Perjanjian Pranikah

Perjanjian Pranikah
34. Berkumpul di Rumah Baru


__ADS_3

Jasmine melihat rumah baru mereka. Dia sangat suka interior rumah ini karena terlihat sangat minimalis. Warna rumah mereka juga terlihat elegan dan beberapa tempat seperti kolam renang, taman depan rumah dan juga balkon sangat membuat Jasmine senang karena sudah bisa membayangkan betapa nikmatnya jika nanti dia bersantai seraya membaca novel. Jauh berbeda dengan apartemen mereka yang sangat kecil. Jasmine jelas lebih suka rumah barunya.


“Gimana?” tanya Jordan seraya duduk di samping istrinya.


“Aku suka kok. Makasih Mas!”


Kebiasaan Jasmine akhir-akhir ini sering kali mencium pipi suaminya dan memanja setelah Jordan memberikan sesuatu yang dia suka. Masalahnya Jordan jadi ingin menariknya ke kamar jika Jasmine terus melakukan itu. Padahal, dia sudah menahannya untuk tidak melakukannya terlalu sering.


“Dan aku suka karena jalan kaki menuju kafe pun semakin dekat. Ya meski jalan kaki tetap lelah buat ibu hamil, tapi aku anggap itu olahraga setiap hari biar dedek sehat,” ucap Jasmine seraya mengelus pelan perutnya.


Jordan pun tersenyum seraya mengacak rambut istrinya. “Oh ya, aku lagi pesan makanan Mas. Terus Mas Aldi juga tadi bilang lagi di jalan. Bella gimana?” tanya Jasmine mengingat mereka mengundang beberapa orang untuk datang ke rumah barunya.


“Bella sebentar lagi sampe. Kamu duduk aja. Nanti kalau makanannya udah datang biar aku yang nyiapin. Kamu istirahat aja, pasti capek kan ngerapiin baju aku,” kata Jordan sungguh perhatian pada Jasmine.


Wanita itu pun mengangguk seraya menyalakan TV dan tak lama mereka mendengar suara bel rumah berbunyi. Jordan dengan sigap langsung berlari ke depan rumah. Nampaknya mereka butuh pembantu dan Jordan sudah mulai memikirkan kalau dia tidak ada di rumah jika diharuskan dinas keluar. Tidak mungkin dia meninggalkan Jasmine sendiri. Dia pasti akan sangat khawatir memikirkan keadaan istrinya.


“Woii! Selamat rumah barunya! Gede juga!” teriak Roy sungguh membuat Bella malu. Dia menepuk bokong kekasihnya kesal.


“Suara kamu biasa aja dong! Ishh norak banget tahu!” sergah Bella dan Roy langsung mencubit pipi calon istrinya.


“Maaf, maaf, Sayang!”


Jordan pun menggelengkan kepalanya. “Udah sana masuk. Itu ada abang ojek online. Aku mau ambil pesanan dulu sebentar. Di dalam ada Jasmine kok,” ucap Jordan.


Bella dan Roy masuk ke rumah baru Jordan. Seperti biasa, bukan Roy namanya kalau tidak bisa memberikan ekspresi berlebihannya dan bukan Namanya Roy kalau tidak bisa membuat Jasmine jengkel sekali saja.


“Jasmine!! Apa kabar? Duhh keponakanku makin kelihatan endut nih!” ucap Roy tapi tidak Jasmine jawab. Jasmine malah langsung memeluk kekasih Roy yang pernah dia tampar.


“Ehh hei Bella! Gimana tadi di jalan nyasar enggak?”

__ADS_1


“Enggak kok, ternyata lumayan dekat dari kator juga. Dekat juga ya sama kafe tempatmu kerja.”


“Lah emang Jasmine masih kerja di sana?” celetuk Roy tapi lagi-lagi tidak Jasmine jawab.


Pria itu pun mendengus pelan dan bergumam sendiri ketika Jasmine menarik Bella menuju ruang TV. Mereka nampak asyik ngobrol sementara Roy hanya bisa memperhatikan mereka.


“Loh kok berdiri aja? Duduk dulu sana! Aku mau nyiapin makan dulu di belakang,” kata Jordan pada Roy, tapi Roy malah mengikuti Jordan menuju dapur.


“Aku rasa anakmu nanti mirip aku deh, Dan!” celetuk Roy lagi bikin Jordan yang mendengarnya kesal.


“Enak saja! Anak kami itu kolaborasi kami berdua. Mana bisa jadi mirip kamu!”


“Habis Jasmine sepertinya sangat membenciku. Dari tadi dia mengabaikanku. Orang bilang ketika hamil itu tidak boleh membenci orang. Nanti anaknya bisa-bisa mirip orang yang dia benci.”


“Hah? Masa sih?” Jordan cukup terkejut mendengar kata-kata Roy, tapi sedetik kemudian Roy tertawa keras sekali.


