
Endra melihat jam yang berada di tangannya. Dia tidak menghabiskan waktu lama untuk sampai ke bandara karena memang tidak jauh dari rumahnya. Namun, dia harus check in sekarang juga, tapi beberapa menit yang lalu Jordan menghubunginya dan memintanya untuk tidak pergi dulu sebelum dia datang. Alhasil Endra dilanda kekhawatiran, karena dia takut kalau penerbangannya malah batal.
HP Endra berdering. Nama Jordan tertera di layar ponselnya membuat Endra cepat-cepat mengangkatnya. “Kau di mana? Aku sudah, ah… aku lihat kau! Aku di sebelah kirimu cobalah menoleh,” ucap Endra dan dia lihat Jordan membalikkan tubuhnya ke arah yang Endra perintahkan. Endra mengangkat tangannya dan Jordan melihatnya.
Endra dengar sambungan teleponnya mati dan dia pun memasukkan HP-nya ke dalam sakunya. Endra tersenyum ketika Jordan berjalan cepat ke arahnya. Dia kira hubungan mereka akan buruk setelah pernikahan Jasmine, tapi nampaknya tidak. Buktinya Jordan mau datang untuk menemuinya di bandara. Sama seperti beberapa waktu yang sudah berlalu bahwa mereka kadang kala saling mengantarkan ke bandara apabila ada pekerjaan di luar kota ataupun di luar negeri.
“Hai, Bro…” Endra baru saja mengangkat tangannya, tapi Jordan mendaratkan pukulannya.
BUG!
Tak disangka salam Endra malah Jordan jawab dengan pukulan keras yang mengenai rahangnya.
“Apa yang kau lakukan?!” tanya Endra memegang ujung bibirnya.
“Kau bertanya padaku apa yang aku lakukan? Tentu saja memukulmu! Memangnya apa lagi?” jawab Jordan santai, tapi dengan sinis.
“Maksudmu?” tentu saja Endra tak mengerti apa yang Jordan maksudkan. Kenapa Endra harus menerima pukulannya dan kenapa Endra harus menerima hukuman dari Jordan.
“Heuh, apa kau belum menerima tamparan dari wanita yang sudah kau hamili? Bahkan kau bawa kabur dari kekasihnya?” Mendengar itu Endra langsung melebarkan matanya. Dia tak menyangka kalau Jordan sudah mengetahuinya.
“Ini bukan waktu yang tepat untuk membicarakan ini! Aku harus pergi sekarang! Lagi pula, kalau kau ingat! Dia berkali-kali meminta putus denganmu, tapi kau selalu saja menahannya. Kau berusaha buta dengan perasaannya yang tak sama sekali pernah ada untukmu. Dia mencintaiku, tapi kau pura-pura buta!” ucap Endra mengangkat tasnya bersiap untuk segera check-in. Dia tak banyak waktu untuk membicarakan ini. Sungguh bukan pada waktu yang tepat.
“Dan kau harus tahu! Kami melakukannya karena kami saling cinta. Memang sebagai seorang single parents, ibunya marah padaku, tapi setelahnya hubungan kami membaik. Bahkan setelah anak kami lahir nanti. Aku akan segera menikahinya. Aku tahu semua perbuatanku salah, tapi setidaknya dengan perbuatan licikku ini. Laura tak akan hidup dengan rasa bersalahnya karena tak mencintaimu. Setidaknya dia bahagia dengan orang yang tepat, meski berawal dengan perbuatan kami yang salah,” ucap Endra menyisakan bekas luka yang cukup dalam di hati Jordan. Mungkin Endra memang benar. Dia buta! Dia buta kalau Laura tak mencintainya melainkan mencintai pria lain yang tak lain sahabatnya sendiri.
“Kau juga harus ingat! Istrimu adalah adikku. Janjimu adalah nyawamu yang ingin kutukar dengan kebahagiaan adikku. Aku mohon lupakan semuanya, Jordan. Kenanganmu dan juga calon istriku. Jasmine sama sekali tidak bersalah. Ini semua salahku dan kau harus lihat ke depan bahwa ada seseorang yang sangat mencintaimu dengan tulus. Tolong buka hatimu untuk adikku. Tolong!” bisik Endra di kata terakhirnya, tapi dengan tekanan bahwa Endra memang berharap jika adiknya bisa bahagia dengan pria yang sudah sangat dia percayai.
Sebelum Endra benar-benar meninggalkan Jordan. Dia pun menepuk bahu Jordan yang terdiam, lalu meninggalkannya dengan harapan bahwa Jordan mengerti bahwa apa yang Endra lakukan adalah yang terbaik untuk mereka semua. Satu hati yang terluka lebih baik daripada tiga hati yang retak dan tak akan bisa diperbaiki lagi, bukan?
__ADS_1
Jordan menghela napasnya perlahan. Sejujurnya, dia sudah menyiapkan hari ini akan datang. Karena itu, emosinya terkontrol dengan baik. Tapi… tetap saja rasanya masih sakit. Ternyata, orang yang dia cintai memang tidak pernah mencintainya. Apakah ini karma untuknya? Mungkin ini yang Jasmine rasakan bertahun-tahun. Bahkan setelah mereka menikah, Jordan masih tetap melukainya.
