
Endra mencubit pipi Rena yang baru saja selesai meminum ASI. Laura bilang hanya akan meninggalkannya sebentar karena tidak enak jika tidak membantu ibunya memasak. Apalagi status Laura sekarang sudah menjadi ibu. Pastinya dia harus lebih aktif di dapur dibanding ibunya yang sekarang sudah punya cucu.
“Endra! Bawa Rena sini. Aku nyalain lagu anak-anak nih!” teriak Laura dari luar kamar mereka.
Endra pun dengan takut-takut mengangkat tubuh anaknya. Sejujurnya dia takut sekali meski Rena bukan lagi bayi merah yang baru keluar dari kandungan ibunya. Endra tetap harus extra hati-hati karena anaknya baru berumur 6 bulan.
“Yuk kita nonton sama Mama,” ucap Endra pada Rena.
Rena pun meracau tak keruan. Salivanya pun dia mainkan dan menarik-narik baju ayahnya ketika Endra menggendong anaknya.
“Sini sama Mama,” ucap Laura yang sudah duduk di sofa. Wanita itu segera menangkap Rena dan mencium-cium wajah anaknya yang tertawa geli.
“Ihh ketawa,” kata Endra bergantian mencium Endra, tapi Rena malah menarik rambut Endra keras membuat Laura terkekeh.
“Kayanya dia kesal karena ayahnya ngerebut mama tadi. Kamu sih lama banget!” kata Laura membuat Endra memutarkan bola matanya kesal.
Lama dari mana? Bahkan tadi mereka baru melakukannya sebentar, tapi Rena sudah menangis. Alhasil Endra tidak bisa minta lebih karena takut Rena semakin berteriak keras mencari ibunya. Namun Endra merasa sangat bersyukur karena punya istri sangat sigap seperti Laura. Wanitanya sungguh peduli pada anaknya dan tentu Laura adalah orang yang membuatnya sangat tidak bisa jauh oleh rumah ini. Rena dan Laura sudah menjdi paket lengkap hari liburnya.
“Nanti malam Rena bobo lagi yak!” bisik Endra membuat Laura menyenggolnya.
“Ada Mama! Udah sana gih kamu gantian bantu Mama! Kalau enggak, nanti malam enggak akan dapat!” ancam Laura sungguh akhir-akhir ini sering sekali mengancam Endra.
Apalagi kalau ancamannya tidak dapat jatah. Haduh, Endra bisa sampai uring-uringan kesal pada Laura karena wanita itu benar-benar tidak akan memberikannya.
“Yaudah aku bantu mama dulu. Janji ya nanti malam!” kata Endra membuat Laura tak kuasa menahan tawanya.
Kasihan Endra, kemarin terakhir mendekati Rena lahir, Endra harus puasa. Bahkan setelahnya Laura juga harus mengalami nifas. Setelah nifas pun Laura masih belum siap melakukannya karena dia masih ingat betapa sakitnya melahirkan. Membayangkan itu jelas sedikit membuatnya takut dan Endra harus lebih banyak bersabar, tapi kali ini Laura akan membuat Endra menunggu lagi karena Laura ingin mereka melakukannya di malam setelah mereka menikah dua minggu lagi.
Dia ingin memberikan kejutan pada Endra karena selama ini Laura yang selalu menerima kejutan dari kekasihnya. Jadi, kali ini dia pun akan memberikan kejutan pada Endra. Namun sebelumnya Laura akan membuat Endra kesal padanya setengah mati dan Laura mencari ide lain untuk membuat Endra sangat puas dengan kejutan yang dia berikan.
[…]
Jordan tertawa melihat pesan dari Endra. Endra mengeluh karena Laura sangat menyebalkan. Dia sudah janji akan memberikan jatahnya, tapi malah meninggalkannya tidur. Jasmine pun yang baru saja menghabiskan susunya melirik ke arah suaminya yang tertawa.
__ADS_1
“Kenapa Mas?” tanya Jasmine seraya berjaan ke arah mandi.
Jordan pun menyusul istrinya untuk sikat gigi bersama. Mereka berdiri di depan kaca dan Jasmine memberikan pasta gigi pada sikat Jordan yang sudah pemiliknya pegang.
“Itu kakakmu gak dapat jatah malam ini. Dia kesal banget kayaknya sampai chat aku dan nanya gimana caranya bangunin Laura. Padahal dia yang lebih berpengalaman dari aku,” kata Jordan membuat Jasmine ikut tertawa.
“Masa sih dia lebih berpengalaman. Bukannya suamiku juga hebat kalau udah merajuk,” ucap Jasmine mulai menyikat giginya dan tersenyum-senyum di depan kaca kamar mandi.
Jordan pun ikut tersenyum. Dia memeluk Jasmine dari belakang sambal menyikat giginya. Setelah selesai, Jordan pun mengangkat tubuh Jasmine yang cukup berat ke atas ranjang. Dia menahan Jasmine di bawahnya dan tersenyum aneh.
“Jangan mulai deh Mas. Kan baru kemarin! Hari ini aku lelah pengen istirahat,” kata Jasmine beralasan, tapi sepenuhnya tidak benar-benar hanya sebuah alasan karena dia memang benar lelah.
