
Pukul 24.00 malam Jordan menatap jam di dinding, mengangkat ke atas dan menguap lebar. Setelah menemani mamanya nonton horror. Jordan memutuskan untuk menonton film action kesukaannya. Tentu dengan Greta yang sudah masuk kamar tidur duluan, sementara Jasmine menemani Jordan melanjutkan nonton.
Namun sekarang nampaknya gadis itu sudah terjun ke dalam mimpinya. Padahal Jordan sudah bilang tidak perlu ditemani. Apalagi dia sudah pernah nonton bersama Jasmine yang berakhir tidur duluan. Ke dua kalinya, hal ini terjadi dan rasanya seperti dejavu. Jordan pun mengangkat Jasmine ke kamar. Tak sadar, dia mengembangkan senyumnya ketika melihat wanita itu tidu dengan begitu nyenyak.
“Pasti kamu lelah, habis marah-marahin Bella,” kekeh Jordan seraya menurunkan istrinya ke atas ranjang.
Kalau Jasmine dalam keadaan tidak tidur, dia pasti akan sangat malu mendengar ledekan Jordan. Sayang, wanita ini sudah bermain ke alam mimpinya. Jordan pun bergabung dengan Jasmine ke atas ranjang. Menarik selimut sebatas dada lalu menyangga tangannya untuk menatap istrinya lebih lama.
Sesekali Jordan tersenyum, sesekali juga tangannya sangat gatal ingin menyentuh rambut istrinya. Punggung tangannya juga mulai merasa candu ingin terus mendarat di pipi Jasmine. Sekarang Jordan tahu, apa yang ada di dalam hatinya. Cinta itu memang ada. Ada untuk Jasmine yang sudah berusaha meyakinkannya kalau pernikahan ini bukan main-main untuknya. Jasmine rela menunggu Jordan membuka hati untuknya hingga saat ini.
“Sepertinya aku sudah yakin dengan jawabanku. Aku akan melupakan Laura untukmu. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu meski Laura kembali datang padaku. Aku janji!” bisiknya di telinga Jasmine yang tidur.
Sayang sekali, Jasmine tidak bisa mendengarnya dalam keadaan sadar. Biarkan Jordan berjanji pada dirinya sendiri kali ini. Dia akan membuktikan pada Jasmine bahwa pernikahan mereka akan baik-baik saja. Jordan berjanji tidak akan mengecewakan Jasmine lagi.
“Aku akan datang ke dalam mimpimu sekarang,” ucap Jordan mengecup pipi istrinya dan menarik Jasmine ke dalam pelukannya.
[…]
Jasmine menyanyi ringan seraya menggoyangkan tubuhnya dan menatap kakinya tersenyum. Jordan bilang, dia akan menjemputnya di kafe untuk menghadiri party Anthonio. Rasa bahagia Jasmine sungguh tidak bisa dijelaskan. Apalagi pagi tadi dia menemukan Jordan tertidur sambil memeluknya dari samping. Jordan juga menggenggam tangannya erat waktu mereka berjalan di bandara mengantar Greta yang akan menjemput Ben-papanya. Jasmine bertanya-tanya apakah kali ini dia kena April mop lagi? Tapi sepertinya kali ini tidak karena Jordan seperti sungguh ikut senang karena tiada henti melirik; mencuri perhatian Jasmine saat di mobil pagi tadi.
Tin, tin, tin
Jordan menekan klakson mobilnya untuk menyadarkan lamunan Jasmine. Pria itu menurunkan kaca mobilnya.
__ADS_1
“Ayo!” ucapnya setelah menurunkan kaca mata hitam yang dia gunakan.
Jasmine hanya terkekeh pelan waktu melihat suaminya menggunakan kaca mata hitam. Dia pasti ingin Jasmine terpesona oleh ketampanannya. Toh, tanpa menggunakan kaca mata seperti itu, Jasmine sudah merasa seperti ingin pingsan melihatnya. Jasmine segera berlari memutari mobil dan mengambil posisi di samping kemudi Jordan. Setelah memastikan istrinya siap, Jordan melajukan mobilnya.
“Kamu pakai minyak wangi?” tanya Jordan pada Jasmine karena merasa istrinya agak berlebihan dengan wangi ini.
“Iya, Mas. Kenapa?” Jasmine mencium pundaknya khawatir suaminya tidak begitu suka dengan minyak wangi barunya. Padahal Jasmine sengaja membelinya agar Jordan semakin suka padanya.
