
Jordan nampak sibuk ke sana kemari. Pria itu membantu istrinya merapikan baju-baju dan juga beberapa barang lainnya yang akan mereka packing menjadi satu.
“Yang ini bagaimana, Mas?” tanya Jasmine mengangkat beberapa barang tidak terpakai milik Jordan.
“Tidak perlu. Pisahkan saja ke barang-barang yang tidak terpakai. Nanti biarkan Bella kirim ke panti asuhan. Barang-barang itu masih layak tapi sudah lama tidak aku gunakan,” ucap Jordan dan Jasmine pun mengangguk.
Besok, mereka akan pindah ke rumah baru. Dua tahun yang lalu Jordan sudah membangun rumah impiannya. Dia bertekad akan tinggal di rumah yang lebih layak setelah nanti dia punya anak. Sekarang sudah waktunya dia meninggalkan apartemennya. Apartemen yang penuh kenangan antara Laura maupun Jasmine. Apartemen ini juga saksi kesedihan serta kebahagiaan hidup Jordan. Namun, kini sudah waktunya Jordan membuka hari-hari bahagianya bersama Jasmine dan juga buah hatinya.
“Sudah Mas,” ucap Jasmine duduk di ujung ranjang setelah mencuci tangannya bersih. “Kapan bisa diangkat?”
“Istirahat saja dulu. Kau tidak perlu ikut mengangkatnya karena aku sudah memesan orang dan juga mobil khusus mengangkat barang.” Jasmine mengerti. Dia pun mengambil posisi untuk merengganggkan tubuhnya di atas ranjangnya.
“Tunggu dulu ya, aku sudah buatkan minuman segar untukmu,” ucap Jordan keluar dari kamar dan tidak begitu lama sudah membawa minuman es yang sudah dia siapkan.
Jasmine tersenyum lebar. Suaminya selalu siap siaga untuknya. Kandungannya sudah mencapai 5 bulan dan Jordan sebagai suami tak pernah sama sekali merepotkannya. Pria ini sangat mandiri, pintar memasak bahkan bisa membantu Jasmine melakukan hal lain. Setiap pagi juga dia selalu menyiapkan sarapan serta susu untuk istrinya. Jasmine juga sudah dilarang bekerja. Jordan malah menjanjikan akan membuatkan kafe untuk Jasmine jika nanti anak mereka sudah berumur 2 tahun. Tentu dia sangat senang karena itu adalah salah satu keinginannya.
“Bagaimana?” tanya Jordan begitu Jasmine meminum es buah buatannya.
“As always, buatanmu selalu enak, Mas,” puji Jasmine membuat Jordan mengacak rambut Jasmine. Lalu berpindah pada perut Jasmine yang terlihat sudah membuncit.
“Ini udah masuk 5 bulan loh, Sayang. Kamu enggak mau lihat anak kita laki-laki atau perempuan?”
Jasmine menggelengkan kepalanya. Jujur saja dia ingin tahu, tapi dia lebih ingin menjadi kejutan. Greta juga bilang seperti itu. Neneknya itu bilang ingin cucu pertamanya menjadi kejutan. Jadi, Jasmine memutuskan untuk tidak melihat jenis kelamin anaknya selama di kandungan.
“Mas enggak sabaran ih! Sudah nanti saja biar jadi kejutan,” kata Jasmine seraya mencubit perut suaminya.
__ADS_1
“Ya gimana lagi. Ini kan anak pertama. Aku jadi enggak sabar nunggunya.” Jordan langsung memanja pada istrinya. Menempel pada lengan Jasmine dan memasang wajah memohon. “Besok kan jadwal konsultasi. Bagaimana kalau besok-“
“Enggak Mas! Sekali aku bilang enggak, enggak ya, Mas!” Jasmine menarik lengannya dan berjalan menuju balkon seraya membawa gelasnya.
Jordan pun ikut menyusul dan memeluknya dari belakang. Di luar sana mereka hanya bisa melihat bangunan dan juga padatnya jalan raya di hari minggu.
“Yasudah enggak apa-apa kalau enggak mau. Oh ya, Mama nanya persiapan pernikahan Endra. Mama bilang kalau ada sesuatu yang perlu dibantu bisa kasih kabar. Jangan merasa sungkan karena kita kan sudah jadi keluarga.”
“Mama bilang begitu?” tanya Jasmine membalikkan tubuhnya.
“Iyah, Mama nanyain keadaan Rena juga setelah demam kemarin. Semuanya baik-baik aja kan?”
