
Jasmine memijat keningnya. Sudah berapa kali dia dipanggil oleh pihak sekolah karena ulah Jason, anak ke duanya ini benar-benar memiliki sifat seperti ayahnya. Sudah berapa sekolah yang membuat anaknya itu tidak nyaman. Kali ini pun Jason meminta untuk keluar saja dan minta dicarikan sekolah khusus pria. Jujur saja Jasmine terkejut mendengarnya, dia takut anaknya ini mempunyai kelainan, tapi…
“Aku udah enggak kuat, Bun! Semua wanita sama saja! Menjijikkan!”
“Jason! Apa kau bilang?!” Jelita yang tengah mengejarkan tugas kuliahnya beranjak dari duduknya dan memukul kepala adik laki-lakinya itu.
“Kau yang menjijikkan! Bunda kenapa sih punya anak seperti ini?!”
“Jelita!” suara Jasmine memperingatkan agar Jelita tidak terlalu membawa pusing apa yang Jason katakan.
“Sayang, ayolah sekali ini saja. Selesaikan sekolahmu dan kamu bisa melanjutkan sekolah ke luar negeri.”
“Iyah! Sana kau pergi! Aku muak punya adik sepertimu! Kau gay!”
“Jelita!” teriak Jason lalu menarik rambut kakaknya. “Pacarmu yang gay! Jelas-jelas dia menolakmu, tapi kau masih menganggapnya pacar,” kata Jason dan mereka selalu bertengkar seperti anak kecil.
Jasmine kembali memijat keningnya lalu menarik Jason agar kembali duduk. “Jason! Dengarkan bunda sekali ini saja! Kamu harus minta maaf pada Gea dan lanjutkan sekolahmu seperti biasa. Kali ini enggak ada penolakan! Kamu sudah kelas 12 dan tahun depan kau lulus! Demi Tuhan! Bunda sudah lelah mencari sekolah yang cocok untukmu!” ucap Jasmine dengan berapi-api lalu pergi meninggalkan Jason yang terkejut melihat Jasmine marah padanya.
Jason pun memperhatikan kepergian Jasmine dan suara helaan napas dari bibir Jelita terdengar jelas membuat Jason melotot padanya.
“Kau lihat?! Mau berapa lama lagi kau membuat Bunda dan Ayah kelelahan? Berhentilah menjadi anak kecil! Berhentilah menjadi pria sok keren. Kau yang menjijikkan!” teriak Jelita lalu berjalan mengangkat macbooknya menuju kamar.
BRAK! Suara debuman pintu kamar Jelita menyeruak di telinga Jason. Pria itu lalu hanya bisa menghela napasnya sejenak. Dia benar-benar tidak tahan hidup di kelilingi wanita yang terus mengejarnya. Sudah jelas dan terang-terangan Jason menolaknya, tapi mereka masih saja mengejar Jason yang alhasil terkadang Jason tidak sengaja membuat masalah di sekolah.
Argh!!! Menjijikkan! Kenapa juga dia punya wajah tampan?
[…]
__ADS_1
Hanya ada suara dentingan sendok dan piring di meja makan. Baik Jasmine ataupun Jelita melirik satu sama lain seolah bisa membaca kemarahan Jordan yang sejak tadi tak berbicara.
“Aku sudah selesai,” ucap Jason berusaha beranjak dari duduknya, tapi suara sendok serta garpu yang membentur piring membuatnya berhenti.
“Tidak ada hal yang ingin kau katakana?” tanya Jordan pada anak laki-lakinya itu. Pria yang mempunyai wajah tegas serta dingin hingga menurun pada anaknya itu nampak marah. “Bunda sudah menceritakan semuanya pada Ayah,” ucap Jordan dan Jasmine mencoba menenangkan Jordan. Wanita itu mengusap punggung suaminya, menenangkan.
“Bukan salah Jason,” ucap anaknya kembali meninggalkan ruang makan dan Jordan pun ikut berdiri menghampiri Jason serta menahannya.
“Mas!” Jasmine ikut mengikuti langkah mereka. Lalu memahan Jordan untuk tidak melakukan hal yang tidak diinginkan. Selama ini keluarga mereka damai saja. Semua yang Jason inginkan selalu dikabulkan, tapi tidak kali ini.
