
Jordan mengerjapkan matanya lalu menghela nafasnya susah payah. Waktu pertama kali yang dia lihat adalah posisi dirinya dan Jasmine yang saling berpelukan. Jordan pun kembali mengingat bahwa tengah malam tadi, dia terbangun karena perlu membuka bajunya. Memang benar, dia tak biasa tidur memakai baju karena Jordan memang jarang menyalakan AC ketika tidur. Jadi, tidak aneh jika dia sering kegerahan.
Namun sekali lagi Jordan memperhatikan istrinya yang masih tertidur nyenyak. Lagi-lagi Jordan harus menghela napasnya karena mengingat sesuatu. Ya Tuhan! Mereka memang belum pernah melakukannya kan sejak mereka menikah? Jordan memang bodoh!
Jordan pun melepas tangan Jasmine yang memeluk tubuhnya. Perlahan dia ingin turun dari ranjang, tapi tiba-tiba tangannya ditarik.
“Mas mau kemana? Ini masih sangat pagi,” ucap Jasmine dengan mata yang masih sedikit buram.
“Aku…, aku harus-”
“Apa Mas mau ke kantor sepagi ini? Biar aku siapkan sarapan ya,” ucap Jasmine lalu bangkit dari baringannya. Wanita itu pun mengikat rambutnya yang cukup panjang sehingga Jordan meneguk salivanya sendiri karena dapat melihat leher Jasmine dengan rambut yang dia ikat. Belum lagi baju Jasmine yang terawang, dia sungguh tidak menyadarinya semalam. Mungkin karena semalam dia sudah mengantuk dan keadaan apartemen juga cukup gelap karena dia menyalakan lampu yang cukup redup jika malam hari.
“Kenapa Mas diam saja?” tanya Jasmine begitu dia sadar suaminya malah tak beranjak dari ranjang.
“Apa perlu air hangat?” tanya Jasmine.
Namun Jordan menggelengkan kepalanya. Apa mereka akan terus seperti ini? Tak pernah bergerak maju dan akan terus menjadi orang yang terbatas melakukan suatu hal di dalam kehidupan rumah tangganya, tapi bagaimana dengan poin itu? Bodoh! Setelah apa yang terjadi kemarin, apakah perjanjian pranikah itu menjadi hal yang penting?
“Mas, kok diam aja sih?!” tanya Jasmine seraya berjalan ke arah Jordan yang duduk di tepi ranjang di arah sebaliknya. Lalu Jasmine duduk dihadapan Jordan seraya menatapnya.
Jordan masih terdiam dan ikut menatap Jasmine. “Mas masih marah sama aku karena teman-teman Anthonio deketin aku? Aku kan udah bilang kalau mereka hanya teman Mas!”
Bukan itu yang Jordan pikirkan sekarang. Justru dia sedang berpikir bagaimana membunuh poin pertama yang sudah pernah dia buat. Ternyata untuk mengatakan langsung itu justru lebih sulit daripada hanya candaan semalam.
“Mm Jasmine,” panggil Jordan untuk yang pertama kalinya Jasmine mendengar suaminya memanggil namanya setelah menikah.
“Menurutmu bagaimana jika aku meminta hakku?” tanya Jordan.
Bukankah tak perlu lagi bertanya apakah istrinya mau melakukannya atau tidak. Jelas, memang itulah salah satu tugas seorang istri yang baik. Melayani semua kebutuhan suami luar dan dalam memang sudah kewajiban istri bukan?
__ADS_1
“Ma…, maksud Mas hak apa?” tanya Jasmine.
Jordan pun menghapus jarak mereka sehingga Jasmine memperhatikan tubuh bidang suaminya semakin dekat dengan dirinya. Tak lama Jordan tiba-tiba mengulurkan tangannya hingga ke tengkuk Jasmine dan perlahan menariknya hingga dia bisa mencium istrinya, sungguh di luar dugaan Jasmine.
Mereka pun saling membalas ciuman hangat itu. Jasmine tidak akan mungkin menolaknya karena tentu saja dia sangat bahagia dengan ciuman ini. Pertama kalinya setelah beberapa kali gagal. Sebenarnya tidak bisa dihitung pertama juga karena kejadian beberapa hari yang lalu di kantor sudah menjadi saksi bahwa perjanjian pranikah mereka sudah tidak lagi berlaku satu persatu.
Beberapa menit Jordan menyadari istrinya kehilangan pasokan udara. Nampak jelas kalau ini pertama kali untuk mereka karena sama-sama tidak ahli dalam hal yang lebih intim seperti ini.
“Aku akan menuntut hakku sebagai seorang suami pagi ini juga,” bisik Jordan.
Jasmine tersenyum. “Bagaimana dengan poin yang Mas buat?”
“Akan aku musnahkan setelah ini,” ucap Jordan lalu merendahkan wajahnya menuju leher Jasmine untuk mengecupinya.
