedih,” ucap Mike membuat Gebi terharu.
Wanita itu segera memeluk kekasihnya erat, erat dan sangat erat. Tentu Mike pun membalasnya dengan hal yang sama.
“By the way, jadi setelah menikah kita tidak akan menunda kan?” tanya Mike dan Gebi mengangguk dengan semangat.
“Supaya anak kita bisa bermain dengan anak Jasmine,” ucap Gebi.
[...]
__ADS_1
Detik-detik menuju akhir. Kira-kira kalau aku kasih extra part, kalian ingin isinya apa? Mungkin cuma bisa kasih 2 part aja ya!! Komen di bawah yuk^^