Perjanjian Pranikah

Perjanjian Pranikah
30. Lebih Dari Egoku!


__ADS_3

Perlahan Jordan membuka sepatunya. Dia agak heran mengapa apartemennya gelap sekali. Usai Jordan melepas sepatunya. Dia pun menekan tombol lampu apartemennya hingga ruang pertama apartemennya terang benderang dengan lampu bewarna putih. Jordan lihat buket bunga yang tadi dia beli untuk istrinya ada di atas sofa. Lalu Jordan berjalan menuju kamar Jasmine. Namun sebelum mengetuknya, dia sedikit khawatir dengan keadaan wanita itu dan seperti apa yang sudah dia tebak Jordan tak menemukan wanitanya di kamar. Apakah dia ke rumahnya dan menangis bersama Anthonio?


Jordan menghela napasnya sejenak masih memegang engsel pintu kamar Jasmine. “Seharusnya aku tak mengabaikannya,” ucap Jordan mengingat panggilan telepon dari Jasmine sangat banyak di kotak masuk panggilannya bahkan pesan-pesan dari Jasmine pun tak Jordan balas.


Jordan kembali menutup pintu kamar Jasmine. Mungkin dia butuh menenangkan dirinya dulu. Dia ingin sekali mandi air hangat sekarang juga. Jordan pun membuka pintu kamarnya yang berada di depan pintu kamar Jasmine. Namun baru saja dia ingin masuk ke dalam. Wajah yang tadi dia cari-cari membuatnya merasa lega. Ternyata wanitanya di sini. Dia tertidur di atas ranjang Jordan hanya dengan kemeja kebesaran warna putih yang nampaknya milik Jordan.


Jordan pun masuk ke dalam kamarnya. Dia duduk di samping Jasmine yang tertidur bagai janin yang meringkuk dan tangan yang dia jadikan bantalan kepalanya. Hal yang tak Jordan sangka ketika dia merasakan hawa dingin dari AC menunjukkan 16 derajat sementara Jasmine tak memakai selimut untuk menutupi tubuhnya. Jordan pun meraih remote AC kamarnya dan segera mematikannya. Dia sentuh tubuh Jasmine semuanya terasa dingin sekali seperti es batu.


Mata Jordan memperhatikan wajah Jasmine yang nampaknya habis menangis. Jelas sekali kalau hidung itu agak terlihat memerah dan matanya agak terlihat membengkak. Memang Jordan akui kalau dirinya sedikit marah juga dengan Jasmine, tapi kembali lagi dengan kata-kata Endra. Memang inilah yang terbaik untuk mereka semua. Kalau saja Laura tidak pergi dari hidupnya. Mungkin Jordan akan tetap meminta Laura berada di sisinya. Bahkan Jordan tak peduli kalau Laura hamil sekalipun. Jordan akan mati-matian mempertahankan rasa cintanya yang bertepuk sebelah tangan.


“Maafkan aku, Sayang. Aku tak bermaksud menyakiti siapa pun,” ucap Jordan mengelus pelan kepala istrinya yang tiba-tiba bergerak seiring dengan gerakan tangan Jordan yang masih mengusapnya perlahan.


“Mas, apa aku mimpi kalau itu kamu,” ucap Jasmine masih dengan posisinya.


Tangan Jordan pun berpindah ke pipi Jasmine. Dia melakukan yang sama dengan kepala Jasmine---mengelusnya pelan dengan kasih sayang. “Tidak, ini memang aku,” ucap Jordan dengan senyumannya.


Jasmine pun beranjak dari baringannya. Dia segera memeluk Jordan sangat erat sekali. “Mas aku minta maaf. Aku bisa menjelaskannya semua. Jangan tinggalkan aku, Mas. Aku mohon!” air mata Jasmine kembali keluar. Bahkan Jordan mulai bisa merasakan jika bahunya mulai dibasahi oleh air mata istrinya.


Jujur saja dia ikut terluka mendengar permohonan istrinya. Dia terluka ketika istrinya menangis seakan-akan dia akan meninggalkannya. Jordan semakin sadar jika istrinya memang sangat mencintainya. Jordan mulai tak bisa membayangkan kalau dirinya sungguh meninggalkan Jasmine. Bahkan Jordan juga tak bisa membayangkan kalau hidupnya tanpa Jasmine. Rasa sakit yang tiba-tiba menyeruak di dalam hatinya membuatnya ikut menjatuhkan air matanya. Namun Jordan melepas pelukan Jasmine dan segera mencium bibir mungil istrinya.

__ADS_1


Jasmine cukup kaget, tapi dia juga bisa melihat kalau suaminya ikut meneteskan air matanya.


“Mungkin Laura adalah cinta pertamaku, tapi aku harap kau adalah cinta terakhirku. Tak peduli apa yang sudah terjadi. Aku berusaha merelakannya dan membuka hatiku untukmu. Maukah kau memulainya dari awal denganku. Melatih hatiku agar terbiasa mencintaimu dan masa depan tetap jadi milik kita ber dua, bukan milik aku dengan orang lain atau kau dengan orang lain.”