“Aku enggak suka wanginya!”
Jasmine mengernyitkan alisnya. “Kenapa? Baunya kayak cowok?” Jasmine lagi-lagi mengendus bajunya, tapi dia rasa minyak wangi ini sangat cocok dengan perempuan. Kenapa Jordan tidak suka?
“Wanginya terlalu manis! Aku enggak suka kamu pakai minyak wangi seperti ini.”
Tidak disangka suaminya akan mengatakan itu. Jasmine pun memukul lengan Jordan yang kini ikut terkekeh. Jasmine pun menarik kaca mata Jordan dan menaruhnya di dashboard.
“Aku juga enggak suka, Mas pakai barang kayak gitu! Cukup pakai di rumah aja untuk aku,” kata Jasmine sungguh merasa geli dengan perkataannya sendiri, tapi cukup membuat suaminya ikut tertawa.
“Emangnya kenapa?” tanya Jordan pada Jasmine.
“Ya, Mas kelihatan jadi keren. Aku enggak suka orang lain ngelirik Mas juga,” ucap Jasmine tak mau lagi memendam rasanya.
Dalam keadaan seperti ini. Di mana Jasmine bisa mengungkapkan apa yang ada di hatinya dan Jordan siap mendengarnya, dia tidak akan melewati kesempatan ini.
__ADS_1
“Kamu juga, sekarang kamu terlalu manis! Bagaimana kalau nanti orang lain menyukaimu?”
Jasmine mengangkat bahunya. “Bukannya enggak jadi masalah?” ucap Jasmine membuat pria di sampingnya melotot kesal.
Jordan pun tiba-tiba menarik tangan Jasmine dengan tangan kirinya, mencium punggung tangan istrinya dengan lembut. “Kamu hanya milikku,” ungkapnya tak kuasa lagi hanya disimpan dalam hatinya.
Semalam dia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk mulai terbuka dengan istrinya. Jika hari ini tidak diungkapkan, pasti akan terasa seperti cinta anak remaja yang malu-malu tak diungkapkan. Meski bagi Jordan ini sangat memalukan, tapi menurut Jasmine kalimat itu adalah kebahagiaan. Jasmine jelas tersipu malu. Pertama kalinya, Jordan mengatakan hal itu padanya. Ini benar-benar seperti mimpi, tapi jika itu mimpi. Jasmine tidak ingin bangun dari mimpi indahnya. Jasmine ingin Jordan benar-benar mengatakan hal itu untuknya.
“Mas, kamu serius?” Jasmine seketika berkaca-kaca.
Momen ini, mungkin rasanya kurang pas karena saat ini mereka sedang berada di mobil dan di perjalanan. Namun Jasmine merasa ini sebuah kejutan untuknya. Beberapa hari yang lalu ketika Jasmine mengira Jordan kembali menolak keberadaannya. Dia sudah memikirkan kembali cara membuat suaminya kembali luluh, tapi ternyata apa yang Roy katakan kemarin benar. Jordan hanya cemburu dan merasa marah padanya. Betapa gemasnya Jasmine terhadap Jordan.
“Iyah, Sayang. Jangan coba-coba lagi dekat dengan pria lain! Kamu cuma milikku, mengerti?!” ucap Jordan mencubit pipi Jasmine lalu kembali fokus dengan kemudinya.
Jasmine langsung memeluk suaminya dari samping. Perasaannya saat ini seperti anak remaja yang baru saja ditembak oleh gebetannya. Hanya sedikit berbeda, jika pacaran masih belum tentu menikah, sedangkan Jasmine dan Jordan sudah di dalam ikatan janji suci.
“Terima kasih, Mas!”
“Kenapa berterima kasih padaku? Seharusnya aku yang mengatakan itu! Terima kasih sudah menjadi istriku dan mau menungguku,” Jordan mendaratkan kecupan ringan di kepala istrinya dan Jasmine semakin memeluk erat Jordan hingga pria itu terbatuk-batuk.
Meski seperti itu, mereka akhirnya bisa tertawa bersama dan tidak lagi harus menyembunyikan perasaan yang ada. Setidaknya, ini adalah awal kebahagiaan Jasmine dan Jordan dimulai. Menjadi pasangan yang saling mencintai.
__ADS_1
Cmiwiw.. sekarang udah gak malu-malu yeh Jordan wkwkwk. Jangan lupa like dan komennya yok!!