“Ayah tidak akan membiayaimu sekolah ke luar negeri jika kamu masih melakukan apapun yang kau mau seenaknya. Bunda juga tidak akan mencarikan sekolah baru untukmu dan kau bisa lakukan apapun yang kau mau. Kau boleh keluar dari rumah ini!”
“Ayah!” teriak Jelita dan Jasmine bersamaan.
Sementara Jason menatap mata Jordan dalam-dalam. Dia tahu apa yang dia lakukan salah. Jelita benar, dia sudah membuat ke dua orang tua mereka repot mengurusnya selama ini. Namun Jason menarik tangannya dari Jordan. Dia perlu memikirkannya lebih dulu.
“Mas, jangan sampai Jason melakukan hal yang tidak kita inginkan. Apa yang kamu katakana tadi sangat keterlaluan,” ucap Jasmine dan Jordan menghela napasnya pelan lalu menarik rambutnya ke belakang.
“Aku perna bertanya-tanya apa salahku di masa lalu? Dan apakah sejauh ini aku sudah mendidik mereka dengan baik. Maafkan aku karena terlalu terbawa emosi,” ucap Jordan pada Jasmine.
Wanita yang tidak lagi muda itu mengangguk dan memeluk suaminya erat. Banyak hal yang mereka lalui selama ini dan mempunyai anak laki-laki yang cukup keras kepala seperti Jason memang tidak mudah. Namun Jasmine selalu berusaha bersabra karena anaknya itu sudah mulai beranjak dewasa. Pastinya akan ada ego yang belum bisa dia kendalikan dengan baik.
“Nanti kamu perlu bicara dengan Jason, Mas. Beri dia banyak pengertian tentang hidup. Kamu, aku, Jelita, Jason, kita semua keluarga, Mas. Aku tidak rela salah satu dari kita pergi meninggalkan keluarganya. Keluarga adalah harta paling berharga,” ucap Jasmine membuat suaminya terkekeh sejenak.
“Kaya nyanyian ya?” tanya Jordan yang dapat cubitan dari Jasmine.
“Ayah nih! Bunda lagi serius juga!”
__ADS_1
“Iya, iya, Sayang. Nanti aku akan bicara dengan Jason,” ucap Jordan lalu mengecup kening istrinya. “Apa kita enggak mungkin punya yang ke tiga?”
“Mas jangan mulai deh! Ke tiga apa maksudmu? Orang ke tiga?”
“Hahaha kamu selalu sensitif jika membicarakan ke tiga. Selalu saja nuduh aku mau punya istri lagi!”
“Lagian kamu! Mancing-mancing terus! Aku enggak mungkin hamil lagi lah! Jelita bisa marah sama aku karena harusnya kita yang siap akan punya cucu. 4-5 tahun lagi sudah waktunya Jelita menikah.”
“Kalau begitu mari menua bersama anak dan cucu kita,” ucap Jordan.
“Kamu sudah mengatakannya berulang kali dan yang kita lakukan sekarang adalah mempertahankannya.”
Jordan mengangguk setuju lalu menatap istrinya sejenak. Diam-diam dia tersenyum dan memasukkan tangannya ke dalam baju istrinya. “Tapi kalau kita punya anak lagi Jelita tidak mungkin keluar dari rumah kan?!”
“Mas!” pekik Jasmine lalu Jordan mengangkat tubuh istrinya dengan sekuat tenaganya karena tentu Jasmine tidak lagi seramping dulu, tapi di mata Jordan, istrinya masih sangat seksi.
“Ihh mau kemana?! Kamu harus ngomong sama Jason!”
“Iya, iya, aku pasti akan melakukannya setelah aku menerkammu.”
Jasmine hanya bisa menghela napasnya pelan. Dalam situasi seperti ini pun suaminya tidak mau rugi. Dia bisa melakukan apa yang dia inginkan. Ya, Jason adalah reinkarnasi ayahnya.
Besok akan ada extra part terakhir. Terima kasih sudah baca karyaku^^ Jangan lupa mampir ke karyaku lainnya.
__ADS_1