Perjanjian Pranikah

Perjanjian Pranikah
31. Setelah Apa yang Terjadi


__ADS_3

Hampir satu bulan berlalu. Hubungan mereka semakin membaik dan tentunya mesra. Semua yang terjadi di antara mereka memang masih membuat Jordan sesekali mengingat Laura, tapi Jasmine seolah memberinya warna baru di hidupnya sehingga perlahan Jordan bisa melupakan sosok wanita yang pernah dia cintai selama ini. Jordan memperhatikan istrinya yang masih tertidur. Dia sedikit mengangkat selimut yang menutupi tubuh mereka dan kembali menemukan istrinya memakai kemeja putih kebesaran miliknya. Setelah semalam yang mereka lakukan, Jordan tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya. Jasmine sudah cukup melengkapi hidupnya yang sederhana ini. Entah sudah berapa kali mereka melakukannya dan Jordan selalu bahagia dibuatnya.


Tangan Jordan pun mengelus pelan punggung istrinya. Dia berusaha membangunkan Jasmine karena hari ini mereka ada janji dengan Endra dan Laura. Pertemuan pertama setelah apa yang terjadi di antara mereka. Jasmine memilih untuk bertemu di taman dan mengatakan pada Jordan bahwa dia ingin camping bersama. Toh, sebentar lagi mereka akan menjadi keluarga. Setelah Laura melahirkan, mereka akan segera menikah dan resmi menjadi kakak ipar Jasmine. Ngomong-ngomong tentang kandungan Laura. Kakaknya Jasmine, Endra sudah sibuk dan cemas memikirkan persalinan nanti. Padahal Laura justru biasa-biasa saja. Wanita itu bilang bulan depan umur kandungannya 9 bulan. Artinya Jasmine akan segera punya keponakan.


“Hmm Mas, aku masih mengantuk. Gara-gara kamu, semalam kita tidur larut banget!”


Jordan tertawa mendengar keluhan istrinya. Lalu dia membalikkan tubuh Jasmine agar menghadapnya. Jordan menyingkirkan sebagian rambut istrinya dan mengecup bibirnya sekilas.


“Endra udah nelponin nih, Sayang! Kasihan juga kalau mereka menunggu kita lama,” kata Jordan mengelus pelan pipi istrinya.


“Tapi… Huek!!” Jasmine langsung  turun dari ranjangnya dan segera berlari menuju kamar mandi.


Dia memegang perutnya sendiri dan memuntahkan semua makanannya semalam. Jordan jelas panik, segera menyusul istrinya ke kamar mandi. Pria itu pun memijat pelan tengkuk istrinya dan menahan rambut Jasmine ke belakang.


“Kamu udah minum obat yang Dokter Ana resepkan? Apa kita perlu konsultasi lagi?” tanya Jordan dari pantulan cermin kamar mandi.


Dia tidak tega melihat istrinya terus menerus muntah seperti ini setiap hari. Bahkan jadwal kerja Jasmine terganggu karena ini, tapi Jordan memang sudah melarangnya untuk datang lagi ke kafe selama Jasmine mual. Sayang, Jasmine tidak betah di rumah. Akhirnya meski dia tidak datang ke kafe, kantor suaminyalah yang jadi sasaran.


“Enggak apa-apa, Mas. Mama bilang juga kan ini wajar. Setelah trimester lewat pun pasti akan hilang mual-mualnya,” ucap Jasmine seraya mengelus perutnya.


“Oh iya, Mas. Boleh enggak tiga bulan ini kita enggak melakukannya dulu. Sebenarnya aku sedikit khawatir,” kata Jasmine tiba-tiba membuat Jordan merasa bersalah karena baru tadi malam mereka melakukannya.


Apa boleh buat! Dokter Ana memang sudah mengatakan untuk tidak terlalu sering melakukannya. Sesekali memang boleh, tapi jika Jasmine cemas, dia bisa apa.


“Iya, Sayang. Maafin aku ya,” kata Jordan memeluk istrinya dari belakang dan menyusupkan wajahnya ke leher Jasmine.