“Aku hanya bercanda! Kau terlalu dibawa serius! Tapi memang benar kok ada yang bilang seperti itu. Enggak tahu sih benar apa enggaknya,” ucap Roy mengangkat bahunya lalu sibuk membantu Jordan merapikan pizza dan makanan lainnya ke atas piring.


“Ya begitu, ayahnya masih ada sedikit ragu padaku, tapi aku akan tetap berusaha menjadi yang terbaik. Kau tahu kan aku tidak main-main dengan sepupumu itu,” kata Roy sungguh membuat Jordan ingin tertawa karena pria ini lebih sering berncanda dibanding serius. Jadi akan aneh kalau pria itu bilang bahwa dia memang serius.


“Tapi kita sudah siap dengan semuanya dan tanggal sudah dipilih. Minggu depan juga kita akan ada sesi pra wedding. Ya… pokoknya semua sudah siap,” ucap Roy dan Jordan merasa bangga pada Roy.


Mereka sudah berteman lama, akhirnya Roy bisa menyusulnya menikah juga. Meski tak yakin Bella akan siap tidak punya anak setelah menikah. Setidaknya Roy bilang halalkan dulu saja dan Jordan setuju. Jika ada sesuatu yang terjadi pada Bella setidaknya mereka bukan hanya sekedar pacaran.


Sedang asyik membicarakan Bella. Mereka mendengar suara ramai di depan. Roy pun langsung menatap Jordan dengan tatapan aneh. Jelas Jordan mengangkat alisnya sendiri, heran. “Kenapa?” tanya Jordan.


“I-itu Laura? Kau tidak apa-apa?” tanya Roy.


Jordan pun menonjok bahu Roy, dia tertawa pelan dan berjalan meninggalkan dapur menuju ruang depan. “Aku jauh mencintai Jasmine sekarang. Dia segalanya bagiku,” ucap Jordan sungguh membuat Roy lega.

__ADS_1


“Wahh Roy lama tidak bertemu!” suara Laura yang menggendong Rena, anaknya. Di mata Roy, Laura memang tetap cantik. Meski wanita itu sudah punya anak tapi tidak sama sekali terlihat seperti ibu-ibu.


“Oh ya, bagaimana kabarmu, Laura!” Roy bersalaman dengan Laura lalu mengelus pelan bayi berumur 6 bulan itu.


“Hahaha baik. Oh ya, Endra mana undangannya untuk Roy dan Bella,” ucap Laura dan Endra menghampiri Roy. Pria itu menyalaminya serta memberikan undangan pernikahan mereka.


“Wah selamat! Akhirnya kalian menikah! Aku senang mendengarnya,” ucap Roy pada Endra seraya memukul punggung belakangnya. “Aku lama tidak bertemu denganmu juga. Kau terlihat semakin gagah,” kata Roy sedikit mencubit-cubit punggung belakang Endra membuat Endra kesal.


“Ahh dasar tidak kakak, tidak adik sama saja! Jordan kau lihat kan? Mereka membenciku!” rengek Roy pada Jordan membuat semua tertawa dan Rena tiba-tiba terbangun dari tidurnya; menangis.


“Duhh Rena nangis. Aku boleh pinjam kamar?” tanya Laura pada Jasmine. Jasmine pun segera mengantarnya.


“Oh ya, Mas. Langsung makan aja,” ucap Jasmine dan Jordan segera membawa mereka menuju meja makan.


Sementara Jasmine mengantar calon kakak iparnya menuju kamar tamu. Begitu di kamar, Jasmine melihat Laura menyusui Rena dengan sangat senang. Dia terus mengajak bicara pada Rena membuat anaknya terdiam.


Jasmine pun tersenyum dan mengelus pelan pipi keponakannya. Dia sangat bahagia dengan apa yang sudah dia lalui saat ini. Laura dan Endra pasti tidak lagi punya beban. Pun, dia tidak lagi merasa khawatir tentang perasaan suaminya.


“Minum susunya kuat banget ya, Kak?” tanya Jasmine melihat Rena yang menghisap ASInya dengan bersemangat.


“Wah bukan kuat lagi. Benar-benar deh minta minum susu mulu,” kata Laura seraya kembali mengajak anaknya bicara. “Kamu gimana? Udah ketahuan perempuan atau laki-laki?”


“Belum, Kak! Aku enggak mau periksa kelaminnya. Biar jadi kejutan aja,” kata Jasmine membuat Laura tersenyum. Wanita itu pun menarik tangan Jasmine dan menangkupnya.


“Kita sekarang sudah punya kebahagiaan masing-masing. Sebelumya aku mau minta maaf dan terima kasih karena kamu sudah bertahan. Aku dan Endra sangat bahagia.”


Jasmine mengangguk. “Ini sudah jalan kita, Kak.”


Laura ikut menganggukkan kepalanya dan melanjutkan kegiatannya. Sementara Jasmine izin bergabung lebih dulu dan meminta Laura untuk segera bergabung jika sudah selesai.

__ADS_1


Next akan aku sisipin bumbu2 manis dari Endra sama Laura yaw! Jangan lupa like dan komennya^^


__ADS_2