
Jordan mengusap rambutnya yang basah dengan handuk kecil. Lalu berjalan ke arah laptopnya yang berada di atas meja. Karena hari ini adalah hari senin. Dia ingin tetap melakukan pekerjaannya. Tentu saja tidak ada kata cuti karena menikah. Bahkan kata honeymoon pun tak pernah bercuat sedikit pun di otak Jordan.
Tok, Tok, Tok!
Jordan mendengar pintunya diketuk oleh seseorang. “Kak!” Jordan menatap pintunya dengan gusar, tapi mau tak mau dia pun mendekat ke arah pintu lalu membukanya.
“Ada a-“ Jordan menjatuhkan handuk kecil yang dia pegang, begitu melihat apa yang terjadi pada istrinya
“Kenapa kau hanya pakai handuk seperti itu?!” bentak Jordan membuat Jasmine menggigit bibirnya takut.
“Aku tidak punya baju, Kak. Kau membawaku mendadak. Kau juga tidak mengatakan kalau kau akan segera membawaku ke sini,” ucap Jasmine masih dengan rasa takutnya. Dia kira, dia bisa menggoda suaminya, tapi yang ada dia ketakutan dengan bentakan Jordan padanya.
“Jangan coba menggodaku! Tunggu di sini!” kata Jordan seraya menutup kamarnya lalu mengambil handuk yang tadi dia jatuhkan.
“Sial! Dia pasti sengaja ingin menggodaku!” keluh Jordan melempar handuk kecilnya ke atas kasur dan berjalan ke wardrobe untuk mengambil kaus putihnya yang kebesaran.
Namun hal yang membuat Jordan sadar ketika dia kembali ingin berhadapan dengan Jasmine untuk memberi bajunya. Dia takut, jika nantinya lupa diri.
“Oh shit!” geramnya lalu membuka pintu dan melempar kausnya ke wajah Jasmine.
“Kembali ke kamar! Cepat pakai bajunya! BRAK!” Jordan membanting pintu kamarnya. Jordan kesal karena istrinya membuat dirinya seperti merasa tergoda. Ahhh Jordan mendengus kembali, dia melupakan sesuatu.
Di sisi lain. Jasmine di kamarnya sedang naik ke atas ranjang seraya berloncat senang.
“Dia gemetar melihatku!” ucap Jasmine kesenangan. Jasmine bisa lihat kalau suaminya itu tadi nampak salah tingkah begitu melihat dia yang hanya berbalut handuk.
“Jasmine!” teriak Jordan tiba-tiba membuat Jasmine langsung turun dari ranjangnya dan segera memakai kaus putih yang tadi Jordan berikan.
“Iya, Kak.” Jasmine membuka pintu kamarnya dan berusaha mendekat ke pintu kamar Jordan yang berhadapan dengannya.
__ADS_1
“Di situ saja!” cegah Jordan yang hanya terlihat kepala dan sebagian bahunya saja. Nampaknya Jordan takut istrinya menggodanya lagi. Makanya Jordan mencegah Jasmine untuk lebih dekat.
“Bawa semua barang milikmu dan rahasiakan kalau aku memberimu 5 persyaratan dari siapa pun termasuk Kakakmu.” Mendengar itu Jasmine langsung cemberut kembali.
“Kau mengerti?” tanya Jordan.
Jasmine pun menganggukkan kepalanya lalu Jordan kembali menutup pintu kamarnya.
“Kenapa harus poin itu lagi yang selalu dibahas!” gerutu Jasmine seraya berjalan ke arah dapur untuk mempersiapkan sarapan untuk Jordan. Jasmine pun menggerutu karena sikap Jordan yang sangat mengatur dirinya. Lihat saja, Jasmine berjanji pada dirinya sendiri pasti akan tetap menjalankan misi menggoda suaminya dalam bentuk apapun.
Bukankah itu salah satu tugas istri? Istri memang boleh kan menggoda suaminya sendiri, terkecuali jika yang Jasmine goda suami orang lain. Itulah yang tidak boleh.
[….]
Jasmine baru saja sampai di rumahnya. Dia lihat tidak ada siapa pun dan Endra memang sudah bilang kalau dia akan ke rumah Laura sejak tadi pagi dia menelpon.
“Huahh!” Jasmine memegang dadanya merasa kaget melihat seorang pria berambut sedikit kecoklatan berada di belakang tubuhnya.