[…]
Jordan mengunjungi restoran yang sangat Laura sukai ketika mereka dinner bersama. Dia memilih meja dekat jendela besar yang dapat melihat suasana di luar sana. Sebuah lilin di atas meja pun menemaninya sehingga kenangan itu bangkit kembali diingatannya.
“Maaf, Sir. Apa yang akan anda pesan?” tanya seorang pelayan yang melihat Jordan tengah menatap sesuatu di luaran sana.
“Champagne dan spaghetti carbonara,” jawan Jordan, tapi tak menolehkan kepalanya ke arah sang pelayan.
“Maaf, Sir. Saya tidak bisa mendengar apa yang anda katakan,” ucap pelayan itu.
Jordan pun menolehkan kepalanya. “Satu champagne dan spaghetti carbonara,” ucap Jordan.
“Ohh Mr. Jordan, sudah lama tak bertemu. Di mana kekasihmu?” tanya pelayan itu yang sudah sangat kenal Jordan membuat Jordan mengembangkan senyumnya.
“Oh, Maaf,” ucap pelayan itu dengan sangat bersalah. “Aku akan kembali membawa pesananmu. Selamat malam,” ucap pelayan itu lalu berlalu meninggalkan Jordan yang mengembangkan senyumnya.
Jordan kembali menolehkan kepalanya ke arah luar jendela. Ternyata meskipun kenangannya terus menguap di hati dan pikirannya saat ini. Satu hal yang dia sadari ketika mengucapkan kalimat tadi pada sang pelayan. Laura memang pernah berada di hatinya. Kenangannya memang tak bisa dilupakan. Namun Jasmine masa depannya. Tugasnya saat ini hingga nanti adalah menciptakan kenangan yang indah sehingga dia mulai menemukan kebahagiaannya bersama Jasmine---orang yang mencintainya dengan hati yang tulus.
[…]
Di sisi lain, Laura bolak-balik di kamarnya seraya memegang HP-nya. Dia sudah mengirim pesan pada kekasihnya di whatsapp, tapi pria itu masih mematikan datanya. Hingga akhirnya HP-nya berdering dan Jasmine segera mengangkatnya.
“Endra! Tadi Jordan-“
“Aku tahu, Sayang. Dia menemuiku di bandara. Dia juga memukulku dengan sangat keras, hahaha. Aku memang pantas mendapatkannya,” ucap prianya di ujung sana membuat Laura semakin khawatir.
__ADS_1
“Aku ubah jadi video call ya? Aku ingin lihat apakah sangat parah?”
“Aku baru saja sampai, Sayang. Ini sedang menuju hotel. Jangan khawatir! Lukanya tidak begitu parah. Untung saja tidak sampai bertengkar dan babak belur. Aku rasa, dia memang sudah menyiapkan hari ini datang.”
Laura pun menghela napasnya lega, tapi perasaan bersalahnya sungguh tidak bisa dia sembunyikan. Dia masih mengingat saat Jasmine memarahinya. Wanita itu pun sama terkejutnya dan Laura tidak tahu apa yang akan terjadi di antara mereka berdua, tapi mendengar apa yang Endra katakan tadi. Bukankah mereka pasti akan baik-baik saja?
Sebelumnya Endra juga menceritakan pada acara ulang tahun Anthonio kemarin mereka datang dengan sangat bahagia. Mungkin hubungan mereka tak seburuk itu dan Laura yakin Jordan bukan lagi anak kecil yang tidak mengerti, kapan dia harus marah serta mengendalikan perasaannya.
“Endra, aku merasa bersalah dengan Jasmine. Haruskah aku datang ke apartemen mereka untuk meminta maaf?”
“Jangan gegabah! Kita tunggu semuanya tenang dan kita akan datang bersama menjelaskan semuanya, mengerti?”
Laura tanpa sadar menganggukkan kepalanya pelan. “Yaudah, kamu jaga kesehatan ya! Aku enggak mau sakit!”
“Hahaha, iya, Sayang! Kamu juga jangan kebanyakan begadang nonton drama korea! Awas aja! Aku hukum kamu baru tahu rasa!”
Laura tertawa dengan kata-kata ayah dari anaknya. “Aku mau kok dihukum! Asal sama kamu,” bisik Laura terkekeh dan disambut tawaan ringan dari Endra.
“Dasar nakal! Yaudah aku tutup dulu ya, Sayang! Aku udah mau sampai ke hotel. Miss you and see you.”
“Oke! Me too!” ucap Laura seraya melihat layar HP-nya dan memutuskan hubungannya.
Dia berdoa, semoga semuanya benar baik-baik saja.
***
Halo!! Selamat hari raya idul fitri bagi yang merayakan!! Mohon maaf lahir dan batin dan terima kasih sudah membaca karya-karyaku!!
__ADS_1
Kira-kira apa yang bakal terjadi? Yuk jangan lupa like dan komen!! Hayo!!!