Jasmine menggengam erat tangan Jordan dan setelahnya Jasmine tersenyum bahagia karena menyadari dia bukan lagi gadis. Dia sudah menjadi wanita Jordan seutuhnya dan sisa napas Jordan masih jelas terasa di seluruh tubuhnya.
“Kau milikku,” lirih Jordan, sebelum Jasmine memutuskan untuk tidur kembali karena lelah.
Jordan tersenyum sendiri begitu dia mendapatkan haknya. Dia mengingat bagaimana akhirnya Jasmine juga merasa bahagia. Kini Jordan sedang menyiapkan sarapan pagi untuk mereka. Kasihan jika harus Jasmine yang melakukannya. Istrinya pasti cukup lelah.
“Kenapa Mas yang masak,” Jordan kaget begitu tangan mungil milik istrinya melingkar di pinggangnya. Jasmine memeluknya dari belakang. Jordan tersenyum dan menolehkan kepalanya ke arah samping.
“Kamu pasti kelelahan. Jadi aku buat sarapan untuk kita,” kini Jasmine yang tersenyum dan memeluk erat tubuh Jordan. Lalu meletakkan kepalanya di punggung Jordan.
“Mas, aku mau tanya sesuatu boleh?”
“Tanya saja. Kalau aku tahu jawabannya pasti akan aku jawab,” ucap Jordan seraya melanjutkan masakannya yang sangat simple, yaitu nasi goreng dengan udang.
“Bagaimana kalau nanti aku hamil?” pertanyaan yang Jasmine ajukan pada Jordan jelas membuat Jordan berhenti menggerakkan tangannya yang sedang memasak.
__ADS_1
“Kenapa kau bertanya seperti itu?”
“Aku…aku hanya takut Mas.” Baru saja Jasmine mau melanjutkan kalimatnya. Jordan malah mematikan kompornya dan membalikkan tubuhnya ke arah Jasmine.
Jasmine pun melepas pelukannya dan menundukkan kepalanya. Dia takut kalau Jordan menolak keinginannya. Mengingat dua poin yang sudah Jordan sendiri ingkari, tapi tetap saja ada 3 poin lainnya yang Jasmine pikir masih berlaku. Jasmine pun masih ragu apakah Jordan benar-benar sudah melupakan poin itu.
“Aku tak seberengsek itu, Sayang.” Jordan meletakkan ke dua telapak tangannya ke atas bahu Jasmine. Jasmine pun perlahan mengangkat kepalanya menjadi menatap Jordan.
“Memang ini awal untuk kita, tapi aku ingin menjalani proses itu. Kalaupun aku sudah melakukannya denganmu. Bukankah itu salah satu konsekuensiku? Aku tidak mungkin mau melakukannya kalau tak memikirkan apa yang akan terjadi ke depannya. Bukankah kau tahu aku?”
Jasmine menganggukkan kepalanya perlahan. “Tapi Mas setiap orang bisa berubah kapan saja. Mungkin sekarang Mas mengatakan seperti itu, tapi bagaimana jika nanti Kak Laura-“
“Aku akan berusaha melupakannya. Aku janji!” potong Jordan terhadap kalimat istrinya membuat Jasmine membelalakkan matanya. Dia tak percaya dengan apa yang Jordan katakan padanya.
“Mas-“
“Kau bisa pegang janjiku. Aku akan melupakannya. Kalaupun dia kembali. Aku akan katakan padanya kalau aku sudah punya bidadari yang cantik yang sekarang harus aku jaga.”
“Mas!” Jasmine langsung tersenyum dan memukul dada Jordan. Jordan pun ikut tersenyum dan menarik Jasmine ke pelukannya. Tak tahu saja bagaimana merahnya pipi Jasmine ketika Jordan mengatakan bahwa dirinya adalah bidadari.
“Aku serius! Meskipun awalnya aku tidak menyetujui pernikahan ini, tapi semakin lama aku sadar. Tuhan memang sudah menciptakanku agar bahagia denganmu. Perginya Laura adalah cara aku bertemu denganmu, begitu quotes yang biasa aku baca di instagram.”
Spontan Jasmine memukul pinggang Jordan yang tengah memeluknya membuat Jordan terkekeh.
“Aku memang tidak bisa merangkai kata, tapi aku berjanji akan menjagamu dan mulai mencintaimu perlahan. Kalaupun kau siap punya little Jordan secepatnya. Aku juga bersedia melakukannya setiap malam.”
Ya Tuhan! Suaminya benar-benar membuat Jasmine gemas. Kali ini Jasmine mencubit perut suaminya membuat Jordan kembali terkekeh dan semakin erat memeluk Jasmine.
[...]
__ADS_1
Aufffff iya deh yang punya pasangan mah :( aku mah apa atuh ;(