
Jordan membaca surat undangan Bella dan Roy. Dia tertawa sendiri karena akhirnya roy bisa meyakinkan orang tua sepupunya itu. Tidak menyangka mereka akan menikah di akhir tahun ini juga. Padahal kemarin Bella bilang masih harus menunggu Roy siap dengan keuangannya, tapi sepertinya hal itu tidak berlaku.
“Kenapa kau tertawa? Memangnya itu lucu?” tanya Bella menaruh gelas berisi kopi untuk bosnya dengan sedikit dia hentak.
Kalau saja Bella bukan saudaranya, Jordan sudah pastikan bahwa dia sudah ditendang dari kantornya. Sayang saja wanita ini sudah bekerja dengan baik dan Bella memang bukan orang lain untuknya. Sejak kedatangannya, perusahaan Jordan berjalan dengan begitu baik. Mungkin ini waktunya Jordan membantu Roy juga untuk mensponsori acara pernikahan mereka.
“Tidak apa-apa. Aku hanya tidak bisa membayangkan bagaimana wajah Roy di depan Om,” kataku dan Bella menonjok pelan bahu Jordan.
“Maksudmu, calonku pengecut begitu?”
“Aww! Siapa yang bilang begitu? Aku hanya bilang tidak bisa membayangkannya,” sergah Jordan pada Bella yang kini memanyunkan bibirnya. Wanita itu duduk di sofa tamu biasa Jordan menerima partner kerjanya.
“Ada apa?” tanya Jordan.
“Sebenarnya Papa masih sedikit ragu dengan Roy. Apa kau tidak bisa meyakinkan Papa?” tanya Bella seolah memohon pada Jordan.
Jordan pun terdiam, menggaruk dagunya yang tidak gatal memikirkan sesuatu. “Itu wajar untuk seorang ayah yang sudah membiayaimu sekolah dan hidup selama ini. Kalau aku yang meyakinkan ayahmu itu justru akan aneh karena yang akan menikahimu itu Roy, bukan aku. Kenapa tidak Roy mendatanginya di saat waktu libur. Mungkin kalian juga bisa mengajak camping bersama atau liburan bersama di ruang terbuka.” Jordan memberikan ide pada Bella mengenai liburan bersama.
Dia masih ingat bagaimana masalah mereka selesai setelah kembali bertemu. Mengobrol dan menceritakan hal-hal yang Jordan sendiri tidak ketahui. Termasuk alasan Endra dulu mempertemukan Laura dengannya. Endra menjodohkan Jordan dengan Laura, hingga akhirnya Endra yang menyadari bahwa dia mencintai Laura sepenuh hatinya. Jordan mendengarkannya dengan baik semua keresahan yang Endra sendiri lalui. Sekarang, Jordan semakin memiliki pikiran yang terbuka. Terkadang, keraguan dan kekhawatiran itu hanya muncul di kepala saja. Padahal apa yang terjadi tidak seburuk itu. Semua yang terjadi pasti ada alasannya. Termasuk bagaimana papanya Bella merasa ragu dengan Roy. Mungkin dia belum mengenal Roy dengan baik.
“Baiklah, terima kasih kau sudah mendengar keluhanku. Aku akan mencobanya dengan Roy. Minggu ini mungkin aku akan memesan tiket ke Lampung. Kurasa pulau pahawang akan jadi tempat kami menikmati liburan. Kau tidak boleh menghubungiku ya!” ucap Bella membuat Jordan menggelengkan kepalanya.
“Asal jangan lupa oleh-oleh untuk baby. Kau tahu kan, istriku semakin lama mengidam hal yang aneh-aneh.”
__ADS_1
“Jangan bohong! Jasmine bilang, bahkan dia tidak bisa mencium dan makan apapun dengan sembarangan. Dia masih dalam trimester dan mual-mual. Mana mungkin dia bisa mengidam?!”
Jordan pun menyengir kuda. Well, dia memang tidak jago berbohong. “Ah yasudah! Sana keluar! Aku sedang menunggu istriku datang! Kami akan makan siang keluar.”