Akhirnya mereka juga akan segera memiliki anak pertama. Jenis kelaminnya belum bisa dilihat karena baru masuk umur 3 minggu, tapi Jordan sangat bangga pada Jasmine. Sekarang bukan hanya Jasmine yang harus dia jaga. Dia juga harus menjaga buah hatinya.


“Yaudah! Ayo Mas mandi. Nanti Kak Endra dan Kak Laura menunggu kita lama. Aku juga mau buat nasi goreng dulu buat camping kita hari ini.”

__ADS_1


“Oh ya? Oke kalau begitu aku akan bantu kamu mandi dan juga masak, bagaimana?”


Jasmine tersipu malu begitu suaminya mengatakan akan membantunya mandi, tapi ini jelas bukan pertama kalinya. “Setuju!” ucap Jasmine malu-malu dan Jordan langsung mencubit pipi istrinya.


“Kau selalu malu-malu seperti ini,” ledek Jordan semakin membuat Jasmine tersipu.


“Sudah ah! Ayo cepat, Mas!”


[…]


Jasmine melihat kegugupan dari mata suaminya. Dia tahu bertemu Laura memang sangat berat untuknya, tapi Jasmine menggenggam tangan Jordan kuat. Dia meyakinkan Jordan bahwa mereka bisa melewati semua ini. Satu bulan sudah berlalu, seharunya semua bisa baik-baik saja.


“Tidak apa-apa, Mas. Ada aku di sini,” Jasmine menggenggam tangan suaminya.


Sejenak Jordan menatap tangan Jasmine. Dia merasa bersalah karena hingga saat ini dia masih cukup ragu untuk bertemu dengan cinta pertamanya. Kekasih yang pernah sangat dia cintai. Namun berulang kali Jasmine selalu menguatkannya dan selalu ada di sisinya.


  Jordan pun menarik tengkuk istrinya. Dia mencumbunya lama dan ketika melihat istrinya kehilangan pasokan udara. Dia langsung menghentikannya dan menempelkan kening mereka berdua. “Kau tahu? Aku selalu merasa bersalah setiap bertemu dengan Laura. Kali ini rasanya berbeda. Mungkin bukan karena aku masih mencintainya, tapi karena aku selalu mengingat bahwa aku melukai hatimu, hati Endra dan Laura.”


Jordan berkaca-kaca mendengar jawaban istrinya. Dia pun mencium ke dua telapak tangan istrinya yang dia raih. Lalu mengelus pelan perut Jasmine yang kini sudah ada buah hati mereka berdua. Jordan tidak pernah menyesali takdir yang sudah Tuhan atur untuknya. Semua yang terjadi memang bukan keinginannya, tapi dia senang bahwa pilihan Tuhan tidak pernah salah. Siapa pun berhak bahagia, termasuk dirinya dan juga Jasmine.


“Ayo kita turun. Mas Endra sudah menghubungiku,” kata Jasmine menunjukkan layar HP-nya pada Jordan.


Mereka pun turun dari mobil dan melihat cuaca hari ini begitu cerah. Sebelumnya Jordan mengeluarkan perbekalan mereka dari bagasi mobilnya. Jasmine pun ikut membantunya, tapi Jordan melarangnya. Akhirnya Jasmine yang memandu perjalanan mereka menuju Endra dan Laura yang nampak tengah bercanda satu sama lain. Endra telihat menikmati baringannya di atas kaki istrinya. Sementara Laura terlihat sedang menertawakan sesuatu dan memainkan rambut suaminya.


“Duh iya deh yang mesra-mesraan di bawah pohon,” ledek Jasmine membuat Endra menyadari keberadaan mereka berdua.


Endra pun berdiri dari baringannya dan membantu Jordan membawa sesuatu. “Wah apa nih?” tanya Endra mengintip ke dalam perbekalan adiknya bawa.


