
Endra nampak kesal menunggu di depan rumah Jasmine dengan cukup lama. Dia ingin marah, tapi tak bisa karena Laura melarangnya. Laura tahu apa yang sedang mereka lakukan di dalam. Ya, memangnya apa lagi? Toh, Endra juga begitu jika sudah di kamar berdua dengannya. Sementara Rena, anak Endra dan Laura masih asyik memegang mainannya. Endra kembali menekan bel rumah berkali-kali bahkan memukul pintu dan menggerakkan engsel rumah adiknya yang katanya tidak ke mana-mana hari ini.
“Iya sebentar!” teriak Jordan dari dalam rumah akhirnya.
Begitu pintu rumah terbuka lebar, Laura tiba-tiba menahan tawanya membuat Jordan menggaruk tengkuknya.
“Ah keliatan ya kaya abis ngelakuin yang iya-iya,” kata Jordan akhirnya membuat Laura tertawa terbahak-bahak karena apa yang dia pikirkan benar. Jordan langsung merapikan rambutnya yang pastinya sangat berantakan karena Jasmine tarik.
Sementara Endra, langsung meninju lengan Jordan; merasa kesal karena sangat lama membuka pintu. “Kau pasti menanam terus dengan adikku. Kasihan sekali adikku semakin nakal,” kata-kata yang selalu Endra gunakan untuk membahas hal dewasa.
“Hanya sedikit kok nakalnya,” kata Jordan membuat Endra akhirnya menggelengkan kepala menahan senyumnya.
“Terus mana Jasmine?”
“Lagi buat minum tuh di belakang. Ayo masuk dulu. Jelita lagi di rumah neneknya. Nanti sore baru pulang.”
“Wah pantas Bunda sama Ayahnya udah siap buat adonan baru,” ledek Laura.
“Hahah iya nih. Mumpung Jasmine udah siap,” bisik Jordan.
“Eh yaudah kita enggak bisa lama-lama. Titip dua hari aja ya. Soalnya rewel nih Rena minta main sama Jelita,” ucap Endra mengelus pelan rambut Rena.
“Om, Jelita mana?” tanya Rena yang memegang barbie kesayangannya.
“Lagi di rumah nenek, Sayang. Nanti sore pulang kok. Rena sama om dan tante dulu ya nunggu Jelita pulang,” kata Jordan pada Rena dan gadis kecil itu mengangguk pelan.
“Oh ya, terus gimana? Kau jadi kan mau kasih kejutan ke adikku?”
Jordan mengangguk lalu memberikan isyarat untuk membicarakan hal itu di HP saja karena takut Jasmine mendengarnya.
“Yaudah, Rena sama Om Jordan dulu ya, Sayang. Enggak boleh bandel loh! Oke!” ucap Laura seraya high five dengan anaknya yang berumur 4 tahun.
“Iya Mama,” jawab Rena seraya melambaikan tangannya.
__ADS_1
“Salam buat Jasmine ya. Kita enggak bisa lama-lama karena bakalan kemalaman di jalan nih. Mau ada acara kantor dan lumayan jauh juga dari sini,” ucap Endra seraya melihat jam tangannya, lalu tak lama menciumi pipi anaknya dengan gemas, melambaikan tangannya dan meninggalkan Rena bersama Jordan.
Begitu memastikan mereka pergi meninggalkan pelataran rumah Jordan bersama mobil yang mereka bawa. Jordan pun mengangkat tubuh Rena untuk digendongnya. “Waduhh Rena udah semakin berat ya,” kata Jordan membawa Rena ke dalam rumah dan menemukan Jasmine tengah menuangkan minuman.
“Loh kok cuma Rena aja, Yah?”
“Iya mereka buru-buru. Mau ada acara kantor katanya,” ucap Jordan seraya menurukan Rena ke atas bangku.
“Oh gitu, terus tadi kata Kak Endra ngomong apa pas buka pintunya lama?”
Jordan terkekeh sebentar. “Ya biasalah mereka juga tahu,” jawab Jordan menularkan tawa pada istrinya.
“Eh Rena udah makan, Sayang?”
Rena menganggukkan kepalanya. “Nenek masak enak!” katanya memberikan ibu jarinya pada Jasmine.
“Wah, emangnya nenek masak apa?”
“Oh Rena suka ayam ya kaya Jelita?”
“Iyah. Tante, Jelita belum pulang juga? Rena mau main boneka sama Jelita.”
“Nanti sore, Sayang. Rena nonton film anak-anak dulu mau?”
“Mau!”
[…]
07 Desember, tepat di mana istrinya ulang tahun, Jordan memberikan kejutan yang tidak biasa. Bukan makan malam keluarga atau kumpul-kumpul teman biasa, melainkan…
“Duh, aku bilang juga ulang tahun kali ini di rumah aja! Kenapa harus bawa anak-anak sih, Yah! Katanya nenek mau datang untuk makan malam bersama. Daripada keluar dan dibawa dua-duanya gini malah jadi berantem kan!” gerutu Jasmine karena Rena dan Jelita menangis di bangku belakang setelah merebutkan barbie yang baru saja Jasmine belikan untuk Jelita. Gadis kecil itu tidak terima barang mainannya dipinjam oleh Rena, kakak sepupunya.
“Udah, udah aku tenangin Rena. Endra juga aku kasih tahu kalau kita ketemuan di sini aja sekalian jemput Rena pulang.”
__ADS_1
Jasmine pun menghela napasnya. Dia memperhatikan bangunan kafe yang nampak cantik ketika malam dan terlihat begitu asing karena baru kali ini suaminya membawanya makan malam ke kafe ini.
“Yah, ini kafe baru ya? Kamu kan kalau ngajak aku gak pernah jauh dari Kafe Retro atau Marlio.”
“Iyah, kamu pasti suka,” kata Jordan seraya turun dari mobil lalu membuka pintu mobil belakang untuk mengangkat Rena.
“Suttt udah enggak apa-apa. Nanti minta beliin Papa boneka baru ya,” kata Jordan mencoba menenangkan. Rena pun memeluk Jordan, lalu menangis di bahu pria itu.
“Ma! Tunggu sebentar!” teriak Jordan menutup pintu mobil belakang lalu berjalan menghampiri Jasmine.
“Sebelumnya, aku cuma mau bilang selamat ulang tahun. Kamu harus tahu, aku sangat menyukai apapun yang ada di dirimu. Sekalipun itu marah dan cerewetmu. Aku suka semuanya! Selamat ulang tahun istriku!” ucap Jordan mencium kening Jasmine meski mereka sedang sibuk menggendong anak yang sedang menangis.
Tak lama, muncullah suara petasan yang kembang api dengan warna warni di atas langit membuat Jasmine terkejut. Baru kali ini dia mendapatkan kejutan ulang tahun yang seperti ini. Apakah Jordan; suaminya semakin tua, semakin romantis?
Rena dan Jelita pun mulai menghentikan tangisannya. Mereka sibuk menatap langit dan tertawa. Kaki mereka bergerak; tanda meminta untuk segera diturunkan. Jasmine dan Jordan pun membiarkan mereka berlari setelah menurunkanya. Kaki kecilnya bergerak loncat-loncat dengan kepala yang melihat ke langit.
“Mas apa sih?!” ucap Jasmine memukul dada suaminya dengan malu-malu.
“Kejutan buat kamu, Sayang. Ini kafe untukmu,” ucap Jordan dan kali ini Jasmine sungguh tidak bisa lagi berkata-kata.
Dia menatap mata suaminya dan Jordan mengangguk pelan. “Kamu bisa lihat ke dalam,” kata Jordan dan tentu saja Jasmine langsung berlari masuk ke dalam kafe di mana dia kembali terkejut karena di dalamnya sudah ada orang-orang yang sangat dia sayangi.
“Selamat ulang tahun!” teriak semuanya.
Jasmine pun terharu, dia mengeluarkan air matanya dan sangat berterima kasih pada semuanya yang sudah datang karena sudah membuat ulang tahunnya kali ini tidak bisa dilupakan. Khususnya, Jasmine sangat berterima kasih pada suaminya yang sudah menyiapkan semuanya, memberika kado dan juga kebahagiaan yang tiada henti.
Terima kasih, Mas!
Sejauh ini kurang lebihnya ceritaku mohon dimaafkan. Inilah karyaku yang sederhana^^ Masih ada 2 extra part lagi, jadi jangan lupa like dan komennya. Baca karyaku yang lainnya yuk!
__ADS_1