Bella pun mencibir. Dia menjulurkan lidahnya pada Jordan. “Dasar bapak-bapak sensi!”
[…]
Jasmine memeluk lengan suaminya manja. Dia memesan meja paling ujung lalu memperhatikan jalanan dari kaca besar tempat mereka duduk. Saat ini mereka sedang berada di kafe this! Namun jelas kedatangan mereka bukan untuk membiarkan Jasmine bekerja. Hari ini adalah hari pernikahan mereka setelah hampir beberapa bulan tidak pernah mereka ingat. Baru kali ini mereka bisa merayakannya dengan bahagia.
“Sayang, kamu ingat ini?” tanya Jordan mengeluarkan kertas dari tas yang dia bawa.
Jasmine pun mengalihkan pandangannya. Melihat apa yang Jordan tunjukkan padanya. Hari itu, jika Jasmine tidak salah ingat. Tempat di mana mereka duduk saat ini adalah saksi di mana pria bermata kecokelatan ini membawakan surat pernajian pranikah. Surat yang di mana isinya membuat Jasmine tercengang. Tidak ada cinta, sentuhan ataupun saling mencampuri urusan satu sama lain.
“Kok masih ada sih Mas? Kamu bilang akan robek surat itu?!”
Jordan pun terkekeh mendengarnya. Dia kembali memasukkannya ke dalam tas dan menarik tangan Jasmine. Dia menciumnya lembut dan mengusapnya pelan. Pria itu pun menepuk tangannya hingga seseorang yang dia kenal muncul membawakan bunga mawar untuknya.
“Mike?” suara Jasmine terkejut.
Pria itu memberikan bunga yang dia pegang pada Jordan dan kini Jasmine tertawa pelan.
“Apa itu salah satu layanan kafe ini? Aku baru mengetahuinya,” kekeh Jasmine dan Mike ikut tertawa.
__ADS_1
“Kalau aku tidak ingat dia membayar layanan ini, aku pasti tidak mau melakukannya, tapi pembeli adalah raja,” bisik Mike lalu kabur sebelum Jordan menendang bokongnya untuk pergi.
Jordan pun bersimpuh di samping Jasmine. Lalu mengeluarkan sebuah kotak bewarna merah beludru dari kantong celananya.
“Aku minta maaf atas apa yang aku lakukan selama ini. Aku memang belum bisa menjadi suami yang baik, tapi ke depannya aku akan terus berusaha membahagiakanmu, Sayang. Aku janji! Aku akan menjadi suami dan ayah yang baik,” ucap Jordan lalu membuka kotak yang dia pegang menunjukkan sebuah kalung dengan bentuk bunga di dalamnya.
Jordan ingat apa yang Roy katakan dulu. Dia harus tahu apa yang Jasmina sukai dan tidak sukai. Sekarang Jordan tahu kalau istrinya menyukai apapun yang berbau/berbentuk bunga. Jadi Jordan memutuskan untuk membeli kalung berbentuk bunga. Terlihat, Jasmine sangat suka karena ya, sesuai dengan namanya Jasmine. Wanitanya adalah perwujudan bunga yang cantik ketika menjadi manusia.
“Mas, cantik sekali,” puji Jasmine.
“Ini buatmu, Sayang.” Jordan memberikan bunga lalu kotak beludru berisikan kalung untuk istrinya.
Jordan pun bangun dari simpuhannya. Lalu mengambil kalung itu untuk dia pakaikan.
“Karena pernikahan kita di awal cukup banyak cobaan. Aku akan berusaha melakukan hal-hal manis lainnya setelah ini. Kau jangan pernah bosan ya,” ucap Jordan menghasilkan tawa dari bibir Jasmine.
Mungkin terasa aneh melihat perubahan suaminya yang selama ini dingin menjadi sangat manis, tapi Jasmine menikmatinya. Dia benar-benar menikmati momen bahagia seperti ini.
“Terima kasih, Mas. Jangan lupa, surat itu harus segera kau musnahkan!”
“Iya, setelah ini kita musnahkan bersama di rumah, oke?”
“Oke!”
__ADS_1