“Laura juga membawa buah-buahan dan juga soda. Sepertinya hari ini akan menyenangkan. Jarang sekali juga kita berkumpul seperti ini,” ucap Endra lalu mempersilakan Jordan dan Jasmine bergabung dengan mereka.

__ADS_1


Jordan pun nampak kikuk, tapi akhirnya dia menyalami Laura. “Bagaimana kabarmu?” tanya Jordan berusaha tersenyum.


“Ah ya, sangat baik. Kau?” tanya Laura kembali.


Jordan pun menggaruk tengkukknya seraya mengangguk. Dia tersenyum dan menarik tangan Jasmine untuk duduk di sisinya. “Rasanya tidak begitu buruk,” bisiknya pada Jasmine.


“Aku sudah mengatakannya, Mas,” balas Jasmine dan Jordan pun menghela napasnya.


“Aku cukup lega akhirnya bisa menemuimu seperti ini,” ucap Jordan. “Jadi sudah berapa bulan?” tanya Jordan pada kandungan Laura.


Endra pun setelah mengeluarkan barang bawaan Jasmine langsung ikut bergabung di samping Laura. Dia mengelus pelan calon anaknya yang akan lahir satu bulan lagi dan tersenyum pada Jordan.


“Bulan depan anak kami lahir. Doakan yang terbaik untuk kami ya!” kata Endra dan Jordan mengangguk tersenyum lebar.


Tidak ada hari yang membahagiakan sebelum ini. Semua perasaan hari ini rasanya campur aduk tak dapat dia jelaskan. Perasaan lega, bahagia, sedih dan juga bangga pada setiap orang yang ada di sisinya membuatnya merasa bersyukur. Akhirnya hari ini datang. Hari di mana Jordan harus menerima keadaan Laura yang sudah menjadi milik orang lain. Ah bukan, Endra bukan orang lain. Endra adalah sahabatnya, sekaligus kakak iparnya. Jelas Endra tidak akan pernah menyakiti wanita yang dia cintai.


“Aku ikut bahagia,” ucap Jordan lalu mengelus pelan juga perut istrinya. “Aku juga minta doa yang terbaik untuk bayi kami,” kata Jordan membuat Endra dan laura menatap satu sama lain. Mereka terkejut dan tidak menyangka bahwa Jasmine akhirnya hamil juga.


“Akhirnya aku punya keponakan,” kata Endra membuat semuanya tertawa. “Dan Jordan… aku tahu semua ini memang di luar rencana kita. Aku tahu, aku salah. Aku menyembunyikan Laura darimu, tapi Jasmine tidak salah apa-apa. Dia hanya-“


Jordan terkekeh. Dia ingin meninju Endra, tapi kali ini tidak bisa. “Aku tahu, aku juga tidak akan menyalahkan siapa pun. Ini memang salahku. Andai saja waktu itu aku mendengarkan permintaan Laura. Mungkin cerita kita tidak akan serumit ini. Sekarang aku lega karena Laura sudah berada dengan pria yang dia cintai. Aku juga sudah membuka lembaran baru dengan Jasmine. Terima kasih karena kalian selalu ada di sisiku,” ucap Jordan membuat Jasmine langsung memeluknya.


Endra pun mengacak rambut Jordan. Umur mereka hanya beda satu tahun. Endra tentu lebih tua darinya dan dia sudah menganggap Jordan seperti adiknya sendiri.


“Kau harus membuat adikku bahagia,” ucap Endra dan Jordan mengangkat ibu jarinya.


“Kau tidak lihat betapa bahagianya dia? Kau bisa tanya berapa berat badannya sekarang.”


“Mas?!” marah Jasmine menimbulkan tawa dari Laura maupun Endra.

__ADS_1


[...]


Halo!! Aku mau kasih tahu kalau cerita ini hanya akan sampai 40 part. Jadi tinggal beberapa part lagi nih! Thank u karena sudah baca karyaku! Jangan lupa baca ceritaku yang lainnya ya! Btw, ceritaku yang masih on going masih ada satu lagi judulnya Naughty Sugar! Jangan lupa baca juga ya^^


__ADS_2