Jasmine tak mampu mengungkapkan apa-apa. Meski Jordan sudah mengatakan kata-kata yang Jasmine tak sangka-sangka. Jasmine tetap masih merasa tak enak hati karena dia juga tak memberitahu keberadaan Laura dari awal padanya.


“Tapi Mas, aku benar-benar minta maaf tentang Kak Laura. Seharusnya aku menceritakannya padamu, tapi aku belum siap kehilanganmu.”


“Suttt!” Jordan menaruh jari telunjuknya di depan bibir istrinya. “Aku tak mau mendengarnya lagi. Memukul wajah Endra sudah cukup bagiku melupakan masa laluku. Kau tak salah apa-apa, Sayang. Kau hanya kebetulan terlibat,” ucap Jordan akhirnya membuat Jasmine sangat lega.


“Jadi jangan membahasnya lagi. Aku ingin kita fokus pada kehidupan kita selanjutnya. Lupakanlah masa lalu kita dan ciptakan masa depan bersama,” ucap Jordan dan Jasmine menganggukkan kepalanya. “Berjanjilah kau akan menjadi ibu bagi anak-anakku. Jangan tinggalkan aku seperti janjiku padamu,” ucap Jordan pada Jasmine.


“Aku berjanji akan mencintaimu selamanya. Menjadi istri dan ibu bagi anak-anak kita. Aku tidak akan meninggalkanmu sesuai dengan janji kita.”


“Kamu sudah makan?” tanya Jordan pada Jasmine karena Jasmine terlihat sangat pucat.


Jasmine pun menggelengkan kepalanya seraya mencemberutkan bibirnya. “Aku mengkhawatirkanmu, Mas! Mana bisa aku makan dengan tenang.”


“Bodoh!” Jordan mencubit hidung istrinya membuat Jasmine mengeluh kesakitan. “Ayo! Aku masakkan sesuatu!”

__ADS_1


Jasmine mengangguk segera turun dari ranjang dengan tangan Jordan yang menggenggamnya. “Ngomong-ngomong kenapa kamu pakai kemejaku dan…” Jordan memperhatikan kaki polos istrinya dan menelan salivanya sendiri. Kenapa istrinya melakukan itu?! Dan bodohnya kenapa Jordan sempat-sempatnya berpikir hal aneh!


“Ohh, aku takut kamu enggak pulang. Jadi aku pakai kemejamu supaya bisa merasakan kalau kamu selalu ada di sisiku, Mas!”


Jordan pun menatap istrinya dan mengacak rambutnya. Pria itu lalu mengangkat ala bridal istrinya menuju meja makan. “Jangan gunakan kemejaku lagi! Kau tidak tahu kalau aku berubah menjadi singa akan sangat menyeramkan!”


Jasmine jelas merona merah. Dia tahu apa yang suaminya katakan. Begitu bokong Jasmine diturunkan di atas meja makan. Jordan pun mencium kening istrinya lembut.


“Tadi aku pergi ke restoran favorit Laura. Aku sadar, perasaanku selama ini sangat egois. Aku melukai semua orang hanya untuk membuatku merasa lebih baik. Aku tahu apa yang Laura dan Endra lewati selama ini pasti tidak mudah. Begitu juga dengan apa yang kau lalui untuk tetap mencintaiku, semuanya pasti tidak mudah. Bertahan lebih sulit daripada memulainya dari awal. Aku sungguh minta maaf sudah membunuh perasaan kalian semua selama ini. Padahal kalian yang menjaga perasaanku supaya tidak terluka, tapi nyatanya memang aku titik di masalah itu bermula. Maaf aku menyakitimu.”


Jasmine mengelus pelan wajah suaminya. “Tadi kamu sudah mengatakannya, Mas! Kita ke sini untuk makan malam dan aku sudah menerima permintaan maafmu. Kamu enggak perlu mengatakannya berulang kali.”


Jordan pun tersenyum bahagia. Lalu menurunkan tubuh Jasmine dengan mudah dari meja makan dan menariknya ke dapur. “Kamu bantu aku juga ya!”


“Ish! Tadi katanya Mas yang mau masak!”


“Hahah, iya deh! Kamu duduk aja di sini,” pria itu lagi-lagi dengan mudah mengangkat tubuh Jasmine duduk di atas meja pantry.


Jasmine tersenyum lebar seraya memperhatikan suaminya yang berjalan ke sana kemari sibuk memasak sesuatu. Begitu selesai, mereka pun makan bersama. Jordan bilang dia sudah makan, tapi nyatanya melihat istrinya makan dengan lahap. Dia pun ikut lapar.

__ADS_1


Setelah mereka merasa sangat kenyang, Jordan pun seperti biasa mengajak Jasmine untuk menonton, tapi kali ini Jasmine yang memilih film yang akan mereka tonton. Tak lupa, malam penuh cinta ini pun ditutup dengan sesuatu yang panas untuk sepasang suami-istri muda di dalam kamar.


Halo!! Selamat hari raya idul fitri bagi yang merayakan!! Mohon maaf lahir dan batin dan terima kasih sudah membaca karya-karyaku!! Jangan lupa like dan komennya^^


__ADS_2