“Kau ini, seperti melihat hantu saja,” ucap Anthonio sepupu Jasmine yang akan menempati rumah besar ini.
“Anthonio!” Jasmine langsung memeluk sepupunya dan menggantungkan tubuhnya ke depan tubuh Anthonio hingga seperti anak monyet.
“Ya ampun Jasmine. Kau berat sekali. Kenapa kebiasaan seperti ini terus.” Gerutu Anthonio kesal karena sepupunya ini sejak kecil selalu saja ingin digendong di depan seperti ini atau bahkann ujung-ujungnya minta piggy back sehingga Anthonio tidak memiliki tinggi yang bagus untuk ukuran laki-laki, tapi sekarang nampaknya Anthonio sungguh menjadi pria dewasa yang perfect.
“Aku merindukanmu,” ucap Jasmine lalu memeluk leher Anthonio erat.
Anthonio pun tersenyum. Dia tak bisa bohong kalau perasaannya dari dulu hingga sekarang tak pernah berubah pada Jasmine.
“Aku juga merindukanmu.” Jawab Atnthonio lalu Jasmine turun dari gendongannya dan berdiri tegak di depan Anthonio.
__ADS_1
“Kau tidak bicara apapun kalau akan ke Indonesia,” marah Jasmine dengan tangan yang dia taruh di pinggangnya.
“Hem, aku bukannya sudah bilang akan menempati rumah ini juga bersamamu.” Ucap Anthonio, tapi yang Jasmine maksud bukan itu. Lagi pula Jasmine di rumah ini pun hanya ingin mengambil bajunya.
“Jadi, sejak kapan kau sampai di Indonesia?”
“Baru saja. Lihatlah kamarku sekarang masih berantakan,” kata Anthonio seraya berjalan menuju kamarnya yang sejajar dengan kamar Jasmine dan juga Endra. Mereka sama-sama akan meninggalkan rumah ini secepatnya.
“Oh ya,” Anthonio duduk di pinggir ranjangnya dengan sebuah tas yang sudah terbuka.
“Ada baju-baju bagus untukmu dan tidak lupa coklat kesukaanmu,” kata Anthonio sungguh membuat Jasmine kesenangan.
“Terima kasih.” Jasmine langsung menarik oleh-oleh yang Anthonio bawa untuknya, tapi Anthonio menangkap sesuatu di jari Jasmine.
Anthonio pun menatap Jasmine sesaat hingga kemudian kembali menatap cincin yang Jasmine gunakan. “Itu cincin apa?” Tanya Anthonio nampak tak ingin menafsirkannya sendiri. “Setahuku, kau tidak begitu suka perhiasan,” makanya Anthonio tidak pernah memberi oleh-oleh perhiasan pada Jasmine.
Jasmine pun menatap jarinya lalu memberi tahu ke lima jari itu di depan wajah Anthonio. “Ini maksudmu?” Tanya Jasmine dan Anthonio pun menganggukkan kepalanya.
“Kau jahat! Aku sudah menghubungimu lewat email. Lagian siapa suruh kau terus mengganti-ganti nomermu hingga semua keluarga tak bisa menghubungimu. Aku baru saja menikah kemarin.”
“Apa?” Anthonio tak menyangka kalau kedatangannya akan disambut dengan kabar berita buruk untuknya.
“Suamiku memang tak mencintaiku, tapi aku mencintainya,” ucap Jasmine lalu mengembangkan senyumnya.
“Sudahlah lupakan itu. Aku ingin kau traktir makanan karena kita sudah lama tidak makan bersama,” kata Jasmine menarik tangan Anthonio dan menyandarkan kepalanya di lengan Anthonio memanja, tapi Anthonio masih berusaha mengumpulkan kesadarannya.
“Hemm baiklah, ayo.” Ucap Anthonio dengan senyuman terpaksa bahkan pikirannya masih tertuju pada cincin yang Jasmine gunakan.
Jadi, pria beruntung mana yang bisa meluluhkan hati sepupunya ini. Karena bertahun-tahun Anthonio bersama dengan Jasmine. Anthonio tak pernah merasa Jasmine menceritakan pria yang dia sukai. Hingga suatu saat pernah. Anthonio pikir, Jasmine juga menyukainya. Makanya Jasmine tak menceritakan pria lain.
__ADS_1