Dia baru saja merapikan meja makan karena Roy dan Bella ikut makan malam bersama mereka. Perbincangan mereka memang sangat Panjang karena curhatan hati Roy serta Bella mengenai pernikahan mereka yang belum sepenuhnya direstui ayahnya Bella cukup membuat wanita itu terus kepikiran.
Jordan pun menjatuhkan dirinya ke samping Jasmine. Dia kira setelah istrinya tadi menggodanya di kamar mandi aka nada sesuatu yang terjadi lagi malam ini, tapi sepertinya tidak bisa. Seminggu sekali saja sudah termasuk bersyukur bisa melakukannya karena Jasmine selalu mengeluh sakit pinggangnya dan perut sering terasa kram setelah melakukannya.
“Mas jadi rencana nama anak kita siapa nih? Kamu udah sudah punya ide?” tanya Jasmine menyangga kepalanya dengan tangan kanannya, sementara Jordan tidur dengan posisi tengkurap dengan kepala di atas bantal.
“Oh ya?” Jasmine nampak semakin antusias. Matanya bahkan melebar membuat Jordan tersenyum. Pria itu segera memainkan rambut istrinya; mengelusnya perlahan.
“Gimana dengan Jason Mraz?” tanya Jordan membuat Jasmine langsung memukul lengan suaminya menimbulkan suara lenguhan dari bibir Jordan.
“Ih emang anak kita bakal jadi penyanyi. Dia kan mau nerusin bisnis papanya!”
“Hahahah bercanda, Sayang. Aku baru kepikiran Namanya Jason aja, tapi belum tahu nama belakangnya karena aku enggak pernah punya nama keluarga. Jadi belum terpikirkan nama belakang Jason.”
“Nah kalau perempuan?”
“Sebenarnya aku belum yakin, tapi Jelita sepertinya bagus. Sesuai dengan namanya, dia akan mempunyai paras yang cantic seperti ibunya,” kata Jordan membuat Jasmine senang mendengarnya.
Sepertinya tidak buruk dengan nama-nama itu. Jasmine tahu bahwa nama mereka berdua berawalan dari J, jadi pasti Jordan memilihkan awalan J supaya seperti nama mereka berdua.
“Jason dan Jelita, bagus Mas!”
__ADS_1
“Iya, Sayang. Cuma kita kan enggak tahu anak kita perempuan atau laki-laki. Konsultasi selanjutnya lihat jenis kelaminnya yuk, plis!”
Jasmine langsung membalikkan tubuhnya pura-pura tak mendengar. Dia menarik selimutnya sebatas dada dan menarik guling untuk dia gunakan. Jordan pun terkekeh. Dia lagi-lagi harus merajuk supaya bisa mendapatkan apa yang dia mau, tapi Jasmine tetap tidak setuju. Dia tetap ingin anak mereka menjadi kejutan.
“Awas ya kalau kamu diam-diam minta Dokter Ana ngecek! Aku pokoknya bakal marah sama kamu, Mas!”
“Ya ampun segitunya ya! Aku kan cuma pengen tahu, Sayang!”
“Aku juga pengen tahu, tapi kan nanti setelah melahirkan pun bisa tahu! Kamu sabra dong! Aku aja yang mengandung sabar!” marah Jasmine malah membuat Jordan merasa bersalah.
Jordan pun menarik Jasmine ke dalam pelukannya. Dia meminta maaf pada istrinya dan berjanji tidak akan mengataka hal itu lagi.
“Maaf kalau bikin kamu kesal, Sayang. Aku cuma pengen tahu aja,” ucap pria itu memeluk istrinya semakin erat dari belakang.
Jasmine pun mengelus pelan tangan Jordan. Dia juga merasa tidak enak karena sudah membentak suaminya.
“Maaf, Mas! Aku cuma pengen ini jadi kejutan. Lagipula kamu tetap akan berada di sisiku kan sampai nanti melahirkan. Kamu enggak boleh tinggalin aku!”
“Hei, mulai deh kamu ngomongnya ngelantur!”
Jordan sebenarnya tidak suka kalau Jasmine sudah mengatakan hal tidak menyenangkan, tapi dia tahu kalau ibu hamil terkadang emosinya tidak stabil. Ada banyak hal yang dia pikirkan dan khawatirkan. Tentunya berpikir suaminya tidak ada di sisinya adalah hal yang paling menyeramkan.
“Sudah yuk, tidur. Besok aku harus kerja. Kamu jadi mau makan siang kan ke kantorku?”
“Iyah aku mau masak buat suamiku besok. Kita makan di kantormu ya Mas. Aku enggak mau makan sendiri akhir-akhir ini. Kayaknya itu deh Mas ngidamnya,” ucap Jasmine membuat Jordan gemas.
“Iya, Sayang. Aku akan kabulkan itu! Selamat malam!” Jordan menarik lampu tidur mereka dan membawa pergi istrinya ke alam mimpi bersamanya.
Kira-kira anak mereka cewek apa cowo nih hehehe. Jangan lupa like dan komennya^^
__ADS_1