Jasmine mengangguk. Rena, keponakan Jasmine itu akhirnya lahir dengan normal, tapi dua minggu lalu dia dapat kabar dari Laura kalau Rena demam. Jasmine pun sempat menjenguknya dan melihat betapa berantakannya Laura, tapi terakhir yang Jasmine tahu Rena sudah sehat. Laura dan Endra pun kembali mempersiapkan pernikahan mereka.
“Rena udah sehat, Mas. Kalau tentang persiapan pernikahan, nanti aku coba tanya Kak Endra karena dia enggak bilang apapun ke aku. Kamu tahu kan, Kak Endra itu punya banyak teman dan kenalan. Aku yakin banyak yang bantu dia.”
“Mas! Jangan mulai deh! Aku enggak suka kamu bahas Kak Laura lagi! Awas!” Jasmine tiba-tiba kesal karena Jordan membahas Laura.
Bagaimana tidak? Pria ini masih saja membahas mengenai hal ini dan bukan pertama kalinya Jordan membahas Laura di depan Jasmine dengan mudahnya. Jordan pun mengikuti Jasmine yang menuju dapur. Wanita itu mencuci gelas yang dia gunakan itu seraya memanyunkan bibirnya. Sudah tahu mood ibu hamil itu tidak keruan, tapi Jordan malah membicarakan wanita lain.
“Cie ngambek! ada yang cemburu nih!” ledek Jordan mecolek dagu istrinya yang semakin memanyunkan bibirnya.
“Enggak usah pegang-pegang!” sergah Jasmine menyikut tubuh suaminya yang berada di sampingnya.
Jordan pun kembali terkekeh. Dia sebenarnya senang melihat Jasmine cemburu. Menggoda istrinya menjadi kesenangannya sendiri.
__ADS_1
“Yaudah kalau enggak boleh pegang, sentuh boleh?” bisik Jordan di telinga istrinya. Pria itu pun mengelus pelan punggung istrinya yang memakai baju tipis. Namun Jasmine masih tak tertarik dengan ledekan Jordan.
Dia pun mendorong tubuh Jordan dan pergi berjalan menuju ruang TV. Namun sebelumnya Jordan berhasil duduk lebih dulu sehingga dia bisa menarik tubuh Jasmine dan duduk di atas pangkuannya.
“Duh bayiku! Kamu lucu loh kalau lagi cemburu.”
“Siapa sih yang cemburu?! Lagian, kamu kalau mau sama Kak Laura pergi aja sana! Aku juga mau pergi ke tempat Anthonio. Biasanya teman-temannya main ke sana di hari minggu seperti ini.”
“Cie! Sekarang main ancaman nih! Emang kamu yakin mereka masih naksir kamu? Lihat perut ini, ada anakku yang siap memukul mereka karena berani-beraninya menggoda wanita yang sudah menikah.”
“Lagian! Mas nyebelin!” kini suara Jasmine semakin menggemaskan. Jordan pun tersenyum dibuatnya. Dia mendaratkan ciumannya di bibir Jasmine.
“Iya, iya, aku nyebelin, tapi kamu suka kan?!” Pria itu masih saja menggoda istrinya. Bahkan kini tangannya sudah bergerilya ke mana-mana.
Jasmine pun mencengkram ujung bajunya dan menggigit bibirnya. Menahan untuk tidak tergoda sedikit pun.
“Jangan ditahan deh!” bisik Jordan membuat Jasmine akhirnya melototkan matanya pada Jordan. Dia memukul dada Jordan berkali-kali, tapi hanya ditanggapi tawa oleh suaminya. Ayah dari anaknya ini benar-benar paling bisa membuatnya emosi.
“Maafin aku yang selalu bikin kamu kesal, tapi sekarang udah bisa jenguk baby kan? Aku udah puasa lama loh!” ucap Jordan kini bergantian mencemberutkan bibirnya.
“Yaudah iya, tapi pelan-pelan aja ya!”
Jordan menggangguk senang. Dia langsung mengangkat tubuh istrinya yang cukup berat menuju ranjang mereka. Hari terakhir di apartemen, di tutup dengan hal yang manis dan panas.
“Mas, pelan-pelan!” teriak Jasmine ketika suaminya menendang pintu kamar mereka dengan kakinya.
__ADS_1
“Aku udah enggak sabar, Sayang!”
Tinggal manis-manisnya aja wkwkwkw. Jangan lupa like dan komennya ya^^