
Jasmine mengusap air matanya. Dia tidak boleh begini! Dia harus lebih kuat. Dia harus meluluhkan hati suaminya! Meski ini rasanya sangat aneh karena Jordan tiba-tiba mencampuri urusannya. Bukannya dia tidak peduli? Jasmine pun kembali keluar dari kamarnya, bertepatan dengan bunyi bel yang mendadak membuat Jordan ikut keluar dari kamarnya.
“Siapa itu?!” tanya Jordan entah kenapa kesedihannya memudar karena melihat suaminya yang terlihat sangat lucu dengan kepanikannya.
Dia berjalan cepat menuju intercom dan menekannya dengan resah. “Halo! Ada orang enggak di dalam?! Jordan!”
Tangan Jordan refleks melepas tombol yang dia tekan dan menatap horror pada Jasmine. “Mama!” bisiknya nyaris tidak terdengar, tapi Jasmine melihat ekspresi suaminya yang jelas terkejut.
“Cepat angkat baju kamu ke kamar aku!”
“Hah? Tapi-“
“Udah cepat! Enggak ada tapi-tapi!” kata Jordan langsung mendorong tubuh belakang Jasmine untuk masuk ke dalam kamarnya dan mereka sibuk membawa semua barang Jasmine ke kamar Jordan.
Beruntung! Pakaian Jasmine tidak seberapa. Sangat beruntung sekali pakaian Jasmine tidak semuanya dia bawa. Dia masih butuh waktu untuk membawa semua baju dan juga barang-barangnya dari rumah.
“Enggak usah bilang Mama kalau kamar kita pisah! Nanti kalau Mama udah pulang baru bawa lagi baju kamu!” ancamnya membuat Jasmine mendengus pelan.
Padahal tadi dia yang melarang untuk jaga jarak dengannya. Sekarang apa?! Mau main drama di depan ibu mertuanya? Itu pasti yang Jordan mau dari Jasmine. Pura-pura bahagia dan pura-pura diperlakukan baik oleh suaminya. Bahkan sempat-sempatnya pria itu bilang untuk membawa kembali bajunya! Dasar kurang ajar!
Setelah semuanya dipastikan masuk ke dalam kamar Jordan. Pria itu pun menghela napasnya, mendorong Jasmine ke dapur seraya memasangkan headphone ke kepala istrinya.
“Aku aja yang buka pintu,” kata Jordan lalu berjalan menuju pintu apartemennya karena ibunya sejak tadi menekan bel berulang kali. Bahkan menghubungi nomornya juga tapi dia tidak angkat karena terlalu sibuk memindahkan baju Jasmine.
“Jordan! Ih Mama dari tadi nunggu di luar lama tahu!” kata Greta seraya membawa belanjaan di ke dua tangannya.
Jordan pun langsung membantu ibunya yang kini sibuk melepas pantofelnya. “Maaf, Jordan baru banget pulang dan tadi lagi di kamar mandi buang air.”
“Lah, memang Jasmine mana? Dia enggak dengar Mama pencet bel?”
__ADS_1
“Biasa, Ma! Dia lagi masak, sambal dengerin musik. Mana dengar bel apartemen!” bohongnya sungguh membuat Jasmine yang mendengarnya terkekeh pelan.
Suaminya pintar berbohong dengan cantik. Jasmine baru sadar ketika suaminya memakaikan headphone untuknya, ternyata itu alasannya. Sepertinya pria itu sering mengalami hal seperti ini berkali-kali. Bahkan Jasmine masih ingat bagaimana ekspresi Jordan tadi ketika bel apartemennya berbunyi. Seolah tidak ada siapapun yang tahu apartemennya selain mama, papa, dan mungkin Laura.
“Jasmine,” panggil Greta menepuk bahu Jasmine yang pura-pura sibuk dengan cucian piring karena tadi dia sudah masak untuk Jordan, tapi belum sempat mencucinya karena pikirnya sekalian setelah mereka selesai makan.
“Mama?” Jasmine melepaskan headphone-nya dan menaruhnya di atas meja. Gadis itu langsung memeluk ibu mertuanya seraya tersenyum.
“Mama bagaimana kabarnya?”
“Baik, Sayang. Kamu masak apa? Banyak banget,” kata Greta melihat hidangan makanan menantunya dengan sangat terkesan.
Namun tanpa Jasmine sadari, Greta sebenarnya tahu kalau headphone itu hanyalah trik Jordan berbohong kalau Jasmine asik mendengar musik dan tidak dengar bel rumah. Lucunya, Greta merasa Jordan itu sangat bodoh karena trik ini sudah berkali-kali dia lakukan ketika dia ataupun papanya datang. Tentu Greta tahu kalau ada sesuatu di antara mereka.
“Iya, Ma. Aku masakin untu Mas Jordan nih baru pulang. Kita baru aja mau makan. Pas banget Mama datang. Kita makan aja bersama,” kata Jasmine menarik bangku untuk ibu mertuanya.
“Mama juga bawa banyak bahan makanan tuh! Mama mau nginap di sini ya dua hari,” kata Greta membuat Jordan terkejut mendengarnya.
“Kok mendadak sih, Ma! Kenapa sebelumnya enggak kasih kabar?” tanya anak laki-laki satu-satunya itu.
Jordan langsung mengambil posisi duduknya di depan Jasmine dan dengan cepat gadis itu melayaninya dengan baik. Tentunya tidak lepas dari penglihatan Greta karena dia merasa menantunya adalah orang yang sangat dia kenal sejak lama. Endra dan Jasmine sudah dia anggap sebagai anaknya sendiri, tapi Jordan sepertinya masih belum bisa menerima Jasmine sebagai istrinya.
“Mama itu orang tua kamu loh, Dan! Mama mau nginap ke sini kapan aja terserah mama dong! Dulu, kamu kecil aja numpang kok di rumah mama dan papa. Bahkan kamu minta susu mama pas bayi, sampai akhirnya bisa segede ini! Kamu enggak ingat?!” Greta memegang dadanya sendiri membuat Jasmine terkekeh dan mendapatkan pelototan dari suaminya.
“Ya, bukan gitu, Ma! Kamar tamu itu berantakan banget, belum Jordan rapikan,”
“Aku akan rapikan, Mas,” ucap Jasmine lembut memegang punggung tangan Jasmine. “Aku juga udah lama enggak ketemu Mama setelah resepsi. Biarin aja Mas, Mama nginap di sini,” kata Jasmine dan Greta langsung memeluk menantunya itu dari samping.
“Memang deh, anak mama tuh Jasmine! Bukan Jordan!” ucap Greta lalu mencium kening Jasmine seperti anak kecil, mengingat dia tidak punya anak perempuan.
__ADS_1
“Terus kalau Mama nginap di sini, gimana sama Papa?” tanya Jordan mengaduk-aduk makanannya dan memakannya perlahan.
Jasmine lagi-lagi menemukan kebohongan Jordan yang katanya sudah makan. Padahal jika dilihat pria itu sangat lahap makannya. Dasar pembohong! Apakah dia tidka tahu kalau hari Jasmine sudah memasak banyak makanan dengan susah payah untuk menyenangkan hati suaminya. Bisa-bisanya dia menolak ajakan makan Jasmine. Lebih heran lagi, kenapa sikap Jordan mendadak berubah? Sebenarnya ini yang membuat Jasmine bertanya-tanya sejak tadi.
“Papa keluar negeri ada bisnis. Kalau papa ada di rumah ngapain juga mama nginap di sini. Mama juga tahu kalau gelora anak muda di malam hari itu masih sangat berapi-api, tapi mama akan pura-pura budek kok!” kata Greta yang tentunya disambut dengan suara batuk dari Jordan.
“Mas, kamu kenapa?” Jasmine langsung anik melihat Jordan tersendak. Wanita itu siaga sekali mengambilkan minum untuk suaminya dan menepuk pelan punggung Jordan dengan sangat perhatian. “Makannya pelan-pelan dong, Mas!” katanya lagi mengusap ujung bibir Jordan dengan jarinya tanpa tisu.
Dalam hati Jasmine, ini kesempatan bagus untuknya untuk kembali menempel pada suaminya. Dia akan buat Jordan merasakan getaran listrik yang hebat hingga suaminya tidak bisa bergerak dan merasaka getaran aneh padanya. Jika kata orang cinta itu datang karena terbiasa, maka Jasmine akan melakukannya.
“Huft, yaudah terserah Mama deh! Kamar Mama pokoknya belum aku rapikan ya! Jangan ganggu aku sama Jasmine kalau malam! Enggak ada drama takut hantu karena di sini enggak ada hantu!” kata Jordan langsung melenggang pergi dengan kata-kata tak sopan yang keluar dari mulutnya.
Greta berdiri dari bangkunya ingin memukul kepala anaknya tapi menantunya tahan dan langsung mengajaknya makan bersama.
“Udah Ma, enggak apa-apa. Mas Jordan kayaknya hari ini lagi badmood. Pasti banyak pekerjaan yang dia pikirin,” kata Jasmine mengelus pelan punggung mertuanya dan Greta merasa beruntung karena Jordan bertemu orang yang tepat.
Dulu ketika Jordan bersama Laura. Greta pernah berpikir kalau anaknya itu sepertinya tidak begitu cocok dengan gadis itu. Selain sikap dan sifat Laura yang manja. Greta tahu kalau Laura tidak mencintai Jordan setulus hati. Bukannya Greta tidak suka dengan Laura, tapi menurut Greta setiap orang itu pasti memiliki pasangan yang bahkan dari mata pun sudah terlihat sangat cocok. Sekarang, Greta sangat yakin bahwa Tuhan sudah memberi pasangan yang tepat kepada anaknya. Meski Jordan terlihat belum bisa menerimanya, dia yakin waktu pasti akan membawa cinta itu hadir di antara mereka.
“Jasmine, makasih sudah menjadi menantu mama,” ucap Greta tiba-tiba membuat Jasmine yang sedang menaruh beberapa lauk di atas piring mertuanya terdiam.
Mendadak Jasmine merasa sangat melow. Seandainya… seandainya Greta tahu apa yang terjadi di dalam apartemen ini. Apa yang terjadi di antara mereka berdua. Apakah Greta tetap akan berterima kasih padanya? Atau malah merasa bersalah?
Greta menarik Jasmine ke dalam pelukannya. Membiarkan anak menantunya menangis sepuas yang dia inginkan. Tanpa Jasmine ungkapkan dengan kata-kata, Greta sangat tahu apa yang Jasmine alami, karena pernikahan Greta pun di awal tidak sebahagia orang-orang yang menikah karena cinta satu sama lain. Jasmine adalah Greta di masa lalu dan Greta yakin, Jasmine adalah Greta di masa depan; penuh bahagia.
Semua hanya tentang waktu!
[...]
Sepertinya kurang melow wkwkwk karena cerita ini aku bangun dari awal tidak begitu sedih jadi suasa sedihnya kurang dapet~ Jangan lupa komennya dan likenya^